Demi menutupi skandal adik dan tunangannya, Haira terpaksa menerima pertukaran pengantin. Dia menikah dengan pria yang akan dijodohkan dengan adiknya, yaitu Aiden yang merupakan orang biasa.
Bagaimana jika Haira mengetahui bahwa Aiden adalah CEO Alexan Group yang terkenal tajir melintir?
Dan apa yang melatarbelakangi penyamaran Aiden menjadi orang biasa?
Yuk kita simak kisahnya.
Follow instagram @yenitawati24 untuk mendapatkan informasi terupdate.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Baru
"Aku juga tidak tau, karena beliau selalu memakai kacamata dan masker mulut saat keluar masuk kantor. Terlebih lagi beliau hanya mengirim wakilnya saat ada meeting dengan semua kliennya. Bisa dikatakan semua orang sangat penasaran dengan wajahnya. Kenapa? Apa kau tertarik pada pewaris tunggal yang kaya itu?" tanya Aiden.
"Tidak kok." Haira sedikit cengengesan.
"Bahkan wajahmu masih sembab dan kau malah tersenyum seperti tidak punya masalah," ucap Aiden.
Haira hanya diam dan tidak menjawab.
Mereka sudah sampai di rumah Aiden. Begitu turun, Haira tampak sedikit kagum dengan pengaturan halaman depan rumah itu. Sangat asri dengan banyak pepohonan dan bunga di sekitar rumah itu.
"Rumahmu bagus," puji Haira.
"Ini bukan rumahku. Ini adalah rumah sewa," sahut Aiden.
"Iya, maksudku rumah sewamu bagus."
"Ayo masuk," ajak Aiden.
Haira hendak mengikuti langkah Aiden. Sebelum itu dia mengambil koper di bagasi namun seseorang langsung menarik kopernya.
"Eh, biar aku saja yang membawanya," ucap Haira berusaha mempertahankan koper besarnya dari pria itu.
Dia adalah Dean yang merupakan teman Aiden. Entah dari mana datangnya tiba-tiba dia sudah ada di sana.
"Tidak, Nona. Biar aku saja, ini pasti berat." Dean menarik koper itu.
"Tidak biar aku saja."
Maka terjadilah tarik menarik koper.
"Hei lepaskan, dasar pencuri. Kau mau mencuri pakaian dalam, ya?!" teriak Haira.
Seketika Dean melepas koper itu dan Haira jatuh ke lantai dengan koper yang menimpa setengah badannya.
"Nona maafkan aku." Dean mengangkat koper itu dan membantu Haira berdiri.
"Lagi pula kenapa kau sampai ikut kesini. Ini sudah malam, pulang sana!" usir Haira.
Dean menggaruk belakang kepalanya. Dia bingung harus bilang apa.
'Nona, jika tuan Aiden melihatku tidak melakukan tugasku maka aku akan kehilangan pekerjaan. Oh ayolah, kenapa bos ku jadi begini,' batin Dean.
"Ada apa ini?" tanya Aiden yang mendengar keributan yang terjadi antara Haira dan Dean.
"Dia berusaha merampas koperku." Haira menunjuk Dean.
"Aku berusaha membantunya, A-iden!" ucapnya dengan gugup.
"Ya sudah Dean, biar aku saja. Sekarang kau pulanglah, besok aku akan memberi utangan padamu, aku janji," ucap Aiden.
"Oh, te-terima kasih A-Aiden." Lidah Dean terasa aneh saat memanggil bos agungnya dengan sebutan nama saja.
"Oh, jadi mau pinjam uang, makanya baik-baik," sindir Haira.
Dean hanya bisa menahan kesalnya dan tersenyum lalu mengangguk.
'Tampangnya bule, tapi kenapa malah suka berhutang? Harusnya tampang seperti itu Lebih pantas jadi direktur atau setidaknya asisten pribadi CEO,' batin Haira.
Aiden membawa koper Haira ke dalam. Dean melihat ke arah bosnya yang hampir hilang dari pandangan.
'Sampai kapan tuan akan bersandiwara seperti ini? Sejak kecil anda menutupi identitas asli anda,' batin Dean.
Dia hanya tidak tau bahwa tujuan Aiden bukan hanya itu saja, tetapi penyamarannya ini demi mengungkap misteri dibalik meninggalnya orang tuanya 24 tahun yang lalu. Karena dia yakin, kecelakaan yang dialami orang tuanya karena kesengajaan menurut cerita alm neneknya. Karena itu pula sang nenek menutupi identitas Aiden karena takutnya Aiden akan menjadi sasaran dari orang yang telah membunuh kedua orang tuanya.
