"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PERNIKAHAN DI ATAS DARAH
Matahari lusa akan menjadi saksi sebuah kegilaan.
Ghea duduk diam di depan meja rias barunya yang baru saja dipasang oleh orang-orang Adrian pagi tadi. Meja rias itu sangat megah, dengan cermin besar berbentuk oval yang memantulkan wajahnya yang pucat. Ia baru saja selesai menyisir rambutnya yang panjang ketika pintu kamar terbuka tanpa ketukan.
Adrian melangkah masuk dengan aura yang berbeda. Jika biasanya ia tampak seperti pria yang mencoba merayu, kali ini ia tampak seperti seorang penguasa yang baru saja memenangkan perang. Ia mengenakan setelan jas hitam custom-made yang sangat pas di tubuhnya, memberikan kesan elegan namun mematikan.
Di tangannya, ia membawa sebuah kotak putih besar dengan pita satin merah darah.
"Ghea, Sayang," panggilnya. Suaranya tidak lagi memohon, melainkan penuh dengan otoritas yang tenang.
Ghea memutar kursi rodanya perlahan. "Adrian? Ada apa dengan kotak itu?"
Adrian meletakkan kotak itu di atas tempat tidur. Ia membukanya dengan gerakan perlahan, seolah sedang memamerkan harta karun paling berharga. Di dalamnya, sebuah gaun putih berbahan brokat mewah dengan ribuan mutiara kecil berkilau di bawah lampu kamar. Gaun itu indah, namun bagi Ghea, itu tampak seperti kain kafan yang sangat mahal.
"Ini gaun pengantinmu," ucap Adrian, matanya berbinar menatap gaun itu. "Kita akan menikah lusa, Ghea. Di villa ini. Di taman belakang yang sangat kau sukai."
Jantung Ghea terasa berhenti berdetak sesaat. "Lusa? Tapi... kenapa begitu cepat? Aku bahkan belum pulih sepenuhnya, Adrian. Kakiku—"
"Tidak ada alasan untuk menunda lagi," potong Adrian dengan tegas. Ia berjalan mendekati Ghea, berjongkok di depannya, dan menggenggam kedua tangan Ghea dengan erat. "Aku sudah mengatur semuanya. Aku sudah memanggil seorang pendeta yang bersedia datang ke sini. Tidak akan ada tamu, tidak akan ada kebisingan luar. Hanya ada kau dan aku. Janji suci, selamanya."
Ghea merasakan dingin menjalar di punggungnya. "Hanya kita berdua?"
"Ya. Hanya kita. Aku ingin saat aku mengucapkan janji itu, tidak ada satu pun mata yang berhak melihatmu selain aku," Adrian mencium tangan Ghea, matanya menatap Ghea dengan intensitas yang mengerikan. "Kau akan menjadi milikku secara sah di mata Tuhan dan manusia, Ghea. Dan setelah itu, tidak akan ada lagi masa lalu yang bisa menyentuhmu."
Ghea menatap gaun itu, lalu menatap Adrian. Di dalam saku gaun rumahannya, ia meraba ujung kunci titanium yang sudah ia asah hingga setajam silet. Logam itu seolah memberikan keberanian padanya.
"Kau benar-benar sudah merencanakan ini sejak lama, bukan?" tanya Ghea pelan.
"Sejak hari pertama aku membawamu ke sini," jawab Adrian jujur. "Pernikahan ini adalah bentuk perlindungan terakhirku untukmu. Setelah kita menikah, aku akan membawamu pergi dari negara ini. Kita akan tinggal di sebuah pulau pribadi di Pasifik. Di sana, hukum tidak berlaku. Hanya ada cinta kita."
Ghea memaksakan sebuah senyuman—senyuman seorang detektif yang sedang menjebak mangsanya. "Sebuah pulau? Kedengarannya sangat romantis, Adrian."
