Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pameran Seni
Minggu itu terasa seperti bernapas dengan satu paru-paru. Setiap tarikan napas Amara terasa ringan oleh janji bertemu Sari dan bebasnya eksplorasi desain baru; setiap hembusannya terasa berat oleh kehadiran Rafa yang seperti hantu di rumah mereka sendiri—hadir secara fisik namun tak terjangkau.
Mereka berbicara seperlunya, koordinasi jadwal untuk Luna, sebuah performa kesopanan yang sempurna untuk menjaga agar dunia kecil putri mereka tidak runtuh.
Hari Jumat pun tiba. Amara memilih pakaian dengan hati-hati, bukan untuk Rafa, tapi untuk dirinya sendiri dan Sari. Dia memakai jumpsuit hitam dari linen yang dipotong longgar, dengan garis leher persegi yang sederhana namun elegan.
Dia menambahkan statement necklace perak buatan tangan yang dia beli bertahun-tahun lalu di Jogja, sepatu hak rendah kulit yang nyaman, dan membawa tote bag kanvas berisi sketchbook dan tablet. Dia merasa seperti diri sendiri, versi yang hampir terlupakan.
Rafa sudah pergi pagi-pagi, meeting di luar kota katanya, akan pulang malam. Amara menitipkan Luna pada Yuni dengan perasaan lega yang bercampur sedikit rasa bersalah.
“Aku akan bertemu teman lama, nonton pameran. Pastiin Luna makan sayurnya, ya,” pesannya pada Yuni.
Di depan galeri seni kontemporer “Kaca”, di kawasan yang sedang naik daun, Sari sudah menunggu. Dia terlihat semakin edgy dengan rambut dicukur sisi samping dan jaket kulit hitam. Mereka berpelukan erat, sebuah pelukan yang menenggelamkan tahun-tahun yang hilang.
“Gak berubah, lo!” sahut Sari, memegang bahu Amara. “Malah makin anggun, sih. Keseringan di rumah mewah ya?” godanya.
Amara memukul lengan Sari dengan ringan.
“Dasar. Ayo masuk, gue penasaran.”
Galeri itu gelap, diterangi hanya oleh sorotan lampu yang dramatis pada setiap karya. Suasana hening, dipecah sesekali oleh bisikan pengunjung.
Pameran bertajuk “Fragmen & Rekonsiliasi” ini menampilkan instalasi-instalasi besar yang terbuat dari material tak lazim: kaca pecah yang disusun membentuk tubuh utuh, ribuan lembar kertas bekas surat cinta yang direkatkan menjadi sebuah perahu, rekaman suara derau televisi yang disusun menjadi simfoni aneh.
Amara terpana. Matanya menyerap setiap detail, setiap pernyataan. Ini berbeda dari dunia desainnya yang terukur dan fungsional. Ini liar, personal, dan penuh luka. Rasanya… jujur.
“Ini yang gue maksud,” bisik Sari sambil berjalan di sampingnya. “Seni yang nggak cuma buat dilihat, tapi dirasakan di perut.”
Mereka berhenti di depan sebuah instalasi besar bernama “Pulang yang Ke-1001”.
Sebuah replika ruang tamu kecil, semua furniturnya terbuat dari es yang sedang mencair. Air menetes pelan dari ujung meja, sofa, membentuk genangan di lantai. Di tengah ruangan itu, di atas kursi es, duduk sebuah boneka kain tua yang sudah lusuh.
Suasanya sangat melankolis dan sementara.
“Ini kuat,” gumam Amara. Bagaimana rasanya, hidup di sebuah rumah yang perlahan-lahan mencair?
Bagaimana rasanya duduk di tengahnya, menunggu semuanya lenyap?
“Karya seniman muda, lulusan baru,” kata Sari.
“Dia bilang ini tentang pernikahan orang tuanya yang perlahan-lahan menghilang, tinggal sisa basah-basah doang.”
Kalimat itu menusuk Amara tepat di ulu hati. Dia membelalak pada Sari, tapi temannya hanya menyeringai, tidak tahu betapa metafora itu mengena.
