Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Semua pakaian sudah masuk ke lemari. Pakaian dalam ditata di dalam lemari laci kayu paling atas. Rama sempat memberitahu lewat WA. Tetapi untuk make up dan skincare, Nara tidak tahu harus ditaruh di mana. Untuk sementara biarkan di pouch. Pouch berwarna salem itu diletakkan di meja kecil, di dekat tumpukan buku.
Nara mendorong koper di sisi kanan lemari bersamaan dengan suara ketukan pintu. Agak ragu-ragu, Nara melongok. Karena pintunya setengah terbuka, dia melihat separuh badan perempuan yang mengenakan daster.
"Mas, Mas Rama...."
"Iya, bentar." Nara menyahut, melangkah menuju pintu. Melihat dengan jelas perempuan cantik, berambut lurus sebahu tersenyum lebar. Daster panjang tanpa lengan, mengekspos bahu, dada atas, dan lengan.
"Mas Rama sedang keluar."
"Mbak ini siapanya Mas Rama?"
"Aku istrinya." Nara menjawab.
Perempuan itu tampak terkejut, semburat kekecewaan terlihat. Kemudian menelisik Nara dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kamu bukan mantan pacarnya. Mantan pacarnya agak gemukkan. Kamu kurus banget. Kamu juga nggak pernah terlihat sebelumnya di kontrakan Mas Rama." Perempuan yang mengenal diri bernama Rena itu juga mengatakan kalau Gita hanya dua kali datang.
Nara sudah terbiasa mendengar ucapan mengenai bentuk tubuhnya. Tidak mengapa, yang penting sehat. Tapi tidak kurus banget seperti yang dikatakan Rena. Cukup proposional.
"Oh, ini aku tadi masak sayur kacang panjang campur toge dan udang. Kesukaan Mas Rama." Ucap Rena sambil memberikan piring yang tertutup tisu makan.
"Makasih, Mbak." Nara meraih piring itu.
"Aku tinggal di kontrakan itu. Yang depannya ada pot-pot bunga." kata Rena.
"Iya, Mbak."
Rena kembali ke kontrakannya. Nara hendak masuk saat melihat motor Rama. Rena tampak melambaikan tangan dan menyapa rada genit.
"Mas Rama ganteng ya tanpa kumis..."
Rama hanya tersenyum, tanpa menghentikan motor. Tetap melaju lambat. Kendaraan roda dua itu berhenti di teras.
"Rena datang?" tanya Rama seraya turun dari kendaraan.
Nara mengangguk. "Ngasih tumis kacang panjang. Kayaknya naksir Mas Rama."
Rama mengambil kantong belanjaan dari cantolan motor. "Udah sejak lama. Memang sering ngasih makanan."
"Oh." Nara membalikkan tubuhnya, berjalan masuk rumah sampai di dapur kecil. Menaruh piring di meja.
"Tapi itu yang terakhir. Aku udah punya istri." lanjut Rama menutup pintu. "Aku akan bicara dengan Rena."
Nara tersenyum tipis. Sebenarnya tidak peduli jika Rena masih memberi makanan. Statusnya memang istri Rama. Tetapi jauh di lubuk hatinya menyangkal kenyataan itu. Jadi agak-agak bodoh amat dengan Rena.
Rama membeli nasi padang untuk makan siang juga dua es teh jumbo. Lanjut mengeluarkan sabun cuci piring, dan sabun cucu baju.
"Kamu berangkat jam berapa?"
"Jam satu lebih, Mas." jawab Nara seraya menarik kursi lalu diduduki. Mengambil teh jumbo dalam kemasan gelas plastik.
"Jam berapa pulangnya?" Rama juga duduk.
"Jam sembilan malam." Nara menyedot es teh manis yang terasa segar di tenggorokan.
Rama memberikan uang tunai lima ratus ribu.
