alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh lima
"Bertanyalah, apa yang ingin kamu ketahui dariku, aku janji akan menjawab jujur semua pertanyaanmu" alia membuka pembicaraan dengan tenang, duduknya yang anggun terlihat indah di mata langit.
"Dan kamu juga harus menepati janjimu kepadaku, kamu akan menghapus video itu"
Mata langit memicing, video apa maksud alia.
'Ahhh iya' tersentak langit teringat.
"Kemana ayah luka?"
Langit langsung bertanya hal yang sangat membuatnya penasaran dan setengah mati ingin tahu, Alia menarik nafasnya dengan berat, terdiam beberapa saat. Sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya saat ini harus segera ia tuntaskan, alia tak ingin lagi merahasiakannya.
"Ayah luka masih hidup.." alia membuka penjelasannya.
Terlihat langit sedikit tersentak, namun pria itu diam dengan tenang menunggu penjelasan alia dengan sabar.
"Pria itu masih hidup dan sehat-sehat saja, tapi dia tidak tahu kalau dia memiliki seorang putra".
Mata langit terbelalak kaget tak percaya, entah mengapa hatinya merasa ucapan alia barusan seakan-akan untuk dirinya, mata elang itu menelisik mata alia yang terlihat sendu.
"Luka adalah anak yang lahir, di saat aku belum siap menjadi seorang ibu, luka lahir dari duka yang ditorehkan seorang pria brengsek dalam hidupku..." alia berhenti sesaat, mengamati reaksi langit yang terlihat gelisah.
"tapi..walaupun dia hadir di saat aku belum siap,aku bahagia memiliki luka, sedikitpun tidak ada penyesalan dalam hidupku karena kehadirannya, satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupku adalah luka, satu-satunya manusia yang membuat aku rela mati adalah putraku" .
Langit terkesiap, matanya menatap tak percaya, bibir langit bergetar, langit menyugar rambutnya dan menghembuskan nafasnya yang terasa sesak, sorot mata alia semakin meyakinkan hatinya bahwa apa yang dipikirkannya selama ini benar.
"Si...siapa ayah luka?" Gugup langit bertanya, suaranya terdengar bergetar. Hatinya saat ini seperti mau meledak, sungguh ia tak tahu harus bagaimana jika dugaannya benar.
Alia menganggukkan kepalanya, matanya sudah berkabut.
"Luka..,luka itu putramu!" Jawab alia singkat.
Langit membeku, tubuhnya menegang. Mulutnya yang menganga tanpa mengeluarkan sepatah katapun, entah ia sadari atau tidak ujung matanya terlihat basah, langit benar-benar terkejut.
Hatinya saat ini membuncah indah, terkejut, bahagia, sakit, sungguh langit tak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaannya saat ini.
Dia sudah menduga kalau luka adalah putranya, kemiripan antara mereka tidak bisa disangkal, namun mendengar langsung dari mulut alia, entah mengapa rasanya sungguh tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
"Benarkah alia!, luka itu putraku?" Suara parau langit terdengar bergetar, air yang menggantung di sudut mata jatuh tanpa di sadarinya.
Alia terperanjat, sungguh ia tak menyangka pria di hadapannya ini bisa menangis, jujur hati alia merasa simpati ternyata pria di hadapannya ini juga manusia biasa.
"Luka anakku?, putraku? Benarkah alia, luka putraku?darah dagingku?" Pertanyaan itu terus menggema seakan langit ingin memastikannya berulang-ulang kali, ada rasa yang ingin meledak di hatinya saat ini.
"Dia anakmu langit, anak yang tidak ingin kamu akui, anak yang ingin kamu tolak kehadirannya"
Mata langit memicing, menatap alia dengan penuh tanya, ada rasa tidak suka menyelusup ke dalam hatinya mendengar ucapan alia yang terdengar bias.
"Apa maksudmu?, kenapa aku tidak menginginkannya?, mengapa kamu katakan aku menolaknya, sementara aku sama sekali tidak tahu tentang dia?" Sengit langit mencecar alia dengan pertanyaan-pertanyaan yang berulang.
"Tchhh"
Alia mendengus kesal, menghadirkan ketegangan sesaat di antara mereka, langit terlihat tersinggung, dengusan Alia terasa sangat melecehkan jiwa kejantanannya.
"Bukankah kamu tidak percaya aku hamil?, kamu meminta ibu tiriku melakukan tes dna untuk itu, dan kamu katakan kamu yakin aku hamil dengan pria lain, dan kehamilanku hanya untuk menjebakmu"
Mata langit membelalak lebar, terhenyak pria itu menatap alia terkejut.
"Kamu...kamu.. tahu darimana ucapan itu?" Tanya langit tergagap, tatapan mata alia yang menghunjam ke arahnya, menghadirkan denyut di jantungnya yang terasa sakit. Langit meraba jantungnya, sesak tiba-tiba menyerangnya.
