NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kriminal dan Bidadari / Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Serangan Racun Pertama

​Suasana hati Elzian sedang buruk. Sangat buruk. Kunjungan ke rumah paman Ziva tadi sukses membuat sisa kesabarannya habis. Bukan karena permintaan uang yang tidak tahu malu itu, tapi karena bau parfum murah sepupu Ziva yang sepertinya masih menempel di rongga hidungnya.

​Begitu roda kursi rodanya menyentuh lantai marmer mansion, Elzian langsung memberi perintah pada asisten pribadinya.

​"Siapkan dokumen merger perusahaan farmasi itu. Aku mau memeriksanya sekarang di ruang tengah. Dan panggil pelayan, aku butuh kopi hitam. Pekat. Tanpa gula."

​Elzian mengarahkan kursi rodanya ke meja kerja di ruang tengah yang luas. Dia butuh kafein untuk menghilangkan sakit kepala.

​Ziva berjalan santai di belakangnya. Dia sudah berganti pakaian, menanggalkan blazer formalnya dan kini hanya memakai kemeja sutra longgar yang nyaman. Di tangannya ada sebuah buku medis setebal bantal—Neurosurgery: Principles and Practice—yang sedang ia baca sambil berjalan.

​"Kau tidak mau istirahat? Wajahmu kusut seperti baju belum disetrika," komentar Ziva tanpa mengalihkan pandangan dari halaman buku yang membahas tentang aneurisma otak.

​"Diamlah. Jangan ganggu aku," sahut Elzian ketus.

​Tak lama kemudian, seorang pelayan muda datang dengan nampan perak. Wajahnya asing. Ziva menyipitkan mata sedikit dari balik bukunya. Ah, benar. Bu Marta dan koki lama sudah dipecat gara-gara insiden piring kotor pagi tadi. Ini pasti pelayan pengganti dari agensi penyalur.

​Pelayan itu, gadis muda dengan seragam yang sedikit kedodoran, berjalan menunduk. Tangannya terlihat gemetar saat meletakkan cangkir porselen berisi kopi hitam panas di meja Elzian.

​"Silakan, Pak," cicit pelayan itu pelan, lalu buru-buru mundur seolah takut dimakan.

​Elzian tidak memperhatikan kegugupan pelayan itu. Fokusnya ada pada layar tablet di depannya. Tangan kanannya terulur otomatis mengambil gagang cangkir. Uap panas mengepul, membawa aroma kopi yang kuat.

​Ziva yang sedang bersandar di sofa dekat sana tiba-tiba berhenti membalik halaman.

​Hidungnya berkerut.

​Sebagai dokter bedah, indra penciuman Ziva terlatih untuk membedakan bau darah, nanah, antiseptik, dan bahan kimia lainnya. Dan sebagai pencinta kopi, dia tahu persis bagaimana aroma biji kopi Arabika yang dipanggang sempurna. Harusnya baunya nutty, sedikit asam buah, dan pahit yang elegan.

​Tapi ada yang salah.

​Di antara aroma kopi itu, terselip bau asing yang sangat tipis. Bau yang tajam, agak menyengat, mirip bawang putih yang ditumbuk halus.

​Mata Ziva membelalak saat melihat cangkir itu sudah berada lima senti dari bibir Elzian.

​"JANGAN MINUM!"

​Teriakan Ziva belum selesai saat tangannya bergerak refleks. Dia tidak punya waktu untuk lari menepisnya.

​Ziva mengayunkan lengan kanannya sekuat tenaga, melempar buku medis tebal seberat dua kilogram di tangannya ke arah meja Elzian.

​BUGH!

​PRANG!

​Lemparan itu akurat. Buku tebal itu menghantam cangkir kopi tepat sebelum menyentuh bibir Elzian. Cangkir porselen mahal itu terpental, pecah berkeping-keping di lantai. Cairan hitam panas muncrat ke mana-mana, membasahi dokumen penting, karpet persia, bahkan menciprati kemeja putih Elzian.

​Keheningan melanda ruangan itu selama tiga detik. Hanya suara napas terengah Ziva yang terdengar.

