Daniel Van Houten, mafia berdarah dingin itu tak pernah menyangka dirinya di vonis impoten oleh dokter. Meski demkian Daniel tidak berputus asa, setiap hari ia selalu menyuruh orang mencari gadis per@wan agar bisa memancing perkututnya yang telah mati. Hingga pada suatu malam, usahanya membuahkan hasil. Seorang gadis manis berlesung pipi berhasil membangunkan p3rkurutnya. Namun karna sikap tempramental dan arogannya membuat si gadis katakutan dan memutuskan melarikan diri. Setelah 4 tahun berlalu, Daniel kembali bertemu gadis itu. Tapi siapa sangka, gadis itu telah memiliki tiga anak yang lucu-lucu dan pemberani seperti dirinya.
____
"Unda angan atut, olang dahat na udah tami ucil, iya tan Ajam?" Azkia
"Iya, tadi Ajam udah anggil pak uci uat angkap olang dahat na." Azam
"Talau olang dahatnya atang agi. Tami atan ucil meleka." Azura.
_____
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Prak! Prak! Prak!
"Buka pintunya!"
Hajah Rodian dan suaminya tampak cemas mendengar suara gedoran pintu. "Bagaimana ini Abi?" tanya Hajjah Rodiah cemas.
"Kita tidak bisa lari Umi. Umi bersembunyilah di dalam kamar, biar Abi yang menghadapi mereka."
"Tapi Abi-"
"Umi, masuklah!" Pak Bambang lansung melangkah menuju pintu rumahnya.
"Lebih baik sekarang Pak Haji katakan, dimana adik gue Pak Haji sembunyikan!"
Baru saja pintu terbuka, Dani lansung melontarkan perkataan yang menyudutkan Pak Bambang.
Di belakang Dani, ada Daniel, Regan dan para anak buahnya.
"Apa maksudmu, Dan? Bapak tidak mengerti."
"Halah! Gak usah pura-pura. Ngaku aja lah Pak Haji! Gue tau malam kemarin kalian kan, yang membawa Ayang?"
"Dani, Bapak sudah bilang, Bapak tidak tahu apa-apa," kilah Pak Bambang.
"Alah! Gak usah bohong deh Pak Haji! Gue yakin pasti kalian kan yang menyembunyikan adik Gue!"
Dani tetap bersikukuh, sementara dibelakangnya, Daniel tengah memperhatikan rumah itu.
"Regan! Periksa CCTV di rumah ini!"
Ucapan Daniel yang tiba-tiba, membuat raut wajah Pak Bambang seketika berubah. Ia melupakan hal itu, bahkan saat Ayng datang kerumahnya malam kemarin, CCTV di rumahnya masih menyala.
"Baik Tuan."
Tanpa meminta izin pemilik rumah, Regan lansung menyelonong masuk ke dalam.
"Kalian tidak bisa seenaknya melakukan ini di rumah saya!" cegah Pak Bambang, berusaha menghalangi Regan.
"Dimana monitornya?" tanya Regan tanpa memperdulikan larangan Pak Bambang.
"Kalau kalian menginginkan rekaman CCTV datang lah kemari besok, saya akan berikan copy-annya."
Regan tetap berjalan masuk kedalam rumah, tanpa memberdulikan pak Bambang yang terus berusaha menghalanginya. "Katakan saja di mana monitornya," ucap Regan yang telah berada di dalam sebuah kamar. Di sana Regan berhasil menemukan monitor CCTV di rumah itu. Ia segera menyetel rekaman CCTV, malam dimana Ayang menghilang. Akan tetapi ia tidak menemukan apa-apa, rekaman di hari itu sudah tidak ada.
.
.
.
Tiga bulan kemudian...
Perut Ayang kini telah tampak membuncit. Pak Mamad dan bu Parida, beberapa minggu belakangan ini mulai mencurigai perubahan tubuh Ayang. Bukan apa-apa, desas-desus kedekatan Ayang dan putra mereka, kini telah menjadi buah bibir di kalangan masyarakan.
Beberapa hari yang lalu, pak Mamad juga sudah menghubungi pak Bambang, ingin menanyakan apakah Ayang sudah punya suami atau belum, namun nomor pak Bambang tidak aktif.
"Bu, kemarilah." Pak Mamad yang baru pulang dari mesjid berjalan tergesa-gesa ke dalam kamar.
Kening bu Parida berkerut melihat suaminya yang telah menghilang di balik pintu kamar. "Si Bapak kenapa ya?" Parida bergumam sendiri merasa aneh dengan sifat suaminya. Tak ingin menebak-nebak ia pun menyusul suaminya, meninggalkan Ayang dan Udin yang tengah asyik menonton TV di ruang keluarga.
"Ada apa sih Pak?" Parida mendekati suaminya yang telah duduk di pinggir ranjang.
Pak Mamad menghela nafas halus. "Tadi setelah shalat isya, Pak Sukri bertanya pada Bapak, apa benar sekarang ini Ayang sedang hamil? Bapak ndak tau harus menjawab apa Buk. Apa ndak sebaiknya, kita tanyakan saja pada Ayang Buk."
"Ibuk pun berpikir demikian Pak. Tapi Ibuk segan untuk menanyakan lansung. Takut orangnya tersinggung."
