Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Memburu Hantu
"Matikan musiknya! Bubar semua! Kembali kerja!"
Teriakan Kairo memecahkan suasana pesta yang baru saja akan dimulai di lobi kantor pusat Diwantara Group. Para karyawan yang sudah memegang gelas sirup dan kue bolu perayaan langsung terdiam kaku.
Senyum mereka lenyap seketika. Konfeti yang baru diletupkan mendarat menyedihkan di lantai marmer, kontras dengan wajah bos besar mereka yang gelap gulita.
Kairo berjalan cepat melewati kerumunan staf yang ketakutan. Dia tidak terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan proyek dua triliun rupiah. Dia terlihat seperti jenderal perang yang baru saja mencium bau pengkhianat di kampnya sendiri.
"Reza! Panggil Kepala IT dan Kepala Intelijen Bisnis ke ruangan saya. Sekarang!" perintah Kairo tanpa menoleh.
"Ta... tapi Pak, kita kan baru menang..." cicit Reza yang tergopoh-gopoh mengekor di belakang. "Direksi mau adakan syukuran..."
"Persetan dengan syukuran!" bentak Kairo. Dia membanting pintu ruangannya hingga kaca bergetar.
Lima menit kemudian, tiga orang pria berpakaian rapi berdiri tegang di depan meja kerja Kairo. Mereka adalah orang-orang kepercayaan di lingkaran dalam Diwantara Group: Reza, Pak Teguh (Kepala IT), dan Pak Bagas (Kepala Intelijen Bisnis).
Kairo melemparkan jasnya ke sofa dan melonggarkan dasinya dengan kasar. Tatapannya menusuk ketiga bawahannya.
"Kalian pikir kita menang karena kita hebat?" tanya Kairo sinis.
Tidak ada yang berani menjawab. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan.
"Kita menang karena musuh kita bunuh diri," jawab Kairo sendiri. "Gunawan itu bodoh, tapi dia tidak kreatif. Strategi 'Subsidi Silang' yang dipakai PT. Megah tadi... itu bukan karya Gunawan. Itu terlalu canggih, terlalu rapi, dan terlalu... jahat."
Kairo berjalan memutari mejanya, lalu menyalakan layar proyektor. Dia menampilkan salinan dokumen penawaran PT. Megah yang sempat difoto diam-diam oleh Reza.
"Lihat ini," tunjuk Kairo pada tabel angka. "Konsultan yang membuat ini tahu persis celah akuntansi. Tapi yang lebih mengerikan, dia tahu persis soal Peraturan Menteri Nomor 45."
"Maksud Bapak?" tanya Pak Bagas bingung. "Kalau dia tahu aturannya, kenapa dia malah menyuruh Gunawan melanggarnya?"
"Itulah poinnya, Bagas!" Kairo menggebrak meja. Matanya menyala penuh obsesi. "Ini bukan kesalahan hitung. Ini sabotase."
Kairo mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah sedang menceritakan cerita hantu.
"Orang bernama 'EL' ini sengaja merancang proposal yang terlihat sangat menguntungkan, sangat logis, tapi punya satu cacat fatal yang akan memicu alarm sistem kementerian. Dia memberi Gunawan harapan palsu setinggi langit, lalu menjatuhkannya tepat di garis finis."
Kairo menegakkan tubuh, tangannya mengepal.
"Gunawan hancur. Di-blacklist dua tahun. Rugi miliaran. Dan siapa yang diuntungkan? Kita."
"Berarti EL ini orang baik dong, Pak?" tanya Reza polos. "Mungkin dia fans Bapak?"
"Jangan naif, Reza," potong Kairo dingin. "Di dunia bisnis tidak ada fans. Yang ada cuma kepentingan. Hari ini dia menghancurkan Gunawan untuk kita. Besok? Bisa jadi dia disewa orang lain untuk menghancurkan kita dengan cara yang sama."
