Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: SANGKAR EMAS DIRGANTARA
Lantai marmer yang dingin di bawah telapak kakinya terasa seperti es yang menusuk, namun panas di wajah Alana belum juga mereda. Ia berdiri mematung di tengah ruangan luas itu, menatap cincin berlian yang kini melingkar di jari manisnya. Benda itu berkilau indah terkena pantulan cahaya lampu kristal, namun bagi Alana, beratnya melebihi borgol baja mana pun yang pernah ia pasangkan pada pergelangan tangan penjahat. Cincin itu bukan perhiasan; itu adalah tanda kepemilikan.
Arkano masih berdiri di tempatnya, memandangi Alana dengan tatapan seorang pemenang yang baru saja menaklukkan wilayah baru. Ia menyimpan kembali pemantik api emasnya ke dalam saku jas dengan gerakan yang sangat tenang, lalu merapikan kerah kemeja hitamnya yang sedikit berantakan akibat pergulatan singkat mereka tadi. Tidak ada raut bersalah di wajahnya, yang ada hanyalah kepuasan yang dingin.
"Kenapa diam saja? Apa kau sedang mengagumi betapa pasnya cincin itu di tanganmu?" Suara Arkano memecah kesunyian yang mencekam. Nadanya terdengar begitu santai, seolah-olah mereka tidak baru saja melakukan transaksi yang melibatkan nyawa dan kebebasan.
Alana mendongak. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan, namun ada getaran ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Kita hanya terikat perjanjian gila karena aku nggak punya pilihan, bukan karena hal lain. Jangan pernah berpikir kau bisa mengaturku sepenuhnya."
Arkano tertawa pendek, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. Langkah kakinya yang berat kembali mendekat, menciptakan suara gema di ruangan sunyi itu. Alana refleks mundur, selangkah demi selangkah, hingga punggungnya menabrak tepian meja kerja kayu jati yang keras. Ia terpojok.
"Perjanjian atau bukan, di mata dunia dan di mata hukum yang akan kita urus besok kau adalah milikku. Alana Dirgantara. Nama itu terdengar jauh lebih manis daripada Agen Alana yang dibuang, bukan?"
Arkano menumpukan kedua tangannya di meja, mengurung tubuh Alana di antara lengannya.
"Jangan sebut nama itu!" geram Alana. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. "Kamu bilang atasanku mengkhianatiku. Mana buktinya? Aku nggak akan percaya begitu saja pada ucapan seorang kriminal sepertimu. Bisa saja ini semua hanya taktik mu untuk menghancurkan mental pribadiku, kan?"
Arkano tidak langsung menjawab. Ia justru memberikan senyuman tipis yang terlihat meremehkan. Pria itu berjalan menuju kursinya, menekan sebuah tombol tersembunyi di bawah laci meja, dan sebuah layar monitor besar muncul perlahan dari balik dinding kayu di belakangnya. Arkano memutar sebuah rekaman suara yang durasinya tidak sampai satu menit, namun cukup untuk menghentikan napas Alana.
"...Agen Alana adalah aset yang bisa dikorbankan, Tuan Arkano. Jika dia tertangkap saat menyusup ke tempatmu, silakan selesaikan dengan caramu sendiri. Pihak kepolisian tidak akan melakukan penuntutan apa pun, selama dana hibah untuk yayasan kami tetap mengalir tepat waktu dan tanpa potongan."
Suara itu. Alana mengenalnya dengan sangat baik. Itu adalah suara Komisaris Hendra, pria yang selama ini ia anggap sebagai mentor, pelindung, bahkan figur ayah sejak ia bergabung di divisi intelijen. Dunia Alana seakan runtuh untuk kedua kalinya dalam semalam. Dadanya terasa sesak, seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Air mata hampir jatuh, namun ia menggigit bibir dalamnya dengan keras hingga terasa anyir darah. Ia tidak boleh terlihat lemah, tidak di depan monster yang sedang menonton kehancurannya ini.
"Sekarang apa kau sudah percaya?" Arkano mematikan layar, menatap Alana dengan raut yang sulit diartikan. "Dunia yang kau bela dengan taruhan nyawa itu ternyata jauh lebih busuk daripada duniaku, Alana. Di duniaku, kami membunuh musuh tepat di depan wajah mereka. Tapi di duniamu? Mereka menjual mu dari belakang sambil tetap tersenyum di depan kamera."
