Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Online
Pagi itu, sinar matahari yang menembus celah gorden kamar kos Rara tidak membawa kehangatan yang biasanya. Sebaliknya, cahaya itu nampak seperti sorot lampu interogasi. Rara terbangun bukan karena alarm, melainkan karena getaran ponselnya yang tak kunjung berhenti di atas nakas. Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia meraih benda pipih itu, berharap ada pesan manis dari Genta setelah kejadian di UKS kemarin.
Namun, yang ia temukan adalah mimpi buruk digital.
Grup WhatsApp angkatannya meledak. Ratusan pesan baru menumpuk, dan hampir semuanya membicarakan satu hal: sebuah unggahan terbaru di akun anonim Lambe Kampus dan forum diskusi mahasiswa Confess Nusantara.
"Gila, ini keterlaluan..." bisik Rara, suaranya gemetar saat ia mulai membaca komentar-komentar yang muncul.
Foto-foto dirinya yang sedang menyuapi Genta di kantin, foto dirinya yang keluar dari gudang logistik, hingga foto buram saat ia membimbing Genta yang terkilir menuju UKS kemarin, semuanya disusun menjadi sebuah kolase "pencitraan". Namun, bukan itu yang menyakitkan. Yang membuat jantung Rara serasa diremas adalah narasi yang dibangun di bawahnya.
“Maba komunikasi ini beneran pakai pelet ya? Liat deh mukanya, standar banget tapi bisa bikin Genta nempel terus.”
“Dukunnya kuat nih kayaknya. Masak Presma kita yang perfeksionis mau disuapin kayak anak kecil di tempat umum? Pasti diguna-guna.”
“Fix sih ini mah siswi gatel. Kerjanya cuma pansos lewat jalur Presma. Denger-dengar dia sengaja ngerusak mic pas acara biar bisa berduaan sama Genta di gudang.”
Rara menutup aplikasi itu dengan tangan gemetar, namun jemarinya seolah memiliki keinginan sendiri untuk membuka bagian komentar. Di sana, kebencian nampak lebih pekat. Mereka menghina bentuk matanya, gaya berpakaiannya yang sederhana, hingga menuduhnya sengaja mencari perhatian dengan istilah-istilah game "aneh" saat pertandingan basket kemarin. Bagi mereka, Rara adalah noda di atas kesempurnaan Genta.
***
Rara mencoba untuk tetap tegar. Ia berangkat ke kampus, memakai masker dan topi yang ditarik rendah, berharap tidak ada yang mengenalinya. Namun, kampus yang luas itu mendadak terasa sangat sempit. Setiap kali ia melewati sekumpulan mahasiswa, ia merasa tawa mereka adalah tawa yang menghinanya. Setiap kali ada yang berbisik sambil menatap ponsel, ia yakin dialah yang sedang dibicarakan.
Ia tidak sanggup masuk ke kelas. Langkah kakinya membawanya menuju perpustakaan pusat, lantai paling atas, di barisan rak buku filsafat yang jarang dikunjungi orang. Di sana, di antara aroma kertas tua dan debu yang menari di udara, Rara menyandarkan kepalanya di atas meja kayu yang dingin.
Setetes air mata akhirnya jatuh, membasahi permukaan meja.
Rara biasanya adalah gadis yang tangguh. Sebagai calon jurnalis, ia sudah siap menghadapi kritik. Tapi ini bukan kritik, ini adalah pembunuhan karakter yang sistematis. Ia merasa kotor, merasa malu, dan yang paling parah, ia mulai meragukan dirinya sendiri. Apa benar aku cuma parasit buat Genta? Apa benar aku cuma bikin citranya rusak?
Ia mematikan ponselnya. Ia ingin menghilang. Di dalam kesunyian perpustakaan itu, ia merasa seperti karakter game yang terkena kutukan debuff permanen yang lemah, lambat, dan kehilangan harapan.
***
Di saat yang sama, di ruang pribadinya yang mewah, Genta Erlangga sedang menatap layar monitor gandanya dengan ekspresi yang jauh lebih menakutkan daripada saat ia memimpin rapat pleno. Kacamata anti-radiasinya memantulkan deretan komentar jahat yang sedang ia baca di forum kampus.
Genta tidak gemetar karena cemas kali ini. Ia gemetar karena amarah yang meluap.
Baginya, melihat Rara diserang karena dirinya adalah penghinaan terbesar. Gadis yang sudah menyelamatkan mentalnya, yang sudah memberinya kehangatan di tengah hujan, kini sedang dikuliti oleh orang-orang yang bahkan tidak berani menggunakan nama asli mereka.
