Namanya adalah Haidee Tsabina, wanita cantik dengan hijabnya yang merupakan istri seorang Ibrahim Rubino Hebi. Kehidupan keluarga mereka sangat harmonis. Ditambah dengan seorang anak kecil buah cinta mereka yaitu Albarra Gavino Hebi
Tapi semua berubah karena sebuah kesalahpahaman dan egois yang tinggi. Rumah tangga yang tadinya harmonis berubah menjadi luka dan air mata.
Sanggupkah Haidee dan Ibra mempertahankan keluarga kecil mereka ditengah banyaknya rintangan dan ujian yang harus mereka hadapi? Atau mereka akan menyerah pada takdir dan saling melepaskan? Yuk baca kisahnya.
Follow Ig author @nonamarwa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Marwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa
🌹HAPPY READING🌹
"Pak, izinkan saya memeluk anak saya. Sebentar saja," ucap Dee memohon kepada polisi.
Polisi hanya mengangguk. Dee berjalan kearah Al yang berdiri disebelah suaminya. Kemudian Dee berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Al.
"Umi sayang sama, Al. Al jangan nakal, ya, harus nurut sama Abi. Umi hanya pergi sebentar. Jangan buat Abi capek. Sholatnya harus tambah rajin. Kalau tidur, jangan lupa baca doa dulu. Selalu ucapkan bismillah, kalau ingin melakukan sesuatu. Al harus rajin makan biar sehat dan tambah gede. Kalau Al rindu Umi, Al bisa liat bintang malam, karena Umi adalah bintang dikehidupan Al. Al-" ucapan Dee terputus karena tidak sanggup lagi rasanya untuk berbicara. Suaranya sudah bergetar menahan tangis agar tidak menambah kekhawatiran anaknya.
Semua yang menyaksikan menatap pilu Dee dan Al. Tapi kenyataan mengatakan lain.
Tangan mungil Al terulur memeluk erat tubuh Uminya. Ingin sekali Dee membalas pelukan anaknya, tapi tangannya sudah diborgol.
"Al akan ingat selalu nasehat Umi, tapi umi ga boleh pelgi tinggalin Al. Al janji ga akan nakal lagi. Al akan nulut semua perkataan Umi. Umi ga boleh pelgi," tangis Al pecah memeluk Dee.
"Maaf Bu, kita harus segera pergi," ucap Polisi memperingati Dee.
Mendengar ucapan Polisi, Al semakin mengeratkan lingkaran tangannya ke tubuh Dee. Menandakan bahwa, tidak ada yang boleh membawa Uminya pergi.
"Jangan bawa Umi Al, Pak Polisi. Umi bukan olang jahat. Al yang seling nakal sama Umi, hikss. Pak Polisi bawa Al saja. Umi Al bukan olang jahat, hiks,hikss," ucap Al dengan Isak tangisnya.
"Abiii, hiks, bilang sama Pak Polisi, kalau Umi ga pelnah nakal. Umi selalu nulut apa kata Abi. Umi nggak nakal Abii, hiks, hiks," ucap Al mengiba berharap seseorang melindungi Uminya.
"Uncle Kevin, Aunty Naina, bantu Umi Al, hiks. Tangan Umi pasti sakit dikasi besi ini uncle, onty," sambung Al beralih menatap kedua sahabat Abinya dengan menunjukan tangan Dee yang diborgol.
Kevin yang tak kuasa melihat Al, memilih membalikan badan menghindari kontak mata dengan anak itu.
Melihat semua orang yang hanya diam, Al melepaskan pelukannya kepada Dee, dan beralih menghampiri satu persatu keluarganya.
"Kakek, ayo bantu Umi kakek, hiks. Tangan Umi pasti sakit," ucap Al terisak menggoyang-goyangkan tangan Wijaya meminta bantuan. "Oma, Opa, ayo bilang Pak Polisi kalau Umi nggak nakal. Umi bukan olang jahat, hiks," ucap Al beralih kepada orang tua Dee. Siapa pun yang melihat tindakan anak yang baru berusia 3 tahun ini akan terenyuh, ia berjuang mempertahankan Uminya. Tapi kemarahan menutupi hati semua keluarganya.
Seakan tak putus asa, Al kembali meraung kepada Abinya, memohon agar Uminya tidak dibawa Polisi. Ibra hanya diam membiarkan Al menangis. Tidak mendapat balasan apapun dari Ibra, Al kembali memeluk Dee sambil menangis terisak memohon agar Uminya tidak pergi.
Dee mengalihkan pandangannya kepada Ibra berhrap Ibra masih ingin melihat wajahnya walau sebentar saja. Tapi itu hanya harapan, Ibra yang tidak sanggup melihat tangis anak dan istrinya mengalihkan pandangan tanpa mau memisahkan Dee dan Al. Naina yang melihat itu mencoba melepaskan pelukan Al dan Dee. Al terus saja meronta, menolak untuk melepaskan Uminya. Wajah anak itu sembab karena tidak berhenti menangis.
