"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: PERON KEMATIAN
Udara di dalam mobil Bentley milik Adrian terasa mencekik, lebih menyesakkan daripada asap yang baru saja ditinggalkan Arunika di butik Le Saphir. Adrian duduk dengan tenang, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk sandaran tangan kulit dengan irama yang konstan, sementara Arunika gemetar di sudut kursi, memegang erat pergelangan tangannya yang masih perih.
Kunci Loker 402 kini berpindah ke tangan Adrian. Pria itu memainkannya, memutar-mutar logam kecil itu seolah itu adalah mainan tak berharga.
"Rendra adalah pemimpi yang buruk, Arunika," suara Adrian memecah kesunyian, rendah dan bergetar seperti guntur di kejauhan. "Dia mengira Stasiun Pusat adalah tempat yang cukup ramai untuk bersembunyi. Dia mengira massa bisa menjadi tamengnya."
"Tolong, Adrian... lepaskan dia. Ini bukan idenya, aku yang memohon padanya," isak Arunika. Suaranya pecah, efek obat dari daging tadi pagi membuat air matanya terasa lebih panas, emosinya meluap tak terkendali.
Adrian menoleh, menatap Arunika dengan tatapan yang hampir terlihat seperti rasa kasihan, namun jauh di dasar matanya, hanya ada kegelapan murni. "Kau berbohong lagi. Kau selalu mencoba melindunginya, padahal dia adalah orang yang akan membawamu ke liang lahat lebih cepat."
Mobil berhenti tepat di depan pintu keberangkatan Stasiun Pusat. Kawasan ini sangat ramai, ribuan orang berlalu-lalang dengan urusan masing-masing, tidak menyadari bahwa di dalam mobil mewah yang baru saja berhenti, seorang wanita sedang meregang nyawa karena ketakutan.
"Turun," perintah Adrian.
Dua pengawal bertubuh raksasa sudah menunggu di luar. Mereka mengapit Arunika, memastikan tidak ada celah bagi wanita itu untuk berteriak atau melarikan diri ke tengah kerumunan. Adrian berjalan di depan, langkahnya gagah dan penuh otoritas, orang-orang secara insting memberikan jalan saat melihat aura predator pria itu.
Mereka memasuki aula utama stasiun yang bergaya kolonial. Suara pengumuman keberangkatan kereta bergema di langit-langit tinggi, menciptakan suasana yang riuh. Namun bagi Arunika, semuanya terasa seperti gerakan lambat. Fokusnya hanya satu: deretan loker penyimpanan di ujung peron 4.
"Lihat ke sana," bisik Adrian sambil menunjuk ke arah loker-loker perak yang berjejer.
Di sana, berdiri seorang pria dengan jaket hoodie gelap, menunduk sambil terus menatap jam tangannya. Rendra. Dia terlihat gelisah, matanya terus menyapu sekeliling, mencari sosok wanita yang dia cintai.
"Jangan, Rendra... lari!" teriak Arunika dalam hati, namun suaranya tertahan di tenggorokan saat salah satu pengawal meremas lengannya dengan sangat kuat.
Adrian tidak langsung menyergap. Dia justru membawa Arunika ke sebuah kafe di lantai dua yang menghadap langsung ke arah loker tersebut. Dia memesan dua cangkir kopi hitam, seolah-olah mereka sedang menunggu jadwal kereta untuk liburan romantis.
"Kita akan menonton pertunjukannya dari sini, Sayang," kata Adrian sambil menyesap kopinya. "Aku ingin kau melihat bagaimana harapanmu hancur berkeping-keping. Itu adalah bagian dari pendidikanmu."
Di bawah sana, Rendra mulai bergerak mendekati Loker 402. Dia memasukkan kode, namun pintu loker tidak terbuka. Dia mencoba lagi, tampak panik. Dia tidak tahu bahwa kuncinya ada di saku jas Adrian.
