Demi bertemu sang ibu, Liya berlari ke portal. Akan tetapi, jiwanya malah berpindah ke dunia hewan. Di sana, dia terkejut mendapati tubuh yang dia tempati sangat gendut berbeda dengan tubuh aslinya. Tabiatnya buruk dan malah mendapatkan empat suami hewan yang ingin membunuhnya karena perjodohan dewa monster. Dengan kematian, maka perceraian bisa terjadi.
"Tidaaaaaaaaak!" Liya menjerit keras, yang dia inginkan bertemu ibunya atau kembali ke dunia asalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Dicekik
Liya dan Pidi berkeliling di sekitar semak, mengambil daun pisang liar, bahkan mengambil beberapa biji pisang yang sudah kuning.
Selama ini, Liya banyak belajar, tentang tumbuhan obat dari Kakek guru, yang bisa di makan dan tidak dimakan dari Ayah Jack, lalu belajar lainnya dari para ayah, apalagi ayah Varsya, dia sangat tahu banyak jenis tumbuhan karena dia keturunan darah peri, memiliki tanah peri juga, mengingat itu Liya jadi rindu pulang, tapi dia tersesat di dunia ini, tujuannya padahal dunia Ibunda. Untuk kembali lagi bagaimana caranya? Tak ada petunjuk.
Liya hanya perlu bertahan hidup, memutar akal agar tidak mati konyol di badan gendut ini, salah satunya memanfaatkan dua suami ini, mereka tidak terlalu ketara dalam membenci, di sogok makanan, langsung mau membantu!
"Aku mencium kemangi hutan, alias ruku-ruku!" Liya senang dan terus mengendus, hingga menemukan banyak kemangi hutan. Beda kemangi biasa dan kemangi hutan adalah aroma menyengat. Kemangi hutan aromanya menyengat sekali, dan kalo sedikit tua langsung tumbuh bunga dan berbiji. Liya memetiknya.
"Daun kentut ini untuk apa!" Pidi protes karena bau kemangi hutan menyengat sekali, bau kentut pedas.
"Daun ini bagus untuk campuran, masak asam pedas ikan, pepes ikan atau gulai ikan! Yang penting petik dulu!" Liya memetik banyak, langsung memindahkan ke ruang penyimpanan.
Pidi terkesima, jarang sekali betina punya ruang penyimpanan. Biasanya, harus level diatas 10 baru punya ruang penyimpanan. Aneh, Liya masih level 1 lebih sedikit sudah punya ruang penyimpanan sendiri.
"Senang ya, punya ruang penyimpanan, semoga aku nanti bisa naik level 16, agar punya ruang penyimpanan juga," katanya pelan, dengan mata menatap Liya malu-malu.
"Oh, kalau jantan harus di level 16?" Dia asik memetik daun kemangi hutan.
"Iya." Ekor Pidi bergoyang penuh makna. Sayangnya, si betina tidak mengerti secuil pun.
"Eeeh, lihat itu, ada buah labu? Itu labu 'kan?" Liya Menoleh, bertanya pada Pidi.
"Iya, tapi itu muda semua, tidak ada yang masak," jawabnya.
Ada labu bulat dan labu panjang menjalar di sekitar sana. "Ini kebun siapa?" tanya Liya sambil berjalan menelusuri tumbuhan labu yang merambat kemana-mana.
"Tumbuhan liar saja, siapa yang mau berkebun labu ini? Ini hanya makanan siluman tupai dan sejenisnya, kalo buahnya masak, buahnya terasa sedikit manis tidak mengenyangkan, tidak lezat seperti masakan Liya," kata Pidi, dan di ucapan terakir dia sedikit melambatkan suara. Malu-malu.
"Oh, tidak milik siapa-siapa? Kalau begitu, apa tanah dari sekitar gua aku sampai tanah di sini, bisa dibilang kebunku?"
"Kalau Betinaku mau, itu bisa, aku akan membantu membuatkan pagar untuk penanda wilayah, dan akan meminta izin dan menjadi hak milik pada Ibu mertua, ibu mertua sebagai ketua klan pasti memberikan izin itu untuk kamu," jawab Pidi.
Mata Liya langsung berbinar. 'Astaga, siluman harimau ini adalah suami yang baik, kenapa si pemilik tubuh asli tidak terlalu suka dia. Lihat, dia tampan, tubuhnya bagus, baik lagi!'
Merasa di tatap Liya cukup lama, Pidi gelagapan. "A-apa Liya tidak suka?"
"Suka. Suka sekali malah. Mohon bantuan Pidi, ya!" kata Liya cepat. Siapa yang mau menolak suami baik seperti ini dengan tenaga gratis.
