Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Curhat Tengah Malam
"Hah... perempuan itu benar-benar menguji kesabaranku."
Kairo menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang mahal. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Jam dinding digital di ruang kerjanya menunjukkan pukul satu dini hari.
Di atas meja, tumpukan berkas proyek Tol sudah rapi. Pekerjaannya selesai.
Kairo sudah memenangkan tender, sudah memecat manajer korup, dan sudah mengamankan posisi perusahaan. Secara logika, dia harusnya tidur nyenyak malam ini.
Tapi matanya tidak bisa terpejam.
Pikirannya bukan tertuju pada angka triliunan rupiah, melainkan pada pintu kamar di sebelah ruang kerjanya. Pintu kamar Elena yang tertutup rapat.
Tadi sore, Kairo mencoba bersikap manis. Dia menawarkan kartu kredit, dia mengajak bicara. Tapi Elena? Istrinya itu hanya tersenyum tipis, mengambil kartu itu dengan dua jari seperti mengambil sampah, lalu masuk kamar dan mengunci pintu.
"Dingin sekali," gumam Kairo. "Dulu dia merengek minta perhatian 24 jam. Sekarang aku ada di depan matanya, dia malah asyik main Candy Crashe."
Kairo merasa egonya tergores. Dia CEO yang dikejar ribuan wanita. Model sekelas Andira saja rela mengemis cintanya. Tapi istri sahnya sendiri memperlakukannya seperti pajangan rumah tangga yang tidak penting.
Kairo meraih tabletnya. Dia butuh teman bicara. Tapi siapa yang bisa diajak bicara jam segini? Reza pasti sudah tidur mati. Teman-teman klub golfnya isinya cuma pembual.
Jari Kairo berhenti di ikon aplikasi pesan terenkripsi.
EL.
Konsultan bayangan itu. Sosok misterius yang cerdas, logis, dan—sejauh ini—sangat efektif. Kairo merasa nyaman bicara dengan EL karena EL tidak basa-basi.
"Mungkin dia belum tidur," pikir Kairo. "Orang jenius biasanya insomnia."
Kairo mengetik pesan.
Kairo: Belum tidur?
Di kamar sebelah.
Elena sedang duduk bersila di atas kasur, memakai piyama satin hitam. Dia sedang menghitung estimasi keuntungan dari investasi kripto-nya di laptop.
Ting!
Notifikasi masuk di ponsel khususnya.
Elena melirik layar. Pesan dari 'ATM Berjalan' alias Kairo.
"Belum tidur?" eja Elena sambil mendengus geli. "Ini orang kenapa sih? Siang jadi bos galak, malam jadi bucin kesepian."
Elena sebenarnya malas meladeni. Tapi ingat, tarifnya 50 juta per jam. Meladeni curhatan Kairo sama dengan menyalakan mesin pencetak uang.
Elena mengambil ponselnya.
EL: Tarif malam berlaku ganda. Ada krisis perusahaan apa lagi? Pabrikmu terbakar?
Kairo membaca balasan itu dan tersenyum kecut. Orang ini benar-benar mata duitan. Tapi setidaknya dia jujur.
Kairo: Tidak ada kebakaran. Perusahaan aman. Saya cuma... butuh opini kedua. Bukan soal bisnis. Soal personal.
Elena menaikkan satu alisnya. Personal? Tumben.
EL: Saya konsultan bisnis, bukan psikolog pernikahan. Tapi kalau Anda bayar, saya dengarkan. Cerita saja.
Kairo ragu sejenak. Apakah pantas seorang CEO curhat soal istri ke orang asing? Ah, persetan. EL tidak tahu siapa dia, dan dia tidak tahu siapa EL. Anonimitas ini membuatnya merasa aman.
Kairo: Ini soal istri saya.
Elena nyaris tersedak air mineral yang sedang diminumnya.
"Wow," bisik Elena. "Dia mau gibahin aku ke aku sendiri? Ini menarik."
Elena meletakkan gelasnya dan memperbaiki posisi duduknya. Dia siap menikmati pertunjukan ini.
EL: Lanjutkan. Istri Anda kenapa? Selingkuh? Boros? Atau minta cerai?
Kairo: Bukan. Dia... aneh. Dulu dia manja, penurut, dan sangat terobsesi pada saya. Tapi akhir-akhir ini dia berubah total. Dia jadi dingin. Sangat dingin. Seperti kulkas dua pintu.
"Kulkas dua pintu?" Elena tertawa tanpa suara. "Kurang ajar. Badan sebagus ini dibilang kulkas."
Kairo: Dia cerdas, tiba-tiba paham bisnis, tapi emosinya mati. Saya kasih perhatian, dia cuek. Saya kasih hadiah, dia biasa saja. Saya ada di rumah, dia malah mengunci diri di kamar. Rasanya saya seperti tinggal dengan patung es yang cantik.
Elena mengetik balasan dengan senyum miring.
EL: Mungkin dia bosan melihat wajah Anda, Pak.
Kairo: Tidak mungkin. Saya tampan. Banyak wanita antre ingin bersama saya.
EL: Percaya diri sekali. Tapi dengar, Pak Bos. Kalau wanita tiba-tiba berubah dingin, biasanya ada dua penyebab. Satu, dia punya pria lain. Dua, dia kecewa berat pada pasangannya sampai rasanya sudah bebal.
Kairo membaca pesan itu. Hatinya mencelos. Pria lain? Kairo teringat pelacak GPS yang dia pasang (dan gagal). Dia belum menemukan bukti Elena selingkuh.
Kecewa? Kecewa apa? Kairo merasa dia suami yang bertanggung jawab. Dia memberi nafkah, rumah mewah, status sosial.
