NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**Bab 10 Darah yang Menjawab Panggilan**

Desa terasa seperti ditahan napasnya sendiri.

Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada anjing menggonggong. Bahkan angin pun seakan lupa cara bergerak. Defit berdiri di teras rumah, menatap jalan tanah yang gelap, hatinya berdenyut tak beraturan.

Bisikan itu kembali hadir lebih jelas, lebih dekat.

Sudah waktunya.

Defit menggeleng pelan. “Tidak. Aku belum siap.”

Tawa rendah menyusup ke telinganya, membuat bulu kuduknya meremang.

Kau tidak perlu siap. Kau hanya perlu… membiarkan.

Di ujung jalan, seseorang berjalan tertatih.

Itu Herman saudara jauh Ratna, lelaki yang paling sering menghina Defit di depan orang-orang desa. Mulutnya tajam, tawanya keras, dan setiap kata yang keluar darinya selalu penuh racun.

“Kurang ajar itu pasti masih numpang makan di rumah Ratna!” gumam Herman sambil berjalan, membawa botol arak di tangannya. “Lelaki tak berguna.”

Langkahnya terhenti.

Ia merasakan udara di sekitarnya mendadak berat. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan lumpur. Herman menoleh ke kanan dan kiri.

“Siapa di situ?” bentaknya.

Bayangan pohon memanjang tidak wajar. Jalan tanah di bawah kakinya berubah lembap, seperti baru disiram darah.

Dan di kejauhan…

ia melihat Defit.

Berdiri diam. Menatapnya.

“Kamu?” Herman tertawa mengejek. “Apa? Mau minta maaf karena hidupmu menyedihkan?”

Defit tidak menjawab.

Matanya gelap, seperti menelan cahaya bulan.

Herman melangkah maju satu langkah lalu terjatuh berlutut. Dadanya terasa diremas dari dalam. Ia batuk keras, darah menyembur dari mulutnya.

“Apa… apa yang kamu lakukan?!” jeritnya panik.

Defit tersentak, tangannya gemetar.

“Aku tidak melakukan apa pun…” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri.

Namun tanah di bawah Herman mulai bergerak. Retakan kecil muncul, seperti urat-urat hitam yang merambat cepat. Dari celah itu, cairan gelap merembes berbau busuk dan dingin.

Herman menjerit, mencoba berdiri, tapi kakinya seolah ditarik ke bawah.

“Defit! Tolong! Aku salah!” tangisnya pecah, suaranya berubah menjadi ratapan.

Kata tolong itu menghantam dada Defit seperti palu.

Ia melangkah maju.

“Berhenti!” teriak Defit, suaranya pecah. “Cukup! Aku tidak mau ini!”

Untuk sesaat…

tanah berhenti bergerak.

Herman terengah-engah, air mata bercampur darah di wajahnya.

Defit mengira ia berhasil.

Lalu suara itu berbisik, dingin dan kejam:

Ia memanggil namamu bukan karena penyesalan, tapi karena takut mati.

Retakan tanah terbuka lebih lebar.

Herman berteriak histeris saat sesuatu yang tidak terlihat menyeret tubuhnya ke dalam kegelapan. Tanah menutup kembali perlahan menyisakan keheningan yang memekakkan.

Tidak ada darah.

Tidak ada mayat.

Hanya bau kematian yang tertinggal.

Defit jatuh berlutut.

Tangannya mencengkeram tanah, tubuhnya bergetar hebat.

“Aku tidak ingin ini…” isaknya lirih. “Aku tidak ingin jadi monster.”

Suara itu tidak menjawab dengan ejekan.

Justru… terdengar hampir lembut.

Kau tidak menjadi monster, katanya. Kau hanya berhenti menjadi korban.

Defit menangis dalam diam. Air matanya jatuh ke tanah yang kini terasa hangat seolah baru saja menelan sesuatu yang hidup.

Pagi harinya, desa gempar.

Herman menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang berani keluar rumah terlalu pagi. Orang-orang berbisik tentang tanah yang bergerak, tentang suara jeritan yang terdengar semalam.

Ratna duduk pucat di ruang tengah, tangannya dingin.

“Ini… ini pasti kebetulan,” gumamnya, tapi matanya terus melirik ke arah kamar Defit.

Maya menatap Defit dengan cemas.

“Kamu dengar kabar itu?” tanyanya pelan.

Defit mengangguk.

“Aku dengar.”

“Kamu kenal Herman…” Maya ragu-ragu. “Kamu tidak apa-apa?”

Defit menatap wajah istrinya wajah yang masih bersih dari dunia gelap yang kini mengelilinginya.

“Aku akan selalu melindungimu,” katanya pelan, penuh tekad dan rasa bersalah yang dalam.

Maya menggenggam tangannya, merasakan dingin yang tak biasa.

Malam kembali turun.

Defit berdiri sendirian di kamar, menatap tangannya sendiri tangan yang tidak menumpahkan darah, tapi telah mengizinkan darah tertumpah.

Cermin di sudut kamar kembali berembun.

Bayangan itu muncul, kini berdiri tegak dan utuh.

“Satu sudah terbayar,” katanya. “Segel mulai retak.”

Defit menutup mata.

“Berapa lagi?” tanyanya lirih.

Bayangan itu tersenyum.

“Sebanyak penghinaan yang pernah kau telan.”

Dan di luar rumah, dari kegelapan yang lebih dalam dari malam, sesuatu yang lain ikut terbangun sesuatu yang bahkan para leluhur pun pernah takut padanya.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!