NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Keesokan harinya, tepat jam 06:50...

​Aku sudah berdiri di depan gerbang asrama, mengenakan dress bunga-bunga sederhana dengan jaket Kaelen yang tetap kupakai karena pagi ini cukup dingin. Tepat jam tujuh, sebuah mobil hitam yang sangat kukenali berhenti tepat di depanku.

​Kaca mobil turun, dan Kaelen muncul dengan kacamata hitam yang membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan dari biasanya. Ia keluar dari mobil, berjalan memutar, dan tanpa memedulikan mahasiswa lain yang mulai berlalu-lalang untuk kuliah pagi, ia mengecup keningku sekilas.

​"Pagi, Sayang. Tidurmu nyenyak?" tanyanya sambil membukakan pintu untukku.

​Aku mengangguk malu, menyadari beberapa pasang mata mahasiswi senior yang kemarin melihat kami kini menatap dengan ngeri sekaligus iri. "Pagi, Kael. Kamu tepat waktu banget."

​"Tentu saja. Aku tidak mau membiarkan tunanganku menunggu terlalu lama," ucapnya dengan penekanan pada kata 'tunangan', sengaja supaya orang-orang di sekitar kami mendengarnya.

​Begitu kami masuk ke dalam mobil, Kaelen tidak langsung menjalankan mesinnya. Ia meraih tanganku, memeriksa jariku, lalu tersenyum puas melihat cincin itu masih di sana. "Siap menghadapi dunia kampus hari ini sebagai calon istri asisten dosen paling galak?"

"Kamu ini ada-ada saja," ucapku sambil duduk di sebelah Kaelen, tak bisa menahan senyum yang terus mengembang. Aku sedikit membetulkan posisi jaketnya yang terasa kebesaran di tubuhku, tapi aku menyukai sensasi hangat dan aroma tubuhnya yang tertinggal di kain ini.

​Kaelen terkekeh rendah sambil mulai menjalankan mobilnya perlahan. "Aku hanya sedang menjalankan tugas baruku dengan serius, Sayang. Menjaga apa yang sudah resmi menjadi milikku."

​Sepanjang perjalanan menuju kampus, suasana terasa sangat berbeda dari kemarin. Jika kemarin ada rasa cemas dan asing dengan dunia baru ini, pagi ini aku merasa seolah aku memiliki pelindung paling kokoh di sisiku. Tangan Kaelen sesekali berpindah dari kemudi untuk menggenggam tanganku sebentar, memastikan aku tetap merasa nyaman.

​Begitu sampai di area parkir fakultas, suasana mendadak ramai. Berita tentang asisten dosen idola yang melamar mahasiswa baru di pantai kemarin sore rupanya sudah menyebar lewat grup chat mahasiswa secepat kilat.

​Kaelen mematikan mesin, lalu menatapku dengan tatapan yang kembali dalam dan serius. "Dengar, hari ini mungkin akan ada banyak bisikan atau orang yang bertanya macam-macam padamu. Tetaplah di dekatku, atau setidaknya pastikan kamu bisa menghubungiku kapan saja. Mengerti?"

​"Iya, Kael... aku mengerti. Jangan terlalu khawatir, aku bukan lagi bunga Han yang rapuh di taman dulu," jawabku mencoba meyakinkannya.

​Ia tersenyum tipis, lalu keluar untuk membukakan pintu untukku. Saat aku turun, ia langsung menggenggam tanganku erat, menjalin jemari kami sehingga cincin itu terlihat jelas oleh siapa pun yang berpapasan dengan kami.

​Kami berjalan menyusuri koridor utama gedung Botani. Kaelen berjalan dengan dagu terangkat, auranya begitu dominan dan dingin pada orang lain, namun ia terus membisikkan hal-hal kecil yang manis padaku sepanjang jalan.

​"Nanti siang, aku ingin kita makan di luar kampus. Ada tempat makan yang tenang di dekat perpustakaan kota," bisiknya sambil menarikku sedikit lebih dekat saat sekelompok mahasiswa laki-laki mulai melirik ke arah kami.

​Tiba-tiba, dari arah berlawanan, Ren muncul dengan napas terengah-engah. Ia membawa sebuah kamera DSLR di lehernya dan wajahnya terlihat sangat antusias.

