Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan ditengah kebisingan
Georgio bersandar di kursi sebuah restoran, baru saja selesai makan malam bersama Albert, sebuah iPad di tangannya menampilkan rekaman langsung dari club malam. Disana terlihat Annabella yang mabuk di bar, dan Cassandra yang tergesa-gesa menarik Olivia menjauh.
"Menarik," gumam Georgio, menyesap minumannya. Albert, yang duduk di seberangnya, hanya diam.
"Albert," panggilnya, suaranya tenang, namun tegas. "Siapkan jadwal penerbangan untuk kembali sekarang juga."
Albert terkejut. "Tapi? Tender besok pagi sangat penting. Kita tidak bisa membiarkan tim di sana tanpa kehadiran Anda."
"Tender bisa menunggu. Tidak ada yang lebih penting selain istri saya," jawab Georgio, meletakkan gelasnya.
"Saya mengerti, tapi perjalanan pulang memakan waktu berjam-jam."
Georgio menatap Albert tajam. "Albert, anda lupa? Kekuasaan sejati bisa mengubah jadwal dunia untuk mengikuti kehendakmu. Saya tidak sedang meminta izin padamu. Saya sedang memerintah sebagai atasan."
Albert mengangguk pasrah. Lalu segera menghubungi seseorang untuk melakukan penerbangan saat itu juga. Mereka keluar dari restoran dan langsung ke bandara.
Georgio tiba di club malam dengan jarak waktu satu jam lebih, disusul Albert dan dua pengawal berpakaian serba hitam. Ia mengenakan jas kantor yang membuatnya terlihat berwibawa. Kehadirannya yang tenang di tengah hiruk pikuk musik keras terasa seperti menyedot perhatian di sekitarnya.
Ia segera menemukan Cassandra di ruang vip tengah duduk disofa sambil memandang Olivia dihadapannya, dia sedang bernyanyi dan bergoyang lincah bak biduan. Diruang itu hanya ada mereka berdua, tidak ada lagi gigolo seperti sebelumnya.
Mata Cassandra melebar penuh keterkejutan melihat Georgio tiba-tiba berdiri di hadapannya. Rambutnya rapi, cufflink di pergelangan tangannya berkilauan, tetapi matanya gelap,terlihat sangat mengerikan.
"G-Gio? kenapa kamu di sini? Bukannya kamu seharusnya di luar kota?" Cassandra berdiri dari duduknya.
"Aku ada dimana-mana, Sayang," jawab Georgio, melangkah mendekat. Panggilan sayang kali ini terasa lebih menakutkan. Ia meraih lengan Cassandra, genggamannya kuat, hingga membuat Cassandra meringis. Lengannya belum lama di remas Annabella, kukunya yang panjang melukai Cassandra.
Georgio yang menyadari itu mengerutkan dahinya, lalu menunduk menatap lengan Cassandra, yang terluka. Wajahnya yang awalnya dingin berubah khawatir. Ia menyentuh pelan lengan Cassandra.
"Ini kenapa?"tanya nya,
Cassandra menggeleng."tidak apa-apa."ucap Cassandra seadanya, terkadang dia heran dengan Georgio, suasana hatinya mudah berubah-ubah.
Georgio tidak senang dengan jawaban Cassandra, jelas sekali dia terluka, lukanya seperti tusukan-tusukan kuku. Seketika Georgio teringat saat Cassandra menemui Annabella, jangan-jangan ulah Annabella, mengingat dia pernah masuk rumah sakit jiwa. Pasti masih ada gila-gilanya.
"Jangan bohong! Aku tau ini karena Annabella kan?"kata Georgio yang membuat Cassandra mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu selalu tau? Dimana dan apa yang aku lakukan kamu selalu tau. Kamu mata-matai aku?"tanya Cassandra mengintimidasi.
Georgio tersenyum tipis. "Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang? Sejak kita menikah, gerak-gerak kamu selalu dalam pantauanku."
