NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Daffa membanting pintu rumah dengan kasar. Langkahnya cepat dan berat, seolah-olah setiap derapnya membawa bara api. Laras yang duduk di sofa ruang tamu langsung menoleh dengan wajah khawatir, tangannya mengelus perut buncitnya yang mulai terasa tak nyaman karena amarah suaminya.

"Apa-apaan tadi itu, Laras! Dia bisa-bisanya duduk manis sambil makan siang dengan pria lain!" Daffa menggerutu keras, masih dengan napas memburu. "Perempuan itu makin gila!"

Laras pura-pura menenangkan, meski di dalam hati dia merasa puas melihat Daffa terbakar cemburu. "Aku juga nggak nyangka, Mas... Tapi aku rasa laki-laki itu bukan orang biasa. Cara bicaranya, caranya melihat kita, dia... terlihat berkelas. Kayak... pria kaya dan terhormat."

Daffa melirik tajam ke arah istrinya, "Apa maksudmu? Kau bilang dia lebih baik dariku?"

Laras cepat-cepat menggeleng, "Bukan begitu, Mas... Tapi aku khawatir, gimana kalau ternyata dia benar-benar kaya dan pengaruhnya besar? Gimana kalau dia bantu Raya balas dendam ke kita?"

Tiba-tiba Bu Rina muncul dari arah tangga, wajahnya mengernyit tajam. "Apa ribut-ribut ini? Dari tadi Ibu dengar kalian ngomel-ngomel. Ada apa?"

Laras memasang wajah polos dan lemah, lalu mulai menceritakan kejadian di restoran. Tapi tentu saja dia menambahkan bumbu di sana-sini.

"Ibu... kami tadi lihat Raya di restoran mewah. Dia duduk berdua dengan seorang pria.

Kelihatannya... pria itu bukan sembarangan. Dari cara berpakaiannya, sikapnya, dan restorannya... dia pasti orang berada, Bu."

Mata Bu Rina membulat. "Apa?! Perempuan rendahan itu?! Duduk dengan pria terhormat?!"

Laras mengangguk pelan, lalu dengan nada lirih menambahkan, "Aku takut, Bu... Gimana kalau ternyata laki-laki itu serius sama Raya dan mereka berdua berencana menjatuhkan kita?"

Bu Rina tertawa sinis, "Jangan konyol. Tak mungkin ada laki-laki terhormat jatuh hati pada perempuan seperti Raya. Jangan kau terlalu percaya dengan penampilan. Bisa jadi laki-laki itu hanya senang main-main. Perempuan itu tidak punya harga diri, mungkin dia pasrah saja untuk dapat uang."

"Bu..." Laras mencoba membuat Bu Rina semakin yakin, "Tapi... dari tatapannya, laki-laki itu terlihat sangat melindungi Raya. Bahkan waktu Daffa marah, dia berdiri membela Raya. Tegas dan... percaya diri."

Bu Rina terdiam sejenak, wajahnya berubah menjadi lebih serius. Tapi secepat itu pula dia menepis kegelisahan yang mulai menyusup.

"Tenang saja," katanya dengan angkuh.

"Sekarang perusahaan kita sudah kembali hidup. Pak Yandris sudah resmi menjadi investor kita. Itu berarti, hanya tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan proyek miliaran dari PT. Atmajaya."

Laras mengangguk pelan, mengikuti alur keyakinan mertuanya.

"Kalau proyek itu kita menangkan," lanjut Bu Rina, "Maka kita akan jauh lebih kaya dan terhormat dibanding laki-laki mana pun yang bersama Raya. Dan kalau saat itu tiba, bahkan orang sekelas dia pun akan menunduk di hadapan keluarga Hartawan."

Daffa yang dari tadi diam, tiba-tiba mengepalkan tangan. "Aku tidak akan membiarkan Raya menang. Aku tidak akan kalah darinya. Aku akan pastikan dia menyesal sudah pernah meninggalkan keluargaku."

Bu Rina menepuk bahu Daffa, "Itu baru anak Ibu. Kita akan menang, Daffa. Tidak peduli siapa pun yang berdiri di belakang Raya, kita akan pastikan mereka semua jatuh."

Laras menunduk perlahan, tapi di balik wajah tenangnya, tersimpan kegelisahan yang sulit diabaikan. Sebab dia tahu, pria yang tadi bersama Raya... bukan orang biasa. Dan dia juga tahu, kebencian yang tumbuh di hati Daffa mungkin saja berubah menjadi kehancuran bagi mereka semua. Namun, dia mencoba menepisnya dan memilih percaya dengan Ibu mertuanya jika mereka akan menjadi keluarga yang lebih terhormat.

Tiba-tiba, pintu kamar di lantai atas terbuka dengan keras. Suara roda koper yang diseret menuruni anak tangga langsung menarik perhatian Daffa, Laras, dan Bu Rina yang masih berada di ruang tengah. Ketiganya menoleh bersamaan.

"Lestari?" Bu Rina memicingkan mata.

Lestari turun dengan anggun, mengenakan setelan kasual yang tetap mewah, menyeret koper berwarna merah marun dengan penuh percaya diri. Matanya menatap mereka bertiga satu per satu dengan senyum tipis penuh ejekan.

"Kau mau ke mana?!" tanya Daffa keras, nadanya penuh curiga.

Lestari mengangkat alis santai. "Apartemen baruku. Pak Yandris yang belikan. Lengkap dengan staf pribadi yang akan melayani aku." Ucapnya dengan tenang seolah sedang membicarakan hal sepele.

