NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:591.8k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga

Tanpa menunggu jawaban Samudera, Kirana langsung meraih lengan jaket pria itu. “Kita berangkat sekarang!" ajaknya dengan suara datar.

Sebelum Sam sempat memprotes, Kirana sudah melangkah cepat menuju motor hitamnya yang masih terparkir miring di pinggir jalan. Ia menggeser helm cadangan di gantungan motor, lalu tanpa rasa takut, ragu, atau mikir dua kali, langsung naik dan duduk di jok belakang.

Samudera membeku. “Mbak … yang bener aja .…”

Kirana menatapnya dari balik helm yang baru saja ia pakai. “Aku bilang aku ikut. Kalau kamu nolak, ingat perjanjian kita barusan.”

Sam mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, frustasi. “Astagaaaa Mbak, saya mau balapan, bukan ojek.”

“Terserah. Malam ini aku nggak mau sendirian.” Nada Kirana terdengar lelah, tapi keras. Dan itu cukup untuk membuat Sam terdiam.

Ia akhirnya naik ke motor, menyalakan mesin, lalu menatap ke depan. “Pegangan yang bener.”

Kirana otomatis memegang sisi jok. Sam meliriknya dari spion dan mendecak. “Bukan begitu. Kamu bisa jatuh. Pegang aku.”

Kirana menghela napas, tapi tetap menurut. Tangannya memegang jaket Sam, tidak terlalu erat, tapi cukup untuk menjaga keseimbangan.

Sam mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menarik gas. Motor melesat menembus jalanan malam. Angin menerpa wajah Kirana dari celah helm, dan selama lima menit perjalanan, ia baru sadar kalau dia sudah tak merasakan sesak seperti sore tadi lagi.

Lokasi balap liar itu terletak di ujung kota, sebuah lahan kosong yang disulap jadi arena. Begitu mereka tiba, deru mesin dan sorak penonton menyambut seperti badai.

Remaja-remaja laki-laki berkerumun. Lampu-lampu mobil menerangi jalan lurus sepanjang beberapa ratus meter. Musik elektronik menghentak, bercampur bau asap knalpot dan kopi instan.

Begitu motor berhenti, puluhan pasang mata langsung menoleh. Bukan ke Samudera tapi ke Kirana.

Karena semua orang tahuz Samudera Genta tak pernah bawa cewek. Dia begitu dingin dengan lawan jenis, entah alasan apa dibalik semua itu. Tak pernah sekalipun dia mengenali wanitanya.

“Wah, Sam!” salah satu pemuda tinggi bersweater abu-abu tertawa lebar. “Sejak kapan bawa penumpang? Gila, nggak kebayang gue liat lo kayak begini!”

Temannya yang lain bersiul. “Apa jangan-jangan ini alasan lo telat?”

Sam mengabaikan komentar itu dan justru menoleh ke arah Kirana. “Turun!”

Nada suaranya pendek, seperti sedang menahan sesuatu, entah malu, jengkel, atau bingung.

Kirana turun dari motor tanpa ekspresi. Ia merasa puluhan mata menilainya, tapi ia tidak peduli. Malam ini hidupnya sudah berantakan, penilaian orang-orang ini bahkan tidak ada di level yang layak ia pikirkan.

“Siapa tuh, Sam?” tanya pemuda lain.

“Bukan urusan kalian,” jawab Sam datar.

Sebelum pertanyaan lanjutan muncul, seorang panitia menghampiri dengan wajah kesal. “Sam! Satu menit lagi lo telat, gue diskualifikasi! Telat banget!”

“Maaf, macet,” jawab Sam cepat.

“Macet apaan jam segini?” panitia itu cemberut.

Sam menoleh ke Kirana sebentar, lalu kembali ke panitia. “Nggak penting, kan? Yang penting gue dateng.”

Panitia itu menggerutu, tapi akhirnya mengangguk. “Cepet siap-siap. Lawan lo udah nunggu.”

Sam langsung melepas jaket dan helm, menyisakan kaos hitam yang menempel di tubuh. Beberapa gadis langsung bersorak kecil, seolah menunggu momen itu.

Kirana duduk di bangku panjang dekat arena, mengamati dari jauh. Sesuatu terasa aneh melihat bagaimana Sam berjalan penuh percaya diri, tapi tidak sombong. Tidak seperti kebanyakan pembalap liar yang suka pamer. Ia hanya fokus ke arena.

Ketika mesin motor Sam meraung, bulu kuduk Kirana berdiri. Suara itu menggetarkan udara.

Sam berada di garis start. Lawannya, pria berjaket merah, memasang ekspresi menantang. Hitungan mundur dimulai.

“Tiga!”

Kirana menarik napas mendengar ucapan itu.

“Dua!”

Ia bahkan tidak sadar sedang menggertakkan gigi.

“Satu—GO!” Dua motor melesat seperti peluru.

Deru knalpot memecah malam. Penonton berteriak histeris. Lampu-lampu mobil memantul di aspal, dan tubuh Kirana otomatis condong ke depan, matanya tak berkedip.

Sam memulai sedikit lambat. Kirana merasa jantungnya turun ke perut. Terasa mual.

Namun, detik berikutnya Sam mulai menyusul. Caranya bermanuver begitu rapi, begitu halus, seolah tubuhnya menyatu dengan motor. Lawannya mencoba menahan, tapi Sam justru meninggalkannya.

Dalam hitungan detik, garis finish tercapai. Sorak kemenangan meledak.

“SAM MENANG! WOIII SAM MENAAAANG!”

Kirana menghembuskan napas yang entah sejak kapan ia tahan. Hatinya kacau. Bukan karena balapannya, tapi karena sesuatu yang baru ia sadari, Samudera bukan sekadar anak muda urakan yang ngebut nggak pakai SIM.

