Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Karaoke dan Mie Instan Tengah Malam
Nara Anindita menghempaskan tubuhnya ke atas kasur busa yang baru saja ia pasang sprainya. Harum bau kain baru bercampur dengan aroma ruangan yang masih sedikit berdebu. Meskipun punggungnya terasa mau patah setelah angkut-angkut barang sendirian, Nara tidak bisa menahan senyum puasnya. Akhirnya, dia punya ruang sendiri. Jauh dari omelan ibu kos yang cerewet dan jauh dari kenangan pahit bersama si mantan, Rio.
"Oke, Nara. Step one complete," gumamnya pada langit-langit kamar yang putih bersih.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima detik. Bayangan wajah tetangga sebelahnya, Rian si "Robot Manusia", tiba-tiba terlintas di pikirannya. Tatapan dinginnya, suara baritonnya yang tajam, dan kartu nama mahalnya yang sekarang tergeletak di atas meja nakas.
"Ganteng sih, tapi mulutnya itu lho... sekolah di mana sih dia? Galak banget kayak satpam komplek," gerutu Nara. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju dinding yang membatasi unitnya dengan unit 402 milik Rian. Nara menempelkan telinganya di tembok. Hening.
"Pasti dia lagi sibuk ngitung duit atau nyusun jadwal hidupnya yang kaku itu," Nara menjulurkan lidahnya ke arah tembok, seolah-olah Rian bisa melihatnya.
Karena perutnya mulai keroncongan dan mood-nya sedikit rusak gara-gara kejadian "tumpah kopi" tadi sore, Nara memutuskan untuk melakukan ritual penyembuhan diri paling ampuh: Makan mie instan kuah pedas dan... karaokean.
Nara menyalakan speaker bluetooth mungilnya. Ia memilih playlist "Galau Berenergi" di Spotify. Tak lama kemudian, suara dentuman bass mulai memenuhi ruangan unit 401 yang masih setengah kosong itu.
"KITA ADALAH DUA ORANG YANG SALAH... DI WAKTU YANG TEPAT...!!!"
Nara bernyanyi sekuat tenaga sambil memegang spatula sebagai mikrofon. Sambil menunggu air mendidih, dia berjoget kecil, mengabaikan fakta bahwa sekarang sudah jam sepuluh malam dan apartemen ini dindingnya tidak setebal benteng pertahanan negara.
Sementara itu, di unit 402 yang sangat rapi, Rian Ardiansyah sedang duduk di depan laptopnya. Meja kerjanya tertata sangat presisi. Pena di kanan, buku catatan di kiri, dan segelas air putih tepat di koordinat yang biasa. Rian sedang meninjau laporan keuangan tahunan sebuah perusahaan startup yang cukup rumit. Dia butuh fokus 100%.
Dung... dung... dung...
Rian menghentikan ketikannya. Ia menoleh ke arah dinding sebelah kiri. Ada suara dentuman yang sangat mengganggu.
"Suara apa itu?" bisiknya dengan dahi berkerut.
Lalu, suara musik itu semakin keras, diikuti oleh suara vokal seorang wanita yang... jujur saja, tidak buruk, tapi sangat amat berisik untuk jam segini.
"MUNGKIN... AKU YANG SALAH... MENCINTAIMU...!!!"
Rian memejamkan mata, mencoba bersabar. Ia memijat pangkal hidungnya. "Perempuan itu lagi," gumamnya. Siapa lagi kalau bukan tetangga barunya yang tadi sore menumpahkan kopi ke kemeja custom-made miliknya?
Rian mencoba memakai noise-cancelling headphone. Berhasil selama lima menit, sampai akhirnya Nara mencapai bagian high note dari lagu tersebut. Suaranya menembus lapisan headphone mahal Rian.
"Cukup," Rian berdiri. Wajahnya yang sudah datar jadi makin terlihat seperti mau menerkam orang.