Laras langsung berdiri dari sofa. "Apa?! Kau pergi? Terus siapa yang akan bantu aku di rumah ini, hah?! Siapa yang akan masakin, cuciin baju kita, bersihin kamar kita?!"

Lestari berhenti di tangga terakhir, memutar tubuhnya dengan gerakan dramatis. "Ya sudah pasti kamu, Laras. Kamu kan menantu kebanggaan keluarga. Harus bisa melayani suami, mertua, dan... calon anakmu. Nikmati ya." Senyumnya manis namun menusuk.

Laras langsung melangkah maju dengan emosi meledak-ledak. "Perempuan tidak tahu diri! Kau pikir kau siapa?!"

Namun sebelum Laras sempat mendekati Lestari, sebuah suara keras memotong langkahnya-Plak!

Bu Rina menampar Laras dengan keras, membuat ruangan hening seketika. Laras membeku dengan tangan memegang pipinya yang memerah.

"Jangan sentuh Lestari!" bentak Bu Rina, matanya melotot.

"Bu... tapi dia-"

"Diam!" suara Bu Rina membentak lebih keras.

"Kau sudah lupa apa kata Pak Yandris? Tidak boleh ada yang menyakiti Lestari! Kalau sampai dia tersinggung, apalagi sampai terluka, Pak Yandris akan menarik seluruh investasinya. Kau mau kita bangkrut lagi, hah?!"

Laras menunduk, menahan rasa sakit dan amarah yang membakar dada.

Lestari menatap Laras dan Daffa penuh kepuasan. "Wah, aku nggak nyangka akan dapat perlakuan sebaik ini. Kayaknya aku akan betah tinggal di apartemen mewahku nanti. Kalian... selamat menjalani hidup kalian yang 'sederhana' ya," katanya sambil mengangkat koper dan berbalik menuju pintu.

Langkahnya mantap, suara hak sepatunya berderap di lantai marmer, semakin menjauh. Begitu pintu utama tertutup di belakangnya, keheningan mencekam menyelimuti ruang tamu.

Daffa hanya bisa duduk di sofa, wajahnya kusut. Laras berdiri diam, matanya berkaca-kaca, tapi tak berani berkata apa-apa lagi. Sedangkan Bu Rina berjalan kembali ke kursinya, mencoba menjaga ketenangan wajahnya meskipun hatinya mendidih. Karena di balik kepergian Lestari, dia tahu betul mereka kini benar-benar bergantung pada satu hal,

Pak Yandris.

Dan jika anak gadisnya itu sampai berubah arah... maka seluruh keluarga Hartawan bisa hancur dalam sekejap.

Setelah pintu utama tertutup dan Lestari benar-benar pergi, Daffa bangkit dari sofa dengan wajah memerah karena amarah yang belum reda. Napasnya terdengar berat, sementara Laras berdiri kaku di sudut ruangan dengan tangan mengepal, menahan emosi setelah ditampar oleh Bu Rina.

"Aku udah bilang dari awal, jangan bikin adikku marah!" bentak Daffa tajam, menunjuk ke arah Laras. "Kau tahu apa akibatnya kalau Lestari tersinggung? Pak Yandris bisa langsung menarik diri dari proyek kita!"

Laras membalas dengan mata berkaca-kaca, namun tetap keras. "Lalu aku harus apa, hah?! Disuruh jadi pelayan di rumah ini?! Aku ini hamil, Daffa! Aku juga manusia, bukan budak!"

Daffa menatap Laras dengan penuh amarah, tapi sebelum sempat menjawab, Laras kembali angkat bicara dengan nada tinggi.

"Kalau begitu, suruh saja ibumu yang kerja! Aku nggak mau ngurusin dapur atau nyuci piring!" serunya sambil memeluk tas tangannya erat.

Laras langsung menoleh ke arah mertuanya, berharap mendapat dukungan. Tapi Bu Rina malah menepis tangannya dan menjauh, seolah tidak peduli.

"Aku ini sudah tua, Laras. Tenagaku sudah tidak kuat untuk mengerjakan pekerjaan pembantu kayak gitu. Suruh Daffa cari asisten rumah tangga baru!" sambung Bu Rina.

Daffa memijit pelipisnya, frustasi dengan situasi yang tak kunjung reda.

"Oke!" katanya keras. "Aku akan cari pembantu. Tapi sebelum itu, kalian berdua harus kerja sama! Rumah ini nggak bisa berantakan. Jadi, selama belum ada pembantu, ibu dan Laras harus saling bantu urus rumah ini!"

Bu Rina memelototkan mata. "Kau... menyuruh ibumu sendiri-?"

Daffa menatap ibunya tajam. "Iya, Bu! Karena kalau bukan Ibu dan Laras siapa lagi? Masa iya aku yang mengerjakan? AKu sudah capek bekerja di kantor seharian, masa pulang ke rumah harus mengerjakan pekerjaan perempuan juga?"

Laras mengepalkan tangan, menunduk dalam diam. Perutnya terasa semakin berat karena emosi yang menggelegak.

Bu Rina mendengus keras, berdiri dari duduknya lalu melangkah ke dalam kamar tanpa sepatah kata. Pintu dibantingnya keras.

Daffa pun menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan napas berat. Dalam kepalanya hanya ada satu pikiran jangan sampai semua ini berantakan sekarang, tunggu sampai mereka sudah begitu dekat dengan proyek Atmajaya dan berhasil mendapatkan proyek itu, Istri dan Ibunya akan hidup enak kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!