Cassandra menatap Georgio tidak habis fikir, ingin marah tapi tidak ada gunanya, pasti dia yang akan kalah.
"Kenapa kamu harus melakukan semua itu? Walaupun kita sudah menikah, tetap saja aku punya privasi ku sendiri."ucap Cassandra.
Georgio mencondongkan tubuhnya ke depan, jarak di antara mereka hampir tidak ada. Aroma mint dan parfum mahal dari jasnya memenuhi indra penciuman Cassandra.
"Privasi?" bisik Georgio, suaranya rendah dan serak, matanya yang gelap memaku mata Cassandra, bibirnya sedikit melengkung, membentuk senyuman. "Sayang... menurutmu, kamu masih bisa bebas seperti dulu?"
Cassandra diam, tidak tahu harus berbuat apa."Dulu aku membiarkan mu, karna kamu tidak mencintaiku, suatu saat kamu pergi, aku akan membiarkannya. Tapi sekarang berbeda, kamu sudah dibawah kendaliku."
"Ini salah kamu sendiri, kenapa sekarang berubah mencintaiku."lanjutnya.
Bibir Cassandra melengkung membentuk senyuman kecil. Dia melingkarkan lengannya di leher Georgio, menatapnya lembut.
"Kendalikan aku semaumu, sayang."bisik Cassandra membuat Georgio terdiam. "Kamu tau? Aku suka sekali perhatian kecil seperti ini. Demi aku, kamu rela jauh-jauh kembali kesini"ucap Cassandra sembari terkekeh.
"Tentu, didalam hidup ku, kamu yang paling penting."Cassandra hanya tersenyum mendengarnya.
Georgio kembali menatap luka Cassandra. Jari-jarinya yang panjang dan elegan dengan lembut membelai luka itu, sentuhannya mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuh Cassandra.
"Lihat ini," ia melanjutkan, suaranya terdengar sedikit kesal, namun kehangatan matanya menyangkalnya. "Kamu tau aku benci melihatmu terluka?"
Cassandra mengangguk. "Aku tau."
Georgio menghela napas, "Aku hanya ingin tau, apakah ini cara kamu memberitahuku bahwa kamu merindukan ku? kamu ingin aku selalu berada di dekatmu, menjagamu?"
"Benar sekali, buktinya kamu datang."ucap Cassandra membuat Georgio tergelak kecil. Dia mengecup bibir Cassandra gemas.
"Omo! Mata dedek ternodai!" Tiba-tiba Olivia yang memperhatikan mereka sadari tadi berteriak sambil menutup matanya dengan jari-jari tangan nya.
Cassandra dan Georgio menatapnya datar, Olivia yang ditatap seperti ini mengangkat kedua tangannya seperti penjahat yang tertangkap basah. sambil cengengesan Olivia kembali berkata."Aku tidak melihat apa pun, kalau begitu aku pergi dulu, ada urusan penting." Ujarnya dan berlari keluar ruangan.
Georgio kembali menatap Cassandra, lalu dengan cepat menggendong Cassandra dan membawanya keluar dari ruangan VIP itu.
★★★
Disisi Annabella dan Jordan. Di dalam mobil Annabella bersandar ke bahu Jordan, tubuhnya lemas karena alkohol. Jordan menyetir dengan hati-hati, tangannya sesekali mengelus rambut Annabella.
Sesampainya di rumah mereka dulu. Jordan menggendong Annabella ke kamar milik Annabella dulu, mereka sebelumnya tidak pernah tidur bersama. Mereka memilih pisah kamar atas permintaan Annabella. Dia meletakkannya perlahan di ranjang, lalu kembali untuk mengambil air hangat dan handuk.
Ketika Jordan kembali, Annabella sudah setengah sadar. Dia melihat suaminya menyeka wajahnya dengan handuk hangat, membersihkan sisa make-up dan air mata. Gerakan Jordan sangat lembut dan penuh perhatian.