Mereka terus berjalan. Amara merasa pikirannya dipicu, dibersihkan oleh kejujuran karya-karya ini. Clara memintanya untuk memasukkan “amarah dan harapan”. Di sini, dia melihat bagaimana orang lain menuangkan rasa sakit dan kerinduan mereka ke dalam bentuk fisik.
“Loe perlu coffee break?” tanya Sari saat mereka mendekati sebuah sudut yang agak terang, dekat dengan kafe kecil di dalam galeri.
“Iya, boleh banget. Gue bingung mau ngejar yang mana dulu, semuanya menarik.”
Mereka berbelok menuju area kafe yang dipisahkan oleh sebuah penyekat dari kayu lapis setinggi manusia, dihiasi dengan pola laser-cut yang rumit. Sari berjalan di depan, menuju konter pesan. Amara mengikutinya, matanya masih melirik sekeliling, menangkap sisa-sisa pameran.
Dan di situlah dia melihatnya.
Di seberang area kafe, di dekat pintu darurat
yang agak tersembunyi, berdiri Rafa.
Bukan Rafa yang sedang meeting di luar kota.
Bukan Rafa yang berpakaian rapi dengan tas kerja. Ini Rafa dengan kemeja lengan pendengaran navy yang dia kenal—yang dia setrika sendiri—celana chino, sepatu loafers.
Tampak santai. Tampak seperti sedang menikmati hari libur.
Dia tidak sendirian.
Di sebelahnya, seorang wanita berdiri sangat dekat. Wanita itu berparas cantik, dengan potongan bob yang rapi, mengenakan dress midi sage green yang sederhana namun elegan.
Usianya mungkin sebaya Amara, atau sedikit lebih muda. Wanita itu sedang berbicara, menatap wajah Rafa dengan ekspresi serius, lalu tersenyum kecil. Sebuah senyum yang intim, yang menunjukkan tingkat keakraban tertentu.
Rafa mendengarkan, mengangguk, lalu menjawab sesuatu yang membuat wanita itu sedikit tertawa, tangannya menyentuh lengan Rafa sebentar—sebuah sentuhan yang cepat, ringan, namun penuh arti.
Dunia di sekitar Amara tiba-tiba kehilangan suara. Suara gemuruh percakapan di kafe, musik ambient galeri, langkah kaki—semua meredam.
Hanya ada detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang di telinganya, dan gambar di seberang ruangan itu, terang benderang bagai sorotan panggung.
Whoosh.
Seperti semua udara di paru-parunya tersedot keluar. Kakinya terpaku di lantai beton galeri yang dingin.
“Mara? Mau latte atau… Mara?” Sari menoleh, melihat wajah pucat dan tatapan kosong Amara.
Dia membalikkan badan, mengikuti arah pandang Amara.
“Oh, shit,” sumpah Sari pelan, segera memahami.
Rafa dan wanita itu tampak sedang dalam percakapan yang mendalam, tidak menyadari bahwa mereka sedang diamati. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebuah brosur atau dokumen tipis—dan menunjukkan sesuatu kepada Rafa.
Mereka membicarakannya dengan serius. Bukan adegan mesra yang keterlaluan, tapi justru keseriusan dan kedekatan itulah yang lebih menghancurkan. Ini bukan pertemuan kebetulan yang canggung. Ini adalah pertemuan yang diatur.
Dan mereka terlihat nyaman, sangat nyaman, berada di ruang seni yang sama.
“Mara, ayo kita pergi,” desis Sari, memegang lengan Amara. Tangannya terasa dingin.
Tapi Amara tidak bisa bergerak. Dia seperti bagian dari instalasi itu sendiri—sebuah patung yang terbuat dari kejutan dan kepedihan.
Lalu, seolah merasakan tatapan, Rafa mengangkat pandangannya.
Matanya bertemu dengan mata Amara.
Wajahnya yang semula fokus dan agak rileks, berubah total. Terpana. Mata membesar. Ada kilatan panik, diikuti oleh upaya cepat untuk menguasai diri. Bibirnya sedikit terpisah, seolah ingin memanggil namanya, tapi tidak ada suara yang keluar.
