Hidup dalam takdir yang sulit membuat Meta menyimpan tiga rahasia besar terhadap dunia. Rasa sakit yang ia terima sejak lahir ke dunia membuatnya sekokoh baja. Perlakuan tidak adil dunia padanya, diterima Meta dengan sukarela. Kehilangan sosok yang ia harap mampu melindunginya, membuat hati Meta kian mati rasa.
Berbagai upaya telah Meta lakukan untuk bertahan. Dia menahan diri untuk tak lagi jatuh cinta. Ia juga menahan hatinya untuk tidak menjerit dan terbunuh sia-sia. Namun kehadiran Aksel merubah segalanya. Merubah pandangan Meta terhadap semesta dan seisinya.
Jika sudah dibuat terlena, apakah Meta bisa bertahan dalam dunianya, atau justru membiarkan Aksel masuk lebih jauh untuk membuatnya bernyawa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hytrrahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Alur Tentang Kita
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh, Beni menggedor-gedor pintu rumah yang memang sengaja dikunci oleh Risa. Membuat Meta langsung sigap bangkit dari duduknya, menaruh gitar yang sebelumnya berada di pangkuan untuk membukakan pintu. Cewek berpakaian sederhana dan wajah yang penuh luka itu berjalan mendahului Risa, berkata pada ibunya agar dia saja yang membuka pintu untuk Beni yang semalam tidak pulang ke rumah.
"Nggak sekolah? Rugi nyekolahin kamu!" sembur Beni tanpa peduli kalau Meta akan merasa tersinggung. Dia berjalan masuk setelah pintu terbuka, langsung melangkah menuju meja makan. "Masak, nggak, Sa?"
Risa yang sedang berdiri di depan pintu kamar Meta mengangguk saat suaminya berjalan melewati dirinya. "Iya, Mas, masak. Biar aku siapin," katanya, segera menuju dapur.
Meta yang terasa seperti tunggul masih di dekat pintu, tertekuk dalam meyakinkan dirinya sendiri untuk tak kehilangan akal sehat ketika meladeni Beni. Apalagi semalam ia harus menggadaikan ponselnya demi untuk ketentraman hidupnya dan Risa. Agar Beni tak menagih uangnya lagi disaat Meta belum mendapatkan gajinya dari Aksel, karena memang belum waktunya. Jika sering meminjam, tidak akan ada lagi uang yang bisa ia terima.
Suara dentingan piring yang beradu dengan sendok mulai terdengar, pertanda bahwa Beni akan segera makan. Meta tak ingin mendekati pria itu demi kesehatan mentalnya, hingga memilih untuk kembali ke kamar. Namun suara berat Beni menahan langkahnya di depan pintu, disaat tangannya sudah meraih kenop pintu.
"Udah makan?"
"Udah, Bapak makan aja sama ibu. Aku mau istirahat ke kamar."
"Saya nungguin uangnya, kasih sebelum kamu saya pukul lagi."
Ucapan Beni sangat menyakiti Meta dengan menanyakan uang yang akan ia gunakan untuk hal-hal tidak penting. Tanpa peduli apakah Meta sedang memiliki uang atau tidak. Ditambah lagi dengan ancaman yang selalu direalisasikan, membuat Risa cemas bukan kepalang.
Tangan Risa terulur, mendarat di bahu Beni dengan tatapan penuh harap. "Mas, Meta belum gajian minggu ini. Lagi pula uang yang ditransfer Vina udah kepake semua?" tanyanya lemah lembut, mencoba untuk tidak membuat Beni marah walau ia tahu itu tidak ada gunanya.
Decakan marah terdengar, membuat Risa menelan salivanya ketakutan. Di tempatnya, Meta mulai waspada, takut akan kemarahan Beni yang kapan saja bisa meledak. Dan yang ia takutkan pun terjadi di kemudiannya, saat hening panjang memangkas dan berlalu. Piring yang digunakan Beni untuk makan diangkat kemudian dilemparkan ke lantai, membuat utuhnya tercerai-berai.
