Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang Tidak Biasa
Pagi itu Raka bangun lebih awal lagi.
Bukan karena alarm.
Bukan karena suara kendaraan di jalan.
Tapi karena pikirannya sendiri tidak mau berhenti bekerja.
Ia duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar apartemennya yang sederhana.
Biasanya pagi bagi Raka dimulai dengan satu kalimat yang sama.
"Ya mungkin nanti."
Atau lebih sering lagi…
"Ya mungkin besok."
Tapi pagi ini berbeda.
Ia menghela napas panjang.
“Kalau Nina benar-benar pergi ke Singapura…”
Ia berhenti berbicara sendiri.
Kalimat itu terasa berat bahkan untuk diucapkan.
Raka berdiri, berjalan ke dapur kecil, lalu menuang kopi.
Aneh.
Hari ini kopi itu langsung diminum.
Tidak dibiarkan dingin.
“Ini benar-benar bukan aku,” gumamnya.
Sementara itu di kantor Nina, suasana jauh lebih sibuk dari biasanya.
Bosnya berdiri di depan meja sambil membawa map berisi dokumen.
“Nina, kantor pusat sangat serius dengan promosi ini.”
Nina duduk dengan tenang.
“Berapa lama penempatannya?”
“Minimal tiga tahun.”
Nina mengangguk pelan.
“Dan posisi ini bisa membawa kamu ke level direktur.”
Nina terdiam.
Ini adalah kesempatan yang dulu selalu ia impikan.
Karier internasional.
Proyek besar.
Semua yang ia kejar selama bertahun-tahun.
Namun entah kenapa…
Pikirannya justru kembali ke satu orang yang sering datang terlambat ke kafe.
Raka.
Dengan senyum santainya.
Dengan kalimat aneh yang selalu sama.
Ya mungkin besok.
Bosnya memperhatikan Nina.
“Kamu ragu?”
Nina menjawab jujur,
“Sedikit.”
Bosnya tersenyum.
“Itu normal.”
Siang hari.
Kafe Kopi dan Tawa seperti biasa dipenuhi aroma kopi dan suara percakapan.
Barista sedang membersihkan meja ketika pintu terbuka.
Raka masuk.
Namun kali ini…
Ia membawa sesuatu yang tidak pernah ia bawa sebelumnya.
Sebuah buku catatan kecil.
Barista langsung memperhatikan.
“Kamu membawa buku?”
Raka duduk di kursinya.
“Iya.”
Barista mengangkat alis.
“Apa itu?”
Raka membuka halaman pertama.
“Rencana.”
Barista hampir menjatuhkan sendok.
“Kamu punya rencana hidup?”
Raka mengangguk pelan.
“Ya mungkin.”
Barista duduk di kursi seberang meja.
“Aku harus melihat ini.”
Raka menunjukkan halaman buku itu.
Di sana tertulis dengan tulisan agak berantakan:
Rencana Raka (versi tidak menunda):
Bangun pagi lebih sering
Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
Tidak membiarkan kopi dingin
Mengatakan perasaan dengan jelas
Tidak kehilangan Nina
Barista membaca sampai poin kelima.
Ia tersenyum lebar.
“Ini rencana romantis.”
Raka menggaruk kepala.
“Jangan bilang ke siapa-siapa.”
Beberapa menit kemudian pintu kafe terbuka lagi.
Nina masuk.
Ketika melihat Raka sudah duduk di meja mereka, ia sedikit terkejut.
“Kamu sudah di sini?”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Nina duduk.
“Kamu datang cepat.”
“Ini bagian dari rencana.”
Nina mengerutkan kening.
“Rencana?”
Raka mendorong buku catatan itu ke arahnya.
Nina membaca halaman itu pelan.
Semakin ia membaca, semakin sudut bibirnya terangkat.
“Kamu membuat daftar rencana hidup?”
Raka mengangguk malu.
“Ini eksperimen.”
Nina menunjuk poin terakhir.
“Tidak kehilangan Nina?”
Raka menggaruk kepalanya.
“Ya… itu penting.”
Nina menutup buku itu perlahan.
“Raka.”
“Iya?”
“Kamu tidak perlu mengubah seluruh hidupmu karena aku.”
Raka menatapnya.
“Aku tidak mengubahnya karena kamu.”
“Lalu?”
“Aku mengubahnya karena aku ingin menjadi seseorang yang pantas berada di hidupmu.”
Beberapa detik Nina hanya menatapnya.
Untuk pertama kalinya…
Raka terlihat benar-benar serius.
Tidak bercanda.
Tidak menunda.
Hanya jujur.
Nina berkata pelan,
“Aku harus memberi jawaban tentang Singapura minggu ini.”
Raka mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kamu tidak akan mencoba menghentikanku?”
Raka tersenyum kecil.
“Tidak.”
Nina terlihat sedikit bingung.
“Kenapa?”
Raka menatapnya dengan tenang.
“Karena kalau kamu bahagia di sana… aku akan ikut bahagia.”
Nina terdiam.
Raka melanjutkan dengan nada santai yang kembali muncul sedikit.
“Tapi…”
Nina menunggu.
“Kalau kamu tinggal di sini…”
Raka tersenyum.
“…aku akan sangat bahagia.”
Nina tertawa kecil.
Mereka duduk di kafe itu cukup lama.
Mengobrol tentang hal-hal kecil.
Tentang pekerjaan.
Tentang rencana aneh Raka.
Tentang masa depan yang belum jelas.
Ketika akhirnya Nina berdiri untuk pergi, ia berkata pelan,
“Raka.”
“Iya?”
“Aku belum tahu jawabannya.”
Raka mengangguk.
“Tidak apa.”
Nina menatapnya.
“Kamu tidak akan menunda menunggu?”
Raka tersenyum kecil.
“Ya mungkin.”
Nina tersenyum.
Lalu berjalan keluar dari kafe.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Raka tidak merasa takut menunggu.
Karena kali ini…
Ia sudah melakukan sesuatu yang biasanya selalu ia tunda.
Berjuang.