Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Memanjakannya
Hu Lian tak mengatakan sepatah kata pun, dan Bai Xuning sebenarnya berharap gadis itu tetap diam seperti ini untuk sementara waktu—dia takut akan mendengar kata-kata yang menyakitkan darinya lagi.
Keduanya berada dalam posisi itu cukup lama, hingga akhirnya Hu Lian merasa perutnya mulai tidak nyaman karena posisinya yang sedikit menyiksanya.
Dia mengangkat tangannya dengan lembut dan menarik rambut Bai Xuning agar wajahnya menjauh dari lehernya yang terasa geli karena napas hangatnya.
"Turunkan dulu... perutku sakit kalau terus seperti ini..." ucapnya dengan suara pelan, tepat saat Bai Xuning melihatnya dengan mata yang sedikit merah—entah karena kemarahan tadi atau karena merasa sedih.
Pria itu langsung mengangguk dan berjalan dengan hati-hati ke arah sofa, lalu duduk dengan lembut sambil menempatkan Hu Lian di pangkuannya.
"......." Hu Lian benar-benar tak habis pikir dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah begitu saja. Dia mencoba untuk berdiri, namun tangan Bai Xuning dengan cepat menariknya kembali agar tetap duduk di atas pangkuannya.
"Jangan pergi... apa kamu belum makan?"ucap Bai Xuning dengan suara yang jauh lebih rendah dan lembut dibandingkan tadi. Dia berusaha sekuat tenaga untuk melembutkan suaranya agar tidak membuat Hu Lian merasa takut lagi.
Tangannya yang besar dengan hati-hati menyentuh perut dan pinggang gadis itu, seolah ingin memberikan rasa nyaman dan memeriksa apakah dia benar-benar tidak enak badan.
Hu Lian meliriknya dengan tatapan yang bercampur antara kebingungan dan sedikit tak berdaya .Pria itu tidak menghindari pandangannya—matanya penuh dengan kesungguhan dan rasa khawatir yang tulus.
Dia bisa merasakan bahwa Bai Xuning benar-benar tidak ingin melepaskannya sama sekali...
Pada akhirnya Bai Xuning mengambil ponselnya dan menelpon Wang Yihan, memberikan instruksi dengan jelas.
"....Buang semua minuman di ruangan itu dan ganti dengan makanan hangat serta jus buah untuk kakak iparmu..." ucapnya dengan suara yang sudah kembali tenang namun tetap tegas.
Wang Yihan yang sudah tahu dari Zhang Fei bahwa gadis kecil itu adalah "kakak ipar" mereka segera menyanggupi dengan cepat.
"Baik Kak Bai, saya akan atur segera!"jawabnya dengan semangat sebelum Bai Xuning menutup panggilan.
Saat melihatnya menutup telepon dan menaruhnya di meja, Hu Lian mengambil napas dalam dan membuka mulutnya.
"Kita kan mantan tunangan,tidak perlu kamu lakukan semua ini untukku..." ucapnya dengan suara pelan, belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Tiba-tiba bibirnya ditutupi oleh jari Bai Xuning yang lembut namun tegas. Pria itu menatapnya dengan mata yang penuh dengan berbagai emosi—kesedihan yang mendalam, sedikit paranoid, dan pandangan posesif yang tak bisa disembunyikan lagi.
"Aku tak pernah setuju!" ucapnya dengan suara yang kuat dan jelas, membuat Hu Lian terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Kita hanya berhenti sementara waktu, bukan berarti kamu tidak punya hubungan denganku lagi. Aku tidak pernah menganggap mu hanya mantan tunangan....." lanjutnya dengan nada yang penuh keyakinan, menarik jarinya dari bibir Hu Lian namun tetap menjaga jarak yang sangat dekat.
Hu Lian hanya bisa menatapnya dengan mata yang melebar. Kata-kata Bai Xuning membuat hatinya berdebar lebih kencang, pria itu keras kepala seperti batu.
Suasana pecah saat 3 pelayan mengetuk pintu dan dengan sopan meminta untuk membersihkan meja. Bai Xuning mempersilahkan mereka.
Makanan hangat dan jus buah segar segera juga disiapkan oleh orang pelayan dan diantar ke dalam ruangan.
Tidak lama kemudian, Wang Yihan dan Zhang Fei juga masuk bersama untuk melihat keadaan, namun mereka langsung membeku saat melihat apa yang terjadi di dalam.
Bai Xuning—pria yang dikenal dingin, terkadang kejam dan acuh tak acuh—kini dengan lembut memeluk pasangannya di pangkuannya dengan sikap yang sangat hangat.
Kedekatan mereka begitu nyata, membuat suasana ruangan terasa sangat pribadi.Melihat kedua tamu yang tiba-tiba masuk, Hu Lian langsung merasa tidak nyaman.
Dia mencoba untuk bangun dari pangkuan Bai Xuning dengan cepat, namun pria itu segera menariknya kembali dengan kuat sambil mengeluarkan kalimat yang sangat tidak terduga.
"...Jika kamu berani turun dari pelukanku lagi, percaya atau tidak aku akan mengambil semua barang-barangmu dan menyimpannya di apartemenku." ucapnya dengan suara rendah namun jelas terdengar oleh semua orang di dalam ruangan.
