NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah 1 Juta

Sepuluh menit berlalu dengan lamban, seolah waktu sengaja diperlambat oleh napas ruang sempit yang dipenuhi aroma akar kering dan dedaunan tua. Di balik meja kayu yang telah dipoles oleh usia, sang penjaga toko masih asyik dengan gawainya, jari-jarinya menari di layar seperti seorang jenderal kecil yang tengah memindahkan pasukan di papan strategi. Fauzan Arfariza berdiri tegak di hadapannya, menunggu tanpa suara. Tatapannya menyapu rak-rak tinggi yang berjajar di sepanjang dinding Gedung Herbal, tempat di mana ribuan ramuan disimpan, seakan menjadi saksi bisu sejarah penyembuhan dan keserakahan manusia.

Akhirnya, sang penjaga toko menyelesaikan permainannya. Ia meletakkan ponsel di atas meja, mengangkat cangkir teh yang uapnya telah menipis, lalu menyeruputnya perlahan. Baru setelah itu, dengan nada datar dan sedikit malas, ia bertanya,

“Obat apa yang ingin kau beli?”

Fauzan melangkah maju setengah langkah dan menyerahkan secarik kertas resep yang telah ia tulis dengan teliti. Begitu mata sang penjaga toko menangkap deretan nama ramuan di sana, sinar tamak seketika memancar dari bola matanya. Banyak di antaranya adalah bahan obat langka, ramuan tua yang membutuhkan puluhan tahun untuk mencapai kematangan. Satu resep saja sudah cukup untuk memberinya komisi beberapa ribu Rupiah, bahkan mungkin lebih.

“Apakah kau yakin ingin membeli sebanyak ini?” tanyanya, suaranya kini terdengar lebih hidup.

“Tentu,” jawab Fauzan tenang. “Hanya saja aku tidak tahu apakah semua ramuan itu tersedia di sini.”

Sang penjaga toko tersenyum lebar, senyum yang terasa terlalu cepat dan terlalu licin. “Tentu saja tersedia. Tidak ada ramuan di dunia ini yang tidak dimiliki oleh Gedung Herbal. Tempat ini berdiri di jantung Jakarta, dan kami melayani siapa saja yang tahu nilai kesehatan.” Ia melambaikan tangan dengan percaya diri. “Tunggu sebentar, anak muda. Aku akan menyiapkan semuanya.”

Tak lama kemudian, tumpukan ramuan obat diletakkan di atas meja. Akar, batang, daun, dan bunga kering tersusun rapi, masing-masing memancarkan warna dan aroma khas. Fauzan memeriksanya satu per satu, memastikan usia dan kualitasnya sesuai dengan yang ia butuhkan. Semuanya lengkap. Semuanya bermutu tinggi. Tak ada satu pun yang cacat.

“Berapa harganya?” tanya Fauzan akhirnya.

Penjaga toko meraih sempoa, jemarinya bergerak cepat, bunyi ketukan kayu kecil beradu seperti hujan ringan di atas atap. Setelah beberapa saat, ia mengangkat kepala dan berkata,

“Totalnya dua ratus lima puluh tiga ribu dua ratus Rupiah. Tunai atau kartu?”

Kata-kata itu menghantam Fauzan seperti petir di siang bolong. “Apa? Semahal itu?”

Selama ini ia mempelajari pengobatan tradisional di universitas kedokteran Jakarta, tetapi ia belum pernah benar-benar terjun membeli ramuan dalam jumlah besar. Ia mengira tiga puluh ribu Rupiah yang ada di sakunya sudah merupakan jumlah besar. Nyatanya, uang itu bahkan tak cukup untuk sepersekian dari harga yang disebutkan. Baru sekarang ia menyadari, untuk meramu satu Pil Pendirian Dasar, biaya yang dibutuhkan ternyata setinggi gunung.

Dengan nada canggung, ia berkata, “Maaf, aku tidak membawa uang sebanyak itu.”

Senyum di wajah penjaga toko lenyap seketika, digantikan raut dingin yang tajam. “Tidak punya uang? Kalau begitu untuk apa kau berlagak di sini? Kau mempermainkanku?”

Fauzan segera menjelaskan, “Aku sungguh minta maaf. Aku tidak menyangka harga ramuan ini setinggi ini.”