Risa dan Meta serempak terperanjat, kaget dengan aksi Beni ditambah lagi suara benturan piring yang menghantam lantai. Meta buru-buru masuk mengambil uang itu, tidak peduli jika esok ia tak lagi bisa menghubungi teman-temannya. Dia hanya ingin Risa tetap baik-baik saja, biar dia yang merasakan betapa sakitnya.
"Kamu pikir uangnya buat apa? Kamu punya hak apa buat nanyain uang yang dikirimkan Vina ke saya?!" bentak Beni setelah berdiri dan mencengkeram dagu Risa. "Tugas kamu cuma jaga anak perempuan murahan itu, uangnya saya yang kendalikan!"
"Kalau gitu jangan usik uang hasil kerja keras Meta, Mas. Biarin dia nikmati uangnya sendiri, toh selama ini dia nggak minta uang yang ditransfer Vina ke kamu, kan?"
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Risa, membuat empunya terdiam dalam penyesalan yang amat besar telah menikahi manusia tidak bermoral seperti Beni. Kemudian Risa menatap suaminya, laki-laki itu semakin memperlihatkan kemarahan dan keangkuhannya. Beni bukan lagi sosok lelaki yang ia kenal ketika berpacaran dulu, mereka berbeda.
"Perempuan penyakitan kayak kamu nggak usah ikut campur!"
"Aku mohon, Mas," lirih Risa, berharap hati Beni akan luluh. "Uang hasil manggung Meta di kafe jangan kamu ambil juga, biar buat dia."
"Nggak!" teriak Beni, lalu melirik Meta. "Mana uangnya?"
Perdebatan pun tidak bisa dihindari, dua manusia itu saling meninggikan suara, ingin didengar satu sama lain. Uang hasil jualan ponsel itu kini berada dalam saku celana Meta, yang tidak seberapa tapi bisa menutup mulut busuk Beni dan menahannya untuk tidak melakukan kekerasan lagi.
Meta menguatkan batinnya, matanya sudah menajam melihat adegan tamparan tadi. Tapi Meta harus bia berpura-pura tidak terluka agar masalah ini tidak semakin panjang dan Beni semakin menggila terhadapnya. Uang itu pun diserahkan kepada Beni dengan berat hati, memaksa Meta untuk menelan kembali tangisannya yang hampir keluar
"Bagus. Harusnya dari kemaren, saya nggak akan mukulin kamu sama Risa."
"Itu hasil dari penjualan hape aku, Pak. Gaji minggu ini belum aku terima."
"Udahlah, saya nggak peduli!" putus Beni sambil memasukkan uangnya ke dalam saku celana.
Perhatian Meta tak bisa lepas melihat betapa senangnya Beni saat uang itu berada dalam genggamannya. Sedangkan Risa menahan dirinya untuk tidak memaki Beni, atau keadaannya akan bertambah rumit. Dan lagi-lagi yang menjadi korban kekacauan rumah tangannya adalah Meta. Gadis baik yang Vina titipkan padanya.
Risa memandangi Meta dalam kecewa yang tak bisa disembunyikan. Sakit rasanya saat gadis itu memberikan uang hasil penjualan ponselnya sendiri pada Beni. Ia tahu Meta tak bisa mengelak, karena Beni selalu mengancamnya. Hingga Beni pun berlalu, tak lagi mengatakan sepatah kata pun, tanpa tau tujuannya akan ke mana.
"Ta, Ibu cerai aja sama Bapak, ya? Ibu nggak tega liat kamu menderita. Atau kamu kabur aja dari sini," ujar Risa sambil terduduk di lantai. Melihat hal itu, Meta juga tidak mau tinggal diam, dia segera menghampiri Risa dan menghapus air matanya. "Selama kamu hidup bahagia, Ibu juga akan merasa bahagia, Ta."
"Ibu nggak perlu ngelakuin itu, aku juga nggak akan ninggalin Ibu. Kita harus berjuang sama-sama untuk dapetin kebahagiaan itu."
"Tapi selama ada bapak, kita akan terus seperti ini, Ta. Ibu mau menyerah, Vina harus tau semuanya. Uang yang seharusnya dia kumpulin untuk membiayai kehidupan kamu, diambil semua sama bapak."