"Kamu nggak perlu tahu aku tahu darimana, yang pasti aku tahu, kalau ternyata pria brengsek itu tidak menginginkan anak dalam kandungan—"
"Stop alia..hentikan." potong langit cepat menyela penjelasan alia.
Mata pria itu terlihat memerah, namun bukan karena amarah, alia merasa tatapan langit lebih ke merasa bersalah dan, sangat terkejut.
"Stop mengatakan aku pria brengsek, kumohon. Aku tahu kamu sangat membenciku, aku tahu kamu ingin melenyapkan aku dari hidupmu, tapi tolong, jangan ambil pernyataan dengan sudut pandangmu sendiri, dengarkan penjelasanku" pinta langit memohon dengan wajahnya yang terlihat frustasi.
"Tidak perlu langit.." tolak alia tegas menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak membutuhkannya"
"Arghhhhhh" langit mendesah frustasi, ia meremasi rambutnya. Matanya menatap penuh harap, namun alia tetap teguh dalam diamnya.
"Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun darimu langit, karena itu sudah tidak ada gunanya,Saat ini aku hanya tidak ingin memendam rahasia ini selamanya, bagaimana pun ada darahmu yang mengalir dalam tubuh putraku, dan kamu berhak tahu tentang itu"
Alia terlihat sangat tenang, ia mengamati pria di hadapannya yang terlihat sangat frustasi. Pria yang duduk di hadapan alia itu menatapnya tanpa jeda, ada harap dalam tatapan itu.
Alia merasa jengah, ada sesuatu yang mengalir di dalam. Yah di hatinya, alia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan untuk langit, rasa iba, tidak rasanya lebih dari itu, dan alia tidak menyukainya.
"Aku hanya menjawab pertanyaanmu langit!, pembicaraan kita ini tidak akan merubah apapun, bagi luka saat ini, kamu hanyalah seorang pria baik yang membelikannya banyak mainan, tidak lebih"
Ucapan tegas alia, lagi-lagi membuat jantung langit berdenyut sakit, hatinya berdarah. Ucapan wanita di hadapannya ini sungguh sangat menyakitkan.
Ada rasa tidak terima di hatinya, ingin rasanya langit memberontak. Ingin rasanya ia teriak mengatakan luka adalah putranya, miliknya. Namun langit berusaha tenang, ia ingin meraih hati alia bagaimanapun caranya.
"Jadi, apakah kamu pernah menikah?" Tanya langit mengalihkan pertanyaan, pembicaraan tentang luka akan semakin membuat hatinya sakit.
"Tidak, aku tidak pernah menikah" geleng alia
"Dan tidak akan pernah menikah"
Ada rasa yang sulit langit jelaskan, namun jawaban alia memberikannya setitik harapan, semoga saja.
"Lalu bara?"
Lanjut langit tenang, ia melihat alia sedikit terkejut, namun jawaban wanita itu membuat hati langit menghangat.
"Bagaimana aku bisa menerima perasaan pak bara, sementara dia adalah kakakmu....." alia terdiam sesaat, mata langit masih menatapnya penuh.
"Aku tidak mau berurusan dengan apapun yang berhubungan denganmu"
"Sebegitu bencinya kah, kamu padaku?" Bisik langit lirih nyaris tak terdengar, bisikan yang seakan di tujukan untuk dirinya sendiri.
"Maaf langit, aku memang membencimu, sangat. Walau aku tak tahu apakah benci ini akan tetap berada di hatiku atau tidak, tapi saat ini yah..aku sangat membencimu"
Jawaban alia yang terdengar datar dan tenang, sungguh menoreh luka yang berdarah di hati langit.
"Tidak bisakah kamu memaafkan aku alia" pinta langit dengan tatapan yang sangat mengiba.
Mata abu-abu langit terlihat sendu, tatapan sedih langit menembus hati alia, namun alia tetap menyangkalnya.
"Maaf, saat ini tidak bisa" geleng alia pelan.
Jawaban tegas alia memberi setitik harapan di hati langit. 'Saat ini tidak bisa' jawaban alia itu memberinya harapan bahwa ia memiliki kesempatan untuk meraih maaf dari wanita ini.
Wanita yang membuatnya selalu merasakan denyut sakit di jantungnya, wanita yang ia inginkan lebih dari wanita manapun. Wanita yang 'mungkin' ia cintai, karena langit tidak tahu sampai detik ini bagaimana rasanya cinta, langit tidak tahu apakah rasa yang ia punya untuk alia adalah cinta.
Namun yang pasti ia ingin memiliki wanita yang menjadi ibu dari putra yang tiba-tiba ia miliki ini. Sungguh langit ingin meraih hati alia, ia ingin mendapatkan maaf dari wanita ini, sungguh langit ingin memiliki alia.
Bersambung...