“Kalau tidak tahu harga, mengapa membeli obat?” sahut penjaga toko dengan nada kesal. “Begini saja. Karena kau tidak punya cukup uang, belilah sedikit saja. Jangan buang waktuku percuma.”

“Itu tidak bisa,” jawab Fauzan tegas. “Ini adalah takaran untuk satu dosis. Kalau kurang, hasilnya akan sia-sia.”

Resep yang ia tulis adalah ukuran minimum untuk satu pil. Sedikit saja kurang, maka seluruh proses peramuan akan gagal, dan segala usaha menjadi debu.

Penjaga toko mengerutkan kening. “Kalau begitu, turunkan usia ramuannya. Kau pasti tahu perbedaan harga antara ramuan berusia sepuluh tahun dan dua tahun bisa lebih dari sepuluh kali lipat.”

“Itu juga tidak bisa,” balas Fauzan. “Usia yang kutulis sudah merupakan batas minimum.”

Begitu kata-kata itu terucap, amarah penjaga toko meledak. “Ini tidak bisa, itu tidak bisa! Kau memang datang ke sini untuk mengacau, ya?”

Sekali lagi Fauzan menundukkan kepala sedikit. “Aku mohon maaf. Kali ini aku memang tidak membawa cukup uang. Aku akan kembali setelah mengumpulkan dana.”

“Bah! Orang miskin!” Penjaga toko menyapu ramuan-ramuan itu kembali ke belakang meja. “Entah kapan kau bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Salahku sendiri karena buta. Melihat penampilanmu seperti pengemis, seharusnya aku tidak repot menyiapkan obat untukmu.”

Kata-kata itu menusuk, tetapi Fauzan tidak segera marah. Ia menarik napas dalam, menenangkan Energi Vital di dalam dirinya. Namun, alisnya tetap berkerut.

“Bagaimana caramu berbicara?” katanya pelan tapi tegas. “Aku sudah meminta maaf karena tidak membawa uang cukup. Lagipula, sebagai penjaga toko, menyiapkan obat adalah tugasmu. Apa yang perlu kau keluhkan?”

“Oh, sekarang kau marah?” Penjaga toko mendengus, dadanya dibusungkan. “Apakah kau tidak tahu di mana kau berdiri? Ini Gedung Herbal, dan pemiliknya adalah Tuan Besar Cao. Orang-orang yang datang ke sini setiap hari adalah pejabat atau orang kaya. Apakah tempat ini cocok untuk orang sepertimu berlagak seperti seorang ahli?”

Kata-kata itu bergema di ruangan, seakan mengusir Fauzan keluar bersama debu yang menempel di lantai. Namun, di balik sikap tenangnya, badai kecil mulai berputar di dalam hati Fauzan. Ia teringat bagaimana ibunya berjuang melawan penyakit, bagaimana ia sendiri harus bertaruh nyawa demi biaya pengobatan. Dunia ini, pikirnya, memang tidak ramah bagi mereka yang tidak memiliki kekuasaan atau harta.

Ia memandang penjaga toko itu sekali lagi, tatapan matanya jernih namun dalam, seperti sumur tua yang menyimpan rahasia. “Ingatlah kata-kataku,” ujarnya perlahan. “Suatu hari nanti, orang-orang akan berebut untuk memberikan ramuan mereka kepadaku. Dan ketika hari itu tiba, Gedung Herbal mungkin akan menyesali caranya memperlakukan seseorang hari ini.”

Penjaga toko tertawa sinis. “Omong kosong.”

“Kau—!”

Fauzan Arfariza hampir saja meledakkan amarahnya. Energi Vital di dalam tubuhnya bergejolak, naik turun seperti gelombang laut yang terhantam badai. Namun, hanya dalam sekejap, ia menarik napas panjang dan menenangkan diri. Di lubuk hatinya yang terdalam yang tersembunyi, ia mengingat jati dirinya: pewaris warisan agung Aliran Medis Kuno. Dengan kedudukan dan pengetahuan yang ia miliki, berdebat dengan manusia picik yang sombong hanya akan merendahkan martabatnya sendiri.

“Tidak pantas,” gumamnya dalam hati.

Maka tanpa berkata apa-apa lagi, Fauzan memalingkan wajah dan melangkah menuju pintu keluar Gedung Herbal. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, pandangannya tertarik oleh sesuatu yang mencolok di dinding bagian samping. Selembar pengumuman besar berwarna merah menyala, menempel mencolok seperti darah segar di atas tembok putih. Di bagian atasnya, tertulis empat huruf besar yang penuh wibawa dan daya pikat:

HADIAH BURUAN SATU JUTA RUPIAH

Langkah Fauzan terhenti.

