Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agak panas
Setelah beberapa menit lebih menghabiskan waktu bersama Raka, Dira melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Ia harus segera pulang sebelum Arel terbangun dan mencari dirinya. Dokter Julian yang tadi mengamatinya diam-diam sudah pergi.
Dira berdiri dari kursi, mengusap wajah Raka yang terlelap lalu keluar dari kamar rawat. Pasien yang satunya lagi juga tampak pulas. Dan orang yang menjaganya tertidur di kursi. Dira tidak bisa jaga Raka kalau malam hari karena ada Arel. Raka sendiri berkata ia bisa sendirian. Kalau ada apa-apa, dia akan bilang perawat menghubungi sang kakak.
Di koridor yang sunyi, lampu berkedip-kedip sesekali, menciptakan bayangan yang bergeser-geser. Kadang bulu kuduk Dira berdiri karena suasana koridor rumah sakit cukup menakutkan di malam hari. Ia masih merenungkan kondisi Raka ketika seorang perawat muda dengan baju biru muda mendekatinya dengan raut wajah serius.
"Bu Dira," panggil perawat itu sambil mengangkat buku catatan di tangannya.
Dira menoleh dengan wajah sedikit bingung.
"Ya, suster?"
"Maaf mengganggu, tapi saya perlu memberitahu bahwa besok pagi harus dilakukan pembayaran untuk biaya pengobatan adik anda." ah betul. Setiap minggu akan ada perawat yang datang mengingatkan dia untuk bayar biaya pengobatan Raka.
"Kalau boleh saya tahu, semuanya berapa ya sus, untuk minggu ini?"
"Termasuk obat terapi jalan, pemeriksaan darah tambahan, dan konsumsi rumah sakit selama seminggu ke depan. Totalnya sekitar sepuluh juta rupiah."
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar langsung ke kepala Dira. Matanya sedikit melebar, sementara tangannya secara tidak sadar menggenggam tas selempangnya. Sepuluh juta? uang yang dia miliki sekarang bahkan sudah tidak sampai empat juta. Gajinya sudah habis digunakan untuk membayar cicilan rumah, biaya sekolah Arel, gaji mbak Ella, dan sebagian biaya rawat inap Raka minggu lalu. Masih butuh tiga minggu lagi sebelum gajian berikutnya datang.
"Oh, baik, saya akan datang besok pagi untuk melakukan pembayaran." jawab Dira dengan suara yang berusaha tetap tenang, meskipun hatinya sudah berdebar kencang. Ia mencoba mengeluarkan senyum yang terlihat alami, meskipun rasanya wajahnya seperti batu yang kaku.
Perawat itu mengangguk dan memberikan senyum ramah sebelum melanjutkan perjalanannya. Setelah sosok perawat itu hilang di tikungan koridor, seluruh kekuatan dalam tubuh Dira seolah lenyap.
Kakinya terasa lemah sekali, dan pandangannya mulai sedikit kabur. Pikirannya melayang ke mana-mana, dimana dia bisa mencari sepuluh juta dalam semalam? Meminjam ke Zora? Tapi sudah terlalu banyak bantuan yang dia terima dari wanita itu. Minta bantuan langsung pada perusahaan? Ia tidak punya keberanian, apalagi dengan omongan orang-orang di kantor yang sudah mulai meliriknya tidak suka, karena iri. Atau menjual beberapa barang berharga? Tapi apa saja yang bisa dia jual dengan nilai cukup tinggi dalam waktu singkat? Dia tidak punya barang berharga. Kecuali kalung pemberian Ethan yang masih dia simpan sampai sekarang. Belum dia kembalikan. Bukan tidak ingin, tapi tidak sempat. Tapi... Tidak mungkin dia menjual kalung itu kan?
Harganya memang mahal sekali. Mungkin di atas 100 juta, tapi tetap saja itu milik Ethan.
Jangan Dira. Kau tahu pria itu seperti apa.
Tapi Ethan tidak akan tahu, mungkin saja dia sudah lupa pernah memberikan hadiah itu. Dira kembali menggeleng-geleng, menjernihkan pikirannya.
