NovelToon NovelToon
My Shaneen

My Shaneen

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.

Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.

Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Singa Betina di Balik Gaun Sutra

Raja mengumumkan sebuah festival musim panas yang tak biasa. Secara resmi, ini adalah perayaan kemenangan perang, namun semua orang tahu ini adalah ajang pamer kekuatan para putri bangsawan. Di taman istana yang luas, berbagai arena telah disiapkan: mulai dari sasaran panah, area bela diri, hingga lintasan menembak untuk berburu.

"Aku ingin melihat sejauh mana putri-putri bangsa kita siap untuk bersanding dengan para ksatria," ujar Raja dengan nada meremehkan, matanya sesekali melirik ke arah Matthias yang duduk di barisan kehormatan dengan wajah kaku.

Satu per satu putri bangsawan maju. Putri Isabella cukup baik dalam memanah, dan Clarissa berhasil mengenai sasaran menembak meskipun tangannya gemetar. Nenek Matthias, Grand Duchess Sophie, mengangguk bangga melihat mereka. "Gadis-gadis ini tahu apa yang dibutuhkan oleh seorang Duke," gumamnya.

Lalu, tiba saatnya nama Shaneen von Asturia dipanggil.

Shaneen melangkah maju. Dia tidak memakai gaun pesta yang rimbun seperti putri lainnya. Dia mengenakan pakaian berkuda yang dimodifikasi dengan potongan sutra yang sangat elegan, sopan, namun memudahkannya bergerak.

Tanpa banyak bicara, Shaneen mengambil busur panah. Dengan gerakan yang sangat efisien dan mata yang tajam, dia melepaskan anak panah tepat di titik tengah sasaran—tiga kali berturut-turut. Keheningan melanda arena.

Lalu di area senapan, dia membidik sasaran bergerak dengan ketenangan seorang penembak jitu. Dor! Dor! Semua tepat sasaran. Bahkan saat sesi bela diri taktis, dia menunjukkan kelincahan yang membuat para jenderal militer di sana ternganga. Shaneen bukan hanya "tahu", dia sangat mahir.

Grand Duchess Sophie mulai goyah. Pegangan tangannya pada kursi mengerat. Dia melihat Shaneen jauh lebih unggul, jauh lebih tajam daripada Putri Isabella yang terlihat seperti boneka pajangan.

Raja yang mulai merasa terintimidasi oleh kehebatan fisik Shaneen, mencoba menjatuhkannya lewat sisi seni. "Luar biasa, Lady Asturia. Tapi ksatria juga butuh kelembutan. Kudengar kau mencintai musik. Di sini ada Geomungo (kecapi tradisional Korea), instrumen yang sangat sulit dikuasai. Bisakah kau memainkan satu lagu untuk kami?"

Raja tersenyum sinis. Dia pikir Shaneen—yang tumbuh di lingkungan Barat dan lulusan Oxford—tidak akan bisa memainkan alat musik tradisional dari tanah kelahiran ibunya. Raja sengaja melakukan penghinaan ini, ingin agar Shaneen dimaki karena tidak tau apa-apa soal budaya ibunya sendiri.

"Tentu Yang Mulia, saya terima dengan hormat." Ucap Shaneen sambil membungkukkan badannya.

Shaneen berjalan dengan langkah anggun menuju instrumen kayu itu. Dia duduk dengan posisi punggung yang tegak sempurna. Jemarinya yang ramping menyentuh senar dengan penuh hormat.

Begitu petikan pertama terdengar, suasana istana berubah. Musik yang dimainkan Shaneen tidak mendayu-dayu seperti musik bangsawan pada umumnya. Nadanya kuat, berani, namun menyimpan kesedihan yang mendalam.

Di sisi panggung, seorang penyiar istana yang bertugas menafsirkan suasana mulai bicara dengan suara rendah namun terdengar ke seluruh penjuru:

"Dengarlah... alunan ini bercerita tentang dunia yang timpang. Iramanya menggambarkan wanita yang dituntut menjadi porselen tanpa celah, dipaksa sempurna dalam diam. Sementara laki-laki di depan mereka, berdiri tegak seperti tembok bata yang kokoh namun dingin. Sebuah dunia yang hanya memberi hormat kepada mereka yang memegang takhta, tanpa melihat jiwa yang hancur di baliknya..."

Irama Geomungo itu semakin cepat, seolah-olah Shaneen sedang berteriak melalui senar kayu itu. Dia sedang menampar kenyataan bahwa mereka semua di sini hanya melihat status, bukan manusia.

Matthias tidak bisa melepaskan pandangannya dari Shaneen. Dadanya terasa sesak karena rasa bangga dan cinta yang meledak-ledak. Baginya, Shaneen saat ini bukan lagi sekadar calon istri; dia adalah monster yang dibungkus dengan rupa manusia paling cantik. Dia adalah predator yang baru saja menguliti kemunafikan seluruh penghuni istana hanya dengan sepotong musik.

"Dia gila..." bisik Samuel yang berdiri di samping Stellan. "Dia benar-benar menunjukkan taringnya hari ini."

Shaneen mengakhiri musiknya dengan satu petikan kuat yang menyisakan dengungan panjang di udara. Dia berdiri, membungkuk kecil pada Raja dengan wajah datar tanpa emosi, lalu berjalan kembali ke tempat duduknya tanpa menunggu pujian dari siapa pun.

Raja terdiam membatu. Grand Duchess Sophie hanya bisa menelan ludah, menyadari bahwa gadis yang dia remehkan sebagai "gadis biasa" sebenarnya adalah penguasa panggung yang sesungguhnya.

Matthias berdiri dari kursinya, mendekat ke arah Shaneen di tengah kerumunan yang masih terpaku. Dia tidak peduli lagi pada protokol. Dia hanya ingin berada di dekat satu-satunya wanita yang berhasil membuat seluruh kerajaan merasa kerdil dalam satu sore.

"Kau luar biasa, Ninin," bisik Matthias tepat di samping telinganya.

Shaneen menoleh sedikit, memberikan tatapan tajamnya yang khas. "Jangan berlebihan, Matthias. Aku hanya benci melihat alat musik itu dimainkan dengan cara yang salah oleh orang lain nanti. Aku hanya merapikan nadanya."

Matthias terkekeh. Singa betinanya baru saja mengaum, dan dia sangat menyukainya.

1
Vivi
👍😍
Hana Nisa Nisa
sampai tahan.nafas bacanya
Mamanya Raja
Thor cerita mu keren loh
Bae •: terimakasih ya^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!