"Bai Xuning apa kamu gila...." ucap Hu Lian dengan nada marah dan tidak percaya,dengan kata-kata yang keluar dari mulut pria itu.
Namun Bai Xuning hanya semakin erat memeluknya, menyenderkan kepalanya ke leher gadis itu dengan nada yang penuh dengan candaan namun juga sedikit serius."...Apa kamu baru sadar?"
"......." Tak tau malu!.
"......."Zhang Fei dan Wang Yihan saling melihat dengan wajah yang sama-sama terkejut dan sedikit malu.
Mereka berdiri seperti patung di depan pintu, merasa sangat tidak pantas berada di tempat itu saat ini. Seolah secara tidak sengaja mereka telah memasuki ruangan yang seharusnya tidak boleh mereka datangi.
Zhang Fei sudah mulai menariknya perlahan keluar dari ruangan sambil berbisik,"Kita harus keluar sekarang juga! Sepertinya kita salah waktu masuk..."
Wang Yihan dan Zhang Fei segera keluar dari ruangan dengan malu, bahkan menutup pintunya dengan hati-hati agar tidak mengganggu pasangan itu.
Bai Xuning sama sekali tidak memperdulikan kedatangannya maupun kepergiannya—perhatiannya kini terfokus penuh pada Hu Lian yang ada di pangkuannya.
Dia dengan sangat hati-hati mengambil piring makanan hangat yang sudah disiapkan, kemudian mengambil sendok dan menuangkan sedikit makanan ke dalamnya.
Tanpa memberi pilihan, dia menghadapkan sendok tersebut ke arah bibir Hu Lian dengan tatapan yang tidak bisa ditolak.
"......"Hu Lian hanya bisa menghela nafas dan menerima makanan yang diberikan kepadanya dengan terpaksa.
Lagipula, dengan tubuhnya yang kecil dan lemah, dia benar-benar tidak akan bisa mengalahkan kekuatan Bai Xuning yang tinggi dan berotot itu.
"Kamu pasti sudah lapar kan? Lihat saja pipimu yang semakin menipis," ucap Bai Xuning dengan suara lembut, sambil memperhatikan setiap gerakan Hu Lian saat makan.
Dia bahkan mengambil gelas jus buah dan memberikannya saat Hu Lian mulai sedikit tersedak.
Hu Lian hanya bisa diam dan menikmati makanan yang diberikan padanya. Rasanya memang enak dan membuat perutnya yang sebelumnya sakit mulai terasa lebih baik.
Meskipun masih merasa sedikit marah dan tidak nyaman dengan sikap posesif Bai Xuning, dia tidak bisa menyangkal bahwa dia merasa diperhatikan dan dijaga dengan baik.
Setelah beberapa suapan, Bai Xuning mulai makan juga sambil tetap menjaga Hu Lian tetap duduk di pangkuannya.
Suasana yang tadinya penuh dengan ketegangan kini menjadi lebih tenang dan hangat, hanya diisi oleh suara sendok menyentuh piring dan napas mereka berdua...
Setelah merasa cukup kenyang, Hu Lian akhirnya bisa turun dari pangkuan Bai Xuning.
Namun sebelum dia bisa berjalan sendiri, tangan kecilnya langsung dipegang erat-erat oleh pria itu—seolah takut dia akan melarikan diri sewaktu-waktu.
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan bar, dengan langkah yang lambat dan tenang.
Bai Xuning tidak berkata banyak selama perjalanan pulang, hanya memberikan Hu Lian kesempatan untuk istirahat karena tubuhnya memang sudah cukup lelah setelah seharian sibuk dan acara malam itu.
Ketika mereka sampai di apartemen Hu Lian, jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.
Tanpa berkata apa-apa, Bai Xuning membantu membuka pintu dan mengantarnya masuk dengan hati-hati. Hu Lian langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri dari lelahnya, kemudian berganti dengan piyama yang lembut dan nyaman.
Ketika dia keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah, dia langsung membeku melihat Bai Xuning yang sudah duduk dengan tenang di atas ranjangnya.
Pria itu sudah berganti pakaian dia mengenakan piyama berwarna biru muda dengan pola bunga kecil yang sama persis dengan yang dikenakan Hu Lian.
Kenapa orang ini masih ada di sini?! pikir Hu Lian dengan mata melebar, merasa sedikit terkejut dan tidak nyaman.
Dia berdiri di depan pintu kamar mandi, tidak berani mendekat lebih jauh.Bai Xuning mengangkat kepalanya dan melihatnya dengan senyum tipis.
"Kamu sudah selesai mandi? Aku menyiapkan air hangat di atas meja," ucapnya dengan suara yang lembut, seperti sudah merasa di rumah sendiri.
"Aku sudah bilang kan kamu bisa pulang ke apartemen mu sendiri... kenapa kamu masih di sini?" tanyanya dengan nada sedikit kebingungan.Hu Lian hanya bisa mengerutkan dahi.
Pria itu hanya berdiri perlahan dan mendekat ke arahnya, tangan besarnya masih tetap terulur seolah ingin memegang tangannya lagi.
"Karena aku tidak ingin pergi... dan aku juga sudah bilang kan, kamu bukan mantan tunanganku."