Matanya menyipit, lalu ia mendekat. Di bawah judul itu, tertera penjelasan panjang dengan tulisan tangan yang tegas namun penuh kehati-hatian:

*Aku, Sanro Maega, secara tidak sengaja memperoleh Resep Emas Leluhur Tua. Sangat disayangkan, resep pil ini tidak lengkap. Tiga jenis ramuan obat hilang dari catatan.

Barang siapa mampu melengkapi tiga ramuan obat yang hilang tersebut, dan setelah diverifikasi olehku secara pribadi, maka aku bersedia memberikan hadiah sebesar satu juta Rupiah.*

Di bawah pernyataan itu, tertera daftar ramuan. Lima belas jenis ramuan obat telah tercatat rapi, namun setelahnya terdapat tiga bagian kosong—ruang hampa yang menunggu untuk diisi oleh seseorang yang benar-benar memahami inti resep tersebut.

Jantung Fauzan berdegup kencang.

Ia mengenal nama Sanro Maega—atau dalam dunia pengobatan tradisional Jakarta, lebih dikenal sebagai Tuan Sanro Kepala Gedung Herbal, sesepuh dunia pengobatan, tokoh besar yang kedudukannya di kalangan tabib setara dengan Gunung Kerakatau dan Biduk Nabi Nuh. Kata-katanya memiliki bobot, dan janjinya bernilai mutlak.

Lebih dari itu, Fauzan sangat mengenal Resep Emas Leluhur Tua.

Di dalam warisan Aliran Medis Kuno yang ia terima, tercatat jelas bahwa Leluhur Tua sebenarnya berasal dari aliran tersebut. Namun, karena tidak memiliki bakat dalam jalan Pedang dan seni bela diri, Leluhur Tua hanya menjadi murid luar. Resep Emas yang menggemparkan dunia medis itu bukan ciptaan Leluhur Tua sendiri, melainkan ilmu yang diwariskan kepadanya dari aliran kuno tersebut.

Bagi Fauzan, resep itu bukan misteri. Ia bahkan dapat menghafalnya tanpa melihat catatan.

Saat itu juga, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Langit belum menutup jalanku,” batinnya. “Ketika aku kehabisan Rupiah untuk membeli ramuan, hadiah buruan satu juta justru datang sendiri mencariku.”

Tanpa ragu lagi, Fauzan meraih pena yang disediakan di dekat pengumuman. Dengan gerakan mantap dan tangan yang stabil, ia mulai menuliskan nama ramuan pertama pada kolom kosong. Lalu ramuan kedua. Tulisannya rapi, tegas, tanpa sedikit pun keraguan—seolah ia sedang menyalin kebenaran yang telah lama tertanam di jiwanya.

Namun sebelum ia sempat menuliskan ramuan ketiga—

“Hei! Kau pengemis tak tahu diri! Apa kau belum puas juga?! Siapa yang menyuruhmu mencoret-coret di situ?!”

Teriakan kasar menggema. Penjaga toko bernama Pardi Sugara berlari keluar dari balik meja kasir, wajahnya merah padam. Dengan kasar, ia mendorong Fauzan hingga tubuhnya sedikit terhuyung.

Kesabaran Fauzan akhirnya mencapai batas.

Bahkan seekor semut yang kecil pun akan murka jika diinjak-injak terus menerus.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak Fauzan, matanya memancarkan dingin yang menusuk.

Pardi Sugara berteriak balik, “Aku yang seharusnya bertanya! Apa kau tahu di mana kau berdiri?! Ini Gedung Herbal! Kau pikir kau bebas mencorat-coret sesukamu?!”

Fauzan menunjuk pengumuman itu. “Bukankah itu pengumuman hadiah buruan? Jika demikian, mengapa aku tidak boleh menuliskannya?”

Pardi Sugara mencibir dengan jijik. “Apa kau sudah gila karena miskin? Hadiah satu juta Rupiah itu memang besar, tapi apa hubungannya dengan orang sepertimu?”

