NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba di Nanohana

Matahari terbenam di arah barat saat Going Merry memasuki perairan Alabasta. Udara berubah—lebih kering, lebih panas, membawa aroma pasir gurun dari daratan.

Aku berdiri di haluan kapal, menatap siluet pulau besar di depan kami. Alabasta. Kerajaan gurun yang sedang dalam krisis.

"Akhirnya," gumam Vivi di sampingku dengan suara bergetar. "Akhirnya aku pulang."

Karoo—bebek raksasa peliharaan Vivi—berkuak dengan nada sedih, seolah merasakan emosi tuannya.

"Vivi," aku menatapnya. "Kau siap?"

Vivi mengangguk pelan, meskipun tangannya gemetar. "Aku harus siap. Rakyatku menungguku. Ayahku menungguku. Aku tidak boleh lemah sekarang."

"Kau tidak lemah," kataku dengan tegas. "Kau sudah menempuh perjalanan jauh, menghadapi bahaya, dan tidak pernah menyerah. Itu bukan tanda kelemahan—itu tanda kekuatan."

Vivi tersenyum tipis—senyuman yang penuh dengan kesedihan dan tekad. "Terima kasih, Kenji-san. Kalian semua... kalian memberiku kekuatan untuk terus maju."

Nami keluar dari kabin dengan peta di tangan. "Kita akan berlabuh di Nanohana—kota pelabuhan di pesisir Alabasta. Dari sana, kita bisa mendapatkan informasi tentang situasi terkini dan merencanakan langkah selanjutnya."

"Nanohana..." gumam Vivi. "Kota tempat aku pertama kali bertemu dengan Baroque Works. Tempat di mana semuanya dimulai."

"Dan tempat di mana kita akan memulai counter-attack kita," kata Zoro yang berdiri di belakang kami dengan tiga pedang tergantung di pinggangnya.

Luffy duduk di kepala Going Merry—tempat favoritnya—dengan topi jerami berkibar di angin. Ekspresinya serius, tidak seperti biasanya yang ceria.

"Luffy?" aku memanggilnya. "Kau baik-baik saja?"

Luffy menoleh dan tersenyum—tapi senyuman yang berbeda. Senyuman yang penuh dengan tekad membara.

"Aku sedang berpikir," katanya. "Tentang Crocodile. Tentang bagaimana aku akan hajarnya. Tentang bagaimana aku akan selamatkan negara Vivi."

"Kau punya rencana?" tanya Sanji sambil menyalakan rokok baru.

"Rencana?" Luffy memiringkan kepala dengan bingung. "Apa itu?"

Semuanya sweatdrop.

"Tentu saja kau tidak punya rencana," gumam Nami sambil menghela napas panjang. "Kenapa aku tidak terkejut?"

"Tapi aku punya tekad!" kata Luffy dengan semangat. "Dan itu lebih penting dari rencana!"

"Tekad tidak akan mengalahkan Shichibukai, Luffy," kata Zoro dengan nada serius. "Kita butuh strategi. Crocodile bukan musuh yang bisa kita hajar begitu saja."

"Zoro benar," aku menambahkan. "Crocodile adalah pengguna Suna Suna no Mi—Buah Iblis Logia tipe pasir. Tubuhnya bisa berubah jadi pasir, yang berarti serangan fisik biasa tidak akan menyentuhnya. Kita butuh cara khusus untuk melawannya."

"Cara khusus?" Usopp yang tadinya diam langsung bergabung dengan wajah penasaran. "Kayak apa?"

"Air," jawab Vivi. "Kelemahan pengguna kekuatan pasir adalah air. Kalau pasir terkena air, dia akan mengeras dan tidak bisa berubah bentuk. Itu satu-satunya cara untuk menyentuh Crocodile."

"Air..." Luffy mengangguk dengan wajah serius. "Oke! Aku akan bawa ember air saat bertarung dengannya!"

"ITU TERLALU SEDERHANA, LUFFY!" Nami menggebrak kepalanya.

