Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi Ratih
Pagi itu Arga sedang menyapu halaman depan saat terdengar suara keributan dari arah jalan. Ramai. Berisik. Seperti orang-orang sedang demo.
Arga meletakkan sapunya, mengernyitkan dahi sambil menatap ke arah gerbang. "Apa sih itu?"
Dari dalam rumah, Safira keluar dengan wajah pucat. Lebih pucat dari biasanya. Matanya melebar, tubuhnya gemetar. "Arga... ada yang tidak beres. Aku... aku merasakan sesuatu."
"Merasakan apa?"
Sebelum Safira sempat menjawab, kerumunan orang sudah sampai di depan gerbang. Sekitar sepuluh orang. Warga desa yang wajahnya Arga kenal sebagian. Dan di depan mereka semua, berdiri Ratih dengan wajah pucat tapi tatapan penuh tekad.
Gerbang didobrak dengan kasar. BRAK!
"ARGA!" teriak Ratih dengan suara yang nyaris histeris. "KELUAR KAMU! GUE HARUS BICARA SAMA KAMU!"
Arga langsung maju ke depan dengan wajah marah. "Ratih?! Apa-apaan ini?! Lo ngapain bawa banyak orang ke rumah gue?!"
"GUE MAU BUKA MATA KAMU!" Ratih melangkah masuk tanpa izin, diikuti warga-warga di belakangnya. Tangannya menunjuk Safira yang berdiri di teras dengan wajah ketakutan. "WANITA ITU! WANITA YANG KAMU NIKAHI ITU BUKAN MANUSIA!"
Hening sebentar.
Lalu kerumunan mulai berbisik-bisik satu sama lain.
"Apa maksudnya bukan manusia?"
"Jin kali?"
"Astaga, pantesan aneh."
Arga merasakan darahnya mendidih. Tangannya terkepal erat. "Ratih, lo udah gila ya?! Lo datang ke rumah gue, bawa massa, terus nuduh istri gue yang nggak-nggak?!"
"GUE NGGAK GILA!" Ratih mengeluarkan kamera dari tasnya, mengangkatnya tinggi-tinggi. "GUE PUNYA BUKTI! FOTO INI! LIHAT SENDIRI BAYANGANNYA!"
Ratih memutar kamera, menunjukkan layar ke arah warga yang langsung berkerumun melihat.
Dan saat mereka melihat foto itu, reaksi mereka langsung berubah.
"Ya ampun..."
"Bayangannya... ada tanduknya..."
"Astaga, beneran jin!"
"Saya bilang apa! Wanita itu emang aneh dari awal!"
Keributan semakin keras. Warga mulai panik, ada yang mundur ketakutan, ada yang malah maju dengan tatapan marah.
Pak Burhan, ketua RT yang juga ada di kerumunan itu, melangkah maju dengan wajah serius. "Mas Arga... ini bener? Istri mas itu... jin?"
Arga menatap Pak Burhan, lalu menatap warga-warga yang menatapnya dengan tatapan campur aduk antara takut dan marah. Lalu dia menoleh ke belakang, menatap Safira yang berdiri dengan tubuh gemetar hebat, air matanya sudah mengalir membasahi pipi.
Dan di saat itu, Arga membuat keputusan.
Dia melangkah mundur, berdiri tepat di depan Safira, melindungi istrinya dari kerumunan yang mulai terlihat seperti massa yang siap mengamuk.
"IYA!" teriak Arga dengan suara yang menggelegar. "IYA, ISTRI GUE JIN! GUE TAHU DARI AWAL! DAN GUE TETAP MENIKAHI DIA!"
Hening total.
Semua orang membeku. Menatap Arga dengan tatapan tidak percaya.
Ratih yang mendengar itu langsung terlonjak. "A... apa?! Kamu... kamu tahu dari awal?!"
"IYA, GUE TAHU!" Arga membalas dengan teriakan yang lebih keras. Air matanya mulai keluar tapi dia tidak peduli. "GUE TAHU DIA JIN! GUE TAHU DIA BUKAN MANUSIA! TAPI GUE TETAP MENCINTAINYA! GUE TETAP MENIKAHI DIA! KARENA DIA SATU-SATUNYA YANG BENAR-BENAR MENCINTAI GUE!"
