Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekerasan Verbal Dimulai
Sudah seminggu sejak kontrol kehamilan kemarin. Nayara makin hari makin lemas. Pusing terus-terusan, mual tidak reda, badan pegal semua. Dia coba istirahat cukup, makan teratur, minum vitamin yang dokter kasih. Tapi tetap saja. Tubuhnya terasa hancur.
Pagi itu Nayara bangun dengan kepala yang berputar sangat kencang. Matanya berat, penglihatan buram. Dia coba berdiri tapi langsung oleng, pegangan ke meja samping tempat tidur.
Gilang sudah mandi, sibuk pakai jas di depan cermin lemari. Wajahnya segar, rambut rapi disisir ke belakang, wangi parfum kayu cendana menyengat.
"Mas," panggil Nayara pelan, suaranya serak.
Gilang tidak menoleh. Tangannya sibuk merapikan dasi biru tua di lehernya.
"Mas, aku lagi pusing banget nih. Kayak mau pingsan gitu." Nayara mencoba lagi.
Gilang akhirnya melirik lewat cermin. "Terus?"
"Aku, aku takut kenapa-kenapa. Bisa tidak Mas hari ini pulang lebih awal? Atau, atau temenin aku sebentar aja." Nayara meremas selimut, berharap Gilang mau mengerti.
Gilang berbalik, menatap Nayara dengan alis terangkat. "Pulang cepat? Lo serius?"
"Iya, Mas. Aku benar-benar tidak enak badan. Takutnya nanti aku pingsan, tidak ada orang di rumah." Nayara menatap Gilang dengan mata memohon.
Gilang tertawa. Tertawa pendek dengan nada mengejek. "Pingsan? Lo lebay banget sih, Nayara. Pusing doang kok kayak mau mati."
"Tapi ini pusing banget, Mas. Kayak kepala mau pecah." Nayara memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.
"KAMU TERLALU MANJA!" Gilang berteriak tiba-tiba. Nayara tersentak, tubuhnya mundur ke sandaran ranjang.
Gilang berjalan mendekat, berdiri di tepi ranjang dengan wajah merah. "HAMIL KOK KAYAK ORANG SAKIT! LO LIAT IBU-IBU LAIN! HAMIL TETAP KERJA! TETAP NGURUS RUMAH! TETAP MASAK BERSIH-BERSIH! LO? DI RUMAH AJA MASIH BANYAK MAU!"
"Aku, aku sudah berusaha, Mas. Tapi badan aku benar-benar tidak kuat." Nayara mencoba menjelaskan dengan suara gemetar.
"BERUSAHA APANYA? GUA LIHAT LO TIDURAN TERUS! SETIAP GUA PULANG, LO TIDUR! PAGI BANGUN TELAT! MALAS-MALASAN!" Gilang menunjuk wajah Nayara dengan jari telunjuk.
"Aku tidur karena lemas, Mas! Bukan malas! Dokter bilang istirahat cukup itu penting buat kehamilan!" Nayara mulai emosi, air matanya sudah menggenang.
"DOKTER BILANG, DOKTER BILANG! LO SELALU ADA ALASAN! SELALU ADA PEMBELAAN!" Gilang meraih tas kerjanya kasar dari atas meja, melemparkan tali tasnya ke bahu.
"Aku tidak cari alasan! Ini kenyataan! Aku lagi hamil anak kamu! Kenapa kamu tidak mau mengerti sih?" Nayara menangis sekarang, air matanya mengalir deras.
"MENGERTI APA? LO MAU GUA NGERTI APA? LO CUMA MAU PERHATIAN! CUMA MAU GUA DI RUMAH TERUS! EGOIS! LO EGOIS BANGET, NAYARA!" Gilang berjalan ke pintu kamar.
"Aku tidak egois! Aku cuma, aku cuma butuh kamu di samping aku!" Nayara berteriak sambil menangis.
Gilang berhenti di ambang pintu, berbalik dengan tatapan dingin. "Butuh gua? Buat apa? Buat ngeliatin lo tidur? Buat ngeliatin lo ngeluh-ngeluh? Percuma!"
"Mas, kumohon. Jangan gini. Aku benar-benar tidak enak badan." Nayara turun dari ranjang, mencoba mendekat ke Gilang.
"GUA TIDAK PEDULI!" Gilang berteriak keras. "LO MAU SAKIT? YA SAKIT AJA SONO! MAU PINGSAN? YA PINGSAN! GUA TIDAK AKAN PULANG CEPAT CUMA GARA-GARA LO MANJA!"
Kata-kata itu menohok. Sakit. Seperti ditikam berkali-kali di dada.
"Mas, aku hamil anak kamu. Kenapa kamu tidak peduli sama aku? Sama baby kita?" Nayara mencoba terakhir kali, suaranya putus asa.
Gilang menatap Nayara dengan tatapan muak. Muak. Seperti melihat sampah. "Lo tahu kenapa gua tidak peduli? Karena gua capek sama lo! Capek dengar keluhan lo! Capek lihat muka lo yang sedih terus! Capek sama semua drama lo!"
"Aku, aku tidak bermaksud bikin kamu capek, Mas. Aku cuma, aku cuma pengen kamu ada buat aku." Nayara terisak, tubuhnya gemetar hebat.
"ADA BUAT LO? LO PIKIR GUA ROBOT? GUA PUNYA KERJAAN! GUA PUNYA TANGGUNG JAWAB! GUA HARUS CARI DUIT BUAT BIAYAIN LO DAN ANAK LO!" Gilang menunjuk perut Nayara dengan jari.
Anak lo. Bukan anak kita. Anak lo.