Tadinya Aiden berpikir untuk menyewa detektif swasta. Namun, karena minimnya kepercayaan nya pada semua orang termasuk para bawahannya membuatnya ingin mengungkap siapa pelakunya seorang diri.
Di dalam rumah Aiden, Haira melihat semua perabot sederhana tapi indah dan kreatif.
"Mulai hari ini kau akan tinggal disini. Maaf tapi, kau harus terbiasa dengan keadaan rumah ini," ucap Aiden.
"So-soal kamar, bolehkah kita pisah ruangan?" tanya Haira dengan gugup.
"Tidak! Kita akan tetap sekamar. Kau istriku, maka harus melakukan kewajiban mu sebagai istri. Aku tidak mengizinkan perceraian dalam hubungan ini. Karena ini wasiat dari alm ayahku. Tapi jika kau belum siap, aku akan bersabar," ucap Aiden.
'Dia lebih miskin dariku, tapi mengapa saat dia bicara aku tidak bisa membantahnya? Dan kenapa dia bisa terlihat berwibawa begini. Dia hanya karyawan biasa lho. Mobil saja tidak punya. Hanya punya motor matic dan motor besar,' batin Haira.
"Ba-baik. Tapi berjanji lah untuk tidak menyentuh ku sebelum aku mengizinkannya."
"Bukannya kalimat ku tadi memperjelas permintaan mu?"
"Siapa yang memasak?" tanya Haira mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Angin yang bertiup atau rumput yang bergoyang."
"Hahaha, kau lucu sekali." Haira tergelak.
Aiden menatapnya dengan datar dan Haira berhenti tertawa. "Aku tidak pandai memasak," ucapnya dengan malu.
Aiden menghela nafas panjang. "Wanita jaman sekarang jarang sekali ada yang bisa memasak," gerutu Aiden.
Haira hanya cengengesan.
"Mulai besok aku akan mengajarimu cara memasak," ucap Aiden dengan tatapan serius.
"O-oke. Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku?" tanya Haira.
"Kau boleh bekerja asal tidak melupakan kodrat mu sebagai istri. Kau tidak boleh melupakan tentang bagaimana melayani suamimu. Maaf aku bukan mau mengatur mu tapi aku hanya tidak mau kau melupakan kewajiban mu. Kau tau kan, wanita jaman sekarang. Karena bisa menghasilkan uang sendiri, mereka jadi lebih berani dan melupakan kodrat nya sebagai istri. Maksudku tidak mau mendengar nasihat suami," tutur Aiden.
"Aku tau, jadi dimana lemari ku?"
"Itu!" Aiden menunjuk sebuah lemari kayu dengan tiga pintu kecil dan cermin di tengahnya.
Haira berjalan mendekati lemari itu dan dan membukanya. Tampak separuh dari isi lemari itu berisi pakaian kerja dan rumahan Aiden.
"Tapi ini tidak cukup untukku. Bagaimana kalau beli yang baru, jadi kita bisa punya lemari sendiri," usul Haira.
"Lupakanlah, aku kira kau mengerti tentang istri yang mendengar nasihat suami. Setidaknya hargai apa yang sudah ada. Kau pasti bisa memasukkan semua bajumu kesana, berjuanglah."
Haira menghela nafas pelan. 'Apa karena aku anak yang penurut, sehingga padanya pun aku juga penurut' Batinnya.
Setelah selesai memindah semua pakaiannya, Haira terpaksa meletakkan sisa pakaiannya di dalam koper karena tidak cukup. "Baru kali ini aku kehabisan tempat untuk semua pakaian ku. Apa begini rasanya hidup dalam kesederhanaan? Semua harus serba dicukupi meski pada kenyataannya kurang. Aku tidak boleh mengeluh, bagaimana pun aku tidak akan mengecewakan ayah dan ibu." Haira bertekad kuat.
Malam pun tiba. Haira mencium wangi masakan dari arah dapur. Dia segera pergi ke sumber aroma enak tersebut. Ternyata Aiden sedang memasak. Dia terlihat begitu cekatan dalam menggunakan alat-alat masak tersebut.
Selesai memasak, dia meminta Haira membantu menata ke meja makan lalu mereka makan malam bersama. Menu yang tersaji sangatlah sederhana, tapi karena rasa yang enak, Haira pun makan dengan lahap. Hingga saat dia sudah selesai makan, Aiden mengatakan kalimat yang mengganggu Haira.
"Aku sudah menulis semua resep di buku masakan. Mulai besok, belajarlah memasak," ucap Aiden sambil tersenyum.