"KAMU GILA, ARGA!" Ratih berteriak dengan frustasi, tangannya menarik rambutnya sendiri. "KAMU BENAR-BENAR GILA! KAMU MENIKAHI MAKHLUK HALUS! KAMU... KAMU BISA MATI! KAMU BISA MASUK NERAKA!"
"TERUS KENAPA?!" Arga membalas sambil melangkah maju, menatap Ratih dengan tatapan penuh amarah yang selama ini dia tahan. "LO PEDULI SAMA GUE SEKARANG?! KEMANA LO WAKTU GUE BUTUH LO DULU?! WAKTU GUE PULANG KERJA DAN NEMU LO TIDUR SAMA SAHABAT GUE SENDIRI?! KEMANA KEPEDULIAN LO WAKTU ITU?!"
Ratih tersentak. Wajahnya langsung pucat. Tidak bisa menjawab.
"GUE HAMPIR BUNUH DIRI GARA-GARA LO, RATIH!" Arga melanjutkan dengan suara yang sudah pecah karena menangis. "GUE HAMPIR MATI KARENA SAKIT HATI YANG LO BUAT! DAN SAAT GUE SEKARAT, LO DI MANA?! LO DI MANA WAKTU GUE BUTUH LO?!"
"A... aku..."
"SAFIRA YANG ADA!" Arga menunjuk Safira di belakangnya tanpa menoleh. "DIA YANG NEMENIN GUE WAKTU GUE NANGIS SETIAP MALAM! DIA YANG DENGERIN GUE WAKTU GUE CERITA BETAPA SAKITNYA DIHIANATI! DIA YANG BIKIN GUE PENGEN HIDUP LAGI! JADI JANGAN... JANGAN LO BERANI-BERANINYA DATANG KE SINI DAN BILANG GUE GILA KARENA MILIH DIA!"
Hening.
Hening yang sangat mencekik.
Warga-warga yang tadinya berisik kini terdiam. Menatap Arga dengan tatapan campur aduk. Ada yang kasihan, ada yang masih ketakutan, ada yang bingung.
Ratih menangis. Jatuh berlutut di halaman itu dengan isak tangis yang keras. "Aku... aku menyesal, Arga. Aku benar-benar menyesal. Aku... aku cuma mau menyelamatkan kamu."
"GUE NGGAK BUTUH DISELAMATIN SAMA LO!" Arga berteriak lagi. "GUE UDAH BAHAGIA SEKARANG! KENAPA LO NGGAK BISA NGERTI ITU?!"
Saat itu Bagas tiba dengan motor bebeknya yang berisik. Dia turun dengan wajah panik, langsung berlari masuk ke halaman yang sudah penuh orang.
"Eh, eh, eh! Apaan nih?! Ngapain lo semua di rumah sepupu gue?!" Bagas langsung berdiri di samping Arga, menatap kerumunan dengan tatapan garang meski tubuhnya gemetar karena takut.
Pak Burhan maju, berusaha menenangkan situasi. "Mas Bagas, ini soal istri mas Arga yang ternyata..."
"JIN, IYA GUE TAHU!" Bagas memotong dengan nada kesal. "Gue udah tahu dari awal! Terus kenapa?! Emangnya lo semua nggak pernah berbuat dosa?! Emangnya lo semua udah sempurna?! Kok sibuk ngurusin urusan rumah tangga orang?!"
"Tapi ini berbeda, mas!" salah satu warga berteriak. "Ini soal makhluk halus! Bisa berbahaya buat desa kita!"
"BERBAHAYA APANYA?!" Bagas membalas dengan teriakan yang lebih keras. "DARI AWAL SAFIRA TINGGAL DI SINI PERNAH NGGAK DIA GANGGU KALIAN?! PERNAH NGGAK?!"
Hening. Tidak ada yang menjawab.
"NAH KAN!" Bagas melanjutkan. "Dia cuma pengen hidup tenang sama suaminya! Kenapa sih lo semua nggak bisa ngasih mereka ketenangan?!"
