NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Cinta Dan persahabatan

Di sebuah rumah sederhana di Eromoko yang mulai menggeliat bangun, Abimanyu juga sedang berbaring di tempat tidurnya. Cahaya rembulan yang perlahan memudar digantikan semburat jingga dari ufuk timur, menerangi wajahnya yang tampak bahagia. Ia sedang memandangi ponselnya dengan senyum malu-malu. Notifikasi pesan dari Sekar Arum baru saja muncul di layar ponselnya. Dengan jantung berdebar, Abimanyu membuka pesan tersebut dan membacanya berulang-ulang.

"Selamat pagi, Abimanyu. Makasih ya buat semalam. Semoga hari ini menyenangkan!"

Abimanyu merasa bahagia dan berbunga-bunga mendapatkan pesan dari Sekar Arum. Ia tidak menyangka bahwa Sekar Arum akan mengiriminya pesan setelah mengantarkannya pulang tadi malam. Ia merasa ada harapan untuk mendekati Sekar Arum lebih jauh lagi.

Eromoko yang biasanya tenang, kini terasa lebih istimewa di hati Abimanyu. Ia membayangkan Sekar Arum juga sedang tersenyum di kamarnya, di Plumbon yang hanya berjarak beberapa kilometer. Ia merasa ada ikatan yang menghubungkan mereka, meskipun hanya sebatas pesan singkat.

Dengan senyum lebar, Abimanyu membalas pesan Sekar Arum:

"Selamat pagi juga, Sekar. Sama-sama. Kamu juga ya, semoga hari ini menyenangkan!"

Setelah mengirim pesan balasan, Abimanyu menyimpan ponselnya di samping bantal. Ia memejamkan matanya dan membayangkan wajah Sekar Arum yang tersenyum. Ia merasa bersemangat untuk menjalani hari ini. Ia berharap bisa bertemu lagi dengan Sekar Arum di sekolah dan melanjutkan percakapan mereka yang tertunda.

Suara adzan subuh dari masjid di dekat rumahnya memecah keheningan pagi di Eromoko. Mentari pagi mulai menyinari kamarnya, membangunkan Abimanyu dari lamunannya. Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan diri, dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

Sebelum berangkat, Abimanyu menyempatkan diri untuk membantu ibunya menyiram tanaman di halaman rumah. Sambil mengamati hijaunya padi yang mulai tumbuh di sawah sekitar rumahnya, ia tersenyum sendiri mengingat kejadian semalam. Ia merasa bahwa Eromoko, dengan segala kesederhanaannya, adalah tempat yang tepat untuk memulai kisah cintanya dengan Sekar Arum.

Hari ini, Abimanyu merasa ada sesuatu yang berbeda. Ia merasa lebih percaya diri dan bersemangat untuk meraih mimpinya. Ia merasa bahwa kisah hidupnya baru saja dimulai di Eromoko yang tenang dan damai.

Sesampainya di sekolah, Abimanyu tidak seperti biasanya. Jika hari-hari sebelumnya ia lebih suka menyendiri di kelas sambil membaca buku, kali ini ia bertekad untuk mencari Sekar Arum. Ia ingin menyapanya, bertukar senyum, dan mungkin melanjutkan percakapan mereka tentang wayang.

Abimanyu berjalan menyusuri koridor sekolah, matanya mencari-cari sosok Sekar Arum. Ia melihat beberapa teman sekelasnya, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Sekar Arum. Ia mulai merasa sedikit kecewa.

"Mungkin dia belum datang," gumam Abimanyu dalam hati.

Namun, Abimanyu tidak menyerah. Ia memutuskan untuk pergi ke taman belakang sekolah, tempat yang sering menjadi tempat berkumpul para siswa sebelum bel masuk berbunyi.

Saat tiba di taman belakang sekolah, Abimanyu melihat Sekar Arum sedang duduk di salah satu bangku taman, dikelilingi oleh Rini dan Sinta. Jantung Abimanyu berdegup kencang. Inilah saatnya.

