NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Itu Bawa Hoki

Pagi itu, udara desa terasa sejuk menusuk tulang. Kabut tipis masih menyelimuti halaman rumah Abah Kosasih. Di atas lincak bambu di beranda, Sulastri, duduk diam.

Matanya yang bening menatap embun yang menetes dari daun talas.

Anehnya, setiap kali Lastri mengedipkan mata, tanaman krokot liar di dekat kakinya tampak menegakkan batangnya yang layu, seolah baru saja disiram air segar. Tidak ada yang menyadari hal itu.

Budhe Mira, istri Kang Jaka, keluar membawa sisir kayu.

"Sini, Nduk, Budhe sisir rambutnya biar cantik," ujar Mira lembut.

Lastri menurut. Saat sisir itu membelai rambut halusnya, aroma dapur menguar. Wangi telur rebus.

Tak lama kemudian, Kinar, ibunya, keluar membawa piring seng berisi telur yang sudah dikupas.

Hati Lastri membuncah hangat.

"Budhe..." Lastri mendongak, mulutnya penuh mengunyah putih telur. "Kalau nanti Budhe punya anak perempuan, apa Budhe bakal sayang kayak gini juga?"

Pertanyaan polos itu membuat tangan Mira terhenti sejenak di udara.

Lastri tahu, di desa ini pun banyak orang tua yang lebih mengharapkan anak laki-laki untuk bantu di ladang. Tapi Budhe Mira berbeda.

Budhe sering diam-diam mencium ubun-ubun Lastri saat ia pura-pura tidur.

"Ya pasti to, Nduk. Lastri aja Budhe sayang banget, apalagi anak sendiri. Lastri ini kan cah ayu, cah pinter."

Mira gemas melihat pipi Lastri yang mulai berisi. Dulu saat baru datang dari kota, Lastri kurus kering seperti ranting pohon jati di musim kemarau.

Orang bilang Lastri "penyakitan". Padahal Mira merasa, anak ini cuma kurang kasih sayang. Lihat saja sekarang, makan apa saja lahap, wajahnya mulai berseri seperti bulan purnama.

Lastri menatap wajah Budhe Mira. Di mata Lastri yang berbeda, ia melihat ada pendar cahaya keemasan, kecil namun hangat, berdenyut di perut bagian bawah Budhenya.

Seperti tunas padi yang baru pecah dari benihnya.

Lastri tersenyum, matanya menyipit jenaka. "Budhe, di perut Budhe ada adiknya."

Lastri belum paham konsep "baik" dan "jahat" sepenuhnya. Ia hanya tahu, siapa yang tulus padanya, akan ia beri "doa".

Dan doa Lastri, adalah restu alam. Saat ia mengucapkan itu, angin berdesir lembut, menerbangkan kelopak bunga melati yang jatuh tepat di pangkuan Mira.

"Hah? Nduk, kamu ngomong apa?" Mira terperangah, suaranya bergetar.

"Di perut Budhe ada bayi... kecil banget. Lebih kecil dari biji jagung," Lastri memperagakan dengan jari mungilnya.

Mira tertawa, tapi air matanya merebak. Ia buru-buru menyekanya dengan ujung daster. "Lastri jangan nakut-nakutin Budhe ah. Budhe jadi baper nih."

Secara logika, Mira tahu Lastri cuma anak kecil. Ia baru selesai haid dua minggu lalu, mana mungkin ketahuan hamil?

Tapi orang tua-tua bilang, ucapan anak kecil yang "bersih" itu kadang kasepuhan, alias manjur. Ada harapan yang mekar di dada Mira. Ia mengepang rambut Lastri jadi dua, rapi sekali.

Kinar keluar dari dapur, melihat interaksi itu dengan hati hangat. "Nduk, ayo dimakan telurnya keburu dingin."

Lastri melompat turun dari lincak. "Makasih ya Bu, telur masakan Ibu paling enak sak dunia!"

Mulut Lastri memang manis, semanis gula jawa. Setiap ia memuji, Kinar merasa beban hidup sebagai janda yang diusir suami kaya raya itu lenyap seketika.

