Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: BENIH PERLAWANAN DI LEMBAH KABUT
Pagi di Puncak datang dengan sisa-sisa embun yang menggantung berat di ujung daun. Udara yang dingin menusuk tulang tidak menyurutkan semangat Juliet. Ia berdiri di tengah taman rahasia yang baru saja ditemukan semalam, memegang sekop kecil dengan tangan yang kini tidak lagi ragu menyentuh tanah.
Di sampingnya, Gaara sedang berlutut, dengan teliti menggali lubang untuk memindahkan beberapa bibit Golden Hope ke area yang lebih terbuka agar mendapatkan sinar matahari pagi. Keringat tipis tampak di pelipisnya meski suhu udara hanya mencapai 16°C.
"Kau pikir Adam benar-benar akan membangun hotel di sana?" tanya Juliet, menunjuk ke arah bukit sebelah yang kini mulai dipenuhi oleh patok-patok kayu berwarna merah.
Gaara berhenti sejenak, menyeka keringatnya dengan lengan baju. "Dia tidak peduli pada hotel itu, Juliet. Dia hanya ingin menutupi pemandangan kita, merusak sumber air tanah, dan membuat kita merasa tercekik. Itu adalah taktik pengepungan. Dia ingin kita menyerah karena merasa tidak punya ruang untuk bernapas."
Juliet terdiam, menatap mawar emas yang kelopaknya mulai membuka perlahan seiring munculnya cahaya matahari. "Dia tidak tahu kalau mawar ini justru butuh sedikit tekanan untuk mengeluarkan warna terbaiknya."
Gaara tersenyum, lalu berdiri. Ia mendekati Juliet, mengambil sekop dari tangannya dan meletakkannya di tanah. Ia meraih kedua tangan Juliet, membawa gadis itu masuk ke dalam dekapan hangatnya di tengah rimbunnya tanaman mawar yang mulai dirapikan.
"Kau sudah bekerja keras sejak subuh tadi," bisik Gaara. Suaranya yang berat terasa hangat di telinga Juliet.
Juliet menyandarkan kepalanya di dada Gaara, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan bau tanah segar dan embun pagi. "Aku hanya tidak ingin membuang waktu. Warisan Ibu ini... ini adalah kesempatan kita, Gaara. Aku ingin dunia tahu bahwa mawar ini ada, bukan karena uang Wijaya, tapi karena cinta Ibu pada alam."
Gaara menjauhkan sedikit tubuhnya, menatap mata Juliet dengan kedalaman yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang. Di bawah naungan pohon pinus yang menjulang, dengan latar belakang lembah yang berselimut kabut, suasana terasa begitu magis dan intim.
"Juliet," panggil Gaara lirih.
"Ya?"
"Terima kasih karena tidak menyerah padaku. Saat di Tebet, saat Adam mengancam kita... aku sempat berpikir bahwa mungkin kau akan lebih aman jika kembali ke duniamu yang dulu."
Juliet menggeleng cepat, menaruh jari telunjuknya di bibir Gaara. "Duniamu adalah duniaku sekarang, Gaara. Tidak ada tempat yang lebih aman bagiku selain di sisimu, meski kita hanya punya atap yang bocor dan tanah yang penuh duri."
Gaara tersenyum tipis, lalu perlahan merunduk. Ia mengecup dahi Juliet lama, sebuah kecupan yang penuh dengan rasa hormat dan janji perlindungan. Kemudian, bibirnya turun ke hidung, lalu berakhir di bibir Juliet. Ciuman itu lembut namun penuh gairah, sebuah ungkapan cinta yang tumbuh subur di tengah badai kehidupan yang mereka lalui.
Tangan Gaara melingkar di pinggang Juliet, menariknya lebih dekat seolah tidak ingin ada jarak sedikit pun di antara mereka. Juliet membalasnya dengan melingkarkan lengannya di leher Gaara, jemarinya bermain di rambut pria itu yang sedikit berantakan. Di tengah taman rahasia yang tersembunyi dari mata dunia, mereka seolah menciptakan surga kecil mereka sendiri.
"Aku mencintaimu," bisik Juliet saat pautan bibir mereka terlepas. "Lebih dari mawar mana pun di taman ini."
Gaara terkekeh rendah, mencium ujung hidung Juliet sekali lagi. "Dan aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri. Sekarang, ayo kita selesaikan penanaman ini sebelum para pekerja Adam mulai mendatangkan alat berat."
Ketenangan itu tidak bertahan lama. Menjelang siang, suara deru mesin buldoser mulai bergema dari bukit sebelah. Suaranya memecah kesunyian Puncak, menggetarkan kaca-kaca jendela rumah tua itu.
