Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Undangan Emas
Pagi hari pasca-kemenangan mutlak Lin Fan atas Jian Chen, Dapur Luar tidak lagi terasa seperti bagian dari Sekte Awan Mengalir. Tempat itu telah bertransisi menjadi sebuah situs ziarah tidak resmi.
Aura Lin Fan yang baru saja menembus Pemurnian Tubuh Tingkat 9 (Puncak), ditambah dengan efek pasif 'Aura Master Mutlak' yang bertahan selama dua puluh empat jam, menciptakan anomali ekologis yang luar biasa di sekitar dapur. Tumpukan kubis spiritual yang biasanya butuh waktu seminggu untuk layu, kini justru terlihat semakin segar, memancarkan embun pagi yang berkilauan. Lalat dan nyamuk, seolah-olah memiliki kesadaran spiritual, secara otomatis membelokkan arah terbang mereka sejauh radius sepuluh meter dari kursi goyang Lin Fan.
Di sudut barat laut, di balik tirai sutra biru yang kini dijaga secara sukarela oleh Zhao Er, Lin Fan sedang bergulat dengan efek samping kekuatannya.
Ia berbaring telentang di atas kursi goyangnya yang terus berayun pelan. Wajahnya ditekuk kesal. Alih-alih merasa senang karena menjadi lebih kuat, Lin Fan merasa sangat terganggu. Energi Qi yang padat di dalam Dantian-nya membuat tubuhnya terasa terlalu bugar. Jantungnya memompa darah dengan sangat efisien, paru-parunya bersih dari segala kotoran, dan otot-ototnya terasa kenyal penuh tenaga.
"Kesehatan adalah musuh dari rasa kantuk," gerutu Lin Fan pelan, menarik selimutnya hingga menutupi dagu, berusaha memblokir cahaya matahari yang menyelinap dari jendela. "Tubuhku memiliki terlalu banyak energi. Jika aku tidak bisa menekan vitalitas ini, aku mungkin akan terpaksa bangun dan melakukan peregangan. Sungguh nasib yang tragis."
Lin Fan memejamkan mata, memaksakan kesadarannya untuk melambat, mencoba menipu sistem sarafnya sendiri agar kembali masuk ke mode hibernasi.
Namun, dunia luar jelas menolak untuk bekerja sama.
Dari arah luar dapur, terdengar suara kepakan sayap raksasa yang menciptakan angin ribut. Seekor Burung Bangau Mahkota Merah—hewan tunggangan eksklusif milik petinggi Puncak Utama—mendarat dengan anggun di halaman tanah di depan Dapur Luar. Angin dari kepakan sayapnya menerbangkan debu dan membuat beberapa panci kayu di luar bergemeretak.
Di punggung bangau itu, duduklah Tetua Bai, Kepala Aula Penerimaan Tamu Sekte. Ia mengenakan jubah sutra putih bersih bersulam awan emas, dengan rambut perak yang diikat rapi menggunakan tusuk konde giok naga. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan perkamen berwarna emas murni yang memancarkan pendaran cahaya suci.
Wang Ta, yang sedang mengawasi perebusan kaldu tulang naga bumi di dalam, nyaris menelan lidahnya sendiri saat melihat siapa yang datang. Ia segera berlari keluar, celemeknya berkibar-kibar, diikuti oleh puluhan murid pelayan yang langsung berlutut di tanah.
"Tetua Bai!" seru Wang Ta dengan suara gemetar, dahinya menyentuh tanah. "Hamba yang hina ini menyambut kedatangan Anda di Dapur Luar! Apakah... apakah ada bahan makanan yang kurang segar di Puncak Utama hari ini?"
Tetua Bai melompat turun dari bangaunya dengan gerakan seringan bulu. Matanya yang bijaksana menyapu bangunan Dapur Luar yang kumuh. Ia tidak menunjukkan rasa jijik seperti Diaken Hu atau Koki Yan Lie. Sebaliknya, ia menatap tempat itu dengan rasa hormat yang mendalam, seolah-olah ia sedang berdiri di depan kuil kuno.
"Bangunlah, Wang Ta," ucap Tetua Bai, suaranya tenang dan berwibawa. "Aku tidak datang untuk urusan dapur. Aku membawa Dekrit Undangan Emas langsung dari Pemimpin Sekte Linghu. Di mana... Master Lin?"
Mendengar gelar 'Master Lin' diucapkan dengan begitu hormat oleh Tetua tingkat atas, Wang Ta nyaris pingsan karena kebanggaan yang meledak di dadanya. Ia segera bangkit, membungkuk setengah badan, dan mengarahkan tangannya ke dalam dapur.
"B-beliau ada di dalam, Tetua. Di sudut barat laut. Sedang... sedang dalam fase perenungan mendalam setelah menghancurkan iblis hati Jian Chen kemarin," jawab Wang Ta dengan suara berbisik yang sengaja dibuat dramatis.