Dia punya bakat. Dan keberanian. Dan entah apa lagi.

Sam turun dari motor, disambut teman-temannya yang langsung berpelukan, menepuk bahu, dan memuji. Namun anehnya, Sam hanya tersenyum tipis, mengangguk, menerima semua ucapan selamat itu tanpa keinginan untuk tebar pesona. Padahal beberapa gadis langsung berkerumun.

“Sam, minum dulu nih!”

“Sam! Selamat ya!”

“Sam mau foto bareng nggak?”

Sam hanya menggeleng halus. “Nanti. Gue ada urusan.” Dan langkahnya langsung menuju Kirana.

Kirana terpaku saat pria itu berdiri di depannya. Peluh masih menetes di pelipis Sam, napasnya masih tersengal ringan. Tapi tatapannya tajam dan fokus, seolah tidak peduli pada kerumunan di belakangnya.

“Ayo,” katanya sambil meraih helmnya. “Aku anter kamu pulang.” Sepertinya Samudera sudah mulai terbiasa hingga memakai kata aku bukan saya lagi.

Kirana berdiri pelan. “Aku nggak mau pulang.”

Sam berkedip. “Apa?”

“Aku … nggak mau pulang,” ulang Kirana, kali ini lebih lirih.

Sam memperhatikannya. Lebih lama dari sebelumnya. Sorot matanya, untuk pertama kalinya malam itu, tidak galak atau tertekan.

Ia tampak bingung. Dan sedikit khawatir.

“Mbak Kirana,” katanya pelan, menyebut namanya untuk pertama kali. “Malam-malam begini… kamu mau ke mana?”

Kirana menggeleng, merasa dadanya kembali berat. “Aku nggak tahu. Ke mana aja. Aku cuma nggak mau pulang.”

Sam menelan ludah, jelas tidak siap menghadapi situasi ini. “Maksudnya … kamu mau nginep di mana?”

“Di mana aja, terserah kamu.”

Sam membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Untuk pertama kalinya, Kirana melihat Samudera Genta yang ramah masalah, nekat, dan suka balapan itu sekarang benar-benar tidak tahu harus apa.

“Hah …?” itu satu-satunya respon yang bisa keluar.

Lampu-lampu mobil, suara penonton, dan dentuman musik masih bergema di belakang mereka. Tapi malam itu, semuanya seperti menghilang. Terasa sunyi.

Samudera tampak masih kebingungan. Dia tak tahu harus membawa Kirana kemana malam ini. Membawa pulang ke rumah itu tak mungkin, apa kata orang tuanya.

"Merepotkan!" gumam Samudera. Kirana mendengarnya, tapi pura-pura tak mengerti. Yang terpenting dia tak berada di rumah malam ini. Di rumah dia akan merasakan sesak kembali.

1
echa purin
👍🏻
syh 03
rata2 novel selalu bayi kembar
syh 03
cuma di dunia novel org jahat dpt karma...klo real mh yg jahat makin bahagia dan panjang umur
syh 03
knpa nama nya Mika kya nama cewe 😆
syh 03
aku wkt ngidam anak pertama sukanya mkn sayur g suka mkn lauk..sampai hamil besar cuma mkn sayur..mkn lauk itu pun cuma telur dan harus di campur sayur klo di dadar...dan pas lahiran anakku cewe dan dia g suka sayur ampe dewasa g suka sayur...anak kedua ngidam bakso jd g bs makan klo ga mkn bakso..itu pun harus di makan di tempatnya..jd tiap hari mkn bakso ampe abang yg jual hapal wajahku..dan anak kedua cowok..dan dia ga suka makan bakso..lika liku ibu ngidam mmng kadang aneh2 😅
Mama Reni: Lah 😭😭🤣🤣
total 3 replies
Irma Windiarti
/Good//Good/
Rahma Inayah
akhirnya yg bahagia
Rahma Inayah
semoga dilncrkn lahirannya aamiin
Rahma Inayah
tisa GK takut cerai dr km Krn SDH GK ada ank LG diantara kalian
Rahma Inayah
stlh ank meninggal br nyesel dan nangis GK guna
Rahma Inayah
krm mmg Irfan pantas mendptkn tamapran dr papa Kirana
Rahma Inayah
suami GK punya rasa tanggung jwb jgn2 Irfan punya wanita simpenan lgi ..
Rahma Inayah
ank yg km pilihnkasih ternyata JD dewa penolong mu ..papa.kirana baru sadr stlh usia yg hampir sepuh..atas apa yg dia lakukan PD Kiran di masa lalu
Rahma Inayah
gula lo Irfan satu juta 1 bulan ..GK mirk otak nya SDH konslet ckp apa uang segitu
Rahma Inayah
setlh. GK punya br sadr papa nya Kirana ank yg dia Anggo beban skrg membantu nya dlm kesusuhan
Rahma Inayah
orng yg km hina GK guna GK PNY kerjaan berandalan skrg JD dewa penolong BG ank mu .kira saya mama Kirana Mash hidup tau nya Mak trii nya .LP klu mama Kirana meninggal 🤭🤭.gengsi Irfan digedein tp nyata nya GK mampu byr biaya operasi ank nya lbh tepat nya syg uang nya dr pada nyawa ank nya
Rahma Inayah
kirain mama Kirana meninggal tau nya cerai hidup dr papa nya
Rahma Inayah
bnr Kirana utg Irfan GK JD nikah SM km dia nikah SM tisa yg mn utk ngidam aja GK BS penuhi perhitungan padhl dia katanya manager
Rahma Inayah
mami lbh syg SM mantu ketimbang ank sendri 🤭🤭yg
Rahma Inayah
nah Sam saat nya km nuriti ngidam bumil yg random SPT kata papi mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!