NovelToon NovelToon
Dibalik Tumpukan Digit

Dibalik Tumpukan Digit

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:407
Nilai: 5
Nama Author: Syintia Nur Andriani

Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Gerhana di Balik Jeruji

Bab 20: Gerhana di Balik Jeruji

​Malam itu, sel isolasi Reihan terasa lebih dingin dari biasanya. Namun, alih-alih tampak seperti pesakitan yang kalah setelah mata-matanya tertangkap, Reihan justru duduk tenang di lantai semen, menggambar pola-pola aneh di dinding dengan kuku jarinya yang tajam. Ia tahu Maya telah gagal. Ia tahu Bima dan Arini sedang merayakan kemenangan kecil mereka di atas ranjang yang hangat.

​Namun, Reihan selalu memiliki rencana di dalam rencana. Ia tidak pernah mengandalkan satu pion jika ia bisa membakar seluruh papan catur.

​"Waktunya," bisik Reihan pada kegelapan.

​Tiba-tiba, seluruh aliran listrik di penjara itu padam. Cklek. Bunyi pintu sel otomatis yang terbuka serentak bergema di lorong sunyi. Bukan karena kerusakan teknis, melainkan sebuah serangan siber tingkat tinggi yang telah disiapkan Reihan berbulan-bulan lalu menggunakan sisa-sisa "dana hantu" Dirgantara yang tak terlacak oleh Bima.

​Kerusuhan meledak dalam hitungan detik. Narapidana kelas kakap keluar dari sel mereka, namun anehnya, mereka tidak menyerang penjaga. Mereka bergerak dengan koordinasi yang menakutkan, membentuk barisan pengawal di sekitar Reihan. Reihan telah menyuap sipir kunci dan menjanjikan kebebasan bagi para pembunuh di sana.

​Di apartemen, Arini terbangun karena getaran ponsel Bima yang tak henti-hentinya. Bima langsung melompat dari tempat tidur, wajahnya pucat pasi saat membaca laporan darurat.

​"Ada apa, Bima?" Arini menarik selimutnya, firasat buruk kembali mencengkeram dadanya.

​"Kerusuhan besar di penjara Reihan. Seluruh sistem keamanan pusat lumpuh. Arini, ini bukan kerusuhan biasa... ini adalah operasi pelarian," Bima dengan cepat mengenakan pakaian taktisnya. "Kau harus ikut aku. Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini sendirian. Jika dia keluar, tempat pertama yang dia tuju adalah apartemen ini."

​Mereka berdua bergegas menuju mobil lapis baja milik tim keamanan Bima. Namun, di tengah perjalanan menuju lokasi persembunyian yang aman, sebuah truk besar menghantam sisi kiri mobil mereka dengan kekuatan dahsyat.

​BRAAAKKK!

​Mobil mereka terguling berkali-kali. Pandangan Arini menjadi gelap, telinganya berdenging hebat. Saat ia membuka mata, ia melihat Bima tak sadarkan diri di kursi kemudi, darah mengalir dari keningnya. Arini mencoba bergerak, namun tubuhnya terjepit.

​Pintu mobil yang ringsek itu ditarik paksa dari luar menggunakan rantai besi. Sosok pria dengan seragam narapidana yang kotor, namun dengan mata yang berkilat penuh kemenangan, muncul di balik kabut asap kecelakaan.

​Reihan.

​Ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja melarikan diri dari penjara. Ia terlihat seperti tuhan kematian yang baru saja bangkit dari kubur. Di tangannya, ia memegang sebuah jarum suntik berisi cairan penenang.

​"Selamat malam, istriku tersayang," suara Reihan terdengar sangat manis sekaligus mematikan. "Kau merindukanku?"

​Arini mencoba melawan, tangannya meraih potongan kaca untuk menyerang, namun Reihan terlalu kuat. Ia mencengkeram tangan Arini dan menyuntikkan cairan itu ke lehernya. Pandangan Arini mulai memudar. Hal terakhir yang ia lihat adalah Reihan yang mencium keningnya dengan sangat lembut—sebuah kecupan yang terasa lebih dingin daripada es.

​Saat Arini terbangun, ia tidak lagi berada di jalanan yang dingin. Ia berada di sebuah tempat yang sangat ia kenal: Griya Tawang lama mereka.

​Ruangan itu dipenuhi dengan ribuan bunga lili putih—bunga yang sama dengan liontin yang dikirim Reihan. Lilin-lilin menyala di setiap sudut, menciptakan suasana yang romantis namun mengerikan. Arini mendapati dirinya terbaring di atas ranjang sutra putih yang sama di mana ia kehilangan bayinya. Tangannya diborgol ke kepala ranjang dengan rantai emas yang halus namun kuat.

​Reihan berdiri di balkon, menatap hujan yang masih turun. Ia sudah berganti pakaian, mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, seolah ia tidak pernah masuk penjara.

​"Kau tahu, Arini," Reihan berbalik, mendekati ranjang dengan langkah yang tenang. "Satu hal yang aku pelajari di penjara adalah kesabaran. Dan aku menyadari bahwa aku tidak butuh uang Dirgantara atau perusahaan ayahmu untuk memilikimu. Aku hanya butuh dunia ini berhenti berputar untuk sesaat agar kau menyadari bahwa kau ditakdirkan untuk bersamaku dalam kegilaan."

​Reihan duduk di tepi ranjang, tangannya yang dingin membelai pipi Arini yang masih memar akibat kecelakaan tadi. "Aku sudah membunuh Bima. Oh, jangan menangis... dia mati sebagai pelindung yang gagal. Sangat dramatis, bukan?"

​"KAU IBLIS, REIHAN!" teriak Arini, air matanya tumpah dalam kemarahan yang luar biasa.

​Reihan tidak marah. Ia justru mulai menanggalkan jasnya, kemejanya dibuka satu per satu hingga menampakkan bekas luka tembakan yang ia dapatkan saat kerusuhan tadi. Ia naik ke atas ranjang, menindih Arini dengan beban tubuhnya yang berat.

​"Malam ini, kita akan mulai dari awal, Arini," bisik Reihan di telinga Arini, suaranya mengandung gairah yang tak terkendali. "Tanpa rahasia, tanpa pengkhianat. Hanya kau, aku, dan dendam yang sudah kita ubah menjadi gairah."

​Reihan mulai mencumbunya dengan paksa. Ia tidak peduli pada rontaan Arini atau bunyi rantai emas yang beradu. Bagi Reihan, ini adalah kemenangan mutlak. Ia memiliki Arini kembali di tempat di mana segalanya dimulai.

​"Kau akan memberiku anak lagi, Arini," gumam Reihan di tengah ciuman-ciuman kasarnya yang mematikan. "Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghentikanku."

​Darah yang merembes dari luka di bahu Reihan menetes ke atas sprei putih, bercampur dengan air mata Arini. Di tengah malam yang kelam itu, Arini menyadari bahwa tuhan memang telah meninggalkannya. Ia kini berada di tangan seorang pria yang tidak lagi memiliki kemanusiaan—seorang pria yang akan membakar seluruh dunia hanya untuk memastikan istrinya tetap berada di dalam pelukannya yang berdarah.

​Ketegangan mencapai puncaknya! Arini kembali ke tangan sang tiran dalam kondisi yang paling tidak berdaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!