"Aku nggak mau kehilangan Ibu," lirih Meta dengan suara yang pelan, berhasil membuat Risa terenyuh dalam isakannya. "Ibu di samping aku, itu udah terlalu cukup buat aku bahagia, Bu."
"Kalau Ibu mati, kamu bisa bebas dari bapak. Jalani hidup kamu dengan baik, ya. Suatu saat nanti, mungkin akan ada pengorbanan yang harus Ibu lakukan agar kamu terbebas dari rasa sakit ini, Ta."
"Ibu ngomong apa, sih. Tanpa Ibu, aku nggak akan bahagia! Karena itu, kita harus tetap sama-sama." Meta bersikeras, hati dan pikirannya menjadi tidak tenang saat Risa berujar seakan ingin meninggalkannya.
"Maaf, Ta. Ibu nggak pernah bisa jadi Ibu yang baik buat kamu," sesal Risa sambil meraih tangan Meta dan menggenggamnya. Membuat Meta menitikkan air mata, sebab yang paling terluka adalah ibunya itu.
Meta menggeleng, matanya yang basah menatap kasihan Risa. "Ibu selalu jadi yang terbaik," katanya.
Jawaban-jawaban dari Meta sungguh diluar dugaannya, Risa tahu siapa dirinya dalam kehidupan Meta. Yang menjadi ibu kandung anak itu adalah Vina, bukan dirinya. Seharusnya Meta mengatakan hal itu pada Vina, mengapa harus memedulikan dirinya disaat semua kesusahan itu berasal darinya? Risa menepuk dadanya yang terasa nyeri, lalu melepaskan tangisnya kembali. Meta segera memeluknya, membuat hati Risa kian tercabik-cabik. Tuhan terlalu baik menghadirkan Meta dalam hidupnya.
...***...
"Hari ini Meta nggak masuk, Ren?"
Renata mengangguk, dihampiri oleh seorang cowok membuatnya merasa deg-degan. Bukan berdebar-debar karena dia orang yang Renata suka, melainkan karena tatap Dewa yang selalu mengawasinya.
Senyuman Renata dibalas oleh Yoga dan Andre sebelum menjawab pertanyaan Putra. "Nggak masuk lagi, Tra. Jujur belakangan ini gue ngerasa asing sama Meta. Udah gitu sering nggak masuk, kenapa, ya?" tanyanya pada cowok itu.
Putra, siswa kelas XII IPA-2 yang menjadi salah satu teman band Meta. Dia datang bersama dua temannya yang lain, Yoga dan Andre. Ketiga cowok itu sepertinya ingin latihan di ruang musik, tetapi sayangnya hari ini vocalis mereka tidak datang. Kemungkinannya latihan hari ini akan dibatalkan, seperti yang dahulu pernah terjadi. Mereka tak perlu merasa heran lagi atas ketidakhadiran Meta, namun nampaknya Putra mengetahui sesuatu.
"Kenapa lo diam? Renata nanya, tuh!" celetuk Kayla, menyadarkan Putra dari lamunannya.
"Sori, gue balik dulu. Biar gue telepon aja, mungkin emang lagi nggak mau masuk," ucap Putra dengan gelagat yang mencurigakan. Yoga dan Andre hanya menatap cengo, tidak mengerti situasi.
"Nomernya nggak aktif!" Seruan Aksel membuat teman-teman segengnya yang masih bercengkerama terhening, cowok itu menyeru dengan suara tinggi dan terdengar menyebalkan. "Gue udah coba ngehubungin dia dari pagi, tapi sampe sekarang nomernya nggak aktif."
Cowok itu berdiri dari kursinya, menjauhkan ponsel yang menempel di telinganya lalu memperlihatkannya pada Putra. Disaat semua siswu sudah beranjak meninggalkan kelas untuk berburu makanan di kantin, hanya Renata serta dua temannya yang bertahan. Bahkan sampai kelas dipenuhi oleh tim inti Destroyer dan tak sengaja membuat mereka terjebak bersama kelompok siswa yang ditakuti sesekolahan.