Aku tersenyum tipis. Meskipun situasinya serius, interaksi mereka tetap bisa membuatku rileks.

Tapi Spider Sense ku tiba-tiba berdering pelan. Aku menoleh ke arah pelabuhan Nanohana yang sudah mulai terlihat jelas.

"Ada sesuatu," gumamku sambil menyipitkan mata.

"Apa yang kau rasakan?" tanya Zoro sambil meletakkan tangan di pedangnya.

"Kehadiran banyak orang," jawabku sambil fokus pada Spider Sense. "Sangat banyak. Dan beberapa dari mereka... memancarkan aura berbahaya."

Robin yang tadinya duduk diam di sudah tiba-tiba berdiri dan berjalan mendekat. "Baroque Works pasti sudah tahu kita akan datang. Mereka sudah menyiapkan penyambutan."

"Penyambutan yang tidak ramah, maksudmu," kata Sanji sambil menghembuskan asap rokok.

"Exactly," Robin tersenyum tipis.

Vivi mengepalkan tangannya dengan cemas. "Kalau Baroque Works sudah menunggu kita, berarti mereka sudah siap untuk membunuh kita semua begitu kita turun dari kapal."

"Biarkan mereka coba," kata Zoro dengan seringai. "Aku sudah lama ingin balas dendam pada mereka yang merusak Going Merry."

"Kalian semua," Luffy berdiri di kepala Going Merry dan menatap kami satu per satu. "Kita akan turun di Nanohana. Dan siapapun yang menghalangi kita, kita hajar. Tapi tujuan utama kita bukan bertarung dengan anak buah kecil—tujuan kita adalah menghentikan perang dan mengalahkan Crocodile. Mengerti?"

"MENGERTI!" kami semua menjawab bersamaan.

Going Merry perlahan memasuki pelabuhan Nanohana. Kota pelabuhan yang ramai—penuh dengan pedagang, pelaut, dan penduduk lokal. Tapi ada sesuatu yang aneh.

Terlalu banyak orang yang menatap kapal kami.

Dan tatapan mereka... tidak ramah.

"Mereka semua Baroque Works," bisik Vivi dengan wajah pucat. "Baroque Works punya ratusan—mungkin ribuan—million agents dan billion agents tersebar di seluruh Alabasta. Mereka semua sudah menerima perintah untuk membunuh kita."

"Ribuan?" Usopp langsung pucat. "Ki-kita cuma delapan orang!"

"Sembilan," koreksi Robin sambil menatap kami. "Aku juga akan membantu."

Semuanya terdiam mendengar pernyataan Robin. Dia—yang seharusnya ada di pihak Baroque Works—mengatakan akan membantu kami?

"Robin," aku menatapnya dengan serius. "Kenapa? Kenapa kau membantu kami? Kau adalah Miss All Sunday—partner langsung Crocodile. Kenapa kau mengkhianatinya?"

Robin tersenyum—senyuman yang penuh dengan kesedihan. "Karena aku punya alasanku sendiri. Dan untuk sekarang, alasanku sejalan dengan kalian."

"Itu bukan jawaban yang memuaskan," kata Zoro dengan nada tajam. Pedangnya sudah setengah terhunus. "Bagaimana kami tahu kau tidak akan mengkhianati kami di tengah jalan?"

"Kalian tidak tahu," jawab Robin dengan jujur. "Tapi kalian juga tidak punya pilihan. Tanpa bantuan ku, kalian tidak akan sampai ke Crocodile. Kalian akan mati di tangan million agents sebelum sempat bertemu dengannya."

Hening.

Luffy tiba-tiba tertawa. "Shishishi! Aku percaya padamu, Robin!"

"LUFFY?!" Nami berteriak terkejut. "Kau gampang banget percaya orang!"

"Robin sudah membantu kita beberapa kali," kata Luffy sambil tersenyum. "Dia menyelamatkan kita dari Mr. 1. Dia memberi kita informasi. Kalau dia mau membunuh kita, dia sudah melakukannya dari dulu."