​Elzian membeku. Panas kopi menyengat kulit tangannya. Perlahan, dia menoleh ke arah Ziva dengan tatapan yang bisa membunuh. Urat-urat di lehernya menonjol keluar.

​"KAU GILA?!" bentak Elzian, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Apa masalahmu, hah?! Kau mau membuatku mati kaget?!"

​Pelayan baru yang masih berdiri di sudut ruangan menjerit kecil, wajahnya pucat pasi seperti mayat.

​Ziva tidak menjawab bentakan Elzian. Dia melompat dari sofa, mengabaikan tatapan membunuh suaminya, dan langsung berlutut di dekat tumpahan kopi di karpet.

​"Jangan bergerak," perintah Ziva tegas. Dia tidak menatap Elzian, matanya terkunci pada cairan hitam yang mulai meresap ke serat kain karpet.

​"Lihat ini," tunjuk Ziva pada buih kopi yang tersisa di pecahan porselen.

​Elzian mengerutkan kening, amarahnya tertahan melihat keseriusan di wajah istrinya. Dia ikut menunduk melihat apa yang ditunjuk Ziva.

​Buih kopi itu... warnanya aneh. Ada kilau kehijauan samar yang muncul saat terkena udara.

​Ziva menundukkan wajahnya, mengendus aroma dari pecahan cangkir itu, lalu segera menutup hidungnya dengan lengan baju.

​"Bau bawang putih samar," gumam Ziva, mendongak menatap Elzian dengan tatapan tajam. "Kopi Arabika grade A tidak berbau bawang, Elzian. Tapi Arsenic trioxide... ya."

​Jantung Elzian berdegup kencang. Arsenik. Racun raja-raja.

​"Kau yakin?" tanya Elzian, suaranya berubah rendah dan berbahaya.

​"Aku dokter. Aku hafal bau kematian," jawab Ziva dingin. Dia mengambil pecahan cangkir itu dengan hati-hati menggunakan ujung bajunya agar sidik jarinya tidak menempel. "Dosisnya cukup tinggi. Kalau kau minum satu teguk saja, dalam satu jam kerongkonganmu akan terasa terbakar, kau akan muntah darah, dan sistem sarafmu akan lumpuh total sebelum jantungmu berhenti berdetak. Kali ini mereka tidak main-main. Mereka mau kau mati cepat."

​Rahang Elzian mengeras. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Seseorang mencoba membunuhnya di rumahnya sendiri. Di siang bolong.

​Ziva berdiri perlahan. Dia menepuk debu dari lututnya, lalu memutar tubuhnya menghadap ke sudut ruangan.

​Di sana, pelayan baru itu gemetar hebat. Lututnya saling beradu, matanya liar mencari jalan keluar.

​Ziva tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak ramah. Dia menunjuk lurus ke arah pelayan itu.

​"Ada tikus di rumahmu, Suamiku," ucap Ziva pelan namun menusuk. "Tikus kotor yang membawa racun tikus."

1
Warni
🥰🤭🤭🤭🤭😂
Warni
Lebih galak Ziva.
Warni
😫
Warni
😂
Warni
🤭
Warni
Ngambek nanti si Suami klu tulisannya di ejek jelek.
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kalau orang mengira Elzian lumpuh maka kakinya adalah istrinya sendiri. good job Ziva
Ma Em
Akhirnya Ziva bisa mengalahkan Elzian akibat egonya yg terlalu tinggi dan keras kepala orang lain tdk ada yg berani melawan Elzian tapi Ziva bisa mengalahkan nya hebat kamu Ziva .
Savana Liora: iya. mantap
total 1 replies
Warni
🥰
Warni
Mengamuk.🤣
Warni
😂
Warni
😁
Warni
😂
Warni
Jangan bilang Dokter Rayn di pindah tugaskan.🤭
Warni
😂🥰🥰🥰
Warni
🥰
Warni
🤣
Warni
Oh mampus.
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
Aanisa aliya
lanjutkan
Savana Liora: besok ya
total 1 replies
Warni
Ohhh,mantap pak.Suami siaga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!