"Tra, lo nggak tau apa-apa soal sikap aneh Meta?" tanya Wulan, membuat Putra mengalihkan tatapannya dari Aksel.
Putra menatap gadis itu, dia ingin menimbang-nimbang jawabannya untuk Wulan. Tetapi sepertinya, hal yang seharusnya Putra lakukan adalah bungkam. Jika tidak, Meta mungkin akan mengamuk padanya seperti macan betina.
"Gue nggak tau, Lan," jawab Putra sambil menggelengkan kepala. "Gue duluan, ya."
"Cih! Sikap lo bikin orang salah paham!" desis Kayla, menarik perhatian Pandu di kursi paling belakang.
"Seharusnya kalian yang lebih tau ketimbang gue. Gue cuma temen band-nya, bukan pacarnya."
Kayla menganga, tak mengira bahwa Putra akan berbicara tidak mengenakkan hati padanya. Wulan dan Renata tertawa di tempat mereka, lalu Putra dan dua temannya meninggalkan kelas. Barangkali akan latihan tanpa Meta sepanjang jam istirahat ini. Tipikal siswa teladan dan berprestasi yang patuh dan disiplin. Tapi anehnya sifat-sifat baik Putra tidak menular pada Meta.
"Nggak usah ketawa!" marah Kayla pada Nauval yang sedang duduk di meja guru. "Duel kalau berani!"
"Cewek lemah nggak usah sok keras, urusin dulu temen lo yang mendadak ilang! Satu lagi, nggak usah ember!" balas Nauval, membuat Kayla mendengkus dan membuang muka. Sejak pertengkaran mereka di koridor saat kelas sepuluh dulu, hubungan mereka semakin menjadi pelik saja. Apalagi sekarang harus sekelas, membuat Kayla tidak pernah lupa sosok cowok yang hampir menubruk wajahnya dengan tinju.
"Sialan, berengsek, nggak tau diri lo!" umpatnya pada Nauval yang kemudian acuh. Emosi Kayla tak tertahankan saat menerima cibiran pedas dari cowok itu
Melihat keributan yang tentunya akan menimbulkan percekcokan, Wulan menepuk pundak Kayla. Meminta cewek itu untuk tenang, namun Renata tetap terkikik di tempatnya. Membuat Kayla harus menelan kembali amarahnya dengan lirikan ganas yang tak bisa ia sembunyikan.
Selain itu, Aksel kembali duduk saat Putra tak menunjukkan banyak reaksi terhadap apa yang ia dan teman-temannya katakan. Seolah memang sengaja bungkam agar segala rahasia tentang Meta tetap tertutup rapat.
"Gue yakin Putra tau sesuatu mengenai Meta. Tapi dia pura-pura nggak tau," gumamnya dengan tatapan yang semakin menajam.
...***...
Meta memetik senar gitarnya dengan wajah tak bersemangat, fokusnya tampak terpecah dan tatap matanya tampak kosong. Melihat hal itu, Andre dan Yoga saling pandang, keanehan sikap Meta hari ini membuatnya mengakui bahwa cewek tomboi itu memanglah menyeramkan. Apalagi ketika seperti ini, saat punya masalah yang membebani pundaknya. Meta tampak seperti asing bagi mereka, jauh dari Meta yang mereka kenal bar-bar, ketus, dan kasar.
Andre menyiku lengan Yoga, berbisik pelan tanpa disadari oleh Meta. "Meta serem kalau lagi galau, ya, Ga. Nggak kuat gue lama-lama latihan sama dia, berasa kayak mau dibunuh, anjir. Auranya psikopat banget!"
"Lebay lo! Kalau Meta psikopat, mungkin sekarang arwah lo yang ngobrol sama gue, goblok!" cerca Yoga hingga membuat Andre meringis. "Santai aja kali, Meta nggak napsu buat makan daging lo!"
"Sialan!" desis Andre kesal sekaligus takut. "Gue serius, baru kali ini dia kayak mau bunuh orang."
