Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23
Aku bersandar di balik pintu toilet yang tertutup rapat, meredam isak tangis yang nyaris meledak. Dadaku sesak, rasanya seperti ada batu besar yang menghimpit jantungku.
Aku tidak bisa kembali ke meja itu. Aku tidak bisa menatap binar bangga di mata Papa, apalagi tatapan penuh kasih dari Tomi yang baru saja kusakiti.
Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan ponsel dari tas kecilku. Air mataku jatuh menetes ke layar, membuat pandanganku sedikit kabur saat mengetik pesan untuk Papa.
[Pa, maaf banget... tiba-tiba kepalaku sakit luar biasa, pandanganku gelap. Hana izin pulang duluan ya Pa. Jangan cari Hana dulu, Hana cuma butuh tidur. Maaf sudah ngerusak suasana.]
Aku tidak menunggu balasan. Aku segera keluar melalui pintu belakang restoran akses servis yang sepi menghindari kerumunan orang-orang hebat yang tengah merayakan masa depan.
Aku merasa seperti penyusup di tengah kebahagiaan mereka.
Begitu sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil, pertahananku runtuh total. Aku mencengkeram kemudi dengan sangat erat, kepalaku kusandarkan di sana sementara tangis sedu-sedan keluar tanpa kendali.
Kenapa, Tuhan? Kenapa aku harus membawa beban ini selamanya?
Aku menyalakan mesin dan mulai mengendarai mobil membelah jalanan kota yang masih ramai.
Lampu-lampu jalanan yang tadi tampak indah saat bersama Tomi, kini terlihat seperti kilatan-kilatan tajam yang menusuk mataku. Aku menangis sepanjang jalan, air mata terus mengalir membasahi pipi dan leherku.
"Aku kotor... aku rusak..."
bisikku parau di tengah isak tangis.
"Bagaimana bisa aku bersanding dengan pria sebaik Tomi?"
Pikiran tentang Tomi membuat hatiku semakin perih.
Aku merasa jahat karena meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan, tapi aku lebih takut jika aku tetap di sana dan dia melihat betapa hancurnya diriku yang sebenarnya.
Aku merasa sangat kecil, seolah-olah seluruh keberhasilan karier dan pujian orang-orang selama enam bulan ini hanyalah topeng rapuh yang siap hancur kapan saja.
Aku mengemudi tanpa arah sejenak sebelum akhirnya menuju rumah.
Kepalaku benar-benar terasa hampir pecah, bukan karena sakit fisik, tapi karena beban rahasia yang terlalu berat untuk kupikul sendirian. Aku mencintai Tomi, sangat mencintainya, tapi rasa bersalah dan rasa malu ini adalah penjara yang lebih kejam dari apa pun.
Aku membanting pintu mobil dan berlari masuk ke rumah dengan langkah serampangan, mengabaikan sapaan satpam di depan. Aku hanya ingin satu hal masuk ke kamar, mengunci pintu, dan menghilang dari dunia ini.
Namun, baru saja kakiku menginjak ruang tengah Mama sudah berdiri di sana. Beliau sepertinya baru saja selesai menelepon mungkin Papa sudah memberitahunya.
"Lho, Hana? Kok sudah sampai? Katanya tadi sakit kepala?"
Mama menghampiriku dengan raut wajah penuh kecemasan.
Aku menunduk dalam, mencoba menyembunyikan mataku yang bengkak dan merah di balik rambutku yang terurai.
"Iya, Ma... pusing banget. Hana mau langsung istirahat ya," suaraku serak, hampir hilang.
Mama tidak membiarkanku lewat begitu saja. Beliau memegang kedua pundakku, memaksaku untuk berhenti.
"Hana, lihat Mama. Kamu nggak cuma sakit kepala, kan? Kamu habis menangis?"
"Enggak, Ma... cuma kelilipan tadi di jalan," kilahku lemah, tapi pertahananku mulai goyah.
"Nak, jangan bohong sama Mama. Tadi Tomi telepon Mama, suaranya panik sekali. Dia bilang kamu tiba-tiba pergi dari balkon dan kelihatan ketakutan. Ada apa? Tomi buat salah?"
aku diam sejenak rasanya sesak
"Tomi nggak salah, Ma! Tomi baik... dia terlalu baik..." Tangisku pecah lagi. Aku tidak sanggup berdiri tegak.
Melihat kondisiku yang hancur, Mama langsung merangkulku erat Beliau tidak bertanya lagi di ruang tengah. Dengan lembut, Mama membimbingku berjalan menuju kamar mendudukkanku di tepi tempat tidur, lalu menutup pintu rapat-rapat.