Juliet dan Gaara keluar ke teras. Di sana, mereka melihat beberapa truk besar menurunkan material bangunan di lahan samping. Seorang pria berpakaian necis dengan kacamata hitam berdiri di dekat pagar pembatas, memegang blueprint besar.
"Itu orang kepercayaannya," desis Gaara.
Pria itu melihat mereka dan melambaikan tangan dengan gaya yang sangat provokatif. Ia berjalan mendekati pagar pembatas yang memisahkan lahan mereka.
"Selamat siang, Nona Juliet! Tuan Adam mengirimkan salam hangat," teriak pria itu dari kejauhan. "Beliau berpesan, jika kebisingan ini mulai mengganggu kecantikan Anda, pintu pesawat jet pribadinya selalu terbuka untuk menjemput Anda kembali ke Sydney."
Juliet melangkah maju ke depan pagar, dagunya terangkat tinggi. "Katakan pada majikanmu, Adam, bahwa suara mesin ini bagi kami hanyalah musik latar yang membosankan. Dan katakan padanya, jangan terlalu sibuk membangun beton, karena akar mawar kami sudah tumbuh jauh lebih dalam daripada pondasi hotelnya."
Pria itu tertawa sinis. "Kita lihat saja berapa lama mawar kalian bertahan tanpa akses air bersih. Kami baru saja mendapatkan izin untuk mendalami sumur bor di lahan ini. Semua air dari mata air atas akan dialihkan ke proyek kami."
Gaara menyipitkan mata. Sabotase air. Itu adalah langkah yang sangat fatal bagi perkebunan mawar. "Kau tidak bisa melakukan itu secara hukum. Mata air itu adalah milik bersama warga lembah!"
"Hukum bisa dibeli, Mas Tukang Kebun," balas pria itu sebelum berbalik pergi.
Malam harinya, suasana di dalam rumah terasa tegang. Bu Ratna sudah tertidur di kamarnya, namun Juliet dan Gaara masih duduk di meja makan, mempelajari peta pengairan lembah yang ditemukan di jurnal ibunya.
"Dia benar-benar akan memutus aliran air kita," ucap Juliet cemas. "Tanpa air yang cukup, Golden Hope tidak akan bisa bertahan lebih dari seminggu. Apalagi mawar ini butuh kelembapan konstan di bagian akarnya."
Gaara menunjuk sebuah titik di peta lama itu. Sebuah jalur air yang tidak terdaftar di peta dinas pengairan, namun digambar dengan tinta merah oleh ibu Juliet.
"Ibumu sudah memprediksi ini," kata Gaara dengan binar harapan di matanya. "Lihat ini. Ada saluran air kuno yang mengalir di bawah dinding Ivy taman rahasia itu. Saluran ini terhubung langsung ke sungai kecil di bawah lembah, tersembunyi di balik gua-gua kecil. Adam tidak akan bisa menyentuhnya karena itu berada jauh di bawah struktur tanahnya."
Juliet merasa beban di dadanya sedikit terangkat. "Jadi kita masih punya harapan?"
Gaara mengangguk. "Kita harus menggali saluran itu kembali. Ini pekerjaan berat, Juliet. Kita harus melakukannya secara rahasia di malam hari agar orang-orang Adam tidak curiga."
Juliet menggenggam tangan Gaara. "Apapun, Gaara. Aku akan membantumu. Kita akan tunjukkan padanya bahwa dia tidak bisa membunuh harapan kita."
Malam itu, di bawah temaram cahaya bulan dan suara mesin konstruksi yang sesekali masih terdengar di kejauhan, Juliet dan Gaara mulai bergerak menuju taman belakang. Dengan cangkul dan linggis di tangan, mereka bersiap untuk melawan penindasan beton Adam dengan cara yang paling murni: kembali ke dalam perut bumi.
Saat mereka mulai menggali, Juliet menatap mawar emas yang bergoyang ditiup angin malam. Ia tahu, perang ini bukan lagi soal uang atau nama besar. Ini adalah perang tentang siapa yang paling sabar dalam merawat kehidupan. Dan di samping Gaara, Juliet merasa ia memiliki kesabaran yang tak terbatas.
"Ayo, Juliet," ajak Gaara, memberikan ciuman penyemangat di keningnya sebelum mulai menghujamkan linggis ke tanah. "Kita punya sungai yang harus kita panggil kembali."
Di kejauhan, lampu-lampu proyek Adam bersinar terang, namun di balik dinding Ivy, sebuah rahasia besar sedang dipersiapkan untuk meruntuhkan kesombongan sang penguasa beton.
...****************...