TOK! TOK! TOK! TOK!
Gedoran di pintu unit 401 terdengar sangat brutal, bahkan lebih kencang dari suara musik Nara.
Nara tersedak kuah mie instan yang baru saja ia sesap. Ia terbatuk-batuk, matanya berair, sambil buru-buru mengecilkan volume speaker. Dengan daster bermotif bebek yang sedikit basah karena cipratan kuah mie, ia membuka pintu.
"Apa sih?! Kebakaran?!" tanya Nara galak sebelum melihat siapa yang datang.
Begitu pintu terbuka, ia mendongak. Rian berdiri di sana. Masih rapi, tapi kali ini kemejanya sudah diganti warna biru dongker. Aura di sekitarnya terasa seperti kulkas dua pintu yang pintunya terbuka lebar: Dingin banget.
"Jam berapa sekarang?" tanya Rian singkat. Ia melirik jam tangannya yang berkilau.
Nara melirik jam dindingnya. "Jam sepuluh lewat dikit. Kenapa? Mau minta mie ya? Baunya enak kan?"
Rian mendengus, tipe dengusan yang menghina. "Saya nggak makan mie instan jam segini. Dan saya nggak ke sini buat nanya menu makan malam kamu. Saya ke sini buat minta kamu kecilin suara... apa itu tadi? Kamu lagi latihan jadi penyanyi latar atau lagi ikut audisi sirkus?"
Nara melipat tangan di depan dada. "Dih, mulutnya lemes banget. Itu namanya ekspresi diri, Mas! Saya baru pindah, capek, butuh hiburan. Lagian suara saya lumayan tahu!"
"Lumayan berisik, maksudmu," koreksi Rian cepat. "Dengar ya, Nara. Di sini ada aturan. Jam tenang dimulai dari jam sembilan malam. Dinding kita ini nggak kedap suara seratus persen. Saya nggak mau dengar konser gratisanmu saat saya lagi kerja."
Nara maju selangkah, menantang tinggi badan Rian. "Oh, jadi Mas ini tipe yang kerja terus sampai lupa cara bersenang-senang ya? Pantesan wajahnya kayak robot yang baterainya mau habis. Datar banget!"
Rian terpaku sejenak. "Robot?"
"Iya! Robot! Mas Rian ini kaku banget, kayak baju yang kebanyakan kanji. Hidup itu butuh warna, Mas. Jangan cuma item-putih kayak laporan keuangan!"
Rian menarik napas dalam. Ia merasa berdebat dengan perempuan di depannya ini hanya akan membuang-buang oksigen. "Saya nggak peduli kamu mau sebut saya robot atau alien sekalipun. Intinya: Matikan. Musiknya. Sekarang. Atau saya panggil sekuriti."
Nara baru saja mau membalas dengan kalimat yang lebih pedas, tapi tiba-tiba perutnya kembali berbunyi. Kali ini bunyinya sangat nyaring karena suasana koridor yang sepi.
Kruyuuukk...
Nara langsung menutup perutnya dengan tangan, wajahnya memerah sampai ke telinga. Gengsinya runtuh seketika.
Rian melirik ke arah mangkuk mie instan yang asapnya masih mengepul di atas meja makan Nara (yang terlihat dari balik pintu terbuka). Lalu dia kembali menatap Nara yang sekarang menunduk malu.
"Makan mienya," ucap Rian tiba-tiba. Nadanya sedikit berubah, tidak sedingin tadi, tapi tetap datar. "Kalau perutmu kenyang, mungkin otakmu bisa mikir buat nggak ganggu tetangga lagi."
Rian berbalik, ingin kembali ke unitnya.
"Tunggu!" panggil Nara.
Rian berhenti tapi tidak menoleh. "Apa lagi?"
"Kemeja yang tadi sore... beneran nggak bisa bersih? Saya ngerasa nggak enak, meskipun Mas nyebelin banget."
