Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi dengan Roh
Setelah tidur singkat namun berkualitas, Freen terbangun saat bus mulai memasuki pinggiran Ibu Kota yang padat. Nam sudah menyingkirkan laptop dan menatap Freen dengan mata berbinar-binar penuh informasi.
"Aku sudah dapatkan semua yang kita butuhkan, Freen," kata Nam, nadanya penuh percaya diri.
"Riset menunjukkan bahwa ada dua jenis ritual yang sering dilakukan untuk menenangkan roh leluhur yang makamnya terganggu. Pertama, ritual permohonan maaf dan penanaman kembali (re-internment) jenazah di tempat yang layak. Kedua, yang lebih cepat dan sering digunakan pengusaha, adalah ritual persembahan khusus yang dilakukan oleh biksu berpangkat tinggi langsung di lokasi proyek, yang intinya meminta izin spiritual untuk melanjutkan pembangunan, dengan janji sumbangan besar untuk komunitas spiritual setempat."
"Kedengarannya bagus. Opsi kedua adalah yang akan disukai Tuan Vongrak," Freen mengangguk, melirik ke luar jendela. Gedung-gedung pencakar langit mulai mendominasi pandangan.
"Tapi ada masalah, Freen," lanjut Nam, wajahnya kembali serius.
"Ritual persembahan itu hanya akan berhasil jika pelaksana ritualnya benar-benar bersih dan memiliki kekuatan spiritual yang tinggi. Jika tidak, roh-roh itu akan semakin marah. Artinya, kau harus tampil sempurna."
Freen menyentuh Mustika Merah Delima di balik kausnya. "Aku akan melakukannya. Aku punya jimat dari paranormal Jawa dan misi dari dewi Thailand. Aku akan meyakinkan mereka."
Bus akhirnya berhenti di terminal besar Ibu Kota. Freen dan Nam turun, hiruk pikuk kota besar langsung menyambut mereka dengan kebisingan dan polusi. Mereka segera memesan taksi online menuju alamat yang diberikan Matahari—sebuah kawasan elit di jantung kota.
Setengah jam kemudian, taksi itu berhenti di depan sebuah rumah mewah yang dikelilingi pagar tinggi dan gerbang elektronik yang megah. Rumah Keluarga Vongrak.
Freen merapikan jaketnya. Ia memastikan penampilannya tidak terlihat lelah sama sekali. Ia memasang ekspresi tenang, penuh wibawa, seperti yang sering ia latih saat akan menipu klien.
Kali ini, ia tidak menipu; ia hanya meyakinkan mereka tentang kebenaran yang ia lihat.
Mereka menekan bel. Tak lama kemudian, gerbang terbuka, dan seorang petugas keamanan mempersilakan mereka masuk.
Mereka disambut di ruang tamu yang luas dan dingin. Beberapa saat kemudian, Tuan Vongrak dan Nyonya Vongrak masuk. Tuan Vongrak adalah pria paruh baya dengan setelan mahal yang tampak stres, sementara Nyonya Vongrak adalah wanita yang elegan namun matanya terlihat sangat khawatir.
"Selamat siang, Nona Freen,"sapa Tuan Vongrak, suaranya tebal dan berkuasa, tetapi ada nada putus asa di sana.
"Kami sangat lega Anda bisa datang. Utusan kami, Nona Matahari, meyakinkan kami bahwa Anda adalah satu-satunya yang bisa membantu putri kami."
Freen tidak membuang waktu. Ia berdiri, tatapannya tajam menembus.
"Tuan dan Nyonya Vongrak," ujar Freen dengan suara yang rendah dan penuh wibawa, didukung oleh aura Mustika Merah Delima.
"Saya Freen Sarocha, dan ini asisten riset saya. Kita tidak perlu basa-basi. Saya tahu apa yang menimpa putri Anda."