Tanpa sadar, bunga cabai di pot dekat Kinar berdiri, mekar serentak saat Kinar tersenyum.

"Iya, makan yang banyak biar cepat besar."

Saat Lastri minggir untuk makan, Kinar melihat mata kakak iparnya sembap. "Mbak Mira kenapa? Kok matanya merah?"

Mira tersenyum malu-malu, berbisik, "Nar, barusan Lastri bilang aku hamil. Aku seneng banget dengernya, walau cuma omongan anak kecil."

Kinar tertegun, lalu mengusap lengan iparnya. "Diaminkan saja, Mbak. Lastri itu... kadang omongannya emang bener."

Kinar teringat bagaimana bisnis mantan suaminya, Suryo Wibowo, mendadak seret saat Lastri sakit keras, dan bagaimana tanaman hias mahal di rumah gedong itu mati semua saat Lastri diusir.

Menjelang siang, Abah Kosasih dan Kang Jaka pulang dari ladang jagung. Wajah mereka berkeringat tapi cerah.

"Assalamu’alaikum!" seru Kang Jaka.

Baru saja masuk halaman, Kang Jaka sudah celingukan. "Nduk! Lastri! Sini Pakdhe punya sesuatu!"

Ternyata saat menyiangi rumput di kebun jagung, Jaka menemukan sarang burung puyuh liar yang tersingkap cangkulnya. Isinya belasan telur berbintik. Rezeki nomplok.

Dan bukan cuma itu. Di tangan Kang Jaka ada seekor belalang yang dianyam dari janur kelapa.

Mata Lastri berbinar melihat mainan sederhana itu. Di kota, mainannya plastik mahal tapi dingin. Ini mainan hidup, dibuat oleh tangan yang menyayanginya.

"Ini namanya Walang Kekek, Nduk. Nanti kalau sudah sorean, Pakdhe ajak ke sawah cari belalang yang asli ya," janji Jaka.

"Makasih Pakdhe!" Lastri memeluk kaki Pakdhenya yang berdebu tanah. Debu itu tidak membuatnya jijik, justru terasa wangi tanah yang subur.

"Bu," Jaka berseru pada Mira. "Hari ini kita pesta telur puyuh. Bapak nemu sarangnya pas lagi macul. Masih segar-segar!"

Siang itu, dapur rumah sederhana itu riuh rendah. Mak Sari yang baru pulang dari kebun membawa seikat daun singkong ikut tersenyum melihat cucunya.

"Mbah Uti, duduk sini." Lastri menarik tangan neneknya yang kasar. Tangan kecilnya memijat bahu neneknya.

Ajaib. Rasa pegal dan pening yang biasa mendera Mak Sari setiap siang mendadak sirna. Rasanya ada aliran air sejuk yang merambat dari tangan Lastri ke tubuh rentanya.

"Duh, pintere putuku. Mbah jadi seger waras iki," puji Mak Sari.

Lastri tersenyum lebar. Dalam hati ia berucap, Sehat terus ya Mbah.

Dan di halaman belakang, pohon pepaya yang sudah lama tak berbuah, tiba-tiba memunculkan bakal bunga.

"Sudah, Nduk. Kamu itu kecil-kecil tenaganya kuat. Mbah sudah enakan," kata Mak Sari sambil memeluk Lastri yang mulai menguap.

Kinar yang melihat ibunya kelelahan hendak mengambil alih, tapi Mak Sari melarang dengan kode mata. Ia sedang menikmati momen bersama cucu yang selama ini "disekap" di rumah mewah ayahnya.

Makan siang pun tiba. Menu hari ini istimewa: Nasi jagung hangat, sayur daun singkong santan, sambal terasi, dan tentu saja, telur puyuh rebus hasil temuan di ladang.

Lastri makan dengan lahap. Saat Budhe Mira mengupas jatah telurnya, matanya membelalak.

"Lho, Mas, Bu... lihat ini!" seru Mira.

Telur puyuh kecil itu ketika dibuka isinya memiliki dua kuning telur yang memadat.

"Wah, kuning telurnya kembar!" seru Kang Jaka.

Abah Kosasih tertawa renyah, mengelus jenggot putihnya. "Itu pertando bagus, Mir. Rezeki double. Suami istri rezekinya bakal ganda."

