Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Menunggu Kematian
Dua hari berlalu, rombongan mereka akhirnya sampai di sebuah Desa yang bernama Desa Jujing. Karena masih jam tiga sore, mereka memutuskan untuk melewati Desa tersebut sebelum gelap.
Kepala Desa meminta warganya untuk berhenti di pintu gerbang, karena dirinya harus melapor terlebih dahulu ke Kepala Desa Jujing. Itulah Aturan yang harus mereka patuhi jika ingin melewati sebuah Desa atau kota, karena data mereka juga sudah tercatat..
Semua itu perintah Kaisar, hanya untuk berjaga-jaga, jangan sampai ada Mata-mata atau penyusup dari musuh yang menyamar jadi pengungsi agar bisa menuju Ibu Kota dengan mulus.
Baru saja melewati Pintu gerbang, seseorang lebih dulu menyapanya. "Hai Tuan, apakah kalian juga pengungsi?" tanyanya sambil melirik keluar gerbang.
Kakek Ji melihat seorang Pria yang sedang memikul keranjang yang berisikan sayuran liar, menandakan jika dia baru saja dari hutan.
"Ya, kami baru saja tiba dan ingin melapor, kalau boleh tau di mana Rumah Kepala Desa Jujing?" Tanya Kakek Ji dengan sopan.
"Anda tidak perlu ke rumahnya, tenda kecil itu adalah Pos yang yang dibuat untuk Desa pengungsi yang ingin melapor." ucapnya dengan ramah.
"Jadi maksudnya, Kepala Desa akan datang kemari?" Kakek Ji merasa tidak enak, mereka yang butuh, seharusnya merekalah yang menemui Kepala Desa Jujing.
"Ya, Tuan tunggu saja, saya akan mencari Kepala Desa!"
"Ah baiklah, maaf merepotkan!"
Pria tersebut segera pergi mencari Kepala Desa, Karena memang itu sudah jadi tugasnya, jika ada yang ingin melapor maka dia harus segera mencarinya. Tapi ini sedikit membuatnya heran, karena baru saja kemarin satu Desa yang baru lewat, yang biasanya akan lewat lagi setelah tiga atau lima hari, tapi kali ini hanya berselang sehari.
Kakek Ji kembali ke rombongan, dan menceritakan apa yang terjadi. Aruna langsung memberi pujian dalam hati karena Kepala Desa Jujing sangat berhati-hati, membuat pos seperti itu memang hal yang bagus untuk menghindari konflik.
Setelah menunggu beberapa menit, Pria tadi akhirnya kembali bersama seseorang yang tak lain Kepala Desa Jujing.
"Maaf, maaf sudah membuat kalian menunggu terlalu lama. Tadi ada sedikit masalah, jadi saya datang terlambat!" Kepala Desa Jujing berkata dengan nada penyesalan.
Kakek Ji segera berkata. "Tidak, tidak. Kami juga sekalian beristirahat sejenak!" Karena Kepala Desa Jujing sangat ramah, maka harus dibalas lebih ramah lagi.
"Tuan, Perkenalkan Saya Bai Ming, Kepala Desa Jujing. Berikan Datanya, saya akan memeriksanya!" ucapnya sedikit buru-buru.
"Saya Ji Daquan, Kepala Desa Suning. Tuan silahkan diperiksa!" Pinta Kakek Ji sambil menyodorkan sebuah berkas yang berisi data para warga dan juga surat izin perjalanan. Jika kedua data tersebut tidak ada, maka mereka tidak bisa lewat.
Aruna yang tidak jauh dari Pos tentu bisa melihat tingkah Kepala Desa Jujing yang sedikit aneh, apalagi setiap menit dia melihat kearah jalan masuk Desa. Karena merasa ada yang salah, Aruna jalan mendekat untuk bertanya, bukan ingin ikut campur tapi nalurinya berkata jika dirinya harus tau apa yang terjadi.
"Permisi Tuan, Maaf jika saya kurang sopan. Apa Tuan Kepala Desa sedang buru-buru? Jika seperti itu, Tuan bisa kembali, dan kami akan melapor besok pagi!"
Tuan Bai terkejut mendengar ucapan Aruna yang tiba-tiba, apalagi ucapan Aruna memang benar. Tapi yang membuatnya makin syok karena wajah Aruna sangat cantik, sepanjang hidupnya dia belum pernah melihat wanita secantik ini.
Kakek Ji hanya tersenyum geli, karena sebelumnya mereka juga bereaksi sama, meski sudah bersama Aruna setiap hari mereka merasa tidak bosan untuk melihatnya, makin dilihat makin menyenangkan.
Setelah sadar Tuan Bai menghela nafas dan segera berkata. "Maaf ya, saya memang sedang buru-buru. Karena kami sedang menunggu kematian seseorang. Ya, Desa Jujing sedang berduka!"
Aruna dan Kakek Ji saling tatap, ini masalah serius. Saat ini memang harus segera melanjutkan perjalanan sebelum gelap, tapi Kepala Desa Jujing juga sedang berduka, melakukan pemeriksaan Data bisa hampir satu jam lamanya.