"Aku tahu kau akan mengerti," Adrian berdiri dan mengusap pipi Ghea. "Lusa pagi, Bi Inah akan membantumu bersiap. Aku ingin kau menjadi wanita tercantik yang pernah dilihat dunia, meskipun hanya aku yang melihatnya."
Setelah Adrian keluar, Ghea langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam—sebuah izin yang baru saja diberikan Adrian sebagai bentuk "kepercayaan" menjelang pernikahan. Ghea segera mengambil kunci titanium itu dari saku gaunnya.
Ia berdiri dari kursi roda, kakinya bergetar namun ia memaksanya untuk menopang berat tubuhnya. Ia berjalan menuju jendela. Di luar sana, di bawah keremangan senja, ia melihat beberapa orang suruhan Adrian sedang memasang altar kecil di taman belakang. Altar itu dikelilingi oleh bunga lili putih—bunga kematian yang disukai Adrian.
"Pernikahan..." desis Ghea. "Kau ingin pernikahan, Adrian? Aku akan memberimu perpisahan yang tidak akan pernah kau lupakan."
Ghea kembali ke tempat tidur. Ia mengambil gaun pengantin itu dan meraba kainnya. Ia menyadari sesuatu. Gaun ini memiliki korset yang sangat ketat dan berlapis-lapis. Ini adalah tempat persembunyian yang sempurna. Ia akan menyembunyikan kunci titanium yang sudah diasah itu di dalam lipatan korset gaun pengantinnya.
Lusa, saat mereka berdiri di depan altar, saat Adrian merasa paling menang dan paling bahagia, saat itulah pertahanan pria itu akan berada di titik terendah.
Ghea mulai menyusun rencana pelariannya di dalam kepala. Ia butuh waktu sekitar lima menit untuk melumpuhkan Adrian. Setelah itu, ia harus mencapai ruang kerja Adrian untuk mengambil flashdisk dan dokumen aslinya, lalu lari menuju gerbang utama sebelum sistem keamanan otomatis mengunci segalanya.
"Hanya lusa..." gumam Ghea.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Pendeta. Adrian bilang akan ada seorang pendeta bayaran. Ghea menyadari bahwa pendeta itu adalah satu-satunya orang luar yang akan masuk ke villa ini dalam waktu lama. Jika ia bisa memberikan sinyal atau pesan rahasia kepada pendeta itu, mungkin ada harapan baginya.
Tapi, Ghea segera menggelengkan kepala. Adrian terlalu cerdik. Pendeta itu pasti sudah diancam atau dibayar sangat mahal untuk menutup mulut. Ghea tidak bisa mengandalkan siapa pun selain dirinya sendiri dan logam tajam di tangannya.
Malam itu, Ghea tidak tidur. Ia menghabiskan waktu dengan melatih gerakannya. Ia mencoba berdiri, berjalan, dan melakukan gerakan menusuk secara cepat dalam bayangan cermin. Ia harus memastikan bahwa saat lusa tiba, kakinya tidak akan mengkhianatinya.
"Lencana untuk harga diri, dan kunci untuk kebebasan," bisik Ghea sambil menatap pantulannya di cermin.
Di kamar sebelah, ia bisa mendengar suara musik klasik yang diputar Adrian. Adrian sedang merayakan "kemenangannya". Adrian tidak tahu bahwa wanita yang ia anggap sudah berhasil dijinakkan itu, kini sedang berubah menjadi sosok predator yang jauh lebih berbahaya darinya.
Ghea mengambil lipstik merah di meja riasnya. Ia tidak memakainya di bibir, melainkan menuliskan sebuah angka di balik laci meja rias: 0-4-2-5. Angka dari kunci titanium itu. Ia ingin memastikan jika ia gagal dan mati di rumah ini, setidaknya ada jejak yang ia tinggalkan untuk detektif lain yang mungkin akan mencari jejaknya suatu hari nanti.
"Permainan akan berakhir lusa, Adrian," ucap Ghea pelan. "Entah aku yang keluar dari sini sebagai manusia, atau kau yang keluar dari sini sebagai mayat."
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....