Logika Luffy—sederhana tapi tidak bisa disangkal.

Zoro menghela napas dan menyarungkan kembali pedangnya. "Baiklah. Tapi kalau kau mengkhianati kami, aku akan memenggal kepalamu duluan."

"Fair enough," Robin tersenyum.

Going Merry akhirnya berlabuh sepenuhnya. Kami semua turun dari kapal—dengan sangat waspada.

Begitu kaki kami menyentuh tanah Nanohana, aku langsung merasakan tatapan ratusan mata tertuju pada kami. Di atap-atap bangunan, di gang-gang gelap, di kerumunan orang—semuanya mengamati kami.

"Mereka di mana-mana," gumam Sanji sambil menyalakan rokok dengan tangan sedikit gemetar.

"Tetap tenang," kata Zoro. "Jangan menunjukkan kelemahan. Berjalan dengan percaya diri. Kalau mereka melihat kita takut, mereka akan langsung menyerang."

Kami berjalan melalui jalan utama Nanohana dengan formasi protektif—Zoro dan Sanji di depan, Luffy di tengah bersama Vivi dan Nami, aku dan Usopp di belakang sebagai penjaga belakang, Robin berjalan sedikit terpisah di samping.

Setiap langkah terasa berat. Udara dipenuhi dengan tension yang bisa dirasakan secara fisik.

Spider Sense ku berdering tanpa henti—warning terus-menerus tentang bahaya dari segala arah.

"Kenji," Usopp berbisik dengan suara gemetar. "Aku takut..."

"Aku juga," jawabku dengan jujur. "Tapi kita harus tetap berjalan. Untuk Vivi. Untuk Alabasta."

Usopp mengangguk dengan tekad yang baru ditemukan. "Kau benar. Aku adalah Kapten Usopp yang pemberani! Aku tidak akan lari!"

Meskipun lututnya gemetar.

Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah restoran besar di tengah kota. Nami memutuskan kita butuh makan dan mengumpulkan informasi sebelum bergerak lebih jauh.

Restoran itu ramai—tapi begitu kami masuk, semua orang terdiam dan menatap kami.

"Ignore them," bisik Zoro. "Tetap berjalan."

Kami duduk di meja besar di pojok restoran. Sanji memesan makanan untuk semua orang—meskipun suasana terlalu tegang untuk makan dengan tenang.

Vivi melepas jubah besar yang menutupi identitasnya dan menatap sekeliling dengan was-was. "Mereka semua tahu kita di sini. Ini hanya masalah waktu sebelum officer agents datang."

"Biarkan mereka datang," kata Luffy sambil mengunyah daging dengan lahap—dia satu-satunya yang bisa makan dengan tenang di situasi seperti ini. "Aku sudah siap hajar mereka."

Makanan datang. Kami mencoba makan—meskipun sebagian besar dari kami kehilangan nafsu makan karena tension.

Aku memaksa diriku untuk makan. Aku butuh energi untuk pertarungan yang akan datang.

Spider Sense ku tiba-tiba berdering sangat keras!

"DATANG!" teriakku sambil berdiri.

Pintu restoran meledak terbuka!

BOOM!

Asap dan debu memenuhi ruangan. Dan dari asap itu, muncul beberapa sosok.

Seorang pria dengan kacamata hitam dan mantel—Mr. 4. Di sampingnya, seorang wanita gemuk dengan hidung seperti tahi lalat—Miss Merry Christmas. Dan ada juga seekor anjing dengan pistol di mulutnya—Lassoo, senjata hidup yang telah memakan Buah Iblis.

"Straw Hat Pirates," kata Mr. 4 dengan suara lambat dan berat. "Boss... memerintahkan... untuk membunuh... kalian."

"Dan kami akan melaksanakan perintah itu dengan senang hati!" Miss Merry Christmas tertawa dengan suara nyaring yang menyebalkan.