Tetua Bai mengangguk penuh pengertian. "Tentu saja. Menyelami dimensi astral membutuhkan pemulihan yang panjang. Antarkan aku ke hadapannya, tapi jangan buat keributan."
Wang Ta memimpin jalan, melangkah berjinjit seperti kucing gemuk yang sedang mengendap-endap. Tetua Bai mengikutinya, mengendalikan aliran Qi-nya agar jubahnya tidak menghasilkan suara gesekan. Mereka tiba di depan tirai sutra biru yang dijaga oleh Zhao Er.
Zhao Er membungkuk dalam-dalam, menyibakkan sedikit tirai sutra itu untuk memberikan ruang bagi Tetua Bai.
Di dalam paviliun mini yang hangat dan harum aroma teh itu, Tetua Bai melihat Lin Fan. Pemuda itu sedang berbaring menyamping di kursi goyangnya. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur, dan tangannya menggaruk punggungnya sendiri dengan gerakan lambat dan malas. Kipas angin otomatis menyapu wajahnya dengan angin spiritual yang sejuk.
Tetua Bai menahan napasnya. Aura Master Mutlak yang dipancarkan Lin Fan secara pasif menghantam indra spiritual Tetua Bai seperti gelombang ombak lautan kosmik. Itu adalah tekanan energi tingkat 9 yang ditekan hingga terlihat seperti orang biasa.
Luar biasa, batin Tetua Bai, matanya berbinar penuh kekaguman. Dia menekan auranya yang begitu dahsyat hanya ke dalam ruang sekecil ini! Jika dia melepaskan auranya, seluruh dapur ini pasti akan hancur menjadi debu! Ini adalah kendali Qi tingkat dewa!
Tetua Bai tidak berani maju lebih dekat. Ia berdiri berjarak tiga meter dari kursi goyang, merapikan jubahnya, dan membungkuk dengan sangat hormat.
"Master Lin," sapa Tetua Bai, suaranya lembut namun disalurkan menggunakan Qi agar bisa menembus alam bawah sadar Lin Fan tanpa mengejutkannya. "Maafkan saya jika mengganggu waktu perenungan Anda. Saya adalah Bai Feng, Kepala Aula Penerimaan."
Di atas kursinya, Lin Fan mengerang pelan. Kelopak matanya berkedut. Ia benar-benar tidak ingin membuka matanya, tapi suara bapak tua ini terus terngiang di kepalanya seperti alarm jam bekker yang disetel snooze berkali-kali.
Dengan sangat enggan, Lin Fan membuka sebelah matanya. Pandangannya masih kabur, melihat sesosok pria berjubah putih mengkilap berdiri di depannya sambil memegang gulungan emas yang menyilaukan mata.
"Terlalu terang..." keluh Lin Fan dengan suara serak, menarik selimut linen putihnya menutupi kepalanya seperti kura-kura yang masuk ke dalam tempurungnya. "Tutup benda emas itu. Mataku silau."
Tetua Bai tersentak. Alih-alih merasa terhina, ia merasa seperti baru saja ditegur oleh seorang guru bijak. Tentu saja! Emas melambangkan kemewahan duniawi! Bagi Master Lin, cahaya emas ini adalah simbol dari ambisi rakus yang kotor! Aku terlalu ceroboh!
Tetua Bai segera menyembunyikan gulungan perkamen emas itu ke dalam lengan bajunya. "Maafkan kepicikan saya, Master Lin. Saya telah menyingkirkan benda duniawi tersebut."
Dari balik selimutnya, Lin Fan bergumam tidak jelas. "Hm. Ada apa? Jika kau ingin memesan makanan, bicaralah dengan Wang Ta. Aku sudah pensiun dari urusan memotong sayur."
Tetua Bai kembali membungkuk. "Bukan, Master. Saya diutus oleh Pemimpin Sekte Linghu. Beliau sangat terkesan dengan demonstrasi Dao Kekosongan Anda di arena kemarin. Malam ini, saat bulan purnama mencapai puncaknya, Pemimpin Sekte mengadakan Perjamuan Seratus Dewa di Puncak Utama. Perjamuan ini hanya dihadiri oleh enam belas Tetua Tertinggi dan tiga murid inti terpilih."
Tetua Bai mengambil napas dalam-dalam. "Pemimpin Sekte secara pribadi mengundang Anda untuk duduk di Kursi Kehormatan di sisi kanannya. Kami telah menyiapkan anggur roh berusia seribu tahun, daging naga bumi yang dipanggang dengan api surga, dan tari-tarian dari peri pedang. Kami semua berharap Anda berkenan hadir untuk memberikan sedikit wejangan mengenai jalan kultivasi Anda yang... unik."