Dee yang tidak kuat melihat dan mendengar tangis anaknya, langsung berdiri dan berjalan diiringi Polisi keluar dari rumah sakit.
"Umi nggak boleh pelgi, Pak Polisi jangan bawa Umi. Umi bukan olang jahat," suara Al terus terdengar memanggil-manggil Dee untuk tidak pergi. Al menangis terisak sampai terbatuk dan muntah. Air ludahnya sudah merembes keluar mulutnya sampai dagu karena kuatnya menangis.
Dee terus berjalan mengikuti Polisi tanpa menoleh kebelakang. Tidak sanggup melihat keadaan anaknya. Mengapa tidak ada orang yang percaya kepadanya? Dia bukan pembunuh. Bahkan suami yang selalu ia jadikan sumber kehidupannya tidak mempercayainya sama sekali.
Dee sudah tidak terlihat di lorong ruangan ICU, tapi Al tidak berhenti menangis. Ia terus memanggil Uminya. Berharap Uminya akan kembali dan memeluknya.
Wijaya dan kedua orang tua Dee tidak bisa berbuat banyak. Sedangkan Ibra dan Kevin mencoba menenangkan Al yang terus menangis berteriak di gendongan Naina. Karena tidak melihat tanda-tanda Al mengehentikan tangisnya, Naina membisikkan sesuatu ke telinga Al. Entah apa yang ia bisikan, perlahan tangis Al mulai reda, dan menyisakan isakan kecil yang keluar dari mulutnya.
Semenjak kejadian itu tidak ada seorangpun yang tau dan menjenguk keberadaan Dee di kantor polisi. Apa yang terjadi dengannya seolah tidak penting bagi keluarganya. Dia seakan dilupakan. Sedangkan Bu Raina, dinyatakan koma karena tidak ada menunjukan perkembangan apapun setelah operasi. Baik di rumah maupun di kantor, Ibra melarang semua orang membicarakan istrinya itu.
*Flashback Off
Tak terasa air matanya menetes. Mengingat bagaimana kejadian memilukan itu harus terjadi dalam keluarganya. Rasa laparnya hilang karena kenyang dengan segala pemikirannya. Hingga akhirnya Ibra memutuskan kembali ke kamar.
Sampai di kamar, Ibra melihat Dee yang tidur dengan selimut yang sudah tergulung. Melihat itu Ibra tersenyum, karena setiap tidur istrinya ini selalu membuat kasur berantakan kecuali jika ia tidur saat dipeluk Ibra. Dee akan tidur dengan tenang. Ada kerinduan di hati Ibra untuk bermanjaan dengan Dee.
Ibra ingat, semenjak kepulangan Dee dari penjara, ia selalu tidur menggunakan baju yang tertutup. Tidak seperti biasanya seperti sebelum ia masuk penjara. Sebelum masuk penjara, Dee akan tidur dengan pakaian tidur tipis. Tidak ingin ambil pusing, Ibra memilih untuk kembali merebahkan dirinya. Memandangi langit-langit kamar memikirkan segala sesuatu yang sudah dilalui keluarganya.
Ibra berbalik menghadap Dee. Matanya menelusuri setiap lekuk wajah Dee. Dalam hati kecilnya, Ibra sangat merindukan istrinya ini. Tapi rasa kecewa tidak mampu mengimbangi cinta yang ia miliki untuk istrinya. Kesalahpahaman telah membutakan Ibra, sehingga tidak melakukan tindakan apapun dan mempercayai semua bukti yang menunjukan bahwa, Dee bersalah dalam kejadian setahun yang lalu.
"Mengapa kenyataan tidak sesuai dengan keinginan kita? Andai semuanya tidak terjadi, mungkin saat ini kita akan sangat bahagia. Tapi kenapa kau menghancurkan semuanya? Aku sangat mencintaimu. Tapi maaf, saat ini hatiku sedang dalam keadaan berantakan, tidak berbentuk, dan banyak luka disana. Kekecewaan yang kau berikan menghancurkan semuanya. Percayalah, segala ucapan kasar yang aku katakan keluar begitu saja tanpa seizin hatiku," lirih Ibra dalam hati memandangi wajah Dee dengan sendu.
Lama memandangi istrinya, rasa kantuk perlahan datang dan membawa Ibra ke dunia mimpinya.
......................
Hai Teman-Teman, Terimakasi sudah mampir dan temani Dee menggapai kembali cinta suaminya yaa ,,,
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa untuk melihat ucapan ucapan mutiara author yaa.....
tapi seruuu puas bgt bacanya
terimakasih thooor
semoga karya mu selalu d gemari
berbahagialah dee
paling buat berobat Jaka 15rb tuuh beli betadine