​"WOI! Pasangan fenomenal!" seru Ren tanpa malu, membuat beberapa orang menoleh. "Kael! Gila kamu ya, kemarin nggak cerita-cerita kalau langsung gas pol lamaran di pantai! Aku sampai ditanya-tanya anak-anak satu angkatan!"

​Kaelen hanya menaikkan satu alisnya dengan santai. "Kau terlalu lambat, Ren. Aku tidak suka menunda sesuatu yang sudah pasti."

Ren tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban telak Kaelen. Ia memutar-mutar kameranya sambil menggelengkan kepala. "Iya deh, yang punya prinsip 'lebih cepat lebih baik'. Tapi serius, Zu, selamat ya! Aku nggak nyangka pangeran es kita ini bisa seromantis itu."

​Aku hanya tersenyum malu, sementara Kaelen semakin mempererat genggaman tangannya di jemariku. Ia menatap Ren dengan tatapan yang seolah menyuruh sahabatnya itu segera pergi.

​"Sudah, Ren. Jangan ganggu calon istriku pagi-pagi begini. Kami ada kelas," ucap Kaelen tegas namun ada nada bangga dalam suaranya saat menyebut kata 'calon istri'.

​"Galak banget sih!" Ren menjauh sambil berjalan mundur, tangannya membentuk tanda damai. "Oke, oke! Selamat kuliah, pasangan fenomenal! Nanti foto kencan kalian di pantai kirim ke aku ya!"

​Begitu Ren pergi, Kaelen membawaku menuju ruang kuliah besar untuk mata kuliah Pengantar Botani. Di depan pintu, ia berhenti sejenak dan merapikan jaketnya yang kupakai agar menutupi pundakku dengan sempurna.

​"Masuklah. Aku harus ke ruang asisten dosen sebentar untuk mengambil materi Profesor Haryo. Aku akan menyusul dalam lima menit," bisiknya sambil mengusap pipiku pelan. "Duduklah di tempat biasanya. Jangan pedulikan kalau ada yang menatapmu."

​Aku mengangguk patuh. Saat aku melangkah masuk ke dalam ruang kelas yang sudah terisi setengah, suasana mendadak senyap. Semua orang memperhatikanku—terutama cincin biru di jariku dan jaket hitam besar milik Kaelen yang jelas-jelas sangat mencolok.

​Salsa yang sudah duduk di barisan tengah langsung melambaikan tangannya dengan liar. "Zu! Sini!"

​Aku segera duduk di sampingnya. Baru saja aku meletakkan tas, Salsa langsung berbisik heboh.

"Gila, Zu! Satu kampus beneran heboh. Foto kalian berdua di pantai kemarin—meski dari jauh—sudah tersebar di grup angkatan! Kamu beneran jadi Queen of Botani sekarang."

​Belum sempat aku membalas, pintu kelas terbuka lebar. Kaelen masuk dengan langkah tegap, membawa setumpuk modul praktikum. Auranya kembali menjadi asisten dosen yang dingin dan profesional. Ia berdiri di podium, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sampai matanya tertuju padaku—dan untuk sepersekian detik, tatapannya melembut hanya untukku sebelum kembali tajam ke mahasiswa lain.

​"Selamat pagi semuanya," suara baritonnya menggema. "Sebelum Profesor Haryo datang, saya akan membagikan modul. Dan untuk menghemat waktu..." Ia berjalan menuruni podium, berjalan melewati barisan mahasiswa, lalu berhenti tepat di depan mejaku.

​Ia meletakkan satu modul di hadapanku, lalu dengan gerakan yang sangat sengaja, ia membungkuk sedikit dan berbisik cukup keras agar orang-orang di sekitar kami bisa mendengar.

​"Ini modulmu, Sayang. Pelajari baik-baik, jangan sampai kamu kesulitan saat praktikum nanti."

​Satu kelas langsung riuh dengan suara "Cieee!" dan bisik-bisik iri. Kaelen hanya tersenyum tipis—senyum penuh kemenangan—lalu kembali ke depan kelas seolah tidak terjadi apa-apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!