NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 - Ketakukan Libra

Bel sekolah akhirnya berbunyi. Giselle menghela napas lega begitu jam terakhir berakhir. Ia segera merapikan bukunya, lalu menoleh ke arah Libra yang sudah berdiri sembari menenteng tasnya di pundak.

"Jadi kan, Pen?" tanya Libra pelan. Sebenarnya ia sedikit ragu. Mengingat bagaimana kerasnya ibu Giselle. Ia takut kalau-kalau rencana ini akan ketahuan oleh wanita paruh baya itu. Ia tidak ingin Giselle lebih menderita dari ini.

Giselle tersenyum kecil. "Jadi dong. Semoga aja Kak Abram bolehin."

Mereka berjalan keluar kelas berdampingan. Di depan gerbang sekolah, sebuah motor sport sudah terparkir rapi. Abram berdiri di sampingnya, bersedekap, matanya langsung tertuju pada Giselle begitu adiknya itu muncul. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia merasa senang bisa menjemput adiknya pulang sekolah. Sama sekali tidak merasa keberatan. Justru dengan begini, ia memiliki lebih banyak waktu bersama adiknya.

"Kak Abram," sapa Giselle. Gadis itu tersenyum sembari melambaikan tangannya ketika berjalan mendekati Abram. Libra mengikuti langkah Giselle dari belakang. Tersenyum kecil melihat punggung mungil itu bergerak semangat ke arah kakaknya.

Abram menatapnya hangat. "Ayo pulang."

Giselle menelan ludah. Ia melirik Libra sebentar, lalu kembali menatap kakaknya. Sedikit takut, tetapi ia tetap mengutarakan keinginannya.

"Kak… boleh gak aku ke taman sebentar? Tapi sama Libra." Giselle menatap Abram dengan penuh harap.

Abram menghela napas pelan. "Giselle, bukannya Kakak ngelarang, tapi kamu tau sendiri kan gimana ibu? Kakak gak mau kalau kamu dihukum lagi sama ibu." Abram mengusap kepala Giselle dengan sayang. Mencoba memberinya pengertian.

Giselle menunduk, ia merasa kecewa karena permintaan sederhananya ditolak oleh Abram. Namun, ia tidak menyerah.

"Cuma sebentar kok, Kak. Aku janji. Aku cuma pengen beli es krim sama Libra. Habis itu pulang. Nanti Kakak bisa jemput aku di taman." Giselle menggenggam tangan Abram. Berusaha meyakinkan kakaknya.

"Kakak jangan pulang dulu, bilang aja ke ibu kalau Kakak ngajak aku belajar di luar, di kafe, atau di mana pun, supaya aku gak suntuk belajar terus di rumah. Ya? Ya? Please, Kak." Giselle semakin memohon. Ia benar-benar butuh istirahat sejenak dari kehidupannya yang melelahkan.

Abram masih diam. Ia menatap Giselle dengan sayang. Merasa tidak tega melihat adiknya sampai harus memohon-mohon seperti ini.

"Kak, aku capek. Aku butuh keluar rumah bentar aja. Aku gak lama, sumpah."

Tatapan Abram melembut, tapi wajahnya masih terlihat ragu.

Libra yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Kak Abram, tolong izinin ya. Gak akan lama, kok. Cuma sebentar aja. Giselle juga keliatan lagi capek banget akhir-akhir ini."

Abram menoleh ke Libra. Menatapnya cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu.

"Oke. Jangan lama, jam setengah lima Kakak jemput di taman," putus Abram setelah lama berpikir. Biarlah adiknya memiliki waktu bersenang-senang dengan Libra. Urusan ibunya, biar Abram yang selesaikan. Untuk kali ini, ia tidak akan membiarkan adiknya bersedih lagi.

Giselle langsung mengangkat kepala, matanya berbinar. Akhirnya Abram memberinya izin. Tentu gadis itu sangat senang sekarang.