Mak Sari menimpali sambil tersenyum penuh arti, "Atau mungkin sasmita, pertanda dari Gusti Allah. Siapa tahu telurnya kembar, yang makan juga bakal ngisi 'kembar' atau setidaknya... ngisi beneran."

Wajah Mira merona merah. Ia memakan telur itu dengan hati-hati, rasanya lebih gurih dari telur mana pun yang pernah ia makan.

Selesai makan, rutinitas orang desa berlanjut: memberi makan ternak.

Di kandang belakang, ada dua ekor kambing Jawa milik Abah. Lastri jongkok di depan kandang, memperhatikan kambing-kambing itu mengunyah rumput gajah.

"Ibu," panggil Lastri. "Kambingnya kok makannya lahap banget? Rumput itu enak ya?"

Kinar tertawa kecil, mengelus kepala anaknya yang tertutup caping. Dulu di rumah Juragan Wibowo, Lastri dilarang dekat-dekat hewan karena dianggap kotor.

Di sini, Lastri justru terlihat hidup.

"Buat kambing ya enak, Nduk. Kayak Lastri makan permen," jawab Kinar sabar.

"Bu, nanti kita pelihara ayam sama bebek juga ya? Lastri mau kasih makan," pinta Lastri. Matanya menatap kambing itu, seolah menyalurkan energi.

Kambing yang tadinya agak kurus itu mengembik keras, matanya terlihat lebih bersinar.

"Iya, nanti kalau rumah kita sudah jadi, kita beli bibit ayam ya."

"Kapan kambingnya bisa dimakan, Bu? Kelihatannya legit," tanya Lastri polos. Naluri "Dewi Sri"-nya tahu mana hasil panen yang bagus.

Kinar tergelak. "Hus, masih lama. Nanti pas Lebaran Haji atau kalau ada syukuran."

Siang makin terik. Waktunya tidur siang. Kinar membawa Lastri masuk ke kamar yang berdinding anyaman bambu.

Angin semilir masuk dari celah-celah bilik.

"Tak lelo... lelo... lelo ledung..." Kinar bersenandung lirih.

Mata Lastri memberat. Aroma tubuh ibunya dan bau kayu rumah ini membuatnya tenang. "Bu... ngantuk..."

"Tidur, Nduk. Nanti bangun Ibu bikinkan lemet singkong."

Setelah memastikan napas Lastri teratur, Kinar mencium kening anaknya. Di luar kamar, sayup-sayup terdengar percakapan orang tuanya.

"Pak," suara Mak Sari terdengar pelan. "Kayaknya menantu kita beneran ngisi lho. Tadi dapet telur kuning kembar. Mana si Lastri ngomong gitu lagi."

"Anak itu... kayak punya kewaskitaan, penglihatan batin."

"Yo didoakan saja, Bu. Tapi emang semenjak Kinar sama Lastri pulang, rezeki kita kok ya lancar."

"Kemarin panen jagung bagus, tadi nemu telur, besok-besok siapa tahu nemu emas," canda Abah Kosasih, lalu terdengar suara dengkuran halusnya.

Sementara itu di kamar sebelah, Kang Jaka sedang menempelkan telinganya ke perut Mira.

"Ada suaranya nggak, Mas?" bisik Mira geli.

"Hush, belum kedengeran lah. Tapi Mas percaya sama omongan Lastri. Tadi Mas nemu sarang burung itu pas banget habis mbatin 'pengen bawain Lastri mainan'."

"Eh, langsung nemu. Anak itu bawa hoki, Mir. Bawa berkah."

Mira mengangguk mantap. "Iya, Mas. Sejak ada Lastri, rumah ini jadi adem. Tanaman cabaiku yang keriting daunnya sekarang hijau semua."

"Semoga dia beneran bawa temannya ke perutku ya, Mas."

1
gina altira
dan preman paling sangar pun ketakutan sana Kinar 🤭
gina altira
keluarga serakah
mom SRA
mengikuti alur nya dr awal upah segitu untuk buruh tani kemahalan Thor..itu upah buruh tani di desaku sekarang
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!