Wanita di sebelahnya, menyadari perubahan pada Rafa, menoleh untuk melihat apa yang dia lihat. Dia melihat Amara. Ekspresinya berubah dari penasaran menjadi waspada, lalu menjadi sesuatu yang mirip pengakuan dan… kasihan? Ya, Amara melihatnya: sebuah kilatan kasihan di mata wanita itu sebelum dia menurunkan pandangannya.
Itu yang membuat Amara akhirnya bisa bergerak. Kasihan. Dia tidak tahan melihatnya.
Dia berbalik, begitu cepat hingga nyaris membuatnya tersandung. Dia berjalan, bukan berlari, tapi langkahnya cepat dan kaku, menembus kerumunan pengunjung, menjauhi area kafe, menjauhi sorotan lampu, menuju bagian galeri yang lebih gelap dan sepi di mana hanya ada sebuah instalasi video yang memproyeksikan gambar air yang bergolak.
“Mara, tunggu!” Sari membuntutinya.
Amara berhenti di depan dinding yang dipenuhi gambar air yang bergelora. Air matanya sudah meluber, tapi dia menahannya, berusaha bernapas. Dadanya sesak.
“Dia… dia bilang meeting di luar kota,” gumamnya, suaranya pecah.
“Dia… siapa wanita itu, Sar?”
Sari memeluknya, menghalangi pemandangan orang lain.
“Aku tidak tahu, sayang. Tapi… kelihatan mereka kenal dekat.”
“Sentuhannya… dia sentuh lengan Rafa.”
Amara menggigil meski udara galeri tidak dingin. Gambar itu terpateri di benaknya: senyum wanita itu, sentuhan ringan itu, ekspresi serius mereka berdua.
“Ini bukan pertama kalinya. Mereka punya… urusan. Kuitansi hotel itu… oh Tuhan.”
Semua potongan puzzle yang selama ini dia tolak untuk disusun, tiba-tiba jatuh ke tempatnya dengan bunyi keras yang memekakkan.
“Kita keluar dari sini,” usul Sari tegas.
“Sekarang.”
Tapi sebelum mereka sempat melangkah, langkah kaki yang cepat mendekat. Rafa.
“Amara.” Suaranya tegang, berusaha tenang. Dia berdiri beberapa langkah di belakang mereka, sendirian. Wanita itu tidak terlihat lagi. Mungkin sudah pergi.
“Aku bisa jelaskan.”
Amara menarik napas dalam, menyeka air matanya dengan kasar. Dia berbalik, menghadapi suaminya. Di bawah cahaya temaram instalasi video, wajah mereka terlihat seperti topeng drama.
“Jelaskan apa, Rafa?” suara Amara datar, tapi bergetar.
“Jelaskan kenapa kau bilang meeting luar kota tapi malah di galeri seni di Jakarta? Jelaskan siapa wanita itu yang bisa membuatmu tersenyum dan membiarkan dirinya menyentuhmu? Jelaskan kuitansi makan malam untuk dua orang di Bandung?”
Rafa melihat sekeliling, takut didengar orang.
“Bukan di sini. Mari kita pulang, kita bicara di rumah.”
“Kenapa? Takut ketahuan?” Amara mendesak, suaranya sedikit lebih tinggi.
“Kau tahu ini di mana? Di pameran tentang ‘Fragmen & Rekonsiliasi’! Kau pikir ini lelucon nasib apa, Rafa?”
“Amara, tolong,” pinta Rafa, matanya menunjukkan kepanikan yang sejati.
“Dia… dia adalah Dian. Dia adalah psikolog. Konselorku.”
Jawaban itu begitu tak terduga hingga Amara terdiam sejenak. “Psikolog?”
“Ya. Aku… aku sudah beberapa kali konseling. Aku mencari bantuan. Untuk… untuk kita. Untuk kecemasanku. Untuk semuanya.”
Rafa terlihat sangat rentan, sebuah ekspresi yang hampir tidak pernah Amara lihat.
“Pertemuan hari ini… seharusnya di kliniknya, tapi dia ada jadwal ke galeri ini untuk riset sesuatu, jadi kita ketemu di sini. Itu semua.”
Amara menatapnya, mencoba memisahkan kebohongan dari kebenaran. “Konseling? Kenapa kau tidak bilang? Kenapa harus sembunyi-sembunyi?”
