Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Langit yang Runtuh
Udara di Puncak Awan Putih mendadak menjadi sangat padat hingga sulit untuk bernapas. Kaisar Langit Qin tidak bergerak dengan kecepatan kilat seperti para pembunuh bayaran; ia berjalan dengan tenang, namun setiap langkahnya memancarkan gelombang keemasan yang menghancurkan domain racun ungu milik Xiao Chen dalam radius sepuluh meter.
Inilah kekuatan Ranah Raja Roh—sebuah tingkatan di mana seorang pendekar tidak lagi hanya menggunakan energi alam, tetapi mulai mendikte hukum alam itu sendiri.
"Kau memiliki bakat yang mengerikan, Nak," Qin mengangkat tangan kanannya. Cahaya emas memadat membentuk sebuah pedang tanpa bilah fisik, hanya terdiri dari tekanan udara dan energi murni. "Tapi racun hanyalah trik kecil di hadapan kekuatan absolut."
Xiao Chen tidak menunggu. Ia menghentakkan kakinya, dan dari bawah tanah muncul sembilan naga raksasa yang terbuat dari cairan empedu hitam korosif. Naga-naga itu meraung, melesat menuju Qin dari berbagai arah.
"Seni Raja Racun: Sembilan Naga Penghisap Jiwa!"
Qin hanya mengibaskan tangannya pelan. "Hancur."
BUM!
Hanya dengan satu kata yang diperkuat oleh Qi Raja Roh, kesembilan naga itu meledak di udara, berubah menjadi hujan hitam yang justru berbalik arah karena tekanan energi Qin. Xiao Chen terpaksa melompat mundur, namun Qin sudah berada di depannya dalam sekejap mata.
PLAK!
Satu pukulan telapak tangan Qin menghantam dada Xiao Chen. Meskipun Xiao Chen sudah melapisi tubuhnya dengan pelindung racun terkuat, tulang rusuknya terdengar berderak patah. Tubuhnya terpental, menabrak pilar batu raksasa hingga hancur berkeping-keping.
"Uhuk!" Xiao Chen memuntahkan darah segar yang kini berwarna merah pekat—tanda bahwa energi Qin telah menekan racun di dalam darahnya.
Xiao Chen berusaha bangkit, namun rasa sakit yang belum pernah ia rasakan selama sepuluh tahun terakhir menjalar ke seluruh sarafnya. Bai, ular peraknya, mencoba menyerang Qin dengan melesat secepat cahaya, namun Qin hanya menjentikkan jarinya, mengirim Bai terpental jauh hingga menabrak dinding tebing.
"Ular yang menarik, tapi terlalu lemah untuk menyentuh jubahku," ucap Qin dingin.
Xiao Chen menyapu darah di bibirnya. Matanya yang ungu kini berkilat liar. Ia menarik napas dalam, memaksakan Qi racunnya untuk berputar lebih cepat, mengabaikan rasa sakit dari organ dalamnya yang mulai robek.
"Seni Terlarang: Tubuh Dewa Racun!"
Kulit Xiao Chen berubah menjadi hitam keunguan, dan uap beracun keluar dari pori-porinya dengan tekanan tinggi, membentuk armor cair di sekujur tubuhnya. Ia melesat maju, tinjunya yang dilapisi racun korosif menghantam perisai emas Qin berkali-kali.
DUANG! DUANG! DUANG!
Suara benturan itu terdengar seperti lonceng raksasa yang dipukul. Namun, setiap kali tinju Xiao Chen mendarat, energi emas Qin memantulkan kembali sebagian racun tersebut ke dalam tubuh Xiao Chen.
"Kau menggunakan tubuhmu sebagai wadah?" Qin menggelengkan kepala. "Bodoh. Kau hanya mempercepat kematianmu sendiri."
Qin mengangkat pedang energinya tinggi-tinggi. "Sambutlah hukuman dari langit. Jurus Raja: Tebasan Matahari Suci!"
Cahaya menyilaukan membelah langit. Xiao Chen mencoba menangkis dengan menyilangkan tangannya dan memusatkan seluruh energinya menjadi perisai kabut tebal. Namun, pedang itu memotong kabut tersebut seolah-olah memotong air.
SRAKK!
Darah muncrat ke udara. Bahu kiri Xiao Chen robek dalam, hampir memutuskan lengannya. Ia terlempar jatuh ke tanah, terengah-engah dengan tubuh yang gemetar hebat. Jubah abu-abunya kini basah oleh darahnya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari Lembah Kabut Beracun, Xiao Chen merasakan dinginnya maut yang sesungguhnya.
"Apakah ini batasmu, Arsitek Maut?" Qin berdiri di atas Xiao Chen, menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Hanya segini harga nyawa orang tuamu?"
Xiao Chen terkapar di tanah, pandangannya mulai kabur. Rasa sakitnya luar biasa, dan energinya terkuras habis. Namun, saat ia mendengar penyebutan orang tuanya, sesuatu yang lebih gelap dan lebih purba dari sekadar racun mulai bergejolak di dalam hatinya yang paling dalam.
Tangan kanan Xiao Chen yang masih utuh mencengkeram tanah dengan kuat. Di bawah telapak tangannya, tanaman yang terkena darahnya sendiri justru bermutasi menjadi warna hitam yang lebih pekat dari malam.
"Belum..." gumam Xiao Chen lirih, suaranya terdengar serak dan haus darah. "Ini... baru permulaan..."
Qin mengangkat pedangnya untuk memberikan serangan terakhir, namun ia tiba-tiba mengerutkan kening. Ia merasakan suhu di puncak gunung menurun drastis, bukan karena es, melainkan karena aura kematian yang begitu murni mulai memancar dari tubuh Xiao Chen yang hancur.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.