Alana terdiam seribu bahasa. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik mana pun yang pernah ia terima selama latihan militer. Ia merasa tidak memiliki tempat untuk pulang. Jika ia kembali ke markas sekarang, ia bukan lagi seorang pahlawan, melainkan sebuah kesalahan yang harus dilenyapkan secara diam-diam untuk menjaga nama baik institusi.
"Ikut aku," perintah Arkano tiba-tiba. Ia mencengkeram lengan Alana. Pegangannya tidak kasar, namun sangat kuat dan tidak memberikan ruang untuk membantah. Ia menarik Alana keluar dari ruang kerja yang gelap itu.
Alana terpaksa mengikuti langkah lebar Arkano. Mereka melewati lorong-lorong mansion yang sangat luas dan sunyi, hanya diterangi oleh lampu dinding temaram yang memberikan kesan gotik. Di setiap sudut dan persimpangan lorong, terdapat pria-pria bertubuh tegap mengenakan jas hitam dengan alat komunikasi yang terpasang di telinga. Mereka semua menunduk hormat dengan sangat patuh saat Arkano melintas.
"Tuan," sapa mereka serentak, suaranya menggema di sepanjang lorong.
Arkano tidak menyahut sedikit pun. Ia terus menarik Alana menuju sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu mahoni dengan ukiran yang sangat detail. Saat pintu itu terbuka, Alana tertegun sejenak. Itu adalah sebuah kamar utama yang ukurannya sangat luar biasa. Mungkin lebih luas dari seluruh apartemen yang pernah Alana tinggali. Sebuah ranjang ukuran king size dengan sprei sutra berwarna hitam mendominasi tengah ruangan. Ada balkon besar di ujung sana yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota Jakarta yang masih menyala.
"Mulai malam ini, ini adalah kamarmu. Kamar kita," ucap Arkano sambil melepaskan cengkeramannya dari lengan Alana.
Alana segera bergerak menjauh dari ranjang itu sejauh mungkin, seolah kasur itu adalah jebakan yang mematikan. "Aku nggak akan mau tidur di kamar ini. Berikan aku kamar tamu, atau aku akan tidur di sofa. Aku nggak sudi berbagi tempat denganmu!"
Arkano tidak memedulikan protes Alana. Ia mulai melepaskan jasnya, melemparkannya begitu saja ke atas kursi beludru di sudut ruangan. Ia kemudian mulai membuka kancing manset kemejanya satu per satu dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh intimidasi.
"Kau lupa aturan mainnya, Alana? Kita harus terlihat sebagai pasangan yang saling mencintai. Pelayan di rumah ini punya mata dan telinga, dan beberapa dari mereka mungkin adalah mata-mata dari pihak luar.
Jika mereka curiga karena kita tidur terpisah, rumor akan menyebar dengan cepat, dan posisimu sebagai 'istriku' akan terancam."
"Aku nggak peduli pada rumor! Aku bisa menjaga diriku sendiri!" seru Alana.
"Kau harus peduli, Alana!" Arkano melangkah maju dengan cepat, memojokkan Alana ke arah jendela kaca besar. "Di luar pagar rumah ini, ada puluhan polisi korup yang menginginkan kepalamu karena kau tahu terlalu banyak rahasia mereka. Di dalam rumah ini, kau aman selama kau tetap berada dalam pengawasanku. Mengerti?"
Arkano mengulurkan tangannya, membelai rambut panjang Alana yang sedikit berantakan. Alana ingin sekali menepis tangan itu, namun tubuhnya seakan terkunci di bawah tatapan tajam Arkano yang seolah bisa menembus pikirannya.
"Bersihkan dirimu sekarang. Ada pakaian yang sudah disiapkan di ruang ganti. Aku tidak suka mencium aroma keringat kepolisian atau debu jalanan di atas ranjangku," bisik Arkano dengan nada memerintah yang mutlak.