Genta merenggangkan jemarinya, lalu mulai mengetik. Ia tidak menggunakan akun resminya sebagai Presiden Mahasiswa, itu akan membuat keadaan semakin kacau. Ia menggunakan salah satu akun anonim lamanya yang memiliki reputasi sebagai moderator di forum tersebut.
Pangeran Es yang biasanya pendiam dan hanya bicara seperlunya, kini berubah menjadi seorang pejuang kata-kata yang mematikan.
“Logikanya di mana?” ketik Genta membalas salah satu komentar yang menuduh Rara menggunakan pelet. “Kalian bilang Genta itu cerdas dan perfeksionis, tapi kalian anggap dia sebodoh itu sampai bisa dipengaruhi hal mistis? Bukankah itu berarti kalian sendiri yang meremehkan kecerdasan idola kalian?”
Ia pindah ke komentar lain yang menghina fisik Rara.
“Cantik itu subjektif, tapi kebodohan dalam berkomentar itu absolut,” tulisnya pedas. “Gadis di foto ini memiliki keberanian untuk membantu orang lain di saat kalian hanya bisa bersembunyi di balik layar ponsel untuk menghujat. Siapa sebenarnya yang lebih 'rendah' di sini?”
Genta membalas satu per satu. Ia menggunakan argumen hukum tentang pencemaran nama baik, ia mematahkan asumsi-asumsi liar dengan logika yang tajam, dan ia memberikan data teknis tentang bagaimana foto-foto itu diambil secara ilegal. Ia bergerak seperti singa yang sedang melindungi wilayahnya, menghancurkan setiap narasi jahat dengan akurasi yang kejam.
Setelah hampir dua jam "berperang", suasana di forum mulai berubah. Orang-orang yang tadinya ikut menghujat mulai merasa malu atau takut. Beberapa unggahan provokatif bahkan mulai dihapus oleh admin setelah Genta mengirimkan peringatan keras tentang pelanggaran UU ITE dari akun anonimnya.
Genta bersandar di kursinya, napasnya sedikit memburu. Ia mengambil ponselnya. Ia tahu Rara pasti sedang terluka saat ini. Ia tahu Rara kemungkinan besar sedang mengurung diri di suatu tempat.
Ia mengetik sebuah pesan, menghapus dan menulis ulang berkali-kali sampai ia merasa kata-kata tepat.
**Paladin_Z:**Ra, jangan baca forum atau medsos kampus hari ini. Ada banyak sampah di sana, dan kamu nggak pantas kotor gara-gara itu.
Paladin_Z: Aku sudah lihat semuanya. Mereka bicara jahat karena mereka nggak tahu apa-apa. Mereka nggak tahu betapa kerennya kamu di gudang, betapa hangatnya kamu di halte, dan betapa berartinya kamu buat aku.
**Paladin_Z:**Jangan dengarkan mereka yang bilang kamu nggak cantik. Bagi satu-satunya orang yang pendapatnya paling penting yaitu aku, kamu adalah hal terindah yang pernah muncul di kampus membosankan ini. Mereka cuma iri karena nggak punya Healer sehebat kamu.
Di sudut perpustakaan yang sepi, setelah hampir tiga jam terdiam dalam gelap, Rara akhirnya menyerah pada rasa sepinya. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menekan tombol daya. Ia merasa butuh setidaknya satu alasan untuk tidak menyerah pada hari ini.
Tak lama setelah layar menyala, ponsel Rara bergetar sekali lagi. Rara ragu untuk membukanya, namun saat melihat notifikasi dari aplikasi Fantasy World, ia segera membacanya.
Air mata yang tadinya panas karena rasa sedih, kini berubah menjadi hangat karena rasa haru. Rara membaca pesan itu berulang kali, terutama kalimat terakhirnya. Rasa sesak di dadanya perlahan terangkat. Ia merasa seperti baru saja mendapatkan Full Heal dan Protection Buff yang paling kuat di seluruh dunia.
Rara tersenyum kecil di balik tangisnya. Ia menyadari satu hal: biarlah seluruh kampus menjadi musuhnya, selama sang Paladin tetap berdiri tegak di sampingnya, ia akan selalu punya kekuatan untuk kembali berjuang.
Rara mengetik balasan singkat dengan jemari yang kini sudah lebih stabil.
Rara_The_Healer: Makasih, Genta. Tapi hati-hati ya, singa kalau lagi ngamuk di keyboard nanti tangannya bisa tremor lagi pas pegang pulpen besok.
Genta yang membaca balasan itu di kamarnya, tertawa kecil. Rasa tegang di pundaknya menghilang. Ia tahu Rara-nya sudah kembali, dan itu sudah lebih dari cukup baginya.