Dengan langkah yang sedikit gugup, namun berusaha terlihat tenang, Abimanyu mendekati mereka.

"Selamat pagi, Sekar," sapa Abimanyu dengan senyum yang dipaksakan.

Sekar Arum menoleh dan matanya berbinar saat melihat Abimanyu. "Selamat pagi, Abimanyu!" balas Sekar Arum dengan senyum yang jauh lebih cerah. "Wah, tumben pagi-pagi udah di sini. Ada apa?"

"Enggak... cuma pengen nyapa aja," jawab Abimanyu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa sedikit canggung, meskipun ia sudah sering melihat Sekar Arum di sekolah.

"Tumben nyamperin kita di sini, Abi," kata Sekar Arum sambil tersenyum. "Biasanya kan kamu langsung ngilang di kelas."

"Pengen cari suasana baru aja," jawab Abimanyu singkat. Ia melirik Rini dan Sinta, teman dekat Sekar Arum yang selalu bersamanya. Ia sudah sering melihat mereka, tapi tidak terlalu akrab.

"Hai, Abi," sapa Rini ramah.

"Hai," balas Abimanyu singkat.

Sinta hanya tersenyum tipis pada Abimanyu, tatapannya tidak seceria Rini. Ia memang sudah lama memperhatikan Abimanyu, tapi ia selalu ragu untuk mendekatinya. Ia tahu Sekar Arum juga dekat dengan Abimanyu, dan ia tidak ingin merusak persahabatan mereka.

"Jadi, gimana semalam? Seru nggak nonton wayangnya?" tanya Rini antusias.

"Seru banget!" jawab Sekar Arum dengan mata berbinar. "Ki Bimo Samudra emang dalang yang hebat."

"Iya, aku juga suka banget sama ceritanya," timpal Abimanyu. Ia merasa senang bisa berbagi minat yang sama dengan Sekar Arum.

Sinta hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Ia merasa sedikit iri dengan kedekatan antara Sekar Arum dan Abimanyu. Ia ingin sekali ikut terlibat dalam percakapan mereka, tapi ia tidak tahu harus berkata apa.

"Eh, udah bel tuh!" seru Sinta tiba-tiba, memecah suasana yang mulai terasa hangat. Ia sengaja mengatakan itu karena ia merasa tidak nyaman melihat kedekatan antara Sekar Arum dan Abimanyu.

"Yuk, masuk kelas," ajak Sinta dengan nada yang sedikit dingin.

"Yuk," jawab Rini dan Sekar Arum serempak.

"Duluan ya, Abi," kata Sekar Arum sambil tersenyum manis pada Abimanyu.

"Oke, Sekar. Sampai ketemu nanti," balas Abimanyu. Ia merasa sedikit kecewa karena percakapan mereka harus berakhir secepat ini.

Sambil berjalan menuju kelas, Sinta memasang wajah datar. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Ia tahu, ia tidak punya hak untuk melarang Sekar Arum dekat dengan Abimanyu. Tapi, ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa sakit hati.

Di dalam kelas, Sinta duduk di mejanya dengan pikiran yang kalut. Ia terus memikirkan Abimanyu dan Sekar Arum. Ia merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu sebelum terlambat. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati Abimanyu.

... "Aku harus gimana?" gumam Sinta dalam hati. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha mencari solusi.

Di sisi lain kelas, Sekar Arum sedang tersenyum-senyum sendiri sambil memikirkan Abimanyu. Ia merasa senang karena Abimanyu ternyata memiliki minat yang sama dengannya terhadap wayang. Ia juga merasa nyaman saat berbicara dengan Abimanyu.

"Kayaknya aku mulai suka sama Abimanyu," pikir Sekar Arum dalam hati.

Namun, Sekar Arum juga merasa sedikit khawatir. Ia tahu Sinta juga dekat dengan Abimanyu. Ia tidak ingin persahabatannya dengan Sinta rusak karena masalah cinta.

"Aku harus bicara sama Sinta," pikir Sekar Arum dalam hati.

Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah lamunan Sinta dan Sekar Arum.

"Ke kantin yuk, Sin," ajak Rini sambil menepuk pundak Sinta.

"Eh, kalian duluan aja deh. Aku lagi nggak pengen makan," jawab Sinta dengan nada lesu.

"Kamu kenapa, Sin? Kok kayaknya dari tadi murung terus?" tanya Rini khawatir.

"Nggak apa-apa kok, Rin. Aku cuma lagi nggak enak badan aja," jawab Sinta berbohong.

"Ya udah, kalau gitu aku temenin kamu di sini aja," kata Rini.

"Nggak usah, Rin. Kamu ke kantin aja sama Sekar. Aku pengen sendiri dulu," kata Sinta.

"Beneran nggak apa-apa?" tanya Rini memastikan.

"Iya, beneran. Udah sana, gih," jawab Sinta sambil tersenyum tipis.

Rini akhirnya mengangguk dan pergi ke kantin bersama Sekar Arum.

Setelah Rini pergi, Sinta menghela napas panjang. Ia mengeluarkan buku catatan dari tasnya dan mulai menulis sesuatu. Ia menulis tentang perasaannya pada Abimanyu, tentang kekhawatirannya, dan tentang rencananya.

Sementara itu, di kantin, Sekar Arum terus memikirkan Sinta. Ia merasa bersalah karena telah membuat Sinta merasa tidak nyaman.

"Rin, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," kata Sekar Arum pada Rini.

"Ngomong apa?" tanya Rini sambil mengunyah makanannya.

"Aku... aku kayaknya ada rasa sama Abimanyu," jawab Sekar Arum dengan nada pelan.

Rini tersedak mendengar ucapan Sekar Arum. "Ha?! Serius kamu?" tanyanya kaget.

Sekar Arum mengangguk. "Tapi aku nggak enak sama Sinta. Aku tahu dia juga suka sama Abimanyu."

"Waduh, gawat nih," kata Rini sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Terus kamu mau gimana?"

"Aku nggak tahu, Rin," jawab Sekar Arum dengan bingung. "Aku nggak mau persahabatan kita rusak karena cowok. Tapi aku juga nggak bisa bohong sama perasaanku sendiri."

"Hmm... gini aja deh," kata Rini setelah berpikir sejenak. "Gimana kalau kamu coba jauhin Abimanyu dulu? Biar Sinta nggak merasa tersaingi. Kalau emang Abimanyu jodohmu, dia pasti akan balik lagi kok."

Sekar Arum terdiam mendengar saran Rini. Ia tahu Rini benar. Persahabatannya dengan Sinta lebih penting daripada apapun.

"Iya, Rin. Kamu bener," kata Sekar Arum akhirnya. "Aku akan coba jauhin Abimanyu."

Setelah menghabiskan makan siangnya, Sekar Arum mengajak Rini kembali ke kelas. Ia sudah tidak sabar untuk berbicara dengan Sinta dan mengatakan keputusannya.

Sesampainya di kelas, Sekar Arum melihat Sinta sedang duduk di mejanya sambil menulis sesuatu di buku catatannya. Sekar Arum menarik napas dalam-dalam dan mendekati Sinta.

"Sin, aku boleh ngomong sesuatu sama kamu?" tanya Sekar Arum dengan hati-hati.

Sinta mendongak dan menatap Sekar Arum dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mau ngomong apa?" tanyanya dengan nada datar.

Sekar Arum duduk di kursi di samping Sinta. "Aku... aku mau minta maaf soal tadi pagi," kata Sekar Arum dengan nada menyesal. "Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman."

Sinta terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Aku yang seharusnya minta maaf," katanya dengan suara pelan. "Aku tahu kamu suka sama Abimanyu, dan aku nggak seharusnya marah sama kamu."

Sekar Arum terkejut mendengar ucapan Sinta. Ia tidak menyangka Sinta akan bersikap begitu dewasa.