Di balik selimutnya, jantung Lin Fan terasa berhenti berdetak selama sedetik.
Perjamuan di Puncak Utama? pikir Lin Fan, rasa horor mulai menyebar di dalam perutnya.
Otaknya yang malas segera melakukan kalkulasi yang sangat rumit mengenai kerugian kalori:
Puncak Utama berada di ketinggian sepuluh ribu kaki.
Meski mereka mungkin menyediakan kereta terbang, ia tetap harus berjalan dari tempat pendaratan ke aula utama.
Duduk di perjamuan elit berarti harus duduk tegak di kursi kayu keras tanpa sandaran selama berjam-jam.
Ia harus berbicara, merangkai kata-kata filosofis palsu, dan berpura-pura peduli pada anggur seribu tahun yang rasanya mungkin seperti cuka basi.
Menonton tarian peri pedang sama saja dengan menonton orang senam aerobik dengan senjata tajam. Sangat tidak menenangkan.
Kesimpulan: Itu adalah definisi dari lembur tanpa dibayar, putus Lin Fan dalam hati. Aku lebih baik menelan wajan besi panas daripada harus pergi ke sana.
Namun, menolak Pemimpin Sekte secara langsung bisa memicu masalah panjang. Ia harus menggunakan cara penolakan "Master" yang elegan, yang membuat mereka berpikir bahwa penolakan itu adalah sebuah pelajaran moral.
Lin Fan menurunkan selimutnya perlahan, membiarkan wajahnya yang tanpa emosi terlihat. Ia memandang Tetua Bai dengan tatapan yang sangat kosong, seolah-olah ia sedang menembus ruang dan waktu.
"Perjamuan..." ucap Lin Fan lambat-lambat, suaranya diayunkan dalam nada monoton yang sangat berat. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya, membuat kursi goyangnya berayun mundur.
Kreeet...
"Katakan padaku, Tetua Bai," lanjut Lin Fan. "Apa gunanya anggur berusia seribu tahun, jika ia hanya akan diubah menjadi air seni keesokan paginya?"
Tetua Bai terkesiap. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya membelalak lebar. Pertanyaan itu... itu menohok tepat di inti kefanaan hidup manusia!
Lin Fan melanjutkan, tangannya kembali menggaruk perutnya yang tertutup jubah kumal. "Dan daging naga bumi yang dipanggang dengan api surga? Apakah rasanya lebih memuaskan daripada sebutir ubi jalar yang dipanggang dalam keheningan abu sisa semalam? Kalian mengadakan perjamuan untuk merayakan keberhasilan... tapi kalian lupa bahwa perut yang terlalu penuh akan membuat tubuh menjadi berat, dan jiwa tidak bisa terbang bebas."
Wang Ta dan Zhao Er di luar tirai menutupi mulut mereka menahan isak tangis pencerahan.
Tetua Bai mundur selangkah. Tangannya yang tersembunyi di balik lengan bajunya gemetar. Ia merasa malu. Benar-benar malu hingga ke sumsum tulangnya. Selama ini, para Tetua sekte membanggakan kemewahan Puncak Utama, menganggap bahwa mengonsumsi harta karun adalah puncak kultivasi. Namun, pemuda di depannya ini baru saja menelanjangi kesombongan mereka dengan satu kalimat sederhana.
"Master Lin..." suara Tetua Bai parau oleh emosi. "Maksud Anda..."
"Puncak Utama terlalu tinggi. Udara di sana terlalu tipis, penuh dengan ambisi yang saling bergesekan," ucap Lin Fan, memberikan alasan penolakan yang paling logis menurut otaknya yang malas. Ia kembali menutupi tubuhnya dengan selimut dan memutar posisi tidurnya membelakangi Tetua Bai.
"Sampaikan permintaan maafku pada Pemimpin Sekte," gumam Lin Fan, suaranya semakin pelan karena ia mulai benar-benar mengantuk lagi. "Katakan padanya... perjamuan sejati adalah saat pikiran kita hening. Tamu terbaik adalah ketiadaan, dan hidangan terlezat adalah tidur yang nyenyak. Aku akan merayakan perjamuannya... di sini, dalam mimpiku. Jangan tunggu aku."
Hening yang sangat sakral menyelimuti sudut Dapur Luar tersebut.
Hanya terdengar bunyi kreeet... kreeet... dari kursi goyang yang mengayun stabil, ditemani dengkuran halus Lin Fan yang kini sudah kembali ke alam mimpi.
Tetua Bai berdiri mematung selama lima tarikan napas penuh. Ia meresapi setiap kata, setiap jeda, dan setiap embusan napas yang dikeluarkan oleh Lin Fan. Di dalam kepalanya, penolakan itu telah berubah menjadi sabda suci dari seorang dewa yang hidup.
Beliau merayakan perjamuannya di dalam mimpi... batin Tetua Bai