NovelToon NovelToon
Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author:

Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….

24

Keheningan di lorong gedung pengadilan itu terasa mencekam, seolah-olah oksigen di sana telah terserap habis oleh ketegangan yang menggantung. Anjeli duduk di samping Ayahnya, jemari tangannya yang kasar karena tanah kebun kini saling bertautan erat dengan tangan Pak Burhan yang hangat. Ia bisa merasakan denyut nadi Ayahnya yang tidak beraturan, sebuah ritme ketakutan yang bercampur dengan harapan.

"Ayah, apa pun yang terjadi di dalam nanti, kita harus tetap pulang bersama-sama, ya?" bisik Anjeli. Suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh suara sepatu orang-orang yang berlalu-lalang di lantai marmer yang mengkilap.

Pak Burhan menoleh, menatap wajah putrinya yang tampak jauh lebih dewasa daripada usianya yang baru enam belas tahun. Ia melihat gurat kelelahan namun juga keteguhan di mata Anjeli. "Ayah tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita, Nak. Jika memang harus, Ayah akan memohon bersimpuh di kaki hakim itu. Aris dan kamu adalah napas Ayah, Nak.”

Pintu kayu besar ruang sidang kembali terbuka. Petugas pengadilan memanggil mereka dengan suara datar yang tak memiliki emosi. Satu per satu, mereka masuk kembali. Anita, dengan langkah yang anggun namun tampak kaku, duduk di sisi seberang. Ia tidak lagi menatap ke arah Pak Burhan atau Anjeli. Pandangannya lurus ke depan, ke arah palu hakim yang akan menentukan nasib anak bungsunya.

Hakim Ketua, Pak Subroto, membetulkan kacamata emasnya. Ia menatap tumpukan berkas di depannya, itu dokumen kontrak dari Bu Widya, foto-foto kebun hasil jepretan Gani, serta laporan medis sementara tentang perkembangan motorik Pak Burhan.

"Setelah mempertimbangkan argumen dari kedua belah pihak," suara Hakim menggema, "Pengadilan mencatat adanya perbedaan yang signifikan antara lingkungan yang ditawarkan oleh Penggugat, Ibu Anita, dan lingkungan saat ini di bawah asuhan Tergugat, Bapak Burhanudin."

Anjeli merasakan napasnya tertahan di tenggorokan.

"Memang benar bahwa faktor ekonomi adalah pondasi. Namun, pengadilan juga melihat stabilitas psikologis anak. Sebuah lingkungan yang kaya secara materi namun memiliki riwayat pengabaian secara emosional di masa lalu, tidak serta merta menjadi pilihan utama," lanjut Hakim.

Anita tampak sedikit gelisah di kursinya. Pengacaranya berbisik sesuatu, mencoba menenangkannya.

"Di sisi lain," Hakim menatap Pak Burhan dan Anjeli, "Tergugat telah menunjukkan pemulihan kesehatan yang luar biasa dan dedikasi keluarga yang solid. Kehadiran saudari Anjeli sebagai pilar ekonomi keluarga melalui kegiatan agrikultur yang berkelanjutan, memberikan bukti bahwa keluarga ini memiliki daya tahan."

Pak Burhan memejamkan matanya, mulutnya komat-kamit merapalkan doa.

"Namun," Hakim menjeda, membuat jantung Anjeli serasa berhenti, "Pengadilan belum bisa memberikan keputusan tetap hari ini. Kami memerlukan satu tahap lagi yaitu Peninjauan Lapangan secara mendadak oleh petugas sosial untuk memastikan bahwa kebun dan kondisi rumah benar-benar layak seperti yang tertulis dalam artikel dan kontrak ini."

Keputusan itu seperti hujan di tengah kemarau. Tidak memberikan kemenangan instan, namun memberikan kesempatan untuk bernapas.

