Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Namira benar-benar tidak peduli lagi dengan citra "Ibu Nyai" yang anggun. Di dalam mobil mewah itu, ia membuka tutup cup plastiknya dan aroma kencur yang menyengat langsung memenuhi ruangan.
"Beuhhh... mantap banget ini! Mas Ayyan emang pinter pilihnya, bumbunya berasa banget!" seru Namira sambil mengunyah kerupuk yang sudah lembek dengan nikmat.
Saking girangnya, Namira teringat pada Kang Ali yang sedari tadi fokus menyetir sambil sesekali melirik spion dengan wajah menahan tawa.
"Kang Ali! Mau nggak? Nih, cekernya satu, gede banget lho! Mumpung Mas Ayyan lagi baik hati nih," tawar Namira sambil menyodorkan plastik seblaknya ke arah depan.
Kang Ali langsung gelagapan, wajahnya memerah karena kaget sekaligus sungkan. "Eh... mboten (tidak), Ning. Matur nuwun sanget. Saya lagi nyetir, nanti kalau tumpah Gus Ayyan bisa marah," jawab Kang Ali sambil tertawa kecil.
Ayyan yang duduk di samping Namira hanya bisa mengurut pangkal hidungnya. "Namira, Ali itu sedang kerja. Jangan diganggu dengan ceker ayam."
Namira mengerucutkan bibirnya. "Pelit banget sih, Mas. Kan berbagi itu indah." Ia kembali asyik menyuap. "Tapi beneran deh Kang Ali, kalau mau bilang aja ya, jangan sungkan. Kita kan sekarang keluarga!"
Kang Ali hanya manggut-manggut sambil membatin, Baru kali ini ada istri Gus yang nawarin ceker seblak di mobil jemputan.
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak," tegur Ayyan sambil menyodorkan sebotol air mineral yang sudah ia bukakan tutupnya. "Dan tolong, setelah selesai, mulutnya dilap yang bersih. Kita lima menit lagi sampai di gerbang utama pesantren. Saya tidak mau para santri mencium bau kencur saat kamu turun dari mobil."
Namira langsung berhenti mengunyah sebentar. "Eh? Emang bau banget ya, Mas?" Ia mencoba meniupkan napas ke arah telapak tangannya lalu menciumnya sendiri. "Haduuuhhh! Iya lagi! Mas, gimana dong? Ada permen nggak? Nanti kalau mereka salim sama aku, terus aku malah bau seblak, nanti dikiranya aku Ibu Nyai spesialis bumbu dapur!"
Ayyan hanya menggelengkan kepala melihat kepanikan istrinya. Ia merogoh saku baju kokonya dan mengeluarkan satu butir permen mint.
"Makan ini. Dan pakai tisu basah ini untuk bersihkan sisa kuah di bibirmu," ucap Ayyan tenang.
Namira segera melakukan instruksi suaminya dengan kilat. "Sip! Beres! Masker mana masker? Oh nggak usah ding, kan harus senyum."
Tepat saat Namira selesai merapikan penampilannya, mobil mulai melambat. Di depan sana, gerbang besar bertuliskan Pondok Pesantren Al-Hidayah sudah terlihat. Ribuan santri putra dan putri sudah berdiri berbaris rapi di sisi kiri dan kanan jalan, lengkap dengan tim rebana yang mulai memukul alat musik mereka.
Dung... Tak... Dung... Dung... Tak...
"Mas... itu... itu semua buat kita?" tanya Namira takjub, nyalinya mendadak ciut melihat ribuan orang yang menunggu.
"Bukan buat kita, tapi untuk menyambut kehadiranmu sebagai bagian dari keluarga besar ini. Siap, Ning Namira?" tanya Ayyan sambil menatap istrinya dengan sorot mata yang memberi penguatan.
Namira menarik napas dalam-dalam. "Siap! Bismillah, mode kalem diaktifkan!"
Mobil berhenti tepat di depan barisan para santri. Kang Ali dengan sigap membukakan pintu mobil. Namira sudah memasang wajah paling anggun yang pernah ia latih di depan cermin—senyum tipis, dagu sedikit diangkat, dan langkah yang dibuat selembut mungkin.
"Bismillah, jangan sampai bau seblak..." bisiknya pada diri sendiri.
Namira mulai melangkahkan kaki kanannya keluar. Baru satu langkah, niatnya ingin tampil seperti permaisuri langsung buyar. Ujung daster panjangnya rupanya tersangkut di bagian pintu mobil bawah.
"Eh—eh!"
Gubrak!
Namira tersandung dan hampir saja mencium aspal kalau saja Ayyan tidak dengan sigap menangkap lengan atasnya. Tubuh Namira limbung ke depan dengan posisi yang sangat tidak estetik, membuat kerudung pink-nya sedikit miring.
Suasana yang tadinya khidmat dengan suara rebana mendadak berubah. Suara tawa kecil tertahan terdengar dari barisan santriwati. "Lucu banget Ning-nya," bisik salah satu santri.
Namun, di tengah keriuhan itu, ada seorang santriwati di baris depan yang matanya melotot hampir copot. Ia menunjuk-nunjuk ke arah Namira dengan tangan gemetar.
"Lho?! Itu... itu kan Namira?! Namira anak Blok C?!" seru santriwati itu tanpa sadar dengan suara kencang.
Namira yang sedang sibuk membetulkan posisi berdirinya sambil memegang lengan Ayyan langsung menoleh. Matanya menyipit, mencari sumber suara.
"Nia?! Nia tetangga gue?!"
Nia, teman masa kecil Namira yang sudah mondok di sini sejak SMP, langsung menutup mulutnya. "Ya ampun! Namira nikah sama Gus Ayyan?! Ustadz Ayyan yang paling galak se-provinsi?!"
Sontak, bisik-bisik di antara santriwati makin pecah. Mereka semua tidak menyangka kalau "Ibu Nyai" baru mereka adalah teman dari salah satu santri di sana.
Ayyan berdehem sangat keras.
Suaranya yang berat seketika membuat seluruh area pesantren menjadi hening kembali. Ia melirik Namira yang wajahnya sudah kembali merah padam (kali ini karena malu kuadrat), lalu melirik Nia dengan tatapan tajamnya yang khas.
"Jaga adab kalian," ucap Ayyan singkat namun penuh penekanan.
Namira yang merasa suasana jadi kaku, justru malah cengengesan sambil melambai ke arah Nia. "Hehehe, iya Nia! Ini gue! Nanti kita ngerumpi ya, gue bawa info banyak dari komplek!"
Ayyan langsung menarik lembut ujung hijab Namira agar istrinya itu berhenti melambai. "Namira, masuk ke dalam ndalem sekarang. Jangan bikin konser di sini."
Namira pun mengekor di belakang Ayyan dengan langkah malu-malu kucing, sementara para santriwati masih heboh berbisik, tidak menyangka kalau Gus mereka yang sedingin es kutub utara itu mendapatkan istri yang serandom Namira.