Freen menarik napas. "Putri Anda, Rebecca, tidak menderita kelainan medis. Dia sedang diserang oleh Roh Leluhur dari tanah yang Anda gunakan untuk pembangunan proyek di perbatasan kota. Roh-roh itu marah karena kedamaian mereka terganggu, dan karena tidak bisa menyerang Anda, mereka menjadikan putri Anda sebagai target serangan spiritual. Ini adalah Karma yang harus dibayar."
Wajah Tuan Vongrak langsung memerah, terlihat marah karena rahasia lamanya diungkit. Tetapi Nyonya Vongrak justru terkejut, air mata langsung menggenang di matanya.
"Benar... apa yang harus kami lakukan, Nona Freen?" bisik Nyonya Vongrak, putus asa.
"Ada dua hal yang harus dilakukan," kata Freen, beralih ke Tuan Vongrak.
"Pertama, saya membutuhkan akses penuh ke putri Anda untuk melakukan penyembuhan spiritual. Kedua, Anda harus segera melakukan Ritual Persembahan dan Permintaan Maaf besar-besaran di lokasi proyek. Anda harus segera menenangkan roh-roh itu sebelum mereka membawa putri Anda pergi selamanya. Uang, Tuan Vongrak, tidak akan bisa membeli kedamaian arwah."
Tuan Vongrak menatap Freen dengan campuran ketidakpercayaan, kemarahan, dan ketakutan. Freen tahu, pertarungan negosiasi yang sebenarnya baru saja dimulai.
Dia harus memenangkan kepercayaan mereka, demi Rebecca, demi bayarannya, dan demi takdir yang diberikan Mae Nakha.
Tuan Vongrak bangkit dari kursinya, tangannya mengepal di samping tubuh. Wajahnya yang tegang menunjukkan perlawanan keras.
"Nona Freen, saya menghargai keahlian spiritual Anda, tetapi saya tidak suka dituduh. Saya memenangkan tanah itu secara legal. Dan saya tidak akan menghentikan proyek bernilai miliaran hanya karena Anda menyebut-nyebut 'roh leluhur' dan 'karma'!" Tuan Vongrak menyentakkan kata-kata itu, suaranya dipenuhi amarah.
Freen tetap tenang. Ia tidak gentar, mengingat dia sudah berhadapan langsung dengan hantu yang menembakinya. Mustika Merah Delima memberinya ketenangan yang dibutuhkan.
"Tuan Vongrak," balas Freen dengan nada yang tidak terpengaruh.
"Saya tidak meminta Anda menghentikan proyek Anda. Saya meminta Anda mengutamakan nyawa putri Anda. Kelemahan putri Anda, halusinasi parah, dan demamnya adalah tanda bahwa energi spiritualnya terkuras habis. Jika Anda tidak bertindak dalam 48 jam, roh-roh itu akan menariknya ke dimensi mereka. Tidak ada uang yang bisa mengembalikannya."
Freen lalu menggunakan trik psikologisnya yang lama, tetapi kali ini diperkuat oleh mata batinnya. Ia menatap lurus ke mata Tuan Vongrak.
"Anda sendiri tahu kebenarannya, Tuan. Anda pasti sering mimpi buruk tentang tanah itu, bukan? Atau mungkin Anda sering merasa kedinginan di sudut rumah yang seharusnya hangat. Mereka mengawasi Anda."
Tuan Vongrak terdiam. Keningnya berkerut, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya. Reaksi ini menguatkan dugaan Freen.
Nyonya Vongrak, yang sudah lama mencari solusi, langsung memohon.
"Sayang, Freen benar. Kita sudah ke mana-mana, tapi tidak ada yang bisa menjelaskan ini! Kita harus mencoba. Apa yang harus kita lakukan, Nona Freen?"
Freen mengalihkan fokusnya ke Nyonya Vongrak, menanggapi keputusasaannya.
