Ditinggalkan oleh suami di hari pertama pernikahan bukanlah keinginan Shakira Aisha. Sejak Fauzi sang suami tahu masalalunya, pria itu pergi entah ke mana.
Karena cinta yang Shakira Aisha miliki dan ingin mempertahankan rumahtangganya, dia mencari Fauzi ke suatu kota atas petunjuk yang ia dapatkan.
Kepindahannya ke suatu tempat justru malah mempertemukannya lagi dengan pria masa lalu, pria yang sudah menorehkan luka dan menghancurkan segala mimpinya diusia muda.
"Kita bertemu kembali? tak akan kubiarkan kamu pergi lagi."
"Sial, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Menghamilimu!" Mario menyeringai penuh kelicikan.
"Aku sudah menikah!"
Deg.
Siapakah pria yang akan Shakira Aisha pilih? laki-laki masa depannya yang sudah menikahinya ataukah pria masalalunya?
Mampukah Mario meluluhkan Aisha-nya? Wanita yang telah ia permainan sedemikian rupa. Dan akankah Fauzi mempertahankan istrinya disaat ada laki-laki lain terang-terangan mengajaknya bersaing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 - Jalan yang di pilih
Lagi-lagi tangisan Shakira tidak bisa ditahan, rasa sesak di dada terus bergejolak seiring rasa sakit itu terus berpacu mendominasi.
"Saya di usir dari rumah mertua saya, karena bingung tidak punya tempat tinggal, saya pun memutuskan pulang ke rumah mamah saya. Sayangnya kehadiran saya di tolak oleh beliau bahkan saya baru tahu jika orang yang sudah membesarkan saya bukan ibu kandung saya."
Mengingat perkataan mamanya, hatinya sakit, apa mungkin dia tidak diinginkan oleh siapapun? Tapi rasa ingin tahu tentang kabar mamanya begitu besar, sayangnya jalur komunikasi sudah tidak bisa digunakan lagi, sepertinya Shakira di blok oleh mamanya.
Shakira menghapus air matanya secara kasar, tangannya gemetar, hatinya pun rapuh, cobaan hidup terus menghampirinya, kadang terbesit dalam pikiran kapan dia bahagia?
"Saya mendapatkan informasi suami saya berada di kota B dan saya memutuskan untuk mencarinya. Awalnya saya tidak tahu dia berada disini tapi ternyata Allah masih baik pada saya dengan cara mempertemukan kita lagi. Namun lagi dan lagi saya harus kecewa ketika dia berucap, tidak mengakui saya sebagai istrinya."
Mata merah akibat menangis itu menatap Bunda Nurul. "Saya cemburu melihatnya bersama perempuan lain, saya marah dan memperingati wanita itu untuk tidak mengganggu suami saya, namun apa yang terjadi? Mas Fauzi marah pada saya dan semakin membenci saya, tepat di dalam rumah ini tadi, dia ... dia ...."
Ia tak sanggup mengatakan itu, rasanya masih tidak percaya ini akan terjadi padanya.
Bunda Nurul menarik Shakira kedalam pelukannya. Mengusap punggung wanita itu.
"Dia menganiaya saya, dia memaksa saya, setelah yang dilakukannya saya dilempari uang seakan saya ini jalang yang harus di bayar hiks hiks." Pecah sudah tangisan Shakira, ia menangis tersedu-sedu dalam pelukannya Bunda Nurul.
"Kenapa ini terjadi sama saya? Kenapa?" lirihnya penuh pertanyaan.
Bunda Nurul tidak bisa menjawab, dia hanya memeluk Shakira penuh sayang membiarkan Shakira menangis sepuasnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Shakira kembali tenang. Ia merasa jauh lebih baik setelah menumpahkan tangisannya dan hatinya sedikit lebih lega walaupun ia bingung harus ngapain lagi kedepannya.
"Manusia itu tempatnya salah, manusia itu tempatnya dosa, tidak ada manusia yang sempurna kecuali kesempurnaan milih Allah semata. Kamu mengakui semua kesalahan mu adalah suatu anugerah dari Allah bahwa kamu salah satu hamba yang terpilih untuk berjalan di jalan-NYA. Hidayah sudah menyertaimu, sayang. Maka manfaatkanlah hidayah ini dengan sebaik-baiknya. Jangan pernah takut untuk bertaubat, jangan pernah takut untuk mencari ridho-NYA, dan jangan pernah menyerah menjemput hidayah yang Allah kehendaki padamu. Dengan segenap hati yang ikhlas dan tangan terbuka, bunda siap membantumu."
Bunda Nurul ingin merangkul gadis yang salah arah untuk membawanya ke jalan kebenaran. Kedatangannya ke tempat itu mungkin sebagai jalan agar Shakira menjadi manusia lebih baik lagi.
"Saya ingin berubah."
"Bunda bantu."
"Saya ingin menuntut ilmu."
"Kita akan belajar bersama-sama."
"Saya ingin menutup seluruh badan saya mengenakan baju tertutup." Waktu Fauzi menatap kagum Luna yang berpenampilan anggun dengan kerudungnya membuat ia ingin seperti Luna yang mampu menarik perhatian Fauzi. Tapi setelah tadi, Shakira berpikir untuk sepenuhnya berubah karena hati, ingin benar-benar hijrah melupakan rasa sakit yang di milikinya.