Diperjalanan pulang tadi, Annabella sempat menangis. Mengatakan kalau dia sangat merasa bersalah karena dulu mengabaikan Jordan dan terus memikirkan Georgio.
Jordan menatap lama wajah Annabella yang damai memejamkan mata.
"Kenapa kamu harus seperti ini, Anna? Ini bukan kamu yang aku kenal."gumam Jordan sambil membersihkan tubuh Annabella.
"Jordan. Jangan pergi lagi," gumam Annabella, matanya masih tertutup.
Jordan berhenti, hatinya mencelos. "Aku tidak akan pergi, Anna. Aku di sini."
Dia membantu Annabella mengganti pakaian dengan piyama longgar. Jordan meneguk silvanya. Selama menikah Jordan sama sekali belum pernah menyentuh Annabella. Melihat tumbuhnya, tentu ada keinginan untuk menyentuh Annabella yang masih berstatus istrinya. Tapi Jordan tidak mau melakukan tanpa izinnya.
Saat Annabella berbaring, Jordan ikut naik ke ranjang di sisinya, memeluknya.
"Aku minta maaf... karena sudah menyakitimu," bisik Annabella, air mata perlahan membasahi bantal.
"Sstt... jangan bicara lagi. Aku yang lebih dulu menyakitimu. Kita sama-sama salah. Kita perbaiki dari awal, ya?" Jordan membalikkan badan Annabella perlahan, sehingga mereka berhadapan.
Wajah Annabella yang mabuk tampak polos dan rapuh. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh rahang Jordan. "Aku mencintaimu, Jordan. Aku benci dia, bertahun-tahun dia menipu ku."
Jordan tersenyum, senyum tulus. "Aku juga mencintaimu, Anna. Sangat mencintaimu. Kali ini hanya ada kita berdua, jangan memikirkan dia lagi."
Annabella menggeleng. Wajah Jordan tiba-tiba berubah murung. "Dulu aku pikir, aku muak denganmu karena aku benci dia, karena kamu masih memikirkan dia. Tapi sekarang aku sadar, semua kekesalan itu karena aku menyukaimu. Aku benci kamu mencintai orang lain."
Annabella tidak menjawab. Dia masih menatap Jordan dengan mata sayunya.
"Maaf, Anna. Dulu aku memanfaatkan mu untuk balas dendam. Tapi aku janji, dikesempatan kali ini aku akan mencintaimu dengan tulus, bukan dengan maksud lain lagi."lanjutnya.
"Aku pegang ucapanmu."balas Annabella yang membuat Jordan tersenyum kecil.
Jordan mengecup bibir Annabella sekilas, lalu mengelus lembut pipi Annabella.
"Anna, kamu sangat cantik. Kenapa aku baru menyadarinya?"
"Dulu kamu sibuk dengan dendam mu."balasan Anabella.
Jordan menatap bibir Annabella punuh minat. "Aku menginginkan mu."Annabella membalas tatapan Jordan, dia tersenyum kecil lalu mengangguk. Annabella melingkarkan lengannya di pinggang jordan. Memberikan kesempatan untuk Jordan.
Jordan menggeser tubuhnya lebih dekat, mengangkat dagu Annabella, lalu mencium Annabella dengan lembut, bukan ciuman penuh gairah, melainkan seperti ciuman permintaan maaf. Annabella membalas ciumannya. Ciuman itu perlahan menjadi lebih dalam, menghapus semua kepahitan dan kesalahpahaman yang selama ini meretakkan hubungan mereka. Dalam keintiman malam itu, di bawah rembulan yang mengintip dari jendela, Annabella tidak lagi mabuk oleh alkohol, melainkan mabuk oleh cinta suaminya. Mereka bersatu kembali, membiarkan tubuh dan hati mereka berlabuh, mengakhiri malam dengan janji yang terukir tanpa kata-kata, bahwa hari esok akan menjadi awal dari lembaran yang baru dan lebih baik.