"Aku akan bekerja lebih keras. Supaya kita punya rumah sendiri. Aku memberikan uang belanja nggak tentu harinya, bisa tiga hari sekali atau seminggu, jumlahnya juga tidak tentu. Tapi aku pastikan kamu nggak kekurangan."
Nara memandangi uang di meja, lalu menatap Rama. Apa yang dikatakan bapaknya benar, bahwa suaminya baik, bertanggung jawab, dan pekerja keras.
"Aku juga sedang mengusahakan mendapatkan pekerjaan tetap." Rama tersenyum. Senyum itu sangat manis, ada lekuk samar di pipi kanan Rama. Cukup lama mengenal baru menyadari sangat menarik saat tersenyum.
Buru-buru Nara menunduk, menyedot tehnya. "Oiya, Mas Rama bilang mau merantau ke luar Jawa?"
"Nggak jadi. Sekarang ada kamu." Rama tersenyum lagi.
"Tolong kirim nomor rekeningmu, Nara."
Nara beranjak dari kursi, mengambil ponsel yang sedang diisi daya.
"Mas, aku belum nyimpen nomor hape kamu."
Rama terkekeh. Karena dirinya sejak awal kenal sudah menyimpan nomor telepon Nara.
"Udah aku wa. Itu nomor hapeku." kata Rama.
Nara membaca pesan dari Rama: [Istriku] Mendadak agak grogi dan gugup.
"Udah aku kirim no rekeningku, Mas." ucap Nara, lalu menyimpan nomor Rama dengan nama kontak A Mas Rama. Biar muncul di paling atas saat membuka kontak ponsel.
****************
Gita sudah mendapatkan Dewa. Tetapi merasa tidak suka melihat Rama bersama Nara. Harusnya Nara gagal menikah, begitu lebih baik.
"Kenapa ke restoran itu?" Dewa protes karena Gita memilih restoran Lemon. Tempat Nara bekerja.
Gita ingin merayakan hari ulang tahunnya. Dia yang memilih tempat.
"Ke restoran lain saja." Yuni ikut usul karena tahu keponakannya kerja di restoran itu.
"Kamu cari perkara saja."
"Aku pinginnya ke situ. Kalau kalian nggak mau ya udah, sih. Aku berangkat sendiri, ngajak temenku." sahut Gita. Lalu ditatapnya ibu dan kekasihnya bergantian.
"Aku suka menu makanannya. Aku nggak peduli ada Nara."
"Sama ibu saja." Harmi menggamit lengan Gita. Keduanya berjalan menuju mobil.
Dewa mendengus. Terpaksa menuruti keinginan Gita. Begitupun dengan Yuni, mau tidak mau menuruti putri satu-satunya.
Mobil yang dikemudikan Dewa meluncur cepat di jalanan yang ramai dengan lancar. Sesekali melirik Gita yang duduk di sebelah.
"Dewa, kapan kamu akan melamar dan nikahi Gita?" tanya Yuni.
"Tidak bisa buru-buru, Bu." Dewa menjawab pelan.
"Sabar sedikit, Bu Yuni. Dewa nggak mungkin lari dari tanggung jawab kok." timpal Harmi.
"Iya, masalahnya perut Gita nanti tambah gede." Yuni rada sewot.
"Nikah siri dulu nggak apa-apa."
"Iya, Bu. Nanti kita bicarakan lagi." sahut Dewa. Hidup dibikin ribet karena ulahnya sendiri.
Restoran Lemon, restoran yang menempati bangunan lawas. Tidak begitu ramai tetapi kualitas makanannya terjaga.
Gita menggandeng tangan Dewa ketika memasuki restoran. Di dekat etalase yang berisi roti-roti jadul, Nara terlihat sedang memasukkan nampan roti.
"Kita lihat-lihat roti dulu." ajak Gita.
Harmi menahan Gita. Menyuruhnya duduk dan memesan makanan. "Nanti aja kalau mau pulang." katanya.
