NovelToon NovelToon
Anak Kembar Sang Milyarder

Anak Kembar Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"

Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.

Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?

Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Bocil yang Menyebalkan

Untuk mengantisipasi terjadinya penculikan terhadap dua bocah tersebut, Reynan berniat untuk mengantarnya pulang. Ia sangat menyayangkan, anak sekecil itu sudah terlepas dari pemantauan orang tuanya.

"Di mana rumah kalian?" tanya Reynan dengan mata fokus ke arah jalan menuju alamat yang ditunjukkan oleh dua bocah kecil itu.

"Rumah kontrakan atau rumah sendiri?" tanya salah satu dari mereka.

"Rumah kontrakan? Rumah sendiri? Maksudnya?" tanya Reynan menoleh pada dua bocah  itu dengan menautkan alisnya.

"Ya maksudnya kalau rumah kontrakan itu ada di depan, yang ada pohon mangganya, tapi kalau rumah sendiri jelas kami nggak punya," jawab mereka berdua dengan terkekeh.

Reynan berdecak dengan memutar bola matanya, sedangkan Doni terkekeh dengan fokus menyetir.

"Kalian itu masih kecil tapi hobi banget ngerjain orang tua!"

"Siapa juga yang ngerjain orang tua? Kami kan bilang jujur, om saja yang kebaperan!"

'mampus! Rasain Lo dikerjain bocil!' Doni sang asisten cukup senang melihat majikannya dikerjai oleh bocah kecil. Ia bahkan yang sudah bertahun-tahun mengabdi tidak memiliki keberanian untuk mengerjainya.

"Bukannya kebaperan, tapi kalian saja yang cukup menjengkelkan! Tapi seriusan kalian ini tinggal satu rumah?"

"Menurut Om?"

"Kupikir tetangga dekat."

"Oh..., ternyata om butuh periksa ke dokter mata. Om terlalu banyak begadang hingga membuat penglihatan Om berkurang. Apa Om pikir kami nggak ada kemiripan sampai om bilang kami ini tetangga dekat? Kami ini kembar Om, namaku Kenzo, dan ini kembaranku, namanya Kenzie. Tapi kembaranku ini anaknya agak cengeng, dia nggak bisa dibentak,  sekali dibentak langsung nangis. Beda sama aku Om! Kalau aku dibentak ya ku bentak balik."

Doni mendekat dengan berbisik. "Tuan sadar nggak, bocah itu hampir mirip sama Tuan. Karakternya juga. Atau jangan-jangan ~~

"Jangan-jangan mereka anakku gitu? Sinting kamu!"

"Ya maaf Tuan. Habisnya mereka ~~

"Berhenti membanding-bandingkanku dengan mereka, Doni! Karena aku sama mereka jelas tidak memiliki hubungan apa-apa! Berhenti saja di depan, ini kita sudah sampai."

Doni menghentikan mobilnya di depan rumah yang tidak seberapa besar. Di halaman depan terdapat pohon mangga seperti yang diceritakan oleh dua bocah tersebut.

"Apa benar ini rumah kalian?" tanya Reynan ingin memastikan bahwa alamat yang ditujunya benar.

"Iya, ini rumah sementara kami. Nanti kalau kami sudah menjadi milyarder, kami bakalan pindah rumah dan menempati istana. Ayo Kenzie, kita sudah sampai di gubuk derita."

Reynan geleng-geleng kepala dengan membukakan pintu mobilnya. Dia sengaja mengantar mereka pulang dengan tujuan ingin bertemu dengan orang tuanya. Dia berniat untuk memberikan penjelasan mengenai penculikan yang terjadi pada dua bocah tersebut.

"Izinkan Om bertemu dengan orang tua kalian. Om ingin kasih pengertian pada mereka agar lebih berhati-hati, tidak mengabaikan keselamatan kalian," celetuk Reyhan.

"Tapi jam segini mommy masih belum pulang Om, biasanya agak sorean," celetuk Kenzie.

"Terus ayah kalian?"

"Mati! Mommy bilang Daddy sudah mati dimakan ikan hiu. Kami hanya tinggal bertiga saja dengan mommy," jawab mereka serempak.

"Hah? Mati dimakan ikan hiu? Tragis sekali hidupnya."

Reynan yang tak begitu menyukai anak kecil entah kenapa kali ini ia cukup mempedulikannya. Padahal ia memiliki banyak keponakan, tapi tak satupun ada yang mau dekat dengannya.

"Ya sudah..., berhubung ibu kalian nggak ada, Om langsung pulang saja. Tolong nanti sampaikan pesan Om pada ibu kalian, jadi orang jangan mata duitan!"

Dua bocah itu berdecih dan berlari menuju halaman rumahnya. Sedangkan Reynan kembali ke mobil dan kembali fokus ke tujuan utamanya'cafe'

***

Dion sudah duduk menunggunya di cafe. Dia bahkan hampir meninggalkan karena merasa diabaikan. Saat dia beranjak hendak pergi, tiba-tiba Reynan datang bersama asisten pribadinya.