"Nyonya, kita akan melakukan dua hal secara paralel. Nam," Freen menoleh ke asisten risetnya, "berikan Tuan Vongrak detail mengenai Ritual Persembahan dan Permintaan Maaf yang harus segera dilakukan di lokasi proyek besok pagi. Itu harus dilakukan oleh Biksu berpangkat, dengan sumbangan besar untuk menenangkan para leluhur."
Nam langsung mengeluarkan buku catatan dan tablet-nya, beralih ke mode profesional. Tuan Vongrak, meskipun masih marah, mulai mendengarkan detail biaya dan logistik.
"Dan saya," lanjut Freen, berdiri tegak, "akan segera menuju kamar Rebecca. Saya harus membersihkan energi jahat yang mengikat jiwanya. Saya akan mengunci diri di kamar bersamanya, saya butuh air bersih, garam kasar, dan beberapa helai bunga mawar putih. Jangan ada yang mengganggu kami selama enam jam ke depan."
Nyonya Vongrak bergidik tetapi mengangguk patuh.
"Tentu, Nona. Saya akan siapkan semuanya. Kamarnya ada di lantai atas."
Freen tahu, ritual di kamar Rebecca akan menjadi pertarungan yang sesungguhnya. Ia harus menghadapi roh-roh leluhur yang marah itu sendirian, di sarang mereka—tubuh Rebecca.
"Tunjukkan saya kamarnya, Nyonya Vongrak," kata Freen.
Ia memegang Mustika Merah Delima di balik kausnya, mengambil napas dalam-dalam.
Misi penyelamatan Rebecca Vongrak telah dimulai, dan Freen Sarocha bersiap untuk menghadapi musuh yang jauh lebih kuat daripada yang pernah ia temui.
Freen mengikuti Nyonya Vongrak menaiki tangga marmer menuju kamar Rebecca di lantai atas. Semakin dekat mereka ke kamar itu, semakin dingin udara yang Freen rasakan, meskipun pendingin ruangan menyala penuh. Mata batin Freen menunjukkan bahwa kamar itu diselimuti oleh kabut abu-abu tebal yang bergerak-gerak.
"Ini kamarnya, Nona Freen. Semua sudah disiapkan. Air, garam, mawar putih..." bisik Nyonya Vongrak dengan mata berlinang.
"Tolong selamatkan putri saya."
Freen mengangguk, meyakinkan. "Kunci pintu dari luar, Nyonya Vongrak. Dan jangan biarkan siapa pun mengganggu. Enam jam."
Begitu Nyonya Vongrak pergi, Freen mengunci pintu dari dalam. Kamar Rebecca mewah, tetapi terasa menindas. Rebecca terbaring lemah di tempat tidur besar, kulitnya pucat kehijauan, dan matanya tertutup rapat.
Gadis itu tampak tidak bergerak, tetapi Freen bisa melihat dengan jelas: di sekitar tubuh Rebecca, melayang tiga sosok bayangan kuno, berpakaian seperti bangsawan kuno, wajah mereka terdistorsi oleh kemarahan. Mereka mengikat Rebecca dengan rantai spiritual transparan yang menarik energinya.
Tiga roh leluhur tingkat tinggi. Ini bukan lelucon. Mereka benar-benar mengincar jiwanya.
Freen merasa gentar. Inilah 'perang spiritual' yang dimaksud Matahari.
Batin Freen menggerutu, "Manajer, harusnya kamu bantu aku di sini. Sebagai manajer, harusnya kamu bisa menjadi saksi negosiator dengan sesama hantu."
Tiba-tiba, suara Mae Nakha, dingin dan tajam, menyambar di benak Freen.
"Tidak. Negosiasi hanya untuk manusia. Roh-roh ini tidak akan mendengarkanku. Mereka marah pada keturunan Tuan Vongrak. Kau punya Mustika Merah Delima. Gunakan itu. Mustika itu adalah wewenangmu di dimensi ini. Buktikan kenapa kau adalah alat yang kupilih."
Freen menghela napas pasrah. Ia sendirian.
