NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Dimas Datang Diam-diam Menemui Nana

Jordan tersenyum kecil. Senyum yang tidak dibuat-buat, tidak profesional dingin, tapi hangat—seperti seseorang yang akhirnya mendengar pertanyaan yang seharusnya sudah lama ditanyakan.

Ia menggeleng pelan.

“Tidak, Nana,” katanya mantap. “Kamu tidak gila.”

Jawaban itu diucapkan sederhana, tanpa penjelasan panjang, tanpa istilah medis. Seolah itu fakta paling biasa di dunia.

Nana menghembuskan napas panjang. Bahunya sedikit turun, namun matanya justru semakin berkaca-kaca.

Jordan tidak langsung bicara lagi. Ia membiarkan hening bekerja, memberi ruang bagi perasaan yang sejak tadi ditahan.

“Aku mau jujur,” katanya kemudian, suaranya rendah. “Di tempat ini, banyak orang diperlakukan seperti ‘kasus’. Aku nggak mau kamu merasa seperti itu.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, namun tetap menjaga jarak.

“Kalau kamu nggak keberatan,” lanjutnya, “malam ini aku nggak mau tanya soal masalah. Aku cuma mau kenal kamu… sebagai Nana.”

Nana menatapnya ragu.

“Sebagai… aku?” tanyanya pelan.

Jordan mengangguk. “Iya."

Ia tersenyum tipis lagi.

“Kamu suka makan apa?” tanyanya ringan. “Nasi goreng? Bakso? Atau kamu tipe yang kalau lagi sedih malah nggak napsu makan?”

Nana terdiam.

Jordan tidak berhenti di situ, namun juga tidak mendesak.

“Minumannya?” lanjutnya lembut. “Teh manis? Kopi? Atau susu hangat sebelum tidur?”

Masih tak ada jawaban.

“Kalau musik?” Jordan mencoba lagi, nada suaranya tetap santai. “Kamu suka dengar lagu apa? Pop? Lagu lama? Atau yang bisa diputar keras-keras biar kepala agak sepi?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Tapi justru itu yang membuat dada Nana bergetar.

Tak ada yang pernah menanyakannya sejak ibunya meninggal.

Tak ada yang peduli apa yang ia suka.

Bibir Nana bergetar.

Ia membuka mulut, tapi tak satu pun jawaban keluar.

Air mata itu akhirnya jatuh.

Satu tetes. Lalu dua. Lalu pecah tanpa bisa ditahan.

Tangisnya tidak meledak—tidak histeris. Tapi sunyi, tertahan, seperti bendungan yang retak perlahan setelah terlalu lama menahan tekanan.

Jordan langsung berdiri setengah, refleks ingin mendekat—lalu ia berhenti. Ia ingat posisinya. Ia ingat batas.

Ia hanya berkata pelan, sangat pelan, “Nggak apa-apa.”

Nana menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar.

“Aku… aku nggak ingat lagi, Dok,” isaknya patah. “Aku nggak ingat terakhir kali ada yang nanya aku suka apa…”

Tangisnya makin dalam.

“Sejak Ibu pergi… aku cuma disuruh kuat. Disuruh ngerti. Disuruh nurut.”

Jordan kembali duduk, kali ini sedikit lebih dekat, namun tetap tidak menyentuh.

“Kamu boleh capek,” katanya lembut. “Kamu boleh nangis. Di sini… nggak ada yang bakal marah.”

Nana menggeleng sambil terisak. “Aku bahkan nggak tahu aku suka apa lagi…”

Kalimat itu menghantam Jordan lebih keras daripada semua berkas yang ia baca malam ini.

Ia mengangguk pelan. “Kalau begitu, kita cari pelan-pelan,” ucapnya. “Nggak harus malam ini. Nggak harus besok.”

Ia tersenyum kecil.

“Kita mulai dari satu hal saja. Yang paling sederhana.”

Nana menurunkan tangannya perlahan. Matanya merah, hidungnya memerah.

“Aku… dulu suka teh hangat,” katanya lirih, hampir seperti pengakuan rahasia. “Minum sama Ibu… sore-sore.”

Jordan mengangguk, mencatatnya dalam hati—bukan di map.

“Baik,” katanya pelan. “Berarti besok… aku pastikan kamu dapat teh hangat.”

Nana menatap wajah Jordan yang masih menyimpan senyum lembut itu. Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada—lupa ranjang besi, lupa bau karbol, lupa suara-suara asing di sekelilingnya.

Senyum itu tidak berlebihan. Tidak mencoba menghibur. Hanya ada.

“Dok…” gumam Nana pelan, hampir tak terdengar. “Kamu dokter yang hebat.”

Jordan terdiam sepersekian detik. Senyum di wajahnya tidak berubah, tapi sorot matanya menghangat.

“Terima kasih,” jawabnya singkat. “Tapi malam ini… aku cuma orang yang kebetulan duduk di sini.”

Ia berdiri perlahan. “Istirahat ya. Besok kita lanjut pelan-pelan.”

Nana mengangguk. Kali ini, anggukan itu lebih ringan.

Jordan melangkah pergi. Pintu menutup perlahan, meninggalkan Nana dengan perasaan yang masih sakit—tapi tidak lagi sepenuhnya gelap.

Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap melalui jeruji jendela. Suara bel pagi membangunkan penghuni kamar satu per satu. Nana terbangun dengan mata sembab, kepala masih berat, tapi dadanya tidak sesesak semalam.

Teh hangat benar-benar datang.

Suster meletakkannya di meja kecil di dekat ranjangnya tanpa banyak bicara. Uap tipis mengepul dari permukaan cangkir. Nana memegangnya dengan kedua tangan. Hangatnya menjalar ke telapak, lalu ke dada.

Jordan tidak bohong, pikirnya.

Di luar gerbang pusat rehabilitasi, seorang laki-laki berdiri gelisah sejak pagi. Kemejanya kusut, matanya cekung, rambutnya belum sepenuhnya rapi.

Dimas.

Tangannya mengepal lalu terbuka lagi. Ia mondar-mandir di depan pos keamanan, menatap gerbang besi yang terasa seperti tembok pemisah antara dirinya dan Nana.

“Saya mau ketemu Nana,” katanya pada petugas jaga, berusaha terdengar tenang. “Cuma sebentar.”

Petugas itu menggeleng tegas. “Tidak bisa, Mas. Kunjungan belum dibuka. Harus ada izin wali dan dokter penanggung jawab.”

“Tapi saya—”

“Maaf,” potong petugas. “Aturan.”

Dimas menghembuskan napas frustrasi. “Tolong sampaikan saja kalau saya di sini.”

Petugas tetap diam.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar dari dalam. Jordan muncul dari balik pintu utama, membawa map tipis di tangannya. Ia menghentikan langkah ketika melihat Dimas yang berdiri tegang di depan gerbang.

Jordan mendekat.

“Ada yang bisa saya bantu?”

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!