NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merancang Rencana

"Anjayyy, tabungannya 10M cuyyy. Kalau gini mah, kayaknya gue nggak perlu terlalu kerja keras deh. Hidup sederhana asal bisa makan enak, kayaknya udah lebih dari cukup." ucap Shahinaz sambil berjingkrak-jingkrak tidak jelas.

Padahal Auretheil berada di rumahnya. Karena takut Shahinaz semakin bertingkah aneh, dan sahabatnya tidak bisa mengingat dirinya sendiri lagi, akhirnya gadis itu memilih untuk menginap di rumah Shahinaz.

Namun sayang ketika dia sampai, semua gerbang dan rumahnya masih terkunci. Auretheil menunggu untuk waktu yang cukup lama. Lalu ketika Shahinaz kembali dan mempersilahkan dirinya untuk masuk, benar saja, tingkah Shahinaz masih terlihat di luar nalar dan terkesan lebih aneh lagi.

"Sha, mending kita ke dokter aja yuk. Gue jadi khawatir, otak lo kayaknya kegeser deh." respon Auretheil yang sudah tidak tahan lagi dengan keanehan sahabat sehidup matinya.

"Sembarangan, gue masih waras gini ya!" jawab Shahinaz sambil melirik Shahinaz sinis. Kemudian menghitung kembali angka nol di tabungan itu dengan hati-hati, takutnya dia salah hitung tadi.

"Bahkan gue baru sadar kalau lo ngomongnya pakai lo-gue. Shahinaz yang gue kenal itu orang yang lemah lembut, pendiam, feminim, dan nggak banyak omong kayak gini." lanjut Auretheil tak kalah sinis.

Shahinaz menghela nafas kesal, "Terus kalau gue bukan Shahinaz, gue itu siapa?"

Auretheil mengerucut sebal, "Barangkali lo kerasukan setan, terus saat ini setannya yang lagi ngendaliin tubuh lo. Siapa tau gitu kan?"

Pasrah sudah Shahinaz sekarang. Dia sebenarnya ingin berkata jujur kalau dia Shahinaz yang datang dari dunia nyata, tapi takutnya dia disangka gila dan malah dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Apalagi dia sudah bertekad di kehidupan keduanya, jika dia ingin menikmati hidup dengan ala kadarnya.

"Auretheil, begini, anggap aja ini diri gue yang baru. Gue mau menikmati hidup sebagai Shahinaz Zirren Johara tanpa kesedihan lagi, dan gue mau menghilangkan segala kesepian yang gue rasa dengan mencoba suasana baru yang belum pernah gue coba."

Auretheil mengamati sahabatnya dengan tatapan penuh rasa tidak percaya. "Sha, lo beneran nggak apa-apa kan? Gue tau lo selalu menutupi kesedihan lo sendiri tanpa mau cerita sama siapapun, tapi bukan dengan cara perubahan drastis begini Sha. Gue jadi takut dengan perubahan lo itu." katanya dengan suara yang mulai melembut, tapi terlihat masih ada jejak kekhawatiran di sana.

Shahinaz tersenyum kecil, dia paham maksud Auretheil sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, Shahinaz Zerrin Johara yang Auretheil kenal sudah diganti dengan Shahinaz Zerrin Johara dari dunia nyata. Mungkin Venelattie dulunya membuat karakter Shahinaz, karena berharap dia juga bisa berubah mengikuti tokoh yang dia buat. Sayangnya, Shahinaz tetap tampil apa adanya saat ini!

"Beneran, Aure. Gue berubah begini, karena udah terlalu banyak nangis dan terpuruk. Jadi kali ini gue mau menikmati hidup gue dengan cara gue sendiri. Lagian, kalau lo udah punya tabungan 10M, tapi niat lo mau hidup sederhana yang penting makan enak, lo juga pasti bakal lebih santai kayak gue kan?"

Auretheil mendesah panjang, lalu mengangguk.