Alana hanya bisa menggertakkan gigi karena kesal. Dengan langkah yang dihentak-hentakkan, ia berjalan menuju pintu ruang ganti yang ditunjuk Arkano. Di dalam sana, ia kembali dibuat terpana. Ruangan itu penuh dengan deretan pakaian mewah dari perancang terkenal. Gaun-gaun sutra, pakaian dalam berbahan renda halus, tas kulit mahal, dan perhiasan yang ditata dalam lemari kaca. Semuanya tampak baru dan ukurannya pun terlihat sangat pas untuknya.
Dia sudah menyiapkan semua ini? Sejak kapan dia merencanakan penangkapanku? batin Alana ngeri. Pikiran bahwa Arkano telah mengawasinya jauh sebelum misi ini dimulai membuatnya merasa sangat tidak aman.
Ia memilih sebuah gaun tidur satin berwarna merah marun yang menurutnya paling sopan yang bisa ditemukan—meskipun bahan satin itu tetap saja mengikuti bentuk tubuhnya dan memperlihatkan bahunya. Setelah mandi dengan air hangat yang ternyata tidak mampu melunakkan ketegangan di otot-ototnya, Alana keluar dari kamar mandi dengan langkah ragu.
Arkano sudah ada di atas ranjang, bersandar pada tumpukan bantal sambil membaca sebuah berkas melalui tablet di tangannya. Ia tidak lagi mengenakan kemeja, hanya celana kain hitam. Di bawah cahaya lampu tidur yang kekuningan, tubuh bagian atasnya yang atletis terlihat jelas. Alana bisa melihat beberapa bekas luka tembak dan sayatan panjang di bahu serta perutnya—bukti nyata betapa keras dan berdarahnya dunia yang dijalani pria itu.
Arkano mendongak. Matanya menyapu tubuh Alana yang terbalut kain satin tipis. Ada kilat ketertarikan yang muncul sesaat di matanya sebelum ia kembali memasang wajah datarnya yang dingin.
"Kemari," ucap Arkano singkat, sambil menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelahnya.
Alana berdiri mematung di dekat pintu. "Aku bilang aku akan tidur di sofa."
"Jangan membuatku mengulangi perintahku untuk ketiga kalinya, Alana. Aku sedang lelah dan tidak punya kesabaran untuk berdebat soal tempat tidur malam ini. Jangan memancing kemarahanku."
Dengan langkah yang sangat berat, Alana mendekat dan duduk di tepi ranjang, mengambil posisi paling ujung agar tidak bersentuhan dengan Arkano. Ia membelakangi pria itu, memeluk dirinya sendiri sambil menatap kegelapan di luar jendela.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya dengan kuat. Sebelum ia sempat beraksi, Arkano sudah menarik tubuhnya hingga punggung Alana bersandar pada dada bidang pria itu. Alana tersentak dan mencoba memberontak dengan menyikut perut Arkano, namun pria itu justru mempererat pelukannya, mengunci gerakan Alana sepenuhnya.
"Lepaskan aku, Arkano! Kamu bilang ini hanya perjanjian!"
"Diamlah, Kucing Kecil," bisik Arkano tepat di tengkuk Alana, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Aku hanya ingin tidur. Tapi jika kau terus bergerak dan berteriak, aku tidak menjamin bisa menahan diriku untuk tidak melakukan hal lain yang jauh lebih intim padamu."
Ancaman itu bekerja dengan sangat efektif. Alana mendadak membeku. Napasnya tertahan di kerongkongan. Ia bisa merasakan detak jantung Arkano yang stabil dan kuat berdenyut di punggungnya. Ironis sekali, pria yang seharusnya ia borgol dan seret ke penjara kini justru menjadi satu-satunya orang yang memeluknya erat di tengah pengkhianatan dunianya sendiri.
"Tidur, Alana. Besok pagi, dunia akan mengenalmu sebagai Nyonya Dirgantara. Persiapkan mentalmu, karena permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan di permainanku, tidak ada kata kalah," gumam Arkano sebelum mematikan lampu kamar melalui remote di samping ranjang.
Dalam kegelapan yang pekat, Alana menatap kosong ke arah jendela. Air mata yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh juga, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya. Ia telah jatuh ke dalam sangkar emas milik sang predator, dan ia sama sekali tidak tahu apakah ia akan pernah bisa keluar dari sana dalam keadaan hidup, atau ia akan selamanya menjadi bagian dari kegelapan Arkano Dirgantara.