Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Final
*
*
"Jadi sudah selesai ya Pak urusan kita?"
Qistina benar-benar sudah ingin lenyap dari hadapan Albie. 'Kalau bisa jangan pernah bertemu dengan orang ini lagi.'
"Iya, karna saya malas memperpanjang masalah kita anggap saja masalah ini selesai. Walaupun kalau di pikir-pikir, saya sudah sangat di rugikan. Kalau saya mau bisa saja, saya tuntut balik kamu ke polisi atas dasar pencemaran nama baik."
Deg!
Itu, itu yang sangat Qistina takutkan. Bagaimana kalau orang ini berubah fikiran, memang sebaiknya dia cepat lenyap dari hadapan Albie sebelum itu terjadi.
"Terimakasih Pak, sekali lagi saya minta maaf. Saya pamit."
Qistina cepat membalikkan tubuhnya, sedikit terseok langkahnya mulai akan menjauh dari sosok laki-laki yang sempat membuatnya ngeri.
Tapi langkah kaki Qistina terhenti saat tangan Albie menangkap tangannya lagi. 'Apa lagi sih?'
"Tunggu, kamu harus pakai ini..." Albie menaruh jas miliknya yang tadi di pakai untuk membungkus tubuh Qistina saat di bawa ke rumah sakit tepat di bagian pantat Qistina.
Merasa sudah di lecehkan, berani-beraninya pria itu menyentuh pantat seorang wanita!
Plak!
Tamparan keras mengenai pipi seorang dokter bedah yang hampir di kagumi oleh seluruh konsulen rumah sakit karna kinerjanya yang di nilai sangat baik. Tapi kini, dokter itu di tampar?
"Jangan karna saya menyadari kesalahan saya dan minta maaf Bapak bisa seenaknya ya, pegang-pegang pantat orang!"
Albie terhenyak, reflek memegangi bekas tamparan tadi. 'Pedih juga'
"Lagi-lagi kamu bertindak seenaknya. Siapa yang mau pegang-pegang pantat kamu. Saya cuma mau nutupin noda haid kamu yang tembus di celana. Karna saya yakin itu nggak akan nyaman kalau di lihat orang."
Qistina mengerjapkan matanya. 'What's? Aku, salah sangka lagi. Bodoh Qistina, apa yang sudah kamu lakukan?'
Lalu bagaimana ini? Minta maaf lagi? Atau kabur saja?
Qistina memilih keduanya. Setelah melilitkan lengan jas di pinggangnya, ia menangkupkan tangan lagi.
"Maaf Pak!"
Ayo cepat lari, sebelum semuanya semakin runyam. Qistina mempercepat langkahnya, berusaha menjauh secepat mungkin dari tempat berdirinya Albie.
Sebenarnya itu pilihan yang ceroboh. Terlalu ceroboh, karna lari sambil menoleh sudah di pastikan akan berakhir menabrak apa saja yang ada di depannya.
Brugh!
Benar sekali, Qistina terjatuh setelah menabrak brankar kosong yang di dorong oleh perawat. Apa ini yang di namakan sebuah karma?
"Mbak, anda tidak apa-apa?" perawat merasa tidak enak karna menyebabkan gadis itu terjatuh.
Qistina cepat-cepat berdiri, tidak terlalu peduli dengan sikunya yang lecet terkena besi bagian bawah brankar.
"Ng...ngak Mas, aku nggak apa-apa."
"Tapi, itu ada luka Mbak"
"Nggak apa-apa, cuma sedikit."
"Saya obatin saja dulu Mbak."
"Nggak usah Mas, nggak perlu. Aku masih bisa nahan."
Qistina mempercepat lagi langkahnya. 'Duh, sial... Kenapa pake jatuh segala. Ceroboh banget sih kamu Qistina.'
Albie di tempatnya berdiri hanya memperhatikan dari jauh. Dia tidak berniat lagi terlibat drama dengan gadis itu. Menurutnya, reaksi yang Qistina lakukan meski berlebihan tapi menunjukkan betapa gadis itu menjaga dirinya. 'Hanya saja, dia polos dan ceroboh!'
Teringat pesan dari Alya tadi, Albie berniat untuk menemuinya. Walau bagaimanapun situasinya harus jelas, Albie bukan tipe laki-laki yang menganggap remeh masalah. Ia hanya ingin semuanya tuntas sebelum menentukan langkah lagi.
Dengan penampilan seadanya itu ia menuju kafe yang di tunjukkan Alya tadi.
***
"Akhirnya kamu datang juga Mas, aku sudah lama nungguin kamu. Aku pesenin kopi kamu dulu ya, kafe ini punya varian kopi yang enak banget. Kamu pasti suka."
Alya yang sejak tadi menunggu Albie di kafe itu hampir putus asa, mengira Albie tidak akan datang menemuinya. Ketika melihat kedatangan Albie serta merta ia tersenyum, lega akhirnya.
Albie cuma diam, mengangguk saat Alya berdiri hendak memesan minuman untuknya. Tidak seantusias biasanya, jika tentang urusan kopi yang memang kegemarannya.
Alya melangkah ke depan counter kafe. Lampu gantung temaram memantulkan kilau lembut di permukaan meja kasir. Ia menyingkap rambutnya ke belakang telinga, lalu menatap daftar menu sekilas sebelum fokus pada kasir.
"“Americano single origin, yang Ethiopian, tanpa gula.” ucapnya singkat. Alya sudah cukup hafal selera kopi kekasihnya itu. Sudah tiga tahun ia mempelajarinya, wajar kan...?
Kasir perempuan itu mengangguk cepat. “Ukuran regular?”
“Iya.”
"Atas nama siapa kak?"
"Albie."