Dunia luar seolah terkunci di sana.
Mama duduk di sampingku, mengusap punggungku dengan gerakan yang sangat menenangkan.
"Minum dulu, Sayang," ucapnya sambil menyodorkan segelas air dari meja nakas.
Setelah napas mulai teratur, Mama menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
"Sekarang bicara sama Mama pelan-pelan. Kenapa kamu begini? Apa ini soal permintaan Tomi untuk... lebih serius?"
Aku mengangguk pelan, air mata kembali luruh.
"Dia bilang dia sayang sama Hana, Ma. Dia mau masa depan sama Hana. Tapi Hana nggak pantas, Ma... Hana rusak. Hana bukan perempuan baik-baik lagi. Tomi itu suci, dia hebat, dia berhak dapat yang lebih baik dari Hana."
Mama terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca menatapku.
Beliau menarik napas panjang, seolah ikut merasakan beban yang selama tujuh tahun ini kupendam sendirian.
"Hana, dengar Mama,"
suara Mama rendah dan bergetar.
"Apa kamu pikir nilai seorang perempuan hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di masa lalu? Apa kamu pikir semua kerja kerasmu, kebaikanmu, dan perjuanganmu selama enam bulan ini hilang cuma karena kesalahan tujuh tahun lalu?"
"Tapi Hana pernah melahirkan, Ma! Hana nggak perawan! Hubungan itu harus jujur, dan Hana nggak sanggup jujur karena Hana takut lihat tatapan jijik Tomi!" teriakku frustrasi.
Mama menarik napas panjang, tatapannya melembut penuh dengan jenis kasih sayang yang hanya bisa diberikan oleh seorang ibu yang telah melihat anaknya hancur dan bangkit kembali.
Beliau mengusap air mataku dengan ibu jarinya, lalu merapikan rambutku yang berantakan karena tangis.
"Hana, dengerin Mama baik-baik, Nak,"
suara Mama rendah namun berwibawa, seolah ingin setiap katanya meresap ke dalam tulangku.
"Kebahagiaan itu bukan hadiah untuk orang yang hidupnya tanpa cela. Kebahagiaan itu hak setiap manusia yang mau berjuang, termasuk kamu."
Aku sesenggukan, mencoba mencerna kata-katanya, tapi hatiku tetap menyangkal.
"Kamu merasa rusak? Kamu merasa nggak pantas karena masa lalu itu?" Mama menggeleng pelan.
"Masa lalu kamu tujuh tahun lalu itu adalah sebuah ujian yang sangat berat, dan kamu sudah melewatinya. Kamu bukan perempuan 'rusak', Hana. Kamu adalah perempuan yang pernah terluka, tapi berhasil berdiri lagi. Kamu lulus dengan predikat terbaik, kamu jadi manajer yang hebat, kamu berbakti sama orang tua... Apa semua itu nggak ada harganya hanya karena satu kejadian di masa lalu?"
"Tapi Tomi, Ma... dia nggak tahu apa-apa," bisikku parau.
"Kalau Tomi benar-benar pria yang dikirim Tuhan untukmu, dia nggak akan melihat kamu dari apa yang sudah hilang, tapi dari apa yang ada di depan matanya sekarang," lanjut Mama.
"Jangan menghukum dirimu sendiri seumur hidup, Hana. Kamu terus-terusan mengunci pintu kebahagiaanmu sendiri, padahal kuncinya ada di tanganmu. Kamu takut dia jijik? Kamu takut dia pergi? Kalaupun itu terjadi, itu artinya dia memang bukan orangnya. Tapi jangan menyerah sebelum mencoba jujur."
Aku menenggelamkan wajahku di pundak Mama. Hangat, tapi rasa takut itu masih ada Rasanya seperti berdiri di tepi tebing satu langkah maju berarti kejujuran yang menakutkan, satu langkah mundur berarti kehilangan Tomi selamanya.
"Hana takut, Ma... Hana takut banget kalau nanti dia tahu Hana pernah punya anak... Hana takut dianggap perempuan murahan," tangisku kembali pecah di pelukan Mama.
Mama mengecup keningku lama sekali. "Kamu bukan perempuan murahan. Kamu ibu yang pernah kehilangan anaknya. Itu luka yang suci, Hana, bukan aib. Istirahatlah dulu. Jangan ambil keputusan apa pun saat hatimu masih berdarah seperti ini."
Malam itu, Mama menemaniku sampai aku tertidur karena kelelahan menangis. Namun, di dalam mimpiku, bayangan Wira yang dingin dan tatapan Tomi yang penuh harapan saling beradu, membuat tidurku sama sekali tidak tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...