"Oke, gue ngerti. Tapi janji ya, kalau ada apa-apa lo langsung ngomong sama gue. Gue selalu ada buat lo, Sha."

Shahinaz menganggukkan kepalanya, membalas pelukan Auretheil yang sepertinya cukup tulus kepadanya. Auretheil seperti Venelattie di kehidupannya dulu, gadis itu selalu menemaninya dan selalu ada disetiap dia butuhkan. Kali ini, dia mungkin akan menempatkan Auretheil untuk berdiri di sampingnya juga.

"Lo nggak perlu khawatir sama gue Aure. Hidup gue mungkin terlihat sebatang kara, tapi selagi masih ada lo, kayaknya gue bisa hidup lebih lama deh." kata Shahinaz setelah itu.

Auretheil menganggukkan kepalanya, "Gue suka sama perubahan lo yang sekarang. Meskipun lo nggak bersikap lemah lembut lagi, tapi gue dukung perubahan lo. Maaf ya, gue terlalu parno sama keanehan lo."

"It's okay, besok masih sekolah kan? Mau nginep?" tanya Shahinaz memastikan.

Auretheil mengangguk, niatnya datang malam-malam juga untuk menginap. Dia terlalu takut Shahinaz kenapa-napa, makanya lebih baik dia datang untuk memastikan secara langsung bukan?

"Tapi gue belum ngantuk, ngobrol dulu yuk. Barangkali dengan berbagi cerita, otak geser lo itu bisa normal sedikit." ajak Auretheil sambil menggandeng Shahinaz untuk duduk di sofa.

Shahinaz dan Auretheil duduk di sofa dengan nyaman, keduanya tampak siap untuk menghabiskan waktu bersama. Sedangkan Shahinaz merasa ini sedikit menguntungkan dengan kehadiran Auretheil di sampingnya, setidaknya dari berbagi cerita ini, dia harus mendapatkan banyak informasi untuk dunia barunya.

"Lo tau nggak? Si Lynelle katanya jadian sama Naveen. Padahal kan Naveen tunangannya temen circle gue, si Leena . Gue kalau jadi si Leena sih udah gue cakar-cakar tuh pelakor, enak aja main embat tunangan orang." cerita Auretheil dengan sangat menggebu-gebu.

"Maksud lo Leena Qinra Wranydark?" tanya Shahinaz memastikan, "Berarti lo Auretheila Verya Roswyn dong?"

Auretheil berkacak pinggang. Shahinaz kayaknya butuh dilempar bola basket lagi, dia mulai bertingkah lagi, "Jangan bikin gue parno lagi deh Sha, gue marah tau sama lo."

Shahinaz manggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal, "Kayaknya otak gue emang kegeser dikit, maklumin aja buat kali ini ya. Tapi bener kan, Leena Qinra Wranydark yang sebenarnya lo maksud itu?"

"Emang mau Leena yang mana lagi sih menurut lo? Leena temen gue ya cuma dia doang." jawab Auretheil dengan cukup ketus, "Makanya jangan menyendiri di kelas mulu. Gua ajak gabung circle gue aja lo nggak pernah mau."

Shahinaz akhirnya menopangkan tangannya di bawah dagu. Karena dia tidak berniat menghancurkan cerita, maka dia harus tetap menjadi Shahinaz yang sebelumnya. Menyendiri, jauhi kerumunan, jauhi semuanya yang terlibat dengan cerita. Tapi bagaimana dengan Auretheil? Dia sepertinya salah satu teman antagonis dari ke empat lainnya.

"Kayaknya gue lebih baik menyendiri deh, jauh dari keramaian, dan menghilang seperti biasanya. Lebih enak nggak dikenal siapa-siapa, seenggaknya gue bisa jauh dari masalah." kata Shahinaz selanjutnya.