Jari Alya sudah lebih dulu merogoh tas. Ia mengeluarkan kartu, meletakkannya di atas meja bahkan sebelum harga disebutkan.
“Totalnya tiga puluh lima ribu, Kak.”
Alya menggeser kartunya sedikit ke depan. “Pakai ini.”
Mesin EDC berbunyi pelan. Alya menunggu dengan ekspresi datar, nyaris tanpa perubahan, pikirannya sedang berada jauh dari aroma kopi yang memenuhi ruangan.
"Tolong nanti antar ke meja yang itu ya" Alya sambil menunjuk meja di mana tempat Albie duduk.
“Baik, Sudah ya kak...silahkan di tunggu”
Alya mengangguk singkat. Lalu melangkah lagi ke tempat duduknya barusan.
Alya bermaksud mencairkan suasana, seperti biasa yang dia lakukan saat bersama Albie . Alya pasti memperhatikan cara penampilannya.
"Kamu dari mana Mas? Kok penampilan kamu kusut banget, biasanya kamu nggak pernah begini kalau mau ketemu aku."
"Aku dari Bar semalam, mabuk"
"Bar?"
"Mabuk?"
Albie hanya mengangguk.
"Mas, kamu apa-apaan. Kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan kamu sendiri yang bilang kalau Alkohol itu haram."
"Iya, aku salah sudah meminum barang haram itu."
Albie sadar kesalahannya, jauh di hati kecilnya setelah apa yang terjadi ia berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Cukup satu kali.
"Kenapa kamu sampai begini Mas?"
"Karna, aku tidak mau memperpanjang urusan kita lagi Alya. Sebaiknya kita putus saja. Toh kita juga bakal sendiri-sendiri, kamu di Itali dan aku di sini. Kamu bilang kamu nggak pernah bisa hubungan jarak jauh, dari pada hubungan ini hanya membuatmu sakit lebih baik kita akhiri."
"Mas, nggak bisa begini. Apa Mas lupa aku sudah memperjuangkan hubungan kita ini selama tiga tahun. Itu bukan waktu yang sebentar Mas. Aku hanya minta pengertian kamu sedikit saja."
"Playing victim, kamu selalu begitu kalau yang menjadi keinginanmu tidak tercapai. Kamu pikir aku nggak memperjuangkannya juga? Kamu pikir menolak tawaran di Jepang itu bukan pengorbanan? mencocokkan jadwal aku di rumah sakit dengan jadwal kamu yang berubah-ubah biar kita bisa menikmati waktu bersama itu bukan pengorbanan? Terus sekali saja aku menolak untuk ikut kamu ke Itali kamu bilang aku nggak mau berkorban, dan hanya kamu yang memperjuangkan hubungan ini? Sudah lah Alya, toh ini semua hanya tentang kamu. Kalau kita sendiri-sendiri justru bagus buat kamu kan? Kamu jadi lebih fokus sama karir mu sendiri."
Alya kehabisan kata-kata, ucapan dari Albie tadi mengusik egonya. Sedikit merasa bersalah karna apa yang Albie ucapkan memang benar adanya. Lantas, selama tiga tahun ini apa iya akan berakhir begitu saja?
"Tapi Mas, apa bedanya dengan menjadi dokter di Itali atau di sini. Profesi yang sama kan. Terlebih kita bisa merawat lagi hubungan kita dengan benar."
"Dengan benar? Benar yang bagaimana menurutmu? Benar yang sesuai kemauan mu, tanpa peduli apa mau ku? Seolah karir yang kamu bangun lebih penting dari profesi ku? Manusia jika di beri satu lubang emas, maka dia akan meminta satu lubang emas lagi. Tidak akan pernah cukup. Siapa yang bisa menjamin kalau kamu akan puas dengan karir di Itali? Jangan-jangan setelah ini kamu akan tertarik untuk berkarir di New York, England atau mana lah itu. Terserah kamu saja, aku tidak akan membatasi mu."
"Jadi ini keputusan final mu, apa kamu tidak peduli dengan cinta yang sudah lama kita bangun?"
"Untuk apa cinta kalau hanya menghalangi obsesimu? Yang kamu punya bukan cinta Alya, tapi kamu hanya takut. Kamu takut semua kemauanmu tidak terpenuhi, termasuk aku. Sudahlah, ini lebih baik. Mungkin kita di pertemukan untuk memberiku pelajaran, bahwa dalam hubungan tidak harus berjalan dengan apa yang kita mau, tidak selamanya take and give menjadi jaminan hubungan berjalan mulus, dan hubungan tidak harus di paksakan jika ternyata salah satu pasangan sudah memiliki visi misi yang tak sama. Aku pamit, permisi."
Albie berdiri, tidak perlu berbasa basi lagi. Ia keluar menuju pintu kafe meninggalkan Alya yang mulai terisak dalam tangis.
Pelayan kafe menaruh kopi yang di pesan Alya tadi, sedikit ragu-ragu karna melihat gadis yang memesannya kini sedang menangis tersedu-sedu.
"Maaf, kak...ini kopi atas nama Albie."
"Orangnya sudah pergi!"
"Tapi ini..."
"Nggak denger ya? Orang nya sudah pergi, dia ninggalin aku sendiri...hiks..hiks"
Alya menutup matanya dengan tisyu, terus mengelap air matanya yang bercucuran.
Pelayan itu menaruh cup kopi bertuliskan nama Albie dengan hati-hati. Lalu pelan-pelan kembali ke pekerjaannya.
*
*
*
~ Duh, dokter Albie keputusannya bikin Alya nangis Bombay
~Gimana? masih mau lanjut? Jangan lupa setangkai mawar dan like komentnya ya! Biar aku makin semangat update.
~ Salam hangat dari Penulis🤍
Bberapa negara melegalkan eutanasia, sementara yang lain melarangnya....