Sejak pengumuman itu dipasang, puluhan bahkan ratusan dokter dan tabib terkenal dari seluruh penjuru Jakarta telah datang mencoba peruntungan. Tak satu pun berhasil. Dunia pengobatan memiliki puluhan ribu jenis ramuan. Menebak tiga ramuan yang hilang hanya dengan keberuntungan? Peluangnya bahkan lebih kecil daripada memenangkan undian nasional.

Bahkan Sanro Maega sendiri tidak mampu melengkapi resep itu.

Mana mungkin pemuda miskin di hadapannya ini bisa berhasil?

Fauzan menyeringai dingin. “Karena ini hadiah buruan terbuka, maka setiap orang berhak mencoba.”

“Setiap orang?” Pardi Sugara tertawa keras. “Hadiah itu bukan untuk kucing dan anjing liar datang mengarang bebas! Kau kira satu juta Rupiah bisa diambil sembarang orang? Kalau kau bisa melengkapi Resep Emas Leluhur Tua, maka aku adalah Leluhur Tua yang bangkit dari kubur!”

“Pardi Sugara ! Apa keributan ini?!”

Suara berat dan berwibawa terdengar dari arah ruang klinik. Seorang lelaki tua berjalan perlahan mendekat.

Rambutnya putih seluruhnya, namun wajahnya kemerahan dan bercahaya. Punggungnya tegak, langkahnya mantap, memancarkan vitalitas yang tidak sesuai dengan usianya. Dialah Sanro Maega, pemilik Gedung Herbal.

“T-Tuan Sanro…” Pardi Sugara  langsung berubah sikap, membungkuk penuh hormat seperti anjing yang melihat tuannya.

“Apa yang terjadi? Mengapa kau berteriak di dalam toko?” tanya Sanro Maega dengan nada tenang namun berwibawa.

Saat berbicara, pandangannya tanpa sengaja jatuh ke pengumuman di dinding. Detik berikutnya, tubuhnya membeku.

Matanya membelalak.

Dua nama ramuan yang telah ditulis Fauzan—tepat, presisi, dan… sempurna.

“Ini…” napas Sanro Maega tersendat. “Siapa yang menuliskan dua ramuan ini?”

“Tuan Sanro!” Pardi Sugara masih tidak menyadari perubahan ekspresi itu. “Pemuda miskin ini tidak punya uang dan datang membuat onar. Ia mencoret-coret pengumuman hadiah buruan ini—”

“Diam!” bentak Sanro Maega.

Ia bahkan tidak menoleh ke arah Pardi Sugara. Dengan mata berbinar dan suara bergetar menahan kegembiraan, ia bertanya kepada Fauzan,

“Anak muda… apakah kau yang menuliskan dua ramuan ini?”

Sebelum Fauzan sempat menjawab, Pardi Sugara kembali memotong, “Ia asal menulis! Untung saya menghentikannya, kalau tidak ia pasti menulis yang ketiga juga! Tuan Sanro, jangan marah, akan saya hapus sekarang juga—”

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah Pardi Sugara.

Ruangan seketika hening.

“Kau bajingan!” teriak Sanro Maega dengan murka. “Berlutut dan minta maaf kepada adik ini sekarang juga!”

“Hah…?” Pardi Sugara tertegun, wajahnya pucat, otaknya seakan berhenti bekerja.

“Apa kau tidak mendengarku?!” bentak Sanro Maega sekali lagi.

“Sa-saya…” Dengan gemetar, Pardi Sugara akhirnya menunduk dalam-dalam. “Maafkan saya.”

Fauzan menatapnya dingin. “Hari ini aku benar-benar melihat bagaimana toko besar menindas pelanggan. Pepatah pengobatan berkata: baik terang-terangan maupun diam-diam, niat diketahui oleh Langit. Artinya, dokter sejati tidak boleh menipu diri sendiri maupun orang lain. Gedung Herbal tidak layak menyandang pepatah itu!”

Wajah Sanro Maega berubah, penuh rasa bersalah. Ia membungkuk hormat kepada Fauzan.

“Adik kecil, ini kesalahan orang tua ini karena lalai mendidik bawahan. Aku mohon maaf sekali lagi.”

Lalu, dengan suara penuh harap dan kegugupan yang sulit disembunyikan, ia bertanya,

“Adik kecil… apakah kau benar-benar dapat melengkapi Resep Emas Leluhur Tua?”

Di saat itu, udara di dalam Gedung Herbal seakan membeku.

Takdir, rupanya, baru saja membuka pintu besarnya.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!