"Baik, besok setelah matahari muncul, aku akan ke tengah hutan membawa kayu untuk membuat pagar, semua tanah yang Liya mau akan aku pagari untuk berkebun," ucap Pidi tersenyum lembut.
"Baiklah, kalau begitu aku ambil dulu buah labu-labu yang sudah besar semua!" Labu yang sudah besar di petik dan di simpan di ruang penyimpanan, sedikit putik labu juga di ambil Liya serta daun pucuk labu.
Pidi memperhatikan dengan heran, tapi dia tak ingin protes karena Liya bilang, itu bisa di makan, betinanya pintar!
Setelah memetik daun kemangi, dia menemukan dua rumpun kecil serai, Liya mengambil empat tangkai batang serai. Barulah dia dan Pidi kembali.
Baru saja sampai, mereka sudah di sambut seruan Bayu. "Kalian baru sampai?"
"Iya, aku memetik beberapa yang bisa di masak dulu," jawab Liya.
"Itu buah makanan tupai, tapi masih muda dan itu putiknya, emang bisa di makan?" tanya Bayu penasaran.
"Bisa!" Liya segera menghidupkan api di tungku baru yang dibuat tadi. Pidi dan Bayu memperhatikan itu semua.
"Batu ini apa sudah cukup?" Bayu bertanya, dia sudah mengumpulkan banyak batu, setidaknya sudah dua mobil L300.
"Masih kurang banyak, bawa saja dulu batu-batu itu sampai makanan ku masak, aku buat banyak menu kali ini, mau kan?"
Mendengar banyak menu makanan, Bayu mengangguk, langsung kembali ke sungai. Dia mau makan banyak menu makanan Liya. Bersemangat bekerja kembali.
Tangan Liya cekatan mempersiapkan pepes lele, karena tak ada kelapa parut, jadi ala kadar saja, daun pisang di masukkan ikan lele yang sudah dibersihkan dan di iris-iris bagian dagingnya, lalu di lumuri bawang merah dan jahe giling serta tambahan garam, kemudian di masukkan potongan besar tomat, irisan bawang merah, kemangi hutan ke dalam bungkusan daun, lalu di bakar.
Sisa lele lainnya dia bakar biasa beserta putik labu juga di bakar. Belut digoreng, umbi serai di iris tipis, bawang merah diiris tipis, jahe juga di iris tipis, di tambahkan air jeruk nipis dan garam, setelah belutnya di goreng, belut itu di aduk-aduk dengan racikan bumbu serei potong tipis tadi.
Lele pepes, lele bakar, goreng belut serei sudah masak, terakhir Liya membuat serabut bulu kasar pada pucuk daun labu, menumisnya dengan sedikit air saja, kemudian buah labu berkulit hijau yang di kira muda oleh Pidi itu, di rebus bening saja.
Selama Liya memasak, Pidi juga membantu Bayu membawa batu, mereka mengumpulkan batu-batu berukuran kecil, sebesar kepalan tinju, sebesar kepala dan sebesar pelukan pidi dan Bayu, itu paling besar.
Tiba-tiba dari arah lain, Abyssal datang dengan mata merah, nafasnya tersengal-sengal. "Dasar betina licik, aku sudah peringatkan kau bukan, aku tidak mau kawin dengan kau!"
Liya melihat labu bening mendidih, dia mengangkat masakan itu, mengeluarkan kayu bakar, agar api padam, menyisakan arang menyala.
"Aku licik seperti apa!"
"Kau lagi dan lagi memberikan obat dalam makan aku, aku jelas tak ingin memperpanjang pernikahan denganmu, mati saja sana!" Tubuh Abyssal jelas tak normal, setengah dadanya mengeluarkan sisik yang berkilauan, bagian pipinya juga.
Brak! Dari arah lain, seseorang juga datang, langsung mencekik leher Liya. Mata Liya terbelalak, kerongkongannya tercekat, dia kepayahan bernafas. Tubuhnya yang gendut berlemak terangkat sedikit sekali.
"Le-le-lepaskan a-aku!" Liya susah payah berkata, dia meremas kuat dengan kedua tangannya tangan pria yang mencekik leher dirinya.
Ting! Ruang dimensi elemen air level 1 terbuka! Itu adalah pemberitahuan ruang penyimpanan milik Liya.
Setelah pemberitahuan itu muncul, telapak tangan Liya mengeluarkan air kecil, sebesar pipis bayi, dia mengangkat dan menempelkan satu tangannya ke wajah manusia jahat yang mencekiknya itu.