"Ck, kamu itu ke mana aja Rey! Udah dari tadi aku menunggumu di sini. Aku bahkan sudah menghubungimu berkali-kali tapi nggak diangkat! Sengaja ngerjain aku ya!"

Reynan terkekeh dan menarik kursi lalu mendudukinya. "Santai dikit kenapa sih? Ayo, duduk kembali."

Muka Dion tertekuk, namun ia kembali duduk di tempatnya semula.

"Barusan ada urusan genting. Aku baru nyelamatin dua bocah kembar yang hendak dimasukkan ke dalam mobil box.  Untunglah kami datang tepat waktu, kalau tidak..., entah apa jadinya anak itu."

Dion melebarkan matanya. "Maksud kamu penculikan anak?"

Reynan mengangguk. "Hm..., tepat sekali."

"Ya Tuhan..., malang bener nasib bocah itu. Terus sekarang gimana kondisinya? Mereka baik-baik saja kan?"

Dion kepikiran jika hal itu terjadi pada anak-anak Liana. Mereka masih terlalu kecil, sedangkan ibunya fokus bekerja untuk menghidupi mereka. Andai saja dulu Liana mau menikah dengannya mungkin ia masih bisa memberinya kehidupan yang layak, tapi sayang cintanya bertepuk sebelah tangan, ditambah lagi keluarganya tidak bisa menerima wanita yang memiliki anak dari orang lain.

"Aku barusan mengantarnya sampai rumah, dan lebih gilanya lagi ternyata ibunya lebih fokus pada pekerjaannya. Aku heran sama wanita jaman sekarang, yang ada di otak mereka hanya uang, uang dan uang! Bahkan anak sekecil itu sudah diajari mandiri."

"Kamu jangan buru-buru menyalahkan orang tanpa tahu kondisinya, Rey! Bisa jadi ibunya bekerja demi masa depan anak-anaknya. Orang kalau sudah berumah tangga pemikirannya lebih dewasa. Kalau cuma ngandelin suami doang mana cukup? Kecuali suaminya tajir dan juga loyal. Nggak semua orang itu mata duitan, bisa jadi ekonominya pas-pasan?"

Dion tidak setuju dengan pendapat sahabatnya yang terlalu menyepelekan kaum hawa. Ia bisa melihat bagaimana pengorbanan Liana demi membesarkan dua anaknya seorang diri. Bahkan dia rela kehilangan masa mudanya demi membahagiakan buah hatinya.

"Ya, mungkin ada benarnya juga apa yang kau katakan itu. Anak itu bilang hanya tinggal bertiga dengan ibunya, bahkan rumahnya saja ngontrak. Lebih mirisnya lagi ayah anak itu katanya mati dimakan ikan hiu. Menurutmu apa itu masuk akal?"

Huahahahaha.... Dion tertawa lepas. Menurutnya alasan itu kurang meyakinkan. Mana ada orang mati dimakan hiu, kecuali dia berada di lautan lepas, atau bisa jadi seorang pelatih hiu. "Kamu percaya dengan penjelasan bocah kecil itu Rey?"

Reynan mengangkat bahunya. "Ya percaya nggak percaya. Tapi ibunya bilang begitu. Mungkinkah mereka dibohongi oleh ibunya?"

"Kurasa mereka itu dibohongi oleh ibunya. Bisa jadi ayahnya tidak bertanggungjawab. Tidak memberinya nafkah atau segalanya macam yang membuatnya kecewa. Kebanyakan wanita jaman sekarang itu memilih menjadi single parents daripada memiliki suami yang nggak becus. Seperti Liana, wanita itu sungguh luar biasa."

Reynan meneguk ludahnya dengan melayangkan tatapan dingin. "Sekarang aku tanya sama kamu dan jawab dengan jujur. Sejauh mana hubunganmu sama Liana! Apa kamu diam-diam memiliki hubungan special dengannya? Apa kamu berniat untuk menduakan istrimu?"

Dion mendelik. "Hei! Kau pikir aku tukang selingkuh? Aku membantu Liana karena aku peduli sama dia! Sebelum aku menikahi sepupumu aku sudah berteman baik dengannya. Jangan pernah berprasangka buruk terhadap kami!"

Reynan cukup lega setelah tahu bahwa Liana dan Dion memang tidak memiliki hubungan spesial. Setidaknya ia tak perlu lagi mencurigai kedekatan mereka.

"Kalau memang begitu, aku akan menjadikannya asisten pribadiku. Aku ingin membantu perekonomiannya. Apa menurutmu itu hal yang baik?"

1
Evi Lusiana
reinan bosmu itu,ayah dr anak²mu ana
tia
dobel up thor
tia
udah gk sabar siapa ayah dari si kembar
tia
lanjut thor jgn digantung 🤭
tia
lanjut thor
Ika Dw: oke...
total 1 replies
tia
ada kemungkinan liana tidur dgn rey,,, semangat thor
tia
lanjut thor
Ika Dw: siap👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!