Gita mendecak kesal. Demi menjaga sopan santun terhadap calon ibu mertuanya, Gita berusaha menjadi perempuan penurut. Sangat menyebalkan.
"Aku mau ke kamar mandi dulu." Gita menaruh tas di kursi. Berjalan melewati etalase dan meja kasir, tidak ada Nara di balik meja itu.
Senyum sinis Gita merekah di bibirnya yang bergincu merah kala melihat Nara berjalan dari arah berlawanan.
Gita mencegat langkah Nara.
"Gimana malam pertama dengan Rama? Pasti kamu menderita ya, karena bukan Dewa yang jadi suamimu."
"Aku nggak menderita. Minggir aku harus bekerja." Nara melangkah ke samping kanan, Gita menutup langkahnya.
"Gita, jangan kekanak-kanakan."
"Ayo, ceritakan... apa Rama bisa membuat mu menjerit?"
"Pikiran mu mesum terus." Nara mendorong pelan tubuh Gita.
"Kamu perlu ke rumah sakit jiwa."
Gita tidak terima, menarik rambut Nara yang lewat sampingnya. Nahas, kaki kanan Gita terpeleset dan terjatuh. Nara ikut terjatuh karena rambutnya ditarik Gita.
"Aduh ...." Gita memegangi perutnya yang terasa nyeri. Darah merembes dari area pangkal paha, mengalir ke kakinya. "Tolong aku."
Nara segera berdiri, meminta bantuan. Memanggil Dewa dan karyawan yang lain.
"Kau apakan Gita!??" bentak Dewa, berjongkok di dekat Gita yang kesakitan.
"Ayo kita ke rumah sakit."
"Aku nggak ngapa-ngapain, Gita jatuh sendiri."
Dewa menatap tajam mantan kekasihnya itu.
"Awas, kalau terjadi sesuatu pada calon bayi kami!!"
"Jangan dipikirkan, Nara. Yang salah Gita." ujar Fira, pramusaji restoran.
"Memang sepupumu nggak waras. Nggak tahu malu."
Nara mengangguk. Akibat jatuh, Gita mengalami keguguran dan sekarang dirawat di rumah sakit. Nara sempat dicaci maki Yuni.
Yuni bilang, Nara iri karena Gita akan dinikahi Dewa. Lelaki berseragam yang gagah, daripada Rama yang pekerjaannya tidak tentu.
"Aku duluan, ya. Itu bokap udah sampai." pamit Fira.
"Iya."
Nara memandangi Fira yang berlari-lari kecil menuju motor matic yang menunggu di dekat pagar. Nara masih duduk menunggu Rama.
Suara notifikasi pesan terdengar. Nara membaca pesan dari Harmi: [Kamu sengaja membunuh cucuku!]
Disusul pesan dari Yuni: (Kamu harus menanggung biaya rumah sakit. Bilang ke suami kere mu.]
Kedua mata Nara menghangat, hatinya memanas. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Nara sudah mengirim bukti rekaman cctv, terlihat jelas kalau Gita jatuh sendiri.
"Nara!" teriak Rama.
Nara mendongak, melihat Rama melambaikan tangan kanannya. Nara beranjak dari kursi teras restoran, berjalan gontai melewati halaman.
"Ini helmnya. Maaf aku agak terlambat." Rama mengulurkan helm hitam.
"Karena tadi bos di kafe ngajak ngobrol sebentar."
Nara tidak mengambil helm, ia maju selangkah memeluk Rama yang masih duduk di motor. Kedua tangan melingkar di leher, kepala di bahu sang suami.
"Aku nggak bersalah
Tangan Rama yang mengulurkan helm perlahan turun. Tangan kirinya menepuk-nepuk punggung Nara. Rama belum mengetahui apa yang terjadi tiga jam lalu.
Karena Nara masih menumpahkan tangisan, tepukan itu berubah menjadi pelukan. Tangannya melingkar erat di pinggang Nara. Rama tidak bertanya, ia sabar menunggu istrinya lebih tenang.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