"Oke, makasih, Kak!" Giselle tersenyum lebar sembari memeluk Abram. Lelaki itu sedikit terkejut, tetapi segera memeluk Giselle dengan erat.

Abram mengangguk kecil. Ia senang melihat adiknya tersenyum lebar. Ia sangat ingin mempertahankan senyum Giselle. Ia selalu sedih melihat air mata Giselle.

Giselle langsung menggandeng lengan Libra dengan wajah berbinar. Libra terkekeh kecil melihat perubahan ekspresi gadis itu yang begitu cepat. Setelah melambai pada Abram, kedua remaja itu berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor Libra.

...***...

Taman itu tidak terlalu ramai sore ini. Beberapa anak kecil terlihat bermain, sementara beberapa orang dewasa duduk santai di bangku taman. Angin sore berembus pelan, membuat suasana terasa lebih sejuk.

"Gue kangen tempat ini," ujar Giselle sambil menatap sekeliling.

Libra tersenyum. "Dulu hampir tiap sore kita ke sini."

Mereka berhenti di depan gerobak es krim. Giselle menunjuk gambar es krim coklat dengan semangat.

"Yang itu!" seru Giselle dengan semangat.

"Iya iya, Cil. Santai dong," ledek Libra sambil membayar.

Mereka berjalan ke bangku taman, lalu duduk berdampingan. Giselle membuka bungkus es krimnya dengan senyum puas, lalu menggigitnya perlahan.

"Enak banget," ujarnya polos.

Libra tertawa kecil. Ia membuka es krimnya sendiri, lalu ikut menggigit. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana.

Obrolan bersama Farhan dan Danu pagi tadi kembali terlintas di kepalanya.

Sebenernya gue sayang ke Giselle cuma sebagai sahabat… atau lebih?

Libra melirik Giselle dari samping. Gadis itu terlihat santai, menikmati es krimnya sambil sesekali menatap langit. Senyum di wajahnya terlihat tulus, sama seperti senyum yang selalu Libra lihat sejak mereka kecil.

Sejak kapan perasaannya ke Giselle jadi terasa berbeda?

Libra mengerutkan kening. Ia mencoba mengingat. Mereka selalu bersama. Selalu berdua. Selalu saling mengandalkan. Tapi apakah itu cukup untuk disebut sahabat? Ia memang tidak pernah memikirkan tentang cinta. Ia merasa nyaman dengan hubungan mereka selama ini. Jadi, apa yang perlu ia khawatirkan?

Kalau Giselle tiba-tiba punya pacar…

Ucapan Farhan kembali terngiang. Benar, bagaimana jika Giselle mempunyai pacar? Apakah Libra rela? Tentu saja ia tidak masalah. Namun, kenapa ada sedikit rasa tidak nyaman di hatinya. Kenapa dadanya terasa sesak hanya dengan memikirkannya?

"Ba?" panggil Giselle.

Libra tersentak. "Hah?"

"Kok bengong? Es krim lo mau meleleh tuh."

Libra menunduk, lalu terkekeh kecil. "Oh. Iya."

Giselle menatapnya curiga. "Lo kenapa sih dari tadi? Aneh. Kayak lagi banyak utang aja."

Libra menggeleng pelan. "Gak kenapa-kenapa."

Tapi itu bohong.

Ia menatap kembali ke arah Giselle. Gadis yang selalu ada di hidupnya. Gadis yang keberadaannya selama ini ia anggap wajar. Gadis yang menjadi alasannya tersenyum. Gadis yang selalu ia usahakan bahagianya.

Tiba-tiba Libra sadar satu hal.

Mungkin selama ini bukan Giselle yang selalu ada untuknya. Mungkin justru ia yang tidak pernah membiarkan Giselle pergi terlalu jauh. Dan entah sejak kapan, pikiran kehilangan Giselle terasa jauh lebih menakutkan daripada yang seharusnya dirasakan oleh seorang sahabat.

...***...

20 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!