Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencuri Daun di Malam Buta
Malam telah larut. Bulan sabit menggantung pucat di langit, memberikan penerangan minim yang sempurna bagi mereka yang bekerja dalam kegelapan.
Di perbatasan antara hutan liar dan Kebun Herbal Divisi Barat, sesosok bayangan bergerak. Tidak ada suara gesekan kain, tidak ada bunyi ranting patah. Han Luo bergerak seperti asap, kakinya nyaris tidak menyentuh tanah berkat Langkah Hantu Tanpa Jejak.
Napasnya ditekan hingga ke titik minimum menggunakan Pernapasan Kayu Mati. Jantungnya berdetak hanya sepuluh kali per menit, membuatnya hampir tidak bisa dideteksi oleh indra spiritual kultivator level rendah.
Dia berhenti di balik sebuah batu besar, mengintip ke arah ladang Rumput Roh Bulan.
Tanaman-tanaman itu berpendar lembut, menyerap esensi yin dari malam. Daun-daunnya yang berwarna perak kebiruan tampak menggoda. Bagi Ulat Sutra Es Rohani di gubuk Han Luo yang sedang kelaparan, ini adalah hidangan bintang lima.
Han Luo tidak serakah. Dia tahu aturan main pencuri yang cerdas: Jangan membuat korban sadar bahwa dia telah dicuri.
Dia meluncur masuk ke ladang. Tangannya bergerak cepat dan presisi.
Sret. Sret.
Dia memetik satu helai daun dari tanaman A, lalu melompat lima meter, memetik satu helai dari tanaman B. Dia hanya mengambil daun bagian bawah yang tua dan rimbun, sehingga secara visual tanaman itu tetap terlihat utuh.
"Dua puluh lembar," hitung Han Luo. "Cukup untuk makan dua hari."
Dia memasukkan daun-daun itu ke dalam kantong penyimpanan khusus yang kedap udara. Misinya selesai. Dia hendak berbalik mundur.
Namun, suara desingan angin menghentikan langkahnya.
Wush! Wush!
Itu suara benda membelah udara dengan ritme yang konstan.
Han Luo merendahkan tubuhnya, menyatu dengan bayang-bayang tanaman herbal setinggi pinggang. Dia merayap mendekat ke arah sumber suara.
Di tengah lapangan terbuka di depan gubuk reyotnya, Long Tian sedang berlatih.
Dia tidak menggunakan pedang. Dia menggunakan cangkulnya.
Tubuh pemuda itu basah kuyup oleh keringat. Dia mengayunkan cangkul itu ratusan kali dengan gerakan vertikal yang monoton.
"Sembilan ratus sembilan puluh delapan... Sembilan ratus sembilan puluh sembilan... SERIBU!"
Long Tian berteriak, menghempaskan cangkul itu ke tanah.
BOOM.
Tanah di depannya meledak, menciptakan lubang sedalam setengah meter.
Han Luo menyipitkan mata. Hanya ayunan fisik murni, tapi dampaknya sekuat serangan Qi tingkat rendah. Fisiknya benar-benar monster.
Long Tian jatuh terduduk, napasnya memburu. Dia menatap cangkul di tangannya dengan frustrasi.
"Kuat saja tidak cukup..." gumam Long Tian. "Tanpa Qi, aku tidak bisa menggunakan Teknik Pedang Awan. Manajer Ma akan terus menindasku. Guru... kapan kau akan bangun?"
Dia mengusap cincin hitamnya. Masih tidak ada reaksi. Han Luo tersenyum tipis di balik kain penutup wajahnya. Jangan harap, kakek itu butuh 'baterai' yang sudah kujual.
Tiba-tiba, Han Luo merasakan sensasi dingin merambat di tengkuknya. Bukan karena angin malam, tapi karena insting bahaya. Ada tekanan spiritual yang kuat mendekat dari arah langit.
Han Luo segera tiarap, menekan wajahnya ke tanah basah, memaksimalkan Pernapasan Kayu Mati hingga tubuhnya terasa kaku dan dingin seperti mayat.
Kultivator tingkat tinggi!
Seberkas cahaya biru melesat turun dari langit, mendarat dengan anggun di depan Long Tian.
Debu beterbangan, lalu mereda, menampakkan sosok seorang wanita muda dengan jubah biru langit yang berkibar. Wajahnya cantik namun sedingin glasier abadi. Rambut hitamnya diikat dengan tusuk konde giok putih.