Tiba-tiba, empat orang pria berpakaian preman mengepung Rendra. Itu bukan polisi. Itu adalah tim "pembersih" milik Adrian. Tanpa keributan yang mencolok, mereka merangkul Rendra seolah-olah mereka adalah teman lama, namun Arunika bisa melihat kilatan pisau kecil yang ditempelkan ke pinggang Rendra.
"Adrian, hentikan! Aku akan melakukan apa pun! Aku akan menjadi istri yang patuh, aku akan memakan apa pun yang kau mau, tolong jangan bunuh dia!" Arunika berlutut di bawah kaki Adrian, tidak peduli lagi dengan harga dirinya di tengah kafe yang ramai itu.
Adrian meletakkan cangkirnya, lalu menjambak rambut Arunika dengan kasar agar wanita itu menatap ke bawah, ke arah Rendra yang mulai diseret menuju pintu keluar darurat stasiun.
"Kepatuhan yang lahir dari ketakutan adalah kepatuhan yang paling murni, Arunika," bisik Adrian dingin. "Tapi Rendra adalah hama. Dan hama harus dibasmi agar taman mawar kita bisa tumbuh dengan indah."
Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah pintu keluar darurat. Asap putih memenuhi area tersebut. Kekacauan terjadi seketika. Orang-orang berteriak, berlarian menjauh dari sumber suara.
Dalam keremangan asap, Arunika melihat sosok lain. Seseorang dengan seragam petugas stasiun menarik Rendra keluar dari cengkeraman orang-orang Adrian. Sosok itu bergerak dengan sangat cepat dan terlatih.
Adrian berdiri, wajahnya yang tenang kini berubah menjadi murka. Matanya menyipit tajam. "Siapa itu?"
Arunika terpaku. Dia mengenali gerakan itu. Itu bukan orang biasa.
Sandra, yang sejak tadi diam di belakang Adrian, tiba-tiba melangkah maju sambil memegang tabletnya. "Tuan, ada gangguan di sistem CCTV stasiun. Seseorang meretasnya dari dalam. Dan tim pembersih melaporkan bahwa mereka diserang oleh pihak ketiga."
"Pihak ketiga?" desis Adrian.
Sandra melirik Arunika sekilas—tatapan yang sangat cepat, namun berisi pesan yang sama dengan kunci di butik tadi. Kesempatanmu.
"Sepertinya Elena memiliki teman yang lebih banyak daripada yang kau duga, Adrian," ucap Arunika dengan keberanian yang tiba-tiba muncul dari dasar keputusasaannya.
Adrian menoleh dan menampar Arunika hingga wanita itu jatuh tersungkur. "Tutup mulutmu! Kau pikir ada yang bisa menyelamatkanmu dariku?"
"Tuan, kita harus pergi sekarang. Polisi mulai berdatangan karena alarm ledakan tadi," ujar Sandra tenang.
Adrian menarik paksa Arunika, menyeretnya kembali menuju lift pribadi stasiun. Namun, saat mereka berada di dalam lift yang sempit, lampu mendadak mati. Lift berhenti di tengah-tengah lantai.
Dalam kegelapan total itu, Arunika merasakan sebuah tangan menariknya ke sudut lift.
"Jangan bersuara," sebuah suara wanita berbisik. Bukan suara Sandra. Suara ini lebih berat, lebih dewasa.
"Siapa di sana?!" teriak Adrian dalam kegelapan. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menyalakan senter, namun sebelum cahaya itu menyala, sebuah benturan keras terdengar.
Adrian mengerang kesakitan. Tampaknya seseorang baru saja menghantam wajahnya di tengah kegelapan.
"Arunika, ikut aku!"
Arunika ditarik keluar melalui lubang darurat di atap lift yang entah bagaimana sudah terbuka. Ia memanjat dengan susah payah, dibantu oleh sosok misterius itu. Begitu sampai di atas, ia melihat seorang wanita bertopeng hitam yang memegang senjata kejut listrik.