Freen segera mengambil air, menuangkan garam kasar ke dalamnya, dan merendam kelopak mawar putih. Ia meletakkan mustika Merah Delima di tengah dahi Rebecca yang demam.
Saat mustika itu menyentuh kulit Rebecca, terjadi reaksi instan. Ketiga roh leluhur itu berteriak nyaring—suara melengking yang hanya bisa didengar Freen—dan mereka mundur sedikit, terkejut oleh energi protektif batu itu.
Freen berdiri tegak, membiarkan wibawa Mustika Merah Delima menutupi dirinya.
"Aku datang bukan sebagai musuh," kata Freen dengan suara lantang, ditujukan pada ketiga roh itu.
"Aku adalah utusan yang datang untuk menawarkan perdamaian."
Salah satu roh, yang paling tua dan marah, maju mendekat.
"Diam, Manusia! Keturunan ini harus membayar kehancuran makam kami! Kami akan mengambil yang paling berharga darinya!"
"Dia tidak bersalah!" balas Freen.
"Dia hanya korban dari kesalahan ayahnya. Ayahnya sudah setuju untuk melakukan Ritual Persembahan dan Permintaan Maaf di lokasi makam besok pagi, dengan sumbangan besar untuk menebus dosanya."
Roh itu tertawa serak. "Kami tidak butuh uangnya! Kami butuh keadilan! Kami mau proyek itu dihentikan! Kami mau makam kami dipulihkan!"
Freen tahu, ia tidak bisa menghentikan proyek itu. Ia harus meyakinkan mereka bahwa pertukaran yang lebih baik sedang terjadi.
Freen mengangkat tangan kanannya, memegang segelas air garam.
"Ritual besok adalah awal dari pemulihan nama baik leluhur kalian. Tapi jika kalian melukai gadis ini, kalian melanggar hukum spiritual! Kalian akan menjadi roh gentayangan yang terikat pada dendam! Kalian akan kehilangan kesempatan untuk berdamai dan mendapatkan tempat yang layak!"
Freen mengayunkan air garam itu ke arah roh-roh tersebut. Percikan air suci itu terasa seperti api bagi mereka, membuat mereka meraung dan mundur semakin jauh.
"Mustika ini adalah saksi. Jika kalian berjanji untuk melepaskannya sekarang, dan menunggu hasil ritual besok, kalian akan mendapatkan kedamaian. Jika kalian menolak, Mustika ini akan melenyapkan kalian dari tubuhnya, tetapi kalian akan kehilangan kesempatan untuk berdamai dengan keturunan kalian!" ancam Freen, memasang ekspresi paling meyakinkan yang pernah ia miliki.
Ketiga roh itu saling pandang, keraguan muncul di wajah mereka yang marah. Mereka tahu, jika mustika itu benar-benar melenyapkan mereka, mereka akan selamanya tersesat.
Akhirnya, roh tertua itu mundur sepenuhnya. "Baiklah, Manusia. Kami akan menunggumu. Jangan khianati janji perdamaian ini. Jika ritual itu gagal, kami akan kembali. Dan kau, Freen Sarocha, akan menjadi yang pertama kami bawa!"
Freen menghela napas lega. "Janji itu akan dipenuhi."
Begitu roh-roh itu melesat keluar dari kamar, rantai spiritual yang mengikat Rebecca terlepas. Kulit Rebecca yang tadinya pucat mulai kembali normal, napasnya melambat, dan ketegangan di wajahnya menghilang.
Freen ambruk di lantai, kelelahan mental. Energi yang ia keluarkan sangat besar. Ia meraih handphone dan mengetik pesan cepat kepada Nam: "Rebecca stabil. Persiapkan ritual besok. Ini perang spiritual, Nam. Kita hampir kalah."
Misi tahap pertama selesai. Sekarang, Freen harus memastikan Tuan Vongrak memenuhi janji ritual besok pagi.