"Udah nggak usah lo perjelas juga bangsat! Mau mati beneran lo?" Yoga menabok kepala Andre, menarik perhatian Putra sejenak karena terlalu fokus pada Meta.
"Yang bener kalau lagi latihan, semisal performance lo nggak maksimal, kita bisa bubar!" teriak Putra, membuat tingkah menyebalkan Andre dan Yoga lenyap, pun dengan Meta yang merasa tersindir di depan mereka. Langsung berdehem sok kalem, memperbaiki letak gitar di pangkuannya.
"Sori, Tra." Meta berujar pelan namun tegas seperti biasa, tatapannya menunjukkan murung yang senantiasa terbaca. "Hari ini gue ngerasa capek banget."
"Nomer lo nggak bisa dihubungi sejak pagi, Ta. Ada yang mau lo jelasin?"
"Nanti aja gue jelasin, kita latihan dulu biar si hama nggak ngomel!" balas Meta tanpa menoleh pada Putra. Lagaknya seperti tidak ada masalah, membuat Putra ingin menggetok kepala gadis itu dengan stick drum.
"Si hama siapa, Ta?" tanya Yoga.
"Aksel lah, siapa lagi menurut lo?" sahut Meta sambil tertawa ringan, lalu diangguki oleh Yoga.
"Aksel yang dulu nembak lo di lapangan dan jadi trending topik di twitter?" Andre menyahut semangat dan bercerita terlalu detail, membuat Meta berdecak. "Sori. Tapi cowok kayak dia pantes diapresiasi, sih. Laki banget!"
"Nyari cowok kayak Aksel di jaman ini susah, Ta. Perjuangan dia nggak lo anggep, kasian gue." Putra berceletuk yang ditanggapi Meta dengan lirikan sinis.
"Yang begitu dibilang laki, malu-maluin kali! Nggak usah lo belain dia, jangan bikin gue mau makan orang, deh," marah Meta, membuat Yoga dan Putra tertawa dan bergidik ngeri. "Bego sama nggak tau diri itu ternyata beda tipis."
"Lagi ngegosipin gue?"
Seketika suasana berubah tegang meski sedang ramai, namun sepertinya para pelanggan merasa tak terusik lantaran posisi panggung kecil itu jauh dari meja mereka. Para pelanggan bercengkerama dengan sesekali melirik Meta beserta ketiga teman laki-lakinya. Kemungkinannya banyak penggemar mereka di sini, yang ingin menyaksikan langsung penampilan memukau Meta serta teman-temannya.
"Ngagetin lo, salam dulu kalau mau nimbrung!" celoteh Andre yang hanya dibalas senyuman lebar oleh Aksel. Seolah dunianya sedang baik-baik saja di awan, tidak runtuh seperti dunia Meta.
"Salam," acuh Aksel, yang lagi-lagi dibalas semburan tawa oleh Yoga. Puas mempermalukan temannya, yang suka berbicara hal tidak penting.
Andre mencebik di tempatnya. "Nggak gitu juga, lo kalau ngelawak lebih serem, sih!"
"Pinjem Meta bentar, ya!" Aksel tak lagi meladeni Andre dengan mengabaikan perkataanya. Membuat cowok itu menggerutu di tempatnya dengan tatapan sinis.
"Heh, apa-apaan lo?! Gue alergi hama, sialan!"
"Bentar doang, Ta. Nanti gue balikin lagi ke temen-temen lo."
Tidak, Meta tidak dapat menghindari Aksel sebab cowok itu langsung bertindak seenaknya. Gitar yang ada di pangkuan Meta diberikan kepada Putra, yang langsung disambut dengan senyuman manis oleh cowok itu. Dua teman mereka yang lain menatap terpukau, ada aura indah di wajah mereka ketika keduanya dipertemukan. Hingga saat tangan Meta digenggam dan ditarik untuk mengikuti Aksel, teman-teman Meta hanya bisa diam seolah mempersilahkan.
...***...
Aksel membawa Meta menuju ruangannya yang berukuran sedang. Walau cewek itu memberontak dan menyumpahi Aksel dengan berbagai macam perkataan tidak senonoh, cowok itu terlihat tidak peduli. Tampak dari segala tindak-tanduknya yang setelah melepaskan cengkeramannya, langsung mengunci pintu dan memojokkan Meta di sudut ruangan.