"Aku juga ada rasa sama Abi, Sin," Sekar Arum mengakui dengan jujur. "Tapi aku nggak mau persahabatan kita rusak karena cowok. Kamu jauh lebih berharga dari apapun."

Sinta menatap Sekar Arum dengan tatapan sendu. "Aku tahu," katanya lirih.

"Makanya... aku udah putusin buat jauhin Abi," kata Sekar Arum. "Aku nggak mau ada tembok di antara kita."

Sinta mendongak, terkejut. "Kamu yakin, Sekar?"

Sekar Arum mengangguk mantap, meski dalam hatinya terasa sakit. "Aku yakin. Persahabatan kita lebih penting," katanya sambil tersenyum tulus.

Sinta balas tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Makasih, Sekar. Kamu emang sahabat terbaik."

Bel masuk berdering. Keduanya saling berpandangan dan tersenyum, seolah ada janji tak terucap di antara mereka. Hari itu, Abimanyu tidak lagi menjadi topik pembicaraan. Yang ada hanyalah persahabatan yang mereka jaga

Setelah bel masuk berbunyi, mereka berdua kembali fokus pada pelajaran, meski pikiran mereka masih sedikit terganggu. Sekar Arum sesekali melirik ke arah Sinta, memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. Sinta pun membalas tatapan Sekar Arum dengan senyuman kecil, seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, di balik senyuman itu, Sinta menyimpan sebuah rencana. Ia tahu, Sekar Arum telah berkorban besar untuknya. Ia merasa bersalah karena telah membuat Sekar Arum harus mengorbankan perasaannya. Ia ingin membalas kebaikan Sekar Arum, meskipun ia tidak tahu bagaimana caranya.

Saat pulang sekolah, Sinta mengajak Sekar Arum untuk pergi ke toko buku.

"Aku pengen beli novel baru," kata Sinta sambil tersenyum. "Kamu mau ikut?"

"Boleh deh," jawab Sekar Arum sambil mengangguk. Ia senang bisa menghabiskan waktu bersama Sinta setelah kejadian tadi pagi.

Sesampainya di toko buku, Sinta langsung menuju rak novel. Ia memilih beberapa novel yang menarik perhatiannya, lalu mengajak Sekar Arum untuk melihat-lihat buku yang lain.

Saat sedang melihat-lihat buku, Sinta tiba-tiba berhenti di depan rak buku tentang motivasi dan pengembangan diri. Ia mengambil sebuah buku berjudul "Berani Bermimpi" dan menunjukkannya pada Sekar Arum.

"Aku rasa buku ini cocok buat kamu," kata Sinta sambil tersenyum misterius.

Sekar Arum mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Sinta. "Maksud kamu?" tanyanya.

"Kamu kan suka sama Abimanyu," kata Sinta dengan nada menggoda. "Kenapa kamu nggak berani ngedeketin dia? Kamu harus berani bermimpi dan meraih apa yang kamu inginkan."

Sekar Arum terkejut mendengar ucapan Sinta. Ia tidak menyangka Sinta akan mengatakan hal itu setelah ia memutuskan untuk menjauhi Abimanyu.

"Tapi kan aku udah janji sama kamu," kata Sekar Arum dengan nada bingung. "Aku nggak mau persahabatan kita rusak karena cowok."

Sinta tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku udah berubah pikiran," katanya. "Aku nggak mau kamu mengorbankan kebahagiaan kamu demi aku. Kamu berhak mendapatkan apa yang kamu inginkan."

"Tapi... tapi aku takut kamu sakit hati," kata Sekar Arum dengan ragu.

"Aku nggak akan sakit hati," jawab Sinta dengan yakin. "Aku percaya, kalau emang Abimanyu jodohmu, dia pasti akan jadi milikmu. Aku akan selalu dukung kamu, apapun yang terjadi."

Sekar Arum terharu mendengar ucapan Sinta. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Sinta.

"Makasih ya, Sin," kata Sekar Arum sambil memeluk Sinta erat. "Kamu emang sahabat terbaikku.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!