"Belajar perlahan dulu, kalau udah yakin tinggal laksanakan dan bunda akan ada di belakang mu. Terus tujuanmu sekarang apa?"
"Fokus bekerja tanpa memikirkan mas Fauzi lagi dan fokus memperbaiki diri. Soal jodoh, saya sudah pasrah. Jika mas Fauzi jodoh saya, saya akan terima dengan ikhlas tapi jika dia bukan jodoh saya, saya akan lepas."
Hatinya sudah mantap, keputusannya sudah bulat, dia ingin memikirkan diri sendiri dulu. Perlakuan Fauzi padanya membuka satu hal, bahwa cinta bisa membuat orang gak waras dan buta, dia tidak mau terluka untuk yang kedua kalinya hanya karena laki-laki. Biarlah takdir menuntun jalannya, biarlah bahagia menemukan jalannya juga, dia pasrah dengan segala takdir hidupnya.
"Dan saya ingin memantaskan diri karena saya malu pada diri saya sendiri terutama pada Tuhanku."
"Memiliki rasa malu terhadap diri sendiri itu harus dan malu pada Allah pun sangat penting. Itulah sebabnya manusia memiliki rasa malu karena dari rasa itu kita akan belajar mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Jika konsepnya ingin berubah ke jalan lebih baik tidak harus malu."
"Masalah kamu dan suamimu, kamu harus dihadapi bukan dihindari, tunjukan pada dia kalau kamu mampu dan akan bahagia tanpa dia. Tunjukan juga padanya kamu bisa lebih baik lagi," sambung Bunda Nurul.
Shakira menoleh, menatap wajah bunda Nurul yang ada disampingnya. Mata teduh itu menatapnya lembut seakan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Sekarang kamu istirahat ya, gak usah banyak pikiran dulu. Ikhlaskan yang terjadi, mohon ampun sama Allah, shalat taubat saat tengah malam, insyaallah kamu akan baik-baik saja."
*********
Lainnya hal nya dengan Raka, dia mencari Fauzi ke seluruh sudut yayasan, sayangnya tidak menemukannya.
"Sialan, kemana dia? Tidak ada batang hidungnya terlihat, kalau ketemu gue tonjok dia." Langkah kakinya begitu lebar, emosinya masih bisa dia tahan.
"Pak Raka ngapain menggerutu gitu?" tanya Dani kebetulan hendak ke toilet bertemu Raka di lorong pondok.
"Kamu lihat Fauzi gak? Itu guru baru."
"Oh pak Fauzi, tadi sih aku lihat keluar yayasan bareng Luna."
"Apa! Sama Luna lagi? benar-benar sudah gila dia." Raka tak habis pikir sama pikiran temannya itu, baru saja berbuat sesukanya sama Shakira eh sekarang malah jalan sama cewek lain. Kesabarannya gak bisa di tahan, "akan gue susulin kemana Lo pergi, Fauzi."
**********
"Eh kutu Mayang, Lo ngapain ngajak gue ke mari? Rumah siapa ini?" tanya Mario kesal, habis pulang memberi obat Raka malah mengajaknya pergi lagi. Tentunya tidak bisa menolak saat tahu ada Bunda Nurul menemani Shakira.
"Gue mau nyeret Fauzi dari rumah ini. Menurut beberapa santri putra, itu laki mengantar cewek mudanya. Gila kan dia? Punya bini cakep malah kecantol bocah ingusan, dasar gak waras tuh orang." Raka menggerutu kesal sembari melangkah menuju rumah Luna.
Mario tiba-tiba menahan tangannya Raka, pria itu menoleh dan mereka saling pandang.
"Eh, ngapain Lo natap gue? Geli gue," seru Mario menepis kasar tangan Raka.
"Elo yang ngapain narik tangan gue Congcorang sawah? Lo kira gue cowok apaan di pegang-pegang."
Petak.
Kepala Raka di jitak oleh Mario. "Otak gak waras. Terus kita mau ngapain disini?"
"Ya itu tadi, nyeret si buaya buntung." Raka menerobos masuk eh kebetulan pintunya tidak di kunci.
"Hah!" Mario melongo tak percaya, dari dulu Raka suka main labrak saja. Dia pun mengikutinya masuk ke dalam.
Penghuni rumah entah kemana memudahkan Raka dan Mario masuk sesukanya.
Dahi Mario mengernyit saat sudut matanya seperti melihat siluet tubuh orang tidur. Karena penasaran, dia melipir ke kamar depan sedangkan Raka menatap bingung.
"Mau ngapain buka pintu kamar orang?" tanya Raka.
"Mau cari kucing garong."
Dan pintu terbuka lebar memperlihatkan pemandangan yang menakjubkan.
"Buaya setaaaan!!" seru Raka emosi ingin menyeret Fauzi.
Tapi Mario menahannya. "Sabar, gue perlu bukti dulu." Kemudian dia mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Menyalakan kamera video dan memotret pasangan keduanya.
"Sudah?"
Mario mengangguk sambil melihat hasil video dan fotonya. "Sudah, silahkan eksekusi!'
"FAUZI ANJIIINK!!!"
Srett..
Brugh.
Mario meringis, "Aawww. Burungnya."
pst s luna buat byk cara spy ga dceraikan sm fauzi...
pasti sluna drama mnt dnikahin.
baguslah syakira bs lepas dr cowok gaa tegas ky s fauzi.
jgn2 s bp manggil warga buat gerebek anak sendiri biar d nikahin fauzi.