"Siapa kamu?" tanya Arunika terengah-engah.
"Panggil aku Maya. Aku adalah alasan kenapa Elena tidak benar-benar 'pergi jauh'," jawab wanita itu singkat. "Rendra sudah aman bersama timku. Sekarang giliranmu, sebelum iblis itu bangun."
Arunika melihat ke bawah, ke dalam lubang lift. Ia melihat Adrian mulai bangkit, wajahnya yang tampan kini berlumuran darah, dan matanya berkilat dengan kemarahan yang bisa menghancurkan seluruh kota.
"ARUNIKA! KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA LARI!" teriakan Adrian menggema di lorong lift, terdengar seperti suara monster dari dalam neraka.
Arunika berbalik dan berlari mengikuti Maya menembus lorong-lorong rahasia di atas langit-langit stasiun. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama ia merasakan udara kebebasan, meski ia tahu, lari dari Adrian Valerius berarti ia harus siap hidup dalam bayang-bayang selamanya.
Namun, saat mereka mencapai pintu keluar di atap stasiun, Maya berhenti mendadak. Di depan mereka, sudah berdiri puluhan pengawal bersenjata lengkap, dan di tengah-tengah mereka, Sandra berdiri dengan tenang sambil memegang pistol.
Sandra mengarahkan senjatanya, bukan ke arah Maya atau pengawal, melainkan tepat ke arah dada Arunika.
"Permainan berakhir di sini, Nyonya," ucap Sandra dingin.
Arunika terdiam. Sandra yang ia kira sebagai sekutu, kini justru menjadi penghalang terakhirnya. Apakah semua bantuan Sandra selama ini hanya bagian dari rencana Adrian untuk melihat seberapa jauh Arunika bisa melangkah sebelum ia benar-benar hancur?
"Sandra, tolong..." bisik Arunika.
"Aku sudah bilang, Arunika," Sandra melangkah maju, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. "Di rumah Valerius, tidak ada pintu belakang. Dan di luar rumah Valerius... hanya ada kematian."
Tiba-tiba, Sandra memutar pistolnya dan menembak ke arah tangki gas di belakang para pengawal.
BOOM!
Ledakan besar kembali terjadi, menciptakan dinding api yang memisahkan mereka dari para pengawal. Sandra menarik Arunika dan Maya menuju helikopter yang baru saja mendarat di atap gedung sebelah.
"Pergi sekarang! Bawa dia sejauh mungkin!" teriak Sandra kepada Maya.
"Kau tidak ikut?" tanya Arunika bingung.
Sandra tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus untuk pertama kalinya. "Seseorang harus tetap tinggal untuk menjadi 'anjing' Adrian agar dia tidak segera mengejarmu. Larilah, Arunika. Hiduplah untuk Elena."
Arunika melompat ke dalam helikopter saat peluru mulai berhamburan dari arah para pengawal yang berhasil menembus api. Saat helikopter terangkat ke udara, ia melihat sosok Adrian yang baru saja muncul di atap, berdiri di tengah kobaran api, menatap ke arah helikopter dengan tatapan yang akan menghantui mimpi Arunika seumur hidup.
Di dalam helikopter yang menjauh dari Stasiun Pusat, Maya menyerahkan sebuah map tua kepada Arunika. Map itu berisi dokumen-dokumen medis dan foto-foto yang diambil di Gudang Sektor 7 bertahun-tahun yang lalu.
Arunika membuka lembar pertama dan jantungnya seolah berhenti. Di sana ada foto Elena, namun di bawahnya tertulis nama aslinya: Elena Valerius—Adik Kandung Adrian.
Arunika menyadari kenyataan yang jauh lebih menjijikkan daripada yang ia bayangkan. Adrian tidak sedang mencari istri; dia sedang mencari pengganti untuk obsesi terlarangnya terhadap adiknya sendiri yang telah ia hancurkan.