"Karena ini salah di mata agama!" Pak Burhan berkata dengan nada serius. "Manusia dan jin tidak boleh menikah. Ini..."
"KAMI SUDAH MENIKAH SECARA SAH!" Arga memotong dengan tegas. "DI HADAPAN PENGHULU! DENGAN IJAB KABUL YANG BENAR! PAK HAJI AHMAD YANG MENIKAHKAN KAMI! DAN BELIAU TAHU SAFIRA JIN! TAPI BELIAU TETAP MENIKAHKAN KAMI KARENA BELIAU PERCAYA CINTA KAMI TULUS!"
Warga-warga terdiam lagi. Nama Pak Haji Ahmad itu berpengaruh. Beliau ulama yang sangat dihormati di wilayah ini.
"Kalau Pak Haji Ahmad yang menikahkan..." salah satu warga bergumam. "Berarti... berarti ada alasannya."
"Tapi tetap saja ini aneh!" warga lain bersikeras. "Jin dan manusia itu berbeda alam! Pasti ada bahayanya!"
Saat keributan mulai memanas lagi, tiba-tiba terdengar suara yang sangat pelan tapi entah kenapa terdengar jelas di telinga semua orang.
"Berhenti."
Semua orang menoleh.
Safira melangkah maju. Pelan. Dengan wajah yang sudah basah oleh air mata tapi tatapannya tegas.
Hawa di sekitar langsung berubah.
Dingin.
Sangat dingin.
Napas semua orang keluar seperti kabut.
"Kalian... kalian ingin tahu siapa aku sebenarnya?" suara Safira terdengar bergema. Bukan suara manusia lagi. Tapi suara yang lebih dalam. Lebih menggema. "Baiklah. Aku tunjukkan."
"Safira, jangan!" Arga berusaha menghentikan tapi Safira mengangkat tangannya, membuat Arga tidak bisa bergerak.
Lalu Safira melepaskan sedikit kekuatannya.
Angin tiba-tiba bertiup kencang. Sangat kencang. Pohon-pohon di sekitar bergoyang keras. Debu dan daun kering beterbangan.
Mata Safira berubah. Bercahaya biru terang. Rambutnya berkibar meski arah angin tidak jelas. Dan di belakangnya, muncul bayangan. Bayangan sosok tinggi besar dengan tanduk kecil di kepala.
Warga-warga yang melihat itu langsung berteriak ketakutan.
"ASTAGA!"
"JIN! JIN BENERAN!"
"LARI! LARI!"
Mereka semua mundur dengan panik. Ada yang jatuh tersungkur, ada yang sampai pipis di celana karena takut.
Ratih yang paling depan langsung jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat, matanya melebar seperti mau copot.
Safira melangkah mendekati Ratih. Pelan. Setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya seperti membeku.
"Kamu..." suara Safira bergema tepat di depan wajah Ratih yang ketakutan setengah mati. "Kamu ingin menghancurkan kebahagiaanku. Kebahagiaanku yang sudah aku tunggu lima puluh tahun."
"Ma... maafkan aku..." Ratih menangis sambil gemetar. "Aku... aku cuma mau..."
"Menyelamatkan Arga?" Safira memotong dengan nada dingin. "Dengan cara menghancurkan hidupnya? Dengan cara mempermalukan dia di depan umum? Itu yang kamu sebut menyelamatkan?"
Ratih tidak bisa menjawab. Hanya menangis dengan tubuh yang gemetar tidak terkendali.
Safira berjongkok di depan Ratih, menatap mata wanita itu dengan tatapan yang sangat tajam. "Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan menyakitimu. Karena aku jin muslimah yang taat pada Allah. Tapi kalau kamu berani ganggu Arga lagi, kalau kamu berani merusak kebahagiaan kami lagi, aku tidak akan segan-segan untuk membuat hidupmu menjadi neraka. Kamu mengerti?"
Ratih mengangguk cepat sambil menangis. "Me... mengerti. Aku mengerti."
"Bagus," Safira berdiri, berbalik menatap warga-warga yang masih berdiri gemetar di pinggir halaman. "Dan untuk kalian semua. Aku tidak pernah mengganggu kalian. Aku hanya ingin hidup tenang dengan suamiku. Jadi kumohon... kumohon biarkan kami bahagia. Walau hanya sebentar."