Gilang sudah tidak mengakui bayi di perut Nayara sebagai anaknya juga.
"Ini anak kita, Mas. Kita berdua." Nayara mengoreksi dengan suara lirih.
Gilang tidak menjawab. Dia berbalik, berjalan keluar kamar dengan langkah berat.
"MAS!" Nayara berlari mengejar, tapi kakinya lemas. Dia tersandung karpet, hampir jatuh kalau tidak pegangan di kusen pintu.
Gilang sudah turun tangga. Nayara mengikuti dari belakang, pegangannya erat di pegangan tangga karena kepalanya makin pusing.
"Mas, jangan pergi dulu. Kita bicarain baik-baik." Nayara memohon dari atas tangga.
Gilang berhenti di bawah, menatap ke atas dengan wajah penuh amarah. "BICARAIN APA LAGI? GUA UDAH JELAS! GUA TIDAK AKAN PULANG CEPAT! TITIK!"
"Tapi aku sendirian di rumah, Mas. Kalau aku kenapa-kenapa gimana?"
"YA TELEPON SUSTER! TELEPON DOKTER! JANGAN GANGGU GUA!" Gilang membuka pintu rumah kasar.
"Kita tidak punya suster, Mas! Kamu tidak pernah cariin!" Nayara menangis histeris.
"KARENA LO TIDAK BUTUH SUSTER! LO CUMA BUTUH BERHENTI MANJA!" Gilang melangkah keluar.
"GILANG!" Nayara berteriak memanggil nama suaminya tanpa embel-embel. Dia sudah tidak peduli lagi dengan sopan santun.
Gilang berhenti, berbalik dengan wajah lebih marah. "LO BERANI PANGGIL NAMA GUA?"
"Iya! Aku panggil nama kamu! Karena kamu sudah tidak pantas dipanggil Mas! Kamu bukan suami yang baik! Kamu jahat!" Nayara berteriak sekeras tenaganya dari atas tangga.
BRAK!
Gilang naik lagi, cepat, mengambil dua anak tangga sekaligus. Nayara mundur, tubuhnya menempel di dinding.
Gilang berdiri tepat di depan Nayara, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter. Napasnya terasa panas di wajah Nayara.
"Lo bilang gua jahat?" Suara Gilang pelan tapi mengancam.
Nayara gemetar tapi dia tidak mau mundur. Tidak kali ini. "Iya. Kamu jahat. Kamu tidak peduli sama aku. Tidak peduli sama anak kita."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Nayara. Pipi yang sama yang ditampar seminggu lalu. Kepala Nayara terhentak ke samping, telinga berdengung, mata berkunang-kunang.
"ITU BUAT LO BELAJAR SOPAN SANTUN!" Gilang menurunkan tangannya.
Nayara memegangi pipi yang panas menyengat. Air matanya mengalir tanpa suara. Dia menatap Gilang dengan tatapan kosong.
Gilang menatap balik dengan tatapan dingin. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah. "Gua pergi. Kalau lo mati ya mati aja. Gua tidak peduli."
Dan Gilang turun lagi, keluar dari rumah, membanting pintu keras.
BRAK!
Suara bantingan itu menggelegar di rumah besar yang sepi.
Nayara berdiri sendirian di atas tangga. Tangan masih memegangi pipi. Mata menatap kosong ke pintu yang baru ditutup.
Kalau lo mati ya mati aja. Gua tidak peduli.
Kata-kata itu terngiang di kepala Nayara. Berputar-putar seperti kaset rusak.
Suaminya bilang kalau dia mati, dia tidak peduli.
Suaminya sendiri.
Nayara berjalan pelan ke kamar. Tubuhnya bergerak otomatis, seperti robot. Dia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke jendela.
Tidak ada tangisan. Tidak ada isakan. Tidak ada apa-apa.
Nayara hanya duduk. Diam. Kosong.
Ada sesuatu yang mati di dalam hatinya pagi ini.
Sesuatu yang tadinya masih hidup, masih berharap, masih percaya kalau Gilang bisa berubah.
Tapi sekarang mati.
Benar-benar mati.
Nayara merasakan kehampaan yang luar biasa di dadanya. Seperti ada lubang besar yang menganga, menelan semua perasaannya.
Dia tidak mencintai Gilang lagi.
Tidak. Itu bohong. Dia masih mencintai Gilang. Sayangnya.
Tapi cintanya sudah lelah. Lelah dipukul. Lelah diinjak-injak. Lelah diabaikan.
Nayara menatap cermin di seberang ranjang. Wajah pucatnya memantul di sana. Pipi merah bekas tamparan. Mata bengkak. Bibir pucat kering.
Siapa cewek jelek ini?
Bukan Nayara yang dulu. Bukan Nayara yang percaya diri, yang tersenyum lebar, yang punya mimpi indah tentang pernikahan bahagia.
Ini Nayara baru. Nayara yang rusak. Nayara yang patah.
Nayara yang mulai mengerti kalau kadang cinta saja tidak cukup.
Kadang pernikahan bukan tentang cinta.
Tapi tentang bertahan.
Bertahan di tengah badai yang tidak pernah reda.
Dan Nayara harus bertahan.
Bukan untuk Gilang.
Tapi untuk bayinya yang masih kecil di perutnya.
Bayi laki-lakinya yang tidak tahu ayahnya tidak menginginkannya.
Nayara meletakkan tangan di perutnya. Mengelus pelan. "Maafin Mama, sayang. Mama lemah. Mama tidak bisa kasih kamu keluarga yang bahagia."
Tapi tidak ada jawaban. Hanya keheningan.
Keheningan yang perlahan-lahan menggerogoti sisa-sisa harapan Nayara.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