Kairo merasakan bulu kuduknya meremang. Dia merasa ada predator lain di hutan belantara bisnis Jakarta ini. Predator yang tidak terlihat, tidak bersuara, tapi gigitannya mematikan.
"EL ini berbahaya," simpul Kairo serius. "Dia jenius, dia licik, dan dia tidak punya loyalitas. Kalau dia ada di pihak musuh, kita mati. Kalau dia ada di pihak kita, kita raja."
Dia menatap Pak Teguh, Kepala IT-nya. "Teguh. Kau jagoan cyber security, kan?"
"Siap, Pak."
"Lacak dia," perintah Kairo mutlak. "Aku tidak peduli caranya. Masuk ke Dark Web, retas forum ilegal, bayar informan. Cari tahu siapa di balik akun 'EL' ini. Aku mau nama asli, alamat, dan nomor sepatu kalau perlu."
"Siap laksanakan, Pak. Kami akan mulai crawling data sekarang juga."
"Pergi. Jangan kembali sebelum bawa hasil."
Ketiga bawahannya bubar jalan, lari terbirit-birit keluar ruangan. Kairo tinggal sendirian di ruangannya yang luas dan sunyi. Dia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke gedung pencakar langit Jakarta, menatap kota di bawah sana.
"Siapa kau..." bisik Kairo pada kaca jendela. "Siapa kau sebenarnya, EL?"
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di kawasan Kuningan, suasananya jauh berbeda. Di sini tenang, sejuk, dan damai.
Elena duduk santai di kursi kerjanya yang ergonomis. Kakinya yang jenjang disilangkan di atas meja, sementara tangannya memegang segelas latte hangat. Matanya menatap layar monitor yang menampilkan berita online.
HEADLINE: DIWANTARA GROUP MENANGKAN TENDER TOL. PT. MEGAH DIDISKUALIFIKASI AKIBAT DUGAAN PREDATORY PRICING.
Elena tersenyum puas. Senyum seorang dalang yang sukses mementaskan wayangnya.
"Skor sempurna," gumam Elena.
Dia membuka tab lain di browser-nya: Halaman bank offshore di Kepulauan Cayman. Saldo di sana bertambah manis. Lima ratus juta rupiah—bayaran dari Gunawan yang bodoh—sudah aman tersimpan dan terkonversi menjadi Dolar.
"Mari kita hitung," Elena bicara sendiri seperti orang gila yang jenius. "Satu: Aku dapat lima ratus juta tunai dari Gunawan. Uang jajan aman. Dua: Suamiku menang tender dua triliun. Artinya posisi dia sebagai CEO aman, harga saham naik, dan statusku sebagai Nyonya Diwantara makin kokoh. Fasilitas kartu kredit unlimited tetap jalan."
Dia menyesap kopinya lagi. "Tiga: Gunawan, musuh bebuyutan suamiku, hancur lebur dan tidak bisa mengganggu kami selama dua tahun."
Elena tertawa kecil. "Ini yang namanya Win-Win Solution. Atau lebih tepatnya, Elena-Wins-Everything Solution."
Dia menutup laptopnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Gunawan itu serakah dan jahat, dia pantas mendapatkannya. Dan Kairo? Yah, anggap saja ini hadiah dari istri tercinta, meskipun suaminya tidak tahu.
Elena melirik jam dinding. Sudah sore.
"Saatnya pulang," pikir Elena. "Kairo pasti pulang dengan mood bagus. Mungkin aku bisa minta hadiah tas baru sebagai 'perayaan'."
Elena bangkit berdiri, merapikan meja kerjanya. Dia memastikan semua jejak digital sudah dihapus, VPN dimatikan, dan history dibersihkan. Dia adalah hantu. Dan hantu tidak meninggalkan jejak kaki.