"Sidang ditunda selama dua minggu hingga hasil peninjauan lapangan masuk ke meja saya. Persidangan hari ini ditutup." Tok! Tok! Tok!, palu di ketuk hakim

Saat mereka keluar dari ruang sidang, Anita mencegat langkah mereka di depan tangga. Wajahnya yang semula angkuh kini tampak lelah. Ada sisa air mata di sudut matanya yang tidak sempat ia hapus.

"Burhan, dengar..." suara Anita bergetar. "Dua minggu. Petugas akan datang ke gubukmu yang reot itu. Apa kamu pikir tempat seperti itu benar-benar layak untuk Aris? Dia butuh AC, dia butuh kamar mandi yang bersih, bukan air sumur yang dingin."

Pak Burhan berhenti melangkah. Ia menaruh tangannya di bahu Anjeli, menggunakan putrinya sebagai tumpuan bukan karena lemah, tapi sebagai tanda kekuatan bersama.

"Anita, Aris tidak pernah sekalipun mengeluh soal air sumur. Dia justru tertawa setiap kali aku memandikannya di bawah pohon mangga. Dia sehat karena dia makan sayur yang ditanam kakaknya dengan cinta, bukan makanan instan dari pelayan di rumah mewahmu."

"Kamu egois!" desis Anita. "Kamu hanya ingin membalas dendam padaku dengan menahan Aris di sana!"

Anjeli melangkah maju, menghalangi pandangan ibunya ke arah Ayah. "Ibulah yang egois. Ibu pergi disaat terpuruknya Ayah yang butuh dukungan istri dan anaknya, sekarang Ibu datang disaat kami sudah mulai bangkit. Kenapa Ibu tidak datang disaat Ayah baru lumpuh? Kenapa Ibu tidak datang saat Aris menangis minta susu? Kenapa ibu tidak datang di saat Aris bertanya dan mencari ibu, Ha!? Sekarang, setelah kami masuk majalah dan punya kontrak, Ibu baru peduli?"

Anita terdiam. Ia tampak kaget dan terpukul mendengar kata-kata Anjeli. Tanpa berkata-kata lagi, ia memakai kembali kacamata hitamnya dan berjalan cepat menuju mobil mewahnya yang sudah menunggu.

Perjalanan pulang di bus terasa lebih ringan bagi Pak Burhan, meski ada beban baru tentang Peninjauan Lapangan. Anjeli terus menggenggam kantong jahe merahnya yang belum sempat ia berikan pada Pak Hendra sepenuhnya.

"Nak, dua minggu lagi mereka akan datang untuk peninjauan lapangan,” ucap Pak Burhan sambil menatap persawahan yang mulai terlihat di luar jendela bus. "Kita harus membuat rumah dan kebun kita terlihat sempurna. Ayah harus bisa berjalan lebih lancar lagi."

"Ayah jangan terlalu memaksakan diri. Biar Anjeli yang urus rumah dan kebun. Kita akan cat tembok depan, dan Anjeli akan tata tanaman hias di sepanjang jalan masuk supaya terlihat asri," rencana Anjeli mulai tersusun di kepalanya.

Sesampainya di terminal desa, matahari sudah mulai terbenam, menyisakan warna jingga yang indah di ufuk barat. Mereka berjalan perlahan menuju rumah. Saat melewati warung Mak Odah, Aris langsung berlari keluar dan menabrak kaki Ayahnya.

"Ayah! Kak Anjeli! Kalian sudah kembali, bagaimana Yah? Aris tidak di bawah ibu kan?" tanya Aris dengan penuh harap.

Pak Burhan menggendong Aris sebuah tindakan yang beberapa minggu lalu mustahil dilakukan. Ia mengangkat anaknya tinggi-tinggi. "Ayah tidak akan pergi lagi, Nak. Kita menang untuk hari ini."

Mak Odah keluar dengan membawa bungkusan donat gula. "Syukurlah! Tadi Bu Sumi lewat sini, nanya-nanya terus kalian pulang jam berapa. Kayaknya dia nungguin kabar buruk. Biarin aja dia gigit jari!"