Pak Mamad menghela nafas. "Benar sih, bapak juga takut dia terasa hati. Tapi bagaimana kalau Ayang benar-benar hamil, tentu perutnya semakin membesar Buk dan kita ndak akan bisa menyembunyikan itu dari orang-orang."
"Apa mungkin si Udin yang telah melakukannya." gumam pak Mamad. Entah kenapa pikiran itu melintas saja di benaknya.
Parida tersenyum. "Mungkin saja Pak. Anak kita kan laki-laki, hubungan mereka selama ini juga terlihat dekat."
Pak Mamad tersenyum sinis menatap istrinya.
"Bagaimana kalau kita nikahkan saja mereka Pak." ucap Parida memberi usul.
"Hussh, Ibuk! Jangan asal ngomong!" peringat Pak Mamad.
"Lah memangnya kenapa toh, Pak? Kan malah bagus anak kita menikah, itu artinya anak kita normal-normal saja."
"Iya kalau si Udin yang melakukannya, kalau tidak? Sebaiknya kita tanyakan pada Ayang Buk."
"Bapak yang tanyakan ya?"
"Ibuk saja, sesama perempuan pasti ngomongnya labih terbuka."
"Tapi Bapak temankan ya."
"Hmm...Baiklah."
Mereka berdua pun keluar kamar menuju ruang keluarga,
Di sana tampak Ayang dan Udin duduk di depan TV.
Parida mengambil posisi duduk di samping Ayang, sedang pak Mamad duduk di kursi sebelahnya.
"Akhmm." Pak Mamad berdehem, memberi kode pada istrinya agar segera bicara.
Ayang monoleh ke arah pak Mamad, lalu berdiri dari duduknya hendak mengambil minum.
"Cah Ayu, mau kemana?" tanya Parida.
Ayang menggunakan bahasa isyarat, memberitahukan jika ia ingin kebelakang mengambil minum.
"Oh ya, pergilah."
Ayang pun berjalan ke dapur, tidak lama ia kembali lagi membawa segelas air putih dan meletakkannya di depan pak Mamad.
"Ayang, duduklah, ada yang ingin Ibu dan bapak tanyakan." Ucapan Parida menghentikan Ayang hendak masuk kedalam kamar.
Ayang mengangguk dan kembali duduk di sebelah Parida.
Parida mengambil nafas dalam. "Ayang, sebelumnya Ibu minta maaf, tapi Ibu harus memastikan sendiri."
Ayang menatap wajah serius Parida di sebelahnya, kemudian ia menunduk, sudah menduga apa yang ingin di tanyakan wanita paruh baya di sampingnya.
"Nduk," panggil Parida.
Ayang mengangkat kepala, menatap wanita paruh baya di sampingnya.
"Apa benar, saat ini Ayang sedang hamil?" tanya Parida hati-hati.
Mata Ayang kini berkaca, ia takut keluarga yang di tumpanginya ini akan mengusirnya nanti setelah mengetahui kebenaran dirinya yang sedang hamil, tapi tidak memiliki suami. Tentu itu sebuah aib.
Udin yang tadinya fokus menonton TV, kini menatap heran pada Ibunya yang tengah menunggu jawaban Ayang.
"Ndak apa-apa, jujur saja sama Ibu."
Perlahan Ayang mengangkat kepalan, wanita paruh paya itu di pandang sayu sebelum mengangguk pelan.
Parida menoleh pada purtra dan suaminya dan kembali memandang Ayang yang tampak ketakutan. "Ndak usah takut, Ibu malah senang karna sebentar lagi akan mendapatkan cucu."
"Maksud Mommy? Aya hamil?" Mata Udin melotot, kedua tangannya di gunakan menutup mulut sendiri.
Ayang masih menunduk, bulir bening kini menetes di pipinya. Ia benar-bemar takut keluarga barunya ini akan mengusirnya.
Tiga bulan tinggal di sini, Parida dan pak Mamad telah dianggap sebagai orang tuanya sendiri. Begitupun dengan Udin, Ayang.juga menganggap pemuda itu sebagai Aban sendiri, bahkan pria lembut itu begitu baik dan perhatian padanya, di bandingkan Dani.
"Aya, apa benar kamu hamil?" tanya Udin ingin kepastian.
Ayang tidak menjawab, kepalanya masih saja menunduk sambil terisak pelan.
"Ay," panggil Udin lagi.
Ayang mengangguk pelan.
"Astagfirullahalazim, Aya!" Udin begitu kaget, lalu mendekati Ayang dan memeluknya dari samping.
Pak Mamad dan istrinya saling pandang dengan pikiran masing-masing.
"Akhmm."
Pak Mamad berdehem keras, membuat Udin seketika meperai pelukan, ia kembali duduk ke tempatnya semula.
Pak Mamad menatap putranya lekat. "Bapak kecewa sama kamu Din!
Udin menatap pak Mamad dengan kening berkerut. Sebaliknya Pak Mamad menatap putranya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Sudah lah Pak, semua telah terjadi. Sebaiknya sekarang kita rencanakan saja pernikahan mereka," saran Parida dengan wajah mesam-mesem. Ia sudah lama mendambakan memiliki menantu dan sepertinya keinginannya itu akan terwujud.
yg ada ayang tambah stres dan membenci danil
lanjut kak/Drool/
hadirkan kebahagiaan untuk ayang
sudah 3 THN kok masih asih Tor...?
Ayahnya Ayang ada sangkut sama si Daniel?
vote untuk mu thor