Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Ujian Tulang Naga
Surga Kedua - Langit di atas Lembah Tulang Naga.
Bayangan raksasa menutupi lembah. Kapal perang yang terbuat dari kayu perunggu menderu membelah awan kelabu, membawa tekanan yang membuat tiga ratus kultivator fana di bawahnya kembali merasakan sesak di dada mereka. Bendera berlambang nyala api tembaga berkibar ganas ditiup angin pembawa serbuk logam.
Di haluan kapal, berdiri seorang lelaki tua kurus dengan janggut keemasan. Ia mengenakan zirah tembaga yang memancarkan cahaya merah membara. Matanya setajam elang, menyapu lembah yang dipenuhi mayat penjaga tambang klannya.
Dia adalah Tetua Lie, salah satu pilar penopang Klan Api Tembaga. Kultivasinya berada di puncak mutlak Dewa Fana, selangkah lagi menuju batas Dewa Sejati. Di belakangnya, puluhan komandan di tingkat Tahap Menengah berdiri dengan wajah beringas, senjata mereka telah ditarik dari sarungnya.
"Siapa bajingan rendahan yang berani menumpahkan darah Klan Api Tembaga?!" raung Tetua Lie. Suaranya diperkuat oleh Qi murni, menghasilkan gelombang kejut yang meruntuhkan sisa-sisa menara pengawas di lembah tersebut. "Serahkan kepala kalian sekarang, dan aku akan membiarkan jiwa kalian utuh saat kuubah menjadi budak tambang!"
Di tengah pelataran, Mo Han dan pasukannya menghunus senjata rampasan mereka dengan tangan gemetar. Tekanan dari seorang ahli Tahap Puncak di Surga Kedua sangatlah mengerikan, terasa seolah langit itu sendiri yang menekan bahu mereka.
Namun, Shen Yu tidak gentar sedikit pun. Ia bahkan tidak memanggil Sabit Penebas Langit miliknya.
Shen Yu berjalan ke depan pasukannya, mengibaskan debu dari lengan jubah hitamnya dengan sangat santai.
"Turunkan senjata kalian," perintah Shen Yu pada Mo Han tanpa menoleh. "Kalian tidak perlu ikut campur. Berdiri dan tontonlah."
"T-Tapi Tuan Shen, kapal itu memiliki formasi penyerang dan puluhan ahli—"
"Tonton," potong Shen Yu dingin.
Shen Yu mendongak, menatap lambung kapal perang perunggu raksasa yang mengambang seratus tombak di udara. Ia memutar lehernya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi retakan yang renyah.
Sejak keluar dari Kolam Sumsum Naga Bintang, ia belum menguji sejauh mana batas kekuatan murni Tulang Besi Naga Bintang-nya. Ia selalu mengandalkan Ketiadaan untuk melahap musuh, tetapi hari ini, ia ingin merasakan darah di tangannya sendiri.
"Tetua Klan," Shen Yu bergumam pelan, namun suaranya menggema hingga ke telinga Tetua Lie. "Kapalmu terlalu berisik. Biar kubantu menurunkannya."
Shen Yu melebarkan kuda-kudanya. Ia tidak memadatkan Dao Ketiadaan. Ia tidak memanggil Dao Waktu. Ia bahkan tidak menggunakan Qi untuk terbang. Shen Yu hanya memusatkan seluruh tenaga murni ke kedua kakinya.
BUM!
Tanah baja di bawah kaki Shen Yu hancur lebur, membentuk kawah selebar sepuluh tombak. Daya tolak dari lompatannya begitu dahsyat hingga menciptakan ledakan udara yang memekakkan telinga.
Shen Yu melesat ke langit seperti meteor hitam legam, melawan bobot langit Surga Kedua murni dengan kekuatan ototnya.
"A-Apa yang dia lakukan?! Dia tidak menggunakan Qi untuk terbang!" salah satu komandan di atas kapal berteriak panik melihat bayangan hitam yang meluncur ke arah mereka dengan kecepatan gila.
"Aktifkan Perisai Tembaga! Hancurkan dia!" raung Tetua Lie, matanya membelalak tak percaya.
Lapisan cahaya merah berbentuk kubah seketika menyelimuti kapal perang tersebut. Formasi pelindung tingkat tinggi yang dirancang untuk menahan serangan ahli Dewa Fana Tahap Puncak.
Namun, di mata Shen Yu, kubah itu tidak lebih dari sekadar gelembung sabun.
Shen Yu tiba di depan haluan kapal. Ia menarik kepalan tangan kanannya ke belakang, lalu menghantamkannya ke arah kubah pelindung merah tersebut.
KRAAAANG!
Bukan benturan sihir, melainkan benturan tulang fana melawan hukum alam.
Kubah pelindung itu langsung hancur berkeping-keping bagaikan kaca tipis. Tangan Shen Yu menembus pelindung itu tanpa tergores sedikit pun, lalu menghunjam langsung ke lambung kapal yang terbuat dari kayu perunggu kosmik.
KRAAAAK!
Jari-jari Shen Yu merobek lambung perunggu itu seolah merobek kertas basah. Ia mencengkeram tepian kapal, lalu dengan satu tarikan buas menggunakan otot punggung dan lengannya, Shen Yu membelah seluruh bagian depan kapal perang tersebut.
Suara logam purba yang robek bergema di seluruh langit. Para komandan Klan Api Tembaga terlempar ke udara, menjerit ketakutan saat pijakan mereka hancur menjadi serpihan.
Kapal perang kebanggaan klan itu patah menjadi dua di tengah udara.