"Maafkan saya, jika kami tau dari awal kami bisa menunggu sampai besok. Tuan Bai, silahkan selesaikan urusan Anda terlebih dahulu, jangan pedulikan kami!"
Tuan Bai merasa tidak percaya, dia buru-buru juga bukan karena kedukaan. Karena pengalaman sebelumnya, setiap pengungsi yang lewat dan ingin melapor memintanya segera datang untuk memeriksa Data, mereka tidak ingin menunggu. Seakan tidak ingin tau, apakah dirinya sedang sibuk atau tidak.
"Tidak masalah, saya akan memeriksanya sekarang." Tuan Bai berusaha tetap profesional, dan meminta Pria bersamanya untuk membantu, yang ternyata Pria itu adalah Anaknya.
Baru saja ingin membuka berkas, seseorang anak berumur sekitar 10 tahun datang dengan berlari dari dalam Desa.
"Kakek.. Kakek..! Hah hah hah." Anak kecil itu memanggil Tuan Bai sambil ngos-ngosan karena habis berlari.
Melihat cucunya datang, Tuan Bai segera berkata. "Kamu, kenapa datang kemari? Cepat pulang, Kakek masih sedang bekerja, jangan ganggu!" tegurnya.
"Kakek, aku disuruh untuk memanggilmu. Katanya, Ibu Yuyu tidak bisa bertahan lagi!" jelasnya dengan sekali tarikan nafas.
Tuan Bai tak menyangka akan secepat ini. "Baik, kamu pergi dulu. Kakek Akan menyusul!"
Setelah melihat Cucunya pergi jauh, Dengan rasa menyesal Tuan Bai berkata. "Maaf, saya harus pergi. Apakah kalian bisa menunggu?"
"Apa ada masalah?" Tabib Gu yang baru datang mendekat langsung bertanya, karena pemeriksaan Data belum kelar juga, para warga di luar gerbang sudah gelisah.
"Kami sedang menunggu kematian seseorang!" Tuan Bai mengulang ucapannya.
Aruna sebenarnya sudah sangat penasaran dengan kalimat 'menunggu kematian'. Apakah ada orang yang lagi sekarat, dan orang-orang sedang menunggu ajalnya?
Tabib Gu menghela nafas, karena dia langsung tau arti kalimat tersebut..Tapi kalimat itu memiliki banyak arti, Menunggu kematian, berarti ada seseorang yang sedang sakit atau terluka dan tidak bisa diselamatkan lagi.
"Apakah orangnya terluka?" Tabib Gu bertanya, dia juga sudah banyak menangani pasien yang tidak bisa diselamatkan, dengan terpaksa harus menunggu kematian.
Tuan Bai, sebenarnya tidak ingin bercerita banyak. Tapi sudah terlanjur, dengan bercerita dia berharap, agar warga Suning mau mengerti situasi. "Seorang Ibu hamil, sudah waktunya untuk melahirkan, tapi sayang sekali posis bayinya tidak baik. Kami sudah memanggil dua Tabib di kota, keduanya angkat tangan, bayi tidak bisa berputar lagi"
Jantung Aruna berdebar kencang setelah mengetahui arti dari 'Menunggu kematian'. Posisi bayi sungsang, tidak bisa keluar, memang hanya menunggu kematian saja. Tapi itu di zaman ini, berbeda dengan Aruna yang datang dari masa depan yang sudah maju.
"Kakek Ji!"
"Nak ada apa?" Tanyanya.
"Aku bisa mengeluarkan bayinya. Tapi selamat atau tidak itu tergantung takdir. Jika kondisi Ibu dan bayi masih baik-baik saja, kemungkinan besar akan selamat."
"Nak kamu ---!" Kakek Ji dan Tabib Gu berseru bersama. Mereka hampir melupakan kehadiran Aruna.
Tuan Bai juga terkejut, kemudian bertanya "Nak Apa maksudmu?"
"Aku bisa mengeluarkan bayinya. Tuan Bai, saya seorang Tabib, saya sudah banyak membantu melahirkan dengan posisi bayi yang tidak normal!" ucap Aruna dengan serius.
Semua yang mendengarnya terbelalak, Tabib Gu dan Kakek Ji memang sudah tau Aruna dari dunia yang maju, tapi tidak menyangka sampai secanggih itu, bahkan bisa mengeluarkan bayi dengan posisi tidak normal.
Berbeda dengan Tuan Bai, buka terkejut lagi, tapi syok berat mengetahui Aruna yang seorang Tabib yang di usinya masih sangat muda, apakah bisa dipercaya?
"Tuan Bai, saya tidak berbohong. Dan sekarang tidak ada waktu untuk menjelaskan. Jika diizinkan, maka aku akan membantu, tapi kalau tidak mau, juga tidak masalah!"
Melihat sorot mata Aruna yang serius, Tuan Bai mulai goyah. "Bagaimana kalau kalian ikut saya ke rumah duka, saya akan berbicara dengan pihak keluarga."