Luffy berdiri sambil masih mengunyah daging. "Kalian menganggu makan siang ku. Itu tidak sopan."

"Makan siang mu akan jadi makan siang terakhir mu!" Miss Merry Christmas berubah menjadi wujud hybrid—tubuhnya menjadi seperti tikus tanah raksasa. "Mogu Mogu no Mi memberiku kemampuan untuk menggali tanah dengan kecepatan tinggi!"

Dia langsung menyelam ke lantai restoran—menembus tanah seperti air!

"Dia bisa menggali?!" Usopp berteriak panik.

"Tetap waspada!" Zoro menghunus pedangnya. "Dia bisa menyerang dari bawah!"

Tiba-tiba, lantai di bawah Usopp retak!

"USOPP!" teriakku.

Miss Merry Christmas muncul dari bawah, mencoba menangkap Usopp!

Tapi aku sudah bergerak. Aku menembakkan jaring ke Usopp dan menariknya menjauh tepat sebelum Miss Merry Christmas bisa menangkapnya!

"TERIMA KASIH, KENJI!" Usopp berteriak.

Miss Merry Christmas menggeram marah dan kembali menyelam ke tanah.

Di sisi lain, Mr. 4 mengangkat tongkat baseball raksasanya. Lassoo—anjing senjata—mengeluarkan bola baseball dari mulutnya.

Tapi bukan bola baseball biasa—bola itu berubah menjadi bom berbentuk bola saat keluar dari mulut Lassoo!

Mr. 4 memukul bom-bola itu dengan tongkatnya!

WHAM!

Bom-bola itu melesat ke arah kami dengan kecepatan tinggi!

"MENGHINDAR!" Zoro berteriak.

Kami semua melompat ke berbagai arah!

BOOM!

Bom meledak di tempat kami berdiri, menghancurkan meja dan lantai!

"Mereka serius ingin membunuh kita!" Nami berteriak sambil berlari mencari perlindungan.

"Tentu saja mereka serius!" Sanji sudah dalam posisi bertarung. "Mereka Baroque Works!"

Luffy melompat ke arah Mr. 4 dengan tinju terangkat. "Gomu Gomu no... PISTOL!"

Tapi Miss Merry Christmas tiba-tiba muncul dari tanah dan menabrak Luffy dari samping!

"LUFFY!" Vivi berteriak.

Luffy terpental ke dinding tapi langsung bangkit. "Ow! Itu sakit!"

"Shishishi!" Miss Merry Christmas tertawa. "Kau tidak bisa memukulku kalau aku terus bergerak di bawah tanah!"

Ini akan jadi pertarungan yang sulit.

Mr. 4 dengan bom-bom nya yang mematikan. Miss Merry Christmas yang bisa menyerang dari bawah tanah. Dan Lassou yang terus memproduksi bom.

"Kenji!" Luffy memanggilku. "Kau dan Usopp handle si tahi lalat yang bisa menggali! Aku akan handle yang gendut dengan tongkat baseball!"

"Baik!" jawabku sambil mengambil posisi bersama Usopp.

"A-aku?!" Usopp gemetar. "Kenapa aku?!"

"Karena kau hebat, Usopp!" kata Luffy dengan senyum lebar. "Aku percaya padamu!"

Usopp terdiam sejenak, lalu wajahnya berubah. Dari ketakutan menjadi... tekad.

"KAU BENAR!" Usopp berteriak dengan semangat yang tiba-tiba muncul. "AKU ADALAH KAPTEN USOPP YANG HEBAT! AKU PUNYA 8000 PENGIKUT! AKU TIDAK AKAN KALAH DARI TAHI LALAT INI!"

Semua faktanya bohong, tapi semangatnya nyata.

"Ayo, Usopp!" aku tersenyum. "Kita tunjukkan pada mereka kekuatan kita!"

"YOSH!"

Pertarungan di Nanohana dimulai.

Dan ini baru permulaan.

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!