Suara Safira di akhir kalimat terdengar sangat sedih. Sangat hancur. Seperti permohonan yang keluar dari hati yang sudah lelah.
Lalu Safira kembali ke wujud normalnya. Mata bercahaya itu memudar. Bayangan di belakangnya menghilang. Angin kencang berhenti.
Safira jatuh limbung.
Arga langsung menangkapnya. "Safira!"
"Aku... aku tidak apa-apa," Safira berbisik lemah. "Cuma... cuma lelah."
Arga mengangkat Safira dalam gendongannya, menatap warga-warga yang masih berdiri dengan wajah pucat.
"Sekarang kalian sudah tahu kebenarannya," kata Arga dengan suara yang lelah. "Sekarang pergi. Dan jangan pernah ganggu kami lagi."
Satu per satu warga mulai pergi dengan langkah gemetar. Tidak ada yang berani bicara lagi.
Pak Burhan yang terakhir pergi menghampiri Arga dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf, mas. Kami... kami tidak tahu. Kami cuma..."
"Sudah, Pak," Arga memotong dengan lembut. "Saya mengerti. Terima kasih sudah peduli. Tapi sekarang, tolong biarkan kami sendiri."
Pak Burhan mengangguk, lalu pergi dengan kepala tertunduk.
Yang terakhir tersisa adalah Ratih. Masih duduk terdiam di tanah dengan wajah hancur.
Bagas menghampiri Ratih, membantunya berdiri meski dengan kasar. "Lo... lo udah puas sekarang? Udah puas bikin kacau?"
Ratih menatap Arga yang sedang menggendong Safira. Air matanya mengalir deras. "Arga... aku benar-benar minta maaf. Aku... aku cuma..."
"Pergi, Ratih," Arga berkata tanpa menatap mantan istrinya itu. "Pergi dan jangan pernah kembali lagi. Hidupmu bukan tanggung jawabku lagi. Dan hidupku bukan urusanmu lagi."
Ratih menangis lebih keras. Tapi dia tahu, ini sudah berakhir.
Dia sudah benar-benar kehilangan Arga.
Selamanya.
Dengan langkah gontai, Ratih berjalan keluar dari halaman itu. Meninggalkan Arga yang sudah bukan miliknya lagi.
***
Setelah semua orang pergi, Arga membawa Safira masuk ke dalam rumah. Membaringkannya di sofa dengan lembut.
Bagas menutup pintu dan jendela, mengunci semua akses dari luar. Lalu dia duduk di lantai dengan wajah lelah.
"Anjir... itu tadi seru banget tapi serem banget," gumam Bagas sambil mengusap wajahnya yang berkeringat. "Gue hampir pipis di celana pas Safira ngeluarin kekuatannya."
Arga tidak menjawab. Dia hanya duduk di samping Safira, menggenggam tangan istrinya yang dingin dan berkeringat.
"Arga..." Safira membuka matanya yang lelah. "Maafkan aku. Aku... aku membuat kamu malu."
"Jangan bilang begitu," Arga mengusap rambut Safira dengan lembut. "Kamu tidak membuat aku malu. Kamu... kamu hebat tadi. Berani membela diri kita."
"Tapi sekarang... sekarang semua orang tahu. Semua orang tahu aku jin. Dan mereka... mereka pasti membenci kita."
"Aku tidak peduli," Arga tersenyum meski air matanya masih mengalir. "Yang penting kamu baik-baik saja. Yang penting kita masih bersama."
Safira menangis. Memeluk Arga dengan erat meski tubuhnya sangat lemas.
Dan di pojok ruangan, Bagas menatap mereka berdua dengan tatapan yang penuh kesedihan.
Dia tahu ini baru awal dari penderitaan yang lebih besar.
Dia tahu rahasia mereka yang sudah terbongkar akan membawa masalah yang lebih rumit.
Tapi dia tidak bilang apa-apa.
Karena saat ini, yang mereka butuhkan bukan peringatan.
Tapi ketenangan.
Walau hanya sebentar.