Kembali ke kantor Diwantara Group. Matahari sudah mulai terbenam, melemparkan cahaya oranye ke dalam ruang kerja Kairo. Tapi pria itu belum beranjak. Dia masih duduk menatap layar laptopnya, membaca ulang profil PT. Megah, mencoba mencari petunjuk sekecil apapun.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk. Reza masuk dengan napas ngos-ngosan. Di tangannya ada sebuah tablet. Wajahnya campuran antara takut dan antusias.
"Pak! Pak Kairo!" panggil Reza.
Kairo langsung menoleh tajam. "Dapat?"
Reza mengangguk cepat. Dia meletakkan tablet itu di meja Kairo.
"Tim IT Pak Teguh berhasil, Pak! Mereka melacak jejak login akun EL di forum The Titan," lapor Reza cepat. "Ternyata akun itu baru aktif kemarin sore. Profilnya anonim total, menggunakan server yang dipantulkan dari Swiss dan Singapura."
"Jangan kasih aku teknisnya, Reza. Kasih aku identitasnya!" potong Kairo tidak sabar.
"Itu masalahnya, Pak. Identitas aslinya terenkripsi gila-gilaan. Bahkan, Pak Teguh bilang firewall-nya setingkat militer," Reza menelan ludah. "Tapi... kami berhasil mendapatkan satu hal."
Reza menggeser layar tablet. Di sana tertera sebuah ID Kontak unik.
CONTACT ID: EL_GHOST_88
"Ini ID jalur pribadinya di aplikasi pesan rahasia, Pak," jelas Reza. "Kita bisa menghubungi dia lewat sini. Ini satu-satunya pintu masuk."
Kairo menatap deretan huruf dan angka itu. Matanya menyala-nyala. Akhirnya, dia menemukan ujung benang kusut ini.
"Dia pikir dia hantu," gumam Kairo dengan senyum menyeringai yang berbahaya. "Tapi hantu pun bisa diajak bicara kalau kita punya kemenyannya."
Kairo mengambil tablet itu. Jari-jemarinya mengetik cepat. "Hubungi dia sekarang, Reza. Pakai akun anonim perusahaan."
"Bapak mau bilang apa? Mau marah-marah?" tanya Reza cemas.
"Tidak," jawab Kairo. "Orang seperti EL tidak mempan dimarahi. Dia butuh umpan."
Kairo mendiktekan pesan yang harus dikirimkan Reza. Suaranya tegas, penuh otoritas, dan ambisi yang meluap-luap.
"Ketik ini: Kepada EL. Saya tahu apa yang Anda lakukan pada Gunawan. Permainan yang cantik."
Reza mengetik dengan tangan gemetar. "Lanjutannya?"
Kairo berdiri, berjalan menuju jendela, menatap langit Jakarta yang mulai gelap.
"Tawarkan dia kontrak kosong," perintah Kairo.
"Hah? Kontrak kosong, Pak? Maksudnya cek kosong?" Reza melongo.
"Ya. Bilang padanya: Diwantara Group ingin membeli otak Anda. Sebutkan angka berapa saja yang Anda mau. Bergabunglah dengan kami secara eksklusif."
Kairo berbalik, menatap Reza tajam. "Kirim sekarang."
Reza menekan tombol Send.
Kairo kembali duduk, menyandarkan punggungnya. Dia mengambil gelas airnya, meremasnya pelan hingga buku jarinya memutih.
"Aku mau merekrut dia, Reza," bisik Kairo pelan. "Aku butuh otak licik itu untuk menyingkirkan musuh-musuhku yang lain."
Gelas di tangan Kairo retak sedikit.
"...tapi kalau dia menolak... atau kalau dia ternyata bekerja untuk orang lain... aku akan mengerahkan seluruh uang dan kekuasaanku untuk menghancurkan dia sampai jadi debu. Tidak boleh ada dua raja di hutan ini."
Di layar tablet, status pesan itu berubah.
SENT.
DELIVERED.
Kairo menunggu dengan napas tertahan. Perburuan hantu resmi dimulai.
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