Auretheil akhirnya mematung juga. Ini baru Shahinaz yang dia kenal, dia memang tipikal penyendiri dan tidak ingin dikenal siapapun. Padahal jika Shahinaz mau berbaur dan dikenal orang, gadis di depannya mungkin bisa lebih populer dari dirinya. Bahkan mungkin bisa menjadi gadis populer nomor satu disekolah!

Auretheil terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata dengan nada lembut, dia sudah yakin kalau gadis di depannya tetaplah Shahinaz Zerrin Johara yang selama ini dia kenal. "Sha, gue ngerti lo pengen menyendiri dan jauh dari masalah. Tapi lo juga harus ingat kalau terkadang, lo jug butuh dukungan dari orang lain untuk melewati masa-masa sulit lo."

Shahinaz mengangkat alisnya, "Gue tau, tapi gue udah lelah dengan semua drama dan masalah yang ada. Rasanya lebih mudah menjaga jarak daripada harus terlibat konflik karena cara pikir orang yang berbeda."

Mendengar perkataan Shahinaz, entah kenapa dia meraup wajahnya secara kasar, "Shahinaz, lo butuh sosialisasi. Lo butuh cari relasi, karena suatu saat nanti lo nggak mungkin bisa hidup sendiri. Apalagi kalau gue nanti udah punya pacar, terus nggak ada waktu buat berbagi cerita sama lo lagi, terus lo yakin mau ngehabisin waktu yang tersisa itu hanya seorang diri?"

Itu pertanyaan yang sering di dengar dari mulut Venelattie sahabatnya. Jika dulu Shahinaz tidak mampu menjawab, lantaran tidak ada yang disa dibanggakan. Sekarang Shahinaz bisa memamerkan wajahnya dengan penuh senyuman, "Selagi gue punya banyak duit, kayaknya nggak masalah kalau gue harus hidup sendirian."

Auretheil menatap Shahinaz dengan campuran kekhawatiran sekaligus frustrasi. Sebelumnya ketika Shahinaz mengatakan ingin berubah, dia pikir Shahinaz juga akan mengubah kecenderungannya dalam bersosial, tapi kenapa ternyata masih sama aja.

"Sha, lo mungkin merasa bisa hidup sendirian sekarang, tapi jangan sampai lo jadi menyesal di kemudian hari. Punya banyak uang memang membantu, tapi bukan berarti lo bisa menghindari kebutuhan akan hubungan dan dukungan emosional." jelas Auretheila berusaha memberi pengertian sekali lagi.

Shahinaz mengangkat bahu, "Mungkin lo benar, Aure. Tapi gue udah melalui banyak hal dan merasa kalau menjauh dari masalah dan menjaga jarak itu adalah cara terbaik untuk melindungi diri gue." Apalagi ini bukan dunia nyata kan? Dia berada dilingkungan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

Bayangkan dia bisa berada di tempat yang sama dengan beberapa orang yang memiliki kuasa lebih di negeri ini. Mungkin sekali Shahinaz membuat kesalahan, orang-orang berkuasa itu akan membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya hingga dia tidak bisa bangkit lagi. Jadi lebih baik dia menikmati waktu dengan ala kadarnya, menikmati uang yang dia punya dengan caranya sendiri.

"Hoammm... Kayaknya gue udah ngantuk deh Aure, gue mau tidur dulu deh. Ceramahnya besok lagi aja, otak gue takutnya makin geser ngedengerin ocehan lo terus." kata Shahinaz diakhiri dengan Ceningan khasnya.

"Selalu aja lo ngehindarin ceramahan gue. Tapi selamat tidur, gue masih belum ngantuk. Kayaknya lebih enak nonton film dulu." jawab Auretheil pasrah.

Shahinaz mengangguk, dia menaiki lantai dua dan masuk ke dalam kamar dari pemilik tubuh sebelumnya. Besok saja dia merancang rencana lebih jauh. Lagipula selagi Shahinaz tidak terlihat dengan tokoh cerita yang lain, hidupnya masih aman-aman saja!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!