“Karena aku malu, Amara!” Rafa membentak berbisik.
“Aku malu mengakui bahwa aku tidak bisa menangani semuanya sendiri! Bahwa aku mungkin penyebab semua masalah ini! Aku takut kau akan menganggapku lemah. Atau lebih buruk, akan merasa lega karena akhirnya ada alasan untuk menyalahkanku!”
Air mata kini juga menggenang di mata Rafa. Itu yang membuat Amara goyah. Dia belum pernah melihatnya menangis.
“Dan sentuhannya?” tanya Amara, suaranya kecil.
“Dia menghiburku. Aku sedang bercerita tentang… tentang ketakutanku kehilanganmu.”
Rafa mengusap wajahnya.
“Aku tahu ini terlihat buruk. Aku bodoh karena tidak jujur. Tapi demi Tuhan, Amara, tidak ada perselingkuhan. Aku hanya… mencoba untuk memperbaiki diriku. Dengan cara yang salah.”
Sari berdiri di samping, diam, memerhatikan. Seorang kurator yang mengamati adegan kehidupan nyata yang lebih dramatis daripada instalasi mana pun di galeri itu.
Amara merasa lelah. Sangat lelah. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dipercaya.
Penjelasan itu masuk akal. Tapi luka karena kebohongan dan penemuan itu masih terlalu segar, terlalu perih.
“Kita pulang,” katanya akhirnya, dengan suara hampa. “Luna menunggu.”
“Aku akan ikut bersamamu,” kata Rafa.
“Tidak,” potong Amara cepat. “Kau bawa mobil sendiri kan? Pulanglah. Aku ikut Sari. Aku… butuh ruang.”
Rafa ingin membantah, tapi melihat ketegasan di mata Amara, dia hanya mengangguk, kalah.
Di dalam mobil Sari yang dipenuhi stiker band-band indie, Amara akhirnya menangis.
Tangisan yang hening namun menghancurkan, sementara Jakarta melintas di luar jendela seperti film bisu.
“Apa yang harus kulakukan, Sar?” isaknya.
“Kamu tidak harus memutuskan apa-apa malam ini,” kata Sari dengan lembut.
“Tapi… penjelasannya cukup masuk akal, ya? Dan dia terlihat… hancur.”
“Iya. Itu masalahnya. Aku tidak tahu apakah itu kebenaran atau hanya akting yang bagus.”
Amara menarik napas tersedu-sedu. “Aku merasa bodoh. Bodoh karena tidak tahu suamiku pergi konseling. Bodoh karena langsung berpikir paling buruk.”
“Hey, jangan salahkan diri sendiri. Dia yang berbohong. Titik.” Sari menepuk punggungnya.
“Tapi… mungkin ini juga kesempatan. Jika dia benar-benar mencari bantuan, berarti ada harapan, kan?”
Harapan. Kata itu terasa asing.
Saat mobil berhenti di depan rumahnya yang megah, Amara merasa rumah itu seperti sebuah benteng yang tiba-tiba asing.
Di dalamnya ada putrinya yang polos, kehidupan yang rapuh yang mereka bangun, dan sekarang, sebuah rahasia besar yang mungkin bisa memperbaiki atau menghancurkannya.
“Terima kasih, Sar. Untuk segalanya hari ini.”
“Anytime, sayang. Telepon aku kapan saja, bahkan jam 3 pagi.” Sari memeluknya erat.
“Dan ingat, kamu kuat. Lebih kuat dari yang kamu kira.”
Amara melangkah keluar, menatap rumahnya. Di suatu tempat di dalam, Luna sedang menunggu. Dan mungkin, di jalan yang lain, Rafa sedang dalam perjalanan pulang dengan pikiran yang sama kacau dan hancurnya.
Malam ini, tidak akan ada percakapan. Hanya keheningan yang lebih dalam, lebih bermakna dari sebelumnya. Tapi setidaknya, satu kebohongan telah terbongkar.
Dan dalam keterbukaan yang menyakitkan itu, mungkin—hanya mungkin—mulai tumbuh benih dari sesuatu yang baru, atau akhir dari sesuatu yang lama. Amara tidak tahu. Dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar menerima bahwa tidak tahu itu… tidak apa-apa.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.