Aruna langsung setuju, tidak dengan Kakek Ji dengan Tabib Gu.. Keduanya khawatir, jika Aruna tidak berhasil, maka penduduk Desa Jujing akan menyalahkan Aruna.
"Nak, bagaimana jika terjadi sesuatu? Kami tidak ingin kamu dapat masalah!" Ujara Tabib Gu.
Aruna yang mendapat perhatian seperti itu malah makin membuatnya bersemangat untuk membuktikan ucapannya barusan.
"Kakek, jangan khawatir! Tidak akan ada masalah" ucap Aruna. "Kita harus pergi sekarang, tidak banyak waktu lagi" Lanjutnya dengan penuh tekad.
Melihat Aruna yang seperti tidak ingin dibantah kedua Kakek tersebut hanya bisa pasrah dan berharap agar Aruna berhasil mengeluarkan bayinya.
Sebelum pergi, Kakek Ji meminta Ozian dan para tetua lainnya untuk menjaga para warga agak tidak berkeliaran. Kakek Ji tidak menjelaskan apa yang terjadi, dia hanya berkata ada orang yang sakit, Tabib Gu dan Aruna diminta tolong untuk datang melihat.
Hanya perlu sekitar 10 menit untuk sampai di rumah yang dituju. Aruna melihat, sudah banyak orang berkumpul di halaman rumah, bahkan mereka sudah memasang tenda, untuk upacara kematian.
Tuan Bai meminta ketiganya masuk, di dalam rumah hanya ada pihak keluarga. Wajah mereka dipenuhi rasa sedih, takut, dan kecewa karena mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Melihat Kepala Desa sudah datang dan membawa orang yang tidak dikenal, seseorang segera bertanya. "Kepala Desa siapa mereka?" suaranya terdengar serak.
Tuan Bai yang sudah melihat tamunya sudah duduk, dia baru menjelaskan seperti yang Aruna katakan sebelumnya.
Hening....
Semua perkataan Kepala Desa sangat sulit untuk dipercaya, terlebih lagi Aruna yang sangat muda, cantik, elegan, seperti nona muda kaya yang dimanjakan.
Aruna yang mengetahui isi kepala mereka segera berkata.. "Aku tidak memaksa, semua keputusan ada di tangan kalian!" suaranya penuh ketegasan.
Semua terkejut mendengar suara Aruna, yang ternyata tidak sesuai dengan nona muda yang dimanjakan. Tapi, seseorang yang penuh percaya diri, tegas, dan sedikit misterius. Isi kepala mereka seketika berubah.
"Nona, wanita itu adalah Istriku, jika kamu memang bisa mengeluarkan bayinya, bagaimana caranya?" Pria itu terlihat lebih mudah dari Ozian.
Sudut mulut Aruna terangkat, sudah dia duga pasti akan ada yang pertanyaan seperti itu. "Dengan cara operasi, atau dibedah!"
Kalimat itu terdengar sangat asing, "Dibedah, kami baru mendengar ada cara seperti itu!" Pria itu bernama Li Dali.
Semua orang mengangguk membenarkan, tapi tidak dengan Tabib Gu dengan Kakek Ji. Keduanya hanya berdoa dalam hati, agar Aruna berhasil apapun caranya.
"Di bedah, Bagian perut bawah akan dirobek, dan bayi bisa keluar dari situ!"
"TIDAK.. Itu sama saja dengan membunuh!" Li Dali sangat marah, bagaimana bisa ada seseorang yang ingin membunuh Istrinya secara terang-terangan.
Mereka terkejut mendengar suara Li Dali yang sangat keras. Sampai orang-orang di luar ikut mengintip karena penasaran.
"Bagaimana jika Istriku tidak selamat?" Tanya Li Dali yang sudah sangat prustasi. Dia sangat mencintai Istrinya, apapun dia lakukan untuk menyelamatkan Istrinya, tapi tidak dengan merobek perut Istrinya. Tanpa perut bagaimana orang bisa hidup?
Alis Aruna terangkat sebelah. "Bahkan saat ini kamu sudah menunggu kematiannya" Dia tidak ingin membujuknya.
Jleb
Ucapan Aruna menghantam hatinya, dia hampir lupa akan kenyataan jika saat ini mereka hanya menunggu waktu saja. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, kecuali mencoba.
Li Dali menatap Aruna yang terlihat santai, Dia beralih menatap Ayah, saudara dan para iparnya untuk meminta pendapat, sekarang dia dilanda kebingungan.
"Nak, cara ini memang baru pertama kali kita dengar, tapi tidak di luar sana. Jika kita takut untuk mencoba, maka kita juga tidak tau bagaimana hasilnya. Setidaknya kita sudah berusaha, daripada hanya duduk mendengar Istrimu kesakitan!" Ucap Ayah Dali, meski ragu tapi tidak ada cara lain.
Aruna menatap Ayah Dali penuh pujian. "Sangat bijak" gumamnya.
Aaaarrrrggggh....
Tepat saat itu, suara teriakan terdengar dari dalam kamar. Di mana Istri Dali berada yang ditemani oleh Ibu mertuanya.
lanjut thorr💪💪💪