Ia berusaha tetap berdiri dan melangkah menuju lobi. Setiap langkah rasanya berat sekali karena beban dalam pikirannya. Ketika sudah hampir mencapai pintu masuk lobi, kepalanya tiba-tiba berputar kencang, pandangannya menjadi semakin gelap, dan tubuhnya makin terasa lemah. Ia berusaha tetap kuat dengan menekan tangan pada tembok, tapi kekuatan sudah hampir habis. Ia merasa akan jatuh.
"Hati-hati!"
Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang tangan kuat meraih pinggang dan bahunya, menopangnya dengan erat. Dira menoleh pelan dan melihat wajah dokter Julian yang penuh kekhawatiran menatapnya. Pria itu sudah mengenakan pakaian santai, bukan jas dokter. Mungkin dia sudah mau pulang.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya dokter Julian dengan suara yang tegas namun penuh perhatian. Ia membantu Dira untuk duduk di kursi tunggu terdekat, lalu segera mengambil gelas air mineral yang memang selalu disiapkan tak jauh dari situ.
Dira meneguk air dengan tergesa-gesa, tangan nya sedikit gemetar. Setelah beberapa tegukan, pandangannya mulai kembali jelas, meskipun tubuhnya masih terasa lemas.
"Te-terima kasih, dok."
Julian duduk di sebelahnya, melihat wajah Dira yang pucat, ia jadi khawatir. Ia sudah melihat bagaimana wanita itu menghadapi segala beban dengan sabar selama hampir sebulan terakhir bolak balik merawat dan menjaga adiknya. Dan sekarang, akhirnya ia melihat wanita kuat itu hampir pingsan.
"Kau terlalu capek. Kau tidak perlu datang setiap hari ke rumah sakit, sudah ku bilang kan adikmu akan terus aku pantau? Aku akan menjaganya. Aku dengar dari Zora, pekerjaanmu di kantor sangat banyak. Selain jadi asistennya, kau juga di suruh mengerjakan yang lain. Jangan terlalu memaksakan diri kalau sudah capek."
Dira tersenyum.
"Aku sudah terbiasa. Mungkin karena hari ini memang kondisi tubuhku sedikit kurang stabil." ucapnya. Julian menghembuskan nafas panjang, lalu tanpa segan telapak tangannya menyentuh dahi Dira, mengecek suhu badannya.
"Kau agak panas." katanya. Tatapannya serius.
"Ah, mungkin karena suhu di sini sedikit panas."
Julian menatap wanita itu tajam.
"Kau tidak lihat banyak AC yang di pasang di sini? Lihat, apa mantel orang-orang itu tipis?" Ia menunjuk beberapa keluarga pasien yang duduk tak dari tempat mereka.
Dira tersenyum canggung. Aneh sekali, dokter temannya Zora ini biasanya selalu bicara tenang dan ramah. Kali agak kesal. Apa dia melakukan sesuatu yang salah?
"A-aku akan pulang dan istirahat di rumah." katanya langsung karena suasana mendadak terasa canggung.
"Naik apa?"
"Ah?"
"Kau bawa motor sendiri?"
Beberapa hari yang lalu Julian tidak sengaja melihat Dira bawa motor sendiri ke rumah sakit, jadi dia bertanya seperti itu.
"Aku, naik taksi."
Julian langsung berdiri.
"Sudah jam segini. Kebetulan aku mau pulang. Ayo, sekalian aku antar."
"Nggak usah dok, nggak usah. Aku bisa pulang sen ..."
Sebelum ia menyelesaikan kalimat penolakannya, ponselnya bergetar. Mbak Ella menelpon. Pasti masalah Arel. Dira segera mengangkatnya.
"Iya mbak?"
"Dir, Arel panas tinggi. Aku tahu kenapa. Dia nangis-nangis pengen kamu sekarang."
Wajah Dira langsung pucat. Apa lagi ini ya ampun.
"Baik mbak, aku pulang sekarang." katanya segera mengakhiri panggilan Ella. Ia menatap Julian yang juga sedang menatapnya bingung.
"Ada apa?"
"Dok, maaf. Bisa tolong antarkan aku ke tempat tinggalku sekarang?"
Tak waktu lama bagi Julian untuk mengangguk. Ia tidak bertanya apa-apa. Raut wajah Dira seperti panik, mungkin ada sesuatu yang terjadi di rumahnya.
"Ayo."
Mereka pun berjalan cepat ke parkiran rumah sakit.