Shen Yu mendarat dengan berat di atas sisa geladak yang mulai menukik jatuh. Ia berdiri tegak di tengah reruntuhan kayu perunggu yang terbakar, menatap langsung ke arah Tetua Lie yang terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan.
"K-Kau monster!" raung Tetua Lie. Ia tahu ia berhadapan dengan sesuatu yang melanggar akal sehat. Tanpa ragu, ia memadatkan seluruh kultivasi Tahap Puncak-nya, membakar umur darahnya sendiri untuk melepaskan teknik pamungkas.
"Seni Api Pembakar Jiwa: Tinju Merah!"
Lengan kanan Tetua Lie membengkak, berubah menjadi magma tembaga yang membara. Ia menerjang maju, meninju tepat ke arah dada kiri Shen Yu, mengincar jantung sang Tiran.
Lin Xue yang menonton dari bawah menyipitkan mata, namun ia tidak bergerak untuk membantu. Ia tahu betul apa yang ada di balik jubah hitam gurunya.
DHUAAARRR!
Tinju magma tembaga itu menghantam dada Shen Yu telak. Gelombang panas meledak, menghanguskan sisa-sisa tiang kapal di sekitar mereka.
Tetua Lie menyeringai ganas. Tidak ada tubuh yang bisa bertahan dari pukulan pamungkasnya secara langsung tanpa pelindung Qi.
Namun, seringaian itu perlahan membeku.
Asap panas menyibak. Shen Yu masih berdiri di tempatnya, tidak mundur satu inci pun. Jubah hitamnya di bagian dada memang robek, namun kulit di baliknya kulit yang memancarkan kilau perak dan baja hitam sama sekali tidak tergores. Bahkan tidak ada bekas akibat luka bakar.
Sebaliknya, tangan kanan Tetua Lie bergetar hebat. Tulang-tulang di lengannya retak hingga ke bahu akibat memukul sesuatu yang kekerasannya melampaui logam bintang.
"Puncak Dewa Fana?" Shen Yu menunduk, menatap wajah pucat pasi Tetua Lie. "Pukulanmu lebih lemah dari daun kering yang jatuh di musim gugur."
"T-Tidak mungkin... Tubuh apa ini...?" Tetua Lie merintih, mundur selangkah sambil memegangi lengannya yang hancur.
"Tubuh yang akan mengubur klanmu," jawab Shen Yu.
Shen Yu melangkah maju. Ia mencengkeram kerah zirah Tetua Lie dengan tangan kirinya, mengangkat pria tua itu ke udara semudah mengangkat sepotong ranting.
"Biarkan aku mengajarimu bagaimana cara menggunakan kepalan tangan," bisik Shen Yu sedingin es abadi.
Tangan kanan Shen Yu melesat ke depan, mendarat telak di wajah Tetua Lie.
BAM!
Darah dan gigi berhamburan. Zirah wajah pelindung Tetua itu hancur menjadi bubuk.
BAM! BAM! BAM!
Shen Yu menghujaninya dengan pukulan murni, tanpa Qi, tanpa Dao. Hanya kebrutalan fisik absolut. Setiap pukulan meremukkan tulang rusuk, menghancurkan organ dalam, dan memadamkan hukum alam di dalam tubuh sang Tetua.
Pada pukulan kelima, Tetua Lie sudah tidak bisa menjerit. Wajahnya tidak lagi bisa dikenali. Shen Yu mengakhiri siksaan itu dengan menusukkan tangan kanannya menembus perut sang Tetua, meremukkan Dantian pria itu secara paksa dengan genggaman tangannya.
Shen Yu mencabut tangannya yang berlumuran darah. Ia melepaskan cengkeramannya, membiarkan mayat Tetua di batas Tahap Puncak itu jatuh terguling di atas geladak kapal yang terbakar.
Sisa-sisa bagian kapal itu akhirnya kehilangan daya angkatnya dan menghantam tanah di luar batas lembah dengan ledakan debu yang masif.
Ketika debu dan asap mulai mereda, Mo Han dan tiga ratus pasukannya melihat sosok Shen Yu melangkah keluar dari dalam kawah reruntuhan kapal. Di tangan kanannya, ia menyeret mayat Tetua Lie dengan santai, sementara tangan kirinya memegang panji Klan Api Tembaga yang telah robek.
Shen Yu melemparkan mayat dan panji itu ke hadapan pasukannya. Para komandan musuh yang selamat dari jatuhnya kapal langsung berlutut, mengemis ampun sambil bersujud hingga dahi mereka berdarah.
"Tulang Naga Bintang ini..." Shen Yu menggenggam tangannya, merasakan kepuasan murni berdesir di pembuluh darahnya. "...bekerja dengan sangat baik."
Ia menoleh ke arah Lin Xue yang berjalan mendekat. Ratu Abadi itu memancarkan Dao Kehidupan tipis untuk membersihkan darah kotor musuh dari jubah gurunya.
"Klan Api Tembaga baru saja kehilangan salah satu tetua tertingginya dan sebuah kapal perang utama," kata Lin Xue tenang. "Mereka tidak akan membiarkan ini berlalu. Pemimpin klan mereka pasti akan turun tangan sendiri, dan dia bukanlah seseorang yang bisa diremehkan."
"Itu yang kuharapkan," Shen Yu menyeringai tajam, matanya menatap melampaui lembah, ke arah dunia Surga Kedua yang luas. "Tapi menunggu musuh datang adalah cara bermain pion. Seorang Tiran memindahkan bidaknya ke wilayah musuh."
Shen Yu menunjuk ke arah utara, ke luar perbatasan hutan.
"Bawa sisa-sisa tawanan ini. Kita akan menuju kota terdekat. Saatnya mengubah papan catur Surga Kedua."
💪💪💪