Kairo: Saya kasih dia segalanya. Rumah, mobil, uang belanja. Kurang apa saya?
Elena terkekeh. Kairo ini tipikal pria kaya yang buta emosi. Dia pikir uang bisa membeli mood wanita.
EL: Fasilitas itu kewajiban, bukan prestasi. Mungkin masalahnya bukan di dompet Anda, tapi di 'servis' Anda.
Kairo: Servis?
EL: Ya. Servis. Pelayanan. Mungkin Anda kurang memuaskan. Kurang peka. Atau mungkin di ranjang Anda payah? Wanita itu butuh servis lahir batin yang seimbang, Pak.
Wajah Kairo memerah padam membaca pesan itu. Payah di ranjang?! Berani sekali orang ini!
Kairo mengetik dengan emosi.
Kairo: Jaga bicara Anda! Saya sangat perkasa! Kami belum tidur bersama akhir-akhir ini karena dia yang menolak, bukan karena saya tidak mampu!
Di kamar sebelah, Elena tertawa sampai memegangi perutnya. Menggoda suami sendiri lewat akun anonim ternyata hiburan yang sangat menyenangkan.
"Perkasa apanya," cibir Elena. "Terakhir kali kita 'tidur' bareng, kamu cuma meluk guling sambil ngorok."
EL: Hahaha. Jangan baper. Saya cuma analisis. Intinya, istri Anda merasa Anda tidak penting lagi. Anda cuma dianggap mesin ATM. Kalau Anda mau dia hangat lagi, Anda harus ubah strategi.
Kairo terdiam menatap layar tabletnya. Kalimat "Anda cuma dianggap mesin ATM" menohok ulu hatinya. Itu menyakitkan karena terasa sangat akurat.
Kairo menatap pintu penghubung kamarnya lagi. Dia membayangkan Elena di dalam sana. Dia ingin Elena yang dulu—yang menatapnya penuh cinta—tapi dengan otak Elena yang sekarang.
Apakah dia serakah?
Kairo menghela napas panjang. Dia menyerah. Dia butuh solusi. Dia tidak tahan didiamkan seperti ini. Rasanya lebih frustrasi daripada kehilangan tender.
Kairo: Oke, Anda menang. Analisis Anda mungkin benar. Saya merasa diabaikan di rumah saya sendiri. Jadi, Tuan Konsultan Jenius, apa saran Anda?
Elena membaca pesan itu. Dia melihat celah keuntungan lagi.
Dia bisa saja menyarankan Kairo untuk "lebih perhatian", "mengajak bicara dari hati ke hati", atau "bawa bunga".
Tapi Elena bukan wanita romantis. Dia wanita pragmatis. Dan dia butuh modal tambahan untuk proyek rahasianya minggu depan.
"Kenapa minta hati kalau bisa minta harta?" pikir Elena logis.
Elena mulai mengetik balasan.
Kairo: Ketik yang jelas. Apa langkah konkret yang harus saya lakukan besok pagi supaya istri saya luluh? Supaya dia berhenti jadi kulkas dan mau tersenyum manis lagi pada saya? Saya akan lakukan apa saja.
Elena tersenyum lebar. Matanya berkilat nakal.
EL: Simple. Wanita itu makhluk visual, tapi juga makhluk transaksional. Kalau kata-kata manis sudah tidak mempan, pakai bahasa universal yang dipahami semua wanita.
Kairo: Apa itu? Berlian? Tas?
Elena menggelengkan kepalanya di kamar. Kuno. Tas bisa palsu. Berlian susah dijual lagi.
Elena mengetik kalimat pamungkasnya.
EL: Bukan barang. Barang itu ribet. Langsung ke intinya saja.
EL: Transfer duit ke rekening pribadinya. Kasih nominal yang bikin dia kaget. Dan ingat: Jangan banyak tanya buat apa uangnya. Kasih saja.
Kairo membaca pesan itu dengan kening berkerut dalam.
Transfer uang? Cuma itu?
Kairo: Itu saja? Kedengarannya seperti saya menyogok istri sendiri.
EL: Memang menyogok. Tapi percayalah, Pak. Tidak ada obat sakit hati yang lebih manjur daripada notifikasi M-Banking. Coba transfer 500 juta besok pagi dengan berita transfer: "Untuk Istriku Cantik". Saya jamin, kulkas dua pintu itu akan berubah jadi oven yang hangat.
Kairo terdiam lama.
Lima ratus juta. Itu uang yang banyak. Tapi bagi Kairo, itu setara dengan membeli satu jam tangan baru.
Apakah semudah itu? Apakah Elena akan luluh cuma dengan uang?
Kairo merasa ragu. Dia pikir Elena butuh cinta, butuh waktu. Tapi EL—yang logikanya selalu benar—bilang solusinya adalah uang tunai.
"Baiklah," gumam Kairo. "Kita coba saran gila ini."
Kairo: Oke. Saya coba besok. Kalau gagal, uang konsultasi Anda saya potong.
EL: Kalau berhasil, jangan lupa komisi saya.
Kairo menutup aplikasi itu. Dia mematikan tabletnya.
Pikirannya melayang. Dia penasaran reaksi Elena besok.
Di kamar sebelah, Elena menutup laptopnya dengan perasaan puas.
"Besok bakal jadi hari yang indah," gumam Elena sambil menarik selimut. "Siap-siap pasang wajah kaget dan bahagia, Elena. Aktingmu harus Oscar-worthy besok pagi."
Elena memejamkan mata, bermimpi tentang angka nol yang berbaris rapi di rekeningnya.
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