Rian diam sebentar. "Sudah saya kirim ke spesialis. Kalau nggak bisa balik lagi, saya bakal tagih ke unit 401."
"Yah! Mahal ya pasti?" keluh Nara lemas.
"Makanya, kerja yang bener, jangan karaokean terus," ucap Rian sambil menutup pintunya.
Nara menghentakkan kaki ke lantai. "Ih! Nyebelin banget sih itu orang! Ganteng-ganteng kok kayak batu empedu, bikin sakit hati!"
Nara kembali masuk ke unitnya dan menutup pintu dengan keras. Ia mematikan musiknya, lalu duduk di depan mienya yang mulai mengembang. Ia menyuap mie itu dengan emosi.
"Awas ya, Rian Robot. Gue bakal bikin hidup lo di apartemen ini nggak bakal membosankan lagi," gumam Nara sambil mengunyah.
Keesokan paginya, Nara bangun dengan rambut berantakan mirip singa yang baru bangun tidur. Ia harus segera menyelesaikan draf desain logo untuk kliennya sebelum jam satu siang. Sambil membawa sampah bekas mienya semalam, ia keluar dari unit dengan mata setengah tertutup.
Tepat saat ia mau membuang sampah ke tempat sampah besar di ujung koridor, ia melihat Rian keluar dari unitnya. Kali ini Rian terlihat sangat sangat "sempurna". Setelan jas lengkap, tas kerja kulit yang mengkilap, dan rambut yang ditata rapi pakai pomade. Wanginya tercium sampai ke tempat Nara berdiri—wangi citrus yang segar bercampur kayu manis.
"Pagi, Pak Robot," sapa Nara iseng, suaranya masih suara khas orang baru bangun tidur.
Rian berhenti sejenak, melirik Nara dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia melihat daster bebek Nara yang sudah agak miring, rambut acak-acakan, dan kantong sampah di tangannya.
"Pagi, Gelandangan," jawab Rian pendek.
Nara melotot. "Apa?! Gelandangan?! Heh, ini namanya artistic-messy look tahu!"
Rian tidak menanggapi. Ia berjalan menuju lift dengan langkah tenang. Nara yang tidak terima dibilang gelandangan, langsung lari mengejar dan ikut masuk ke dalam lift yang sama.
Di dalam lift yang sempit itu, keheningan terasa sangat canggung. Nara bisa mencium wangi parfum Rian yang sangat enak, sementara Rian mungkin bisa mencium bau... sisa mie instan dari kantong sampah Nara.
"Bisa nggak kantong sampahnya dijauhin dari saya?" tanya Rian tanpa menoleh, matanya lurus ke depan.
Nara sengaja mendekatkan kantong sampahnya ke arah Rian. "Oh, maaf. Lift-nya sempit banget ya, Mas. Namanya juga barang bawaan orang sibuk."
Rian melirik kantong itu dengan jijik. "Kamu tahu? Kepribadian seseorang bisa dilihat dari caranya memperlakukan sampah."
"Terus?" Nara menantang.
"Melihat kantong sampamu yang berantakan itu, saya sudah bisa menebak gimana kacaunya hidup kamu," ucap Rian tepat saat pintu lift terbuka di lantai dasar.
Rian melangkah keluar dengan anggun, meninggalkan Nara yang menggigit bibir saking gemasnya.
"Gue bakal bikin kontrak damai sama lo, Rian! Tapi setelah gue pastiin lo tahu rasanya kalah debat sama desainer!" teriak Nara di dalam lift yang pintunya mulai menutup kembali.
Nara bersandar di dinding lift, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Bukan karena cinta—pikirnya—tapi karena emosi yang meluap-luap. Namun, dalam hati kecilnya, Nara mulai merasa bahwa hidup di apartemen ini tidak akan pernah membosankan selama ada tetangga robot di sebelah unitnya.
Pertempuran baru saja dimulai, dan Nara tidak berencana untuk kalah.