Anjeli tertawa, namun dalam hati ia waspada. Peninjauan lapangan berarti rumahnya akan dimasuki orang asing. Ia harus memastikan Ruang Ajaib benar-benar tidak terdeteksi.

Malam itu, setelah Aris tertidur pulas karena kelelahan bermain dengan donat Mak Odah, Anjeli masuk ke Ruang Ajaib. Ia tidak berniat menanam. Ia hanya duduk di tepi sumur kristal, menatap bayangan dirinya di air yang jernih.

"Cincin ini memberiku segalanya," bisik Anjeli pada kesunyian. "Tapi besok, yang harus aku tunjukkan pada petugas adalah hasil kerja kerasku di dunia nyata. Aku tidak boleh terlalu bergantung pada keajaiban di depan orang asing."

Ia mengambil sebotol Air Rohani, namun ia tidak langsung menyiramkannya ke tanaman. Ia mencampurnya dengan air sumur biasa dalam ember besar. Ia akan menggunakannya untuk membersihkan lantai rumah dan menyiram kebun besok pagi. Air ini memiliki efek menenangkan jika siapa pun yang menghirup aromanya atau berada di lingkungan yang tersentuh air ini, hatinya akan menjadi lebih damai.

"Aku akan buat siapa pun yang datang ke rumah kami ini akan merasa seperti pulang ke rumah sendiri," tekad Anjeli.

Ia keluar dari Ruang Ajaib dan melihat Ayahnya sedang duduk di ruang tamu, mencoba melatih gerak lututnya dengan sangat sabar. Pak Burhan tidak ingin gagal di depan petugas nanti. Ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah ayah yang tangguh.

"Ayah, istirahatlah. Besok kita punya banyak pekerjaan. Kita akan membuat kebun sepetak kita menjadi surga paling indah di desa ini," ajak Anjeli.

Pak Burhan menoleh dan tersenyum. "Nak, Ayah bangga padamu. Ternyata jahe merah dan sayuran yang kamu tanam itu bukan cuma obat buat kaki Ayah, tapi obat buat martabat keluarga kita."

Di luar, angin malam berhembus pelan di sela-sela mawar pelindung. Anjeli tahu, dua minggu ke depan akan menjadi waktu yang paling menentukan dalam hidup mereka. Ia harus perlahan, sangat perlahan, menata setiap detail agar tidak ada satu pun celah yang bisa digunakan Anita untuk merebut Aris.

Anjeli menatap langit malam dari celah jendela. "Dua minggu lagi, kita akan buktikan pada mereka, bahwa kebahagiaan sejati tidak butuh AC atau air hangat, tapi butuh tempat di mana hati bisa berlabuh dengan nyaman.”

1
Wanita Aries
mampir thorr
@Mita🥰
wah kasihan ya rumah Anjeli baru di bangun
Andira Rahmawati
lanjutttt makin seruuu💪💪💪
Lala Kusumah
semangat Anjeli, kamu pasti bisa 💪💪💪
Lala Kusumah
good job Anjeli 💪💪💪👍👍👍😍😍
@Mita🥰
semangat Anjeli
@Mita🥰
semoga sukses selalu thor
@Mita🥰
lanjut thor
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
mantaaap 👍👍👍
@Mita🥰
ini ruang ajaib nya bukan di cincin itu ya thor kok lewat pintu
@Mita🥰
bagus ceritanya
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
sukses selalu untuk Anjeli ya 🙏🙏🙏
Aretha Shanum
lanjut, suka ceritanya
Putri Hasan
suka ceritanya /Smile/
semangat updatenya 💪💪
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut
Evi Lusiana
sedih thor,cerita anjelibkin aku tertampar betapa sringny aku lalai tuk bersyukur atasa nikmat Tuhan
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Evi Lusiana
bagus thor,cm msih ad typo dikit²,ttp semangat thor
Lala lala
author pelan2 aja nulisnya dan hrs ingat alurnya..
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!