Peri Lin.
Murid Inti. Jenius Sekte. Heroine Utama.
Han Luo menahan napas. Jarak mereka hanya tiga puluh meter. Jika Peri Lin menyebarkan Indra Spiritual-nya dengan serius, Han Luo pasti ketahuan. Untungnya, perhatian Peri Lin terfokus sepenuhnya pada Long Tian.
Long Tian terkejut. Dia buru-buru bangkit dan membungkuk canggung. "P-Peri Senior Lin! Apa yang... kenapa Anda ada di tempat kotor ini?"
Peri Lin menatap Long Tian dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa ingin tahu, ada juga sedikit rasa kasihan.
"Aku melihatmu berlatih dari atas," suara Peri Lin merdu namun datar. "Kau punya ketekunan. Tapi ketekunan tanpa arah hanya akan menghancurkan tubuhmu."
"Saya... saya tidak punya pilihan lain, Peri Senior," jawab Long Tian, menunduk. "Akar Roh saya sampah."
"Sampah atau emas, itu ditentukan oleh hasil akhir, bukan awal," potong Peri Lin.
Dia menjentikkan jarinya. Sebuah botol porselen putih melayang dan jatuh ke tangan Long Tian.
"Ini Pil Penguat Tulang Harimau. Itu akan membantu memulihkan ototmu setelah latihan berat. Jangan mati konyol di sini. Aku... benci melihat bakat fisik yang sia-sia."
Wajah Long Tian memerah karena terharu. Dia memegang botol itu seperti memegang nyawanya sendiri. "Terima kasih banyak, Peri Senior! Saya tidak akan melupakan kebaikan ini! Saya pasti akan membayarnya suatu hari nanti!"
Peri Lin tidak menjawab janji itu. Dia berbalik, pedang terbangnya muncul di bawah kakinya.
"Satu hal lagi," kata Peri Lin sebelum terbang. "Manajer Ma... aku sudah memberinya peringatan. Dia tidak akan memotong gajimu bulan depan. Fokuslah berlatih."
Wush.
Cahaya biru itu melesat kembali ke langit, meninggalkan Long Tian yang berdiri mematung dengan mata berbinar-binar penuh harapan dan, tentu saja, benih-benih cinta pertama.
Di semak-semak, Han Luo perlahan mengangkat kepalanya. Ekspresinya rumit.
"Luar biasa," batin Han Luo sinis. "Aku memutus jalur 'Kakek Tua', Dao Langit langsung mengaktifkan jalur 'Sugar Mommy'. Peri Lin yang biasanya dingin dan tidak peduli urusan orang, tiba-tiba turun tangan memberi obat dan perlindungan politik hanya karena melihat seseorang mengayun cangkul?"
Han Luo mendengus pelan. Ini adalah konfirmasi mutlak baginya.
Plot Armor Long Tian seperti virus. Jika satu jalan ditutup, dia akan bermutasi mencari jalan lain. Sekarang, Long Tian punya perlindungan tidak langsung dari Murid Inti. Manajer Ma tidak akan berani menyentuhnya lagi. Long Tian akan punya waktu dan sumber daya untuk berkembang.
"Aku tidak bisa santai," Han Luo menyadari. "Dengan bantuan Peri Lin, Long Tian akan naik ke Pembentukan Qi dalam waktu sebulan, bahkan dengan bakat sampahnya."
Han Luo mundur perlahan, meninggalkan kebun herbal dengan hati-hati.
Kantong daun di pinggangnya terasa berat, tapi hatinya lebih berat.
"Aku harus mempercepat pertumbuhan Ulat Sutra. Aku butuh uang. Banyak uang. Jika Long Tian punya pendukung Murid Inti, maka aku..."
Mata Han Luo berkilat dalam kegelapan.
"...Aku harus menjadi kekuatan yang bahkan ditakuti oleh Murid Inti."
Dia kembali ke gubuknya, memberi makan ulat sutranya dengan daun curian yang segar. Ulat itu makan dengan lahap, tubuhnya mulai bersinar sedikit lebih terang.
Han Luo menatap Anggrek Wajah Hantu di sudut ruangan.
"Tumbuhlah cepat," perintahnya. "Dunia ini tidak adil. Jadi kita harus lebih curang."
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang sama, dua pemuda memegang harapan mereka masing-masing. Satu memegang botol pemberian wanita cantik, satu memegang ulat curian.