Meta menatap mata Aksel dengan kening mengerut dalam, terkejut akan sikap Aksel yang ternyata lebih kotor dari ucapannya. Pikiran Meta mulai kemana-mana membuat Aksel tersenyum miring sambil menundukkan wajahnya. Meta tampak sangat tidak nyaman, walau tatapan matanya seakan ingin membunuh Aksel detik ini juga.
"Buruan ngomong sebelum lo mati kehabisan darah di tempat ini," desis Meta dengan mata setajam elang, benar-benar muak akan sikap Aksel.
"Justru lo yang akan kehabisan napas di sini sama gue, Ta," bisik Aksel menyeramkan tepat di telinga Meta. Membuat sinyal tanda bahaya otomatis menyala, Meta sudah mengambil ancang-ancang jika Aksel bersikap tida wajar padanya.
Meta membuang muka ketika Aksel telah sedikit menjauh dari wajahnya. Tak lupa dengkusan pelan ikut terdengar oleh Aksel, belum lagi makian cewek itu yang membuat Aksel ingin menyentil bibirnya.
"Jangan buang waktu gue untuk ngebahas hal nggak penting. Atau lo akan keluar tanpa nyawa dari ruangan ini?"
"Gue nggak perlu takut lagi sama cewek yang justru punya trauma besar terhadap laki-laki. Gue tau lo kayak gini karena siapa."
Pupil mata Meta membesar, hal tersebut semakin memperkuat dugaan Aksel tentang cewek yang berlagak sok berani itu. Dalam hal penyelidikan, Aksel cukup bisa diandalkan hingga berhasil mendapatkan beberapa informasi penting, tanpa diketahui oleh orang yang sedang diselidiki. Seperti halnya Meta, ia tak pernah menduga jika Aksel akan bergerak sejauh ini. Apalagi setelah cowok itu dipermalukan, Meta hanya bisa mengubur rasa bersalahnya untuk cowok di depannya ini demi menutupi rahasia hidupnya.
"Tutup mulut lo dan menjauh dari gue sekarang. Jangan gali kehidupan gue lebih dalam atau lo akan menyesal?" peringat Meta, Aksel justru tertawa geli.
"Lo terlalu menggemaskan untuk jadi cewek paling sadis di sekolah. Kenyataannya lo spesies langka yang harus gue lindungi."
"Berengsek! Lo bisa berhenti, nggak?! Gue capek dihantui masalah, dan kedatangan lo cuma akan nambahin masalah dalam hidup gue!"
"Gue dan perasaan gue nggak akan ngerepotin lo, Ta. Atau biar lebih cepat, kasih gue alasan kenapa lo nolak gue. Dan kenapa, lo masih betah tinggal sama keluarga yang mendidik lo dengan kekerasan?"
Meta mendorong tubuh Aksel dengan tangan yang sudah gemetar, tidak tahan ingin menghajar wajah sok tahu Aksel tentang segala hal yang dia lihat. Meta ingin melenyapkan Aksel agar tidak ada yang bisa mengungkit masa lalunya, kehidupannya terlalu suram dan menyedihkan. Seharusnya Aksel tidak melakukan hal ini karena cowok itu, dipastikan sedang menggali kuburannya sendiri.
"Kalau lo mau mati dalam keadaan paling menyedihkan, coba aja untuk selalu deketin gue. Cari tau semua hal tentang hidup gue dan alasan kenapa gue tinggal sama keluarga itu. Silahkan lakukan apapun yang lo mau!"
"Kalau gitu jelasin kenapa. Gue butuh keterangan mengenai hal itu supaya gue bisa berhenti mengkhawatirkan lo."
Lagi. Meta terdiam sebab Aksel terlalu sering memaksa hatinya untuk mengagumi cowok itu akhir-akhir ini. Walau Meta selalu bersikap kasar, Aksel tak pernah mundur. Seolah-olah sudah sangat siap untuk menghadapi semua kesulitan yang akan ditemuinya setelah mengenal Meta. Apa cowok itu melakukan hal ini untuk memperjuangkan perasaannya? Meta berdecih sambil tersenyum.
Mata tajam Meta kembali menatap Aksel dengan kedua alis menukik tajam.
"Beni itu bokap gue, dia nggak suka gue berhubungan dengan siapapun. Kalau gue melanggar aturan yang dia buat, gue akan dapat pukulan."
"Kecuali Putra? Dia bebas datang dan pergi semaunya? Tanpa perlu ngerasa takut lo akan dipukul?"
Kening Meta berkerut, matanya menyipit seolah bertanya apalagi yang Aksel ketahui tentangnya. Melihat gelagat aneh yang Aksel tunjukkan, bisa Meta simpulkan kalau cowok itu sedang cemburu pada Putra.
"Putra cuma temen gue. Bokap gue udah kenal lama sama dia. Lagi pula Putra nggak meresahkan kayak lo, pengen tau kehidupan orang, lo pikir nyawa lo nggak penting?"
"Terus menurut lo nyawa gue penting?" tanyanya balik, membuat Meta merasa sudah salah bicara.
"Terserah lo! Jangan salahin gue kalau suatu saat lo kenapa-napa."
"Ini keputusan gue, Ta. Risikonya biar gue yang tanggung, supaya lo bisa bisa bahagia dan berhubungan sama siapapun cowok yang lo mau. Gue cuma pengen, pengorbanan gue nanti akan selalu jadi kenangan saat lo sedih dan bahagia."
Kali ini Meta melihat senyuman lebar yang sampai ke mata Aksel. Cowok itu berucap sangat tulus hingga membuat hati Meta berdebar-debar ketakutan. Matanya memanas seolah akan ada air mata yang keluar, Aksel sangat berlebihan terhadapnya.
"Gue nggak suka lo ikut campur soal kehidupan gue, Sel. Penyesalan selalu datang terlambat, lebih baik lo berhenti untuk menggali makam lo sendiri."
Rasanya sudah banyak sekali peringatan yang Meta berikan pada Aksel. Mulai dari yang ringan sampai pada hal paling berat sekalipun, cara penyampaiannya juga berbeda-beda. Tapi mungkin karena Aksel yang anaknya selalu ingin tahu, tidak ada satupun peringatan yang diterima dan dipatuhi. Bahkan sampai sejauh ini, yang Meta lihat hanyalah tekad yang semakin membulat.
Rasa khawatirnya akan kejadian itu kembali mengusik ketenangan Meta, membuatnya akan kesulitan tidur di malam hari seperti dulu. Saat ia hampir membuat seseorang kehilangan nyawa karena membantah Beni.
"Gue punya banyak temen, Ta. Kita akan hadapi itu bareng-bareng kalau lo mau terbuka soal kehidupan lo," tawar Aksel, enggan menyerah apapun yang akan Meta katakan padanya.
"Kalau itu mengancam gue sama ibu, lo mau tanggung jawab? Kalau sampai ibu menghilang dari hidup gue, lo mau ngeliat gue ikut mati?"
Tatapan marah Meta sukses membuat Aksel kicep di tempatnya. Menyangkut nyawa, pikiran Aksel saat ini berkecamuk oleh hal itu. Dapat ia simpulkan juga kalau tindakannya amat berisiko, selain untuk dirinya, juga untuk Meta dan Risa sebagai orang yang akan ia beri bantuan.
"Gue cabut. Pikirin baik-baik omongan gue. Lo, harus mundur!" ujar Meta saat tiba di samping Aksel. Menepuk pundak Aksel yang kini tidak berani memandang wajah Meta.
Saat cewek itu hendak berlalu, Aksel meraih pergelangan tangannya. Membuat Meta hendak memaki tetapi dibungkam oleh pertanyaan Aksel. "Kenapa hape lo nggak aktif?"
Meta menghela napas berat, dia menatap wajah Aksel dari samping. "Gue jual," jawabnya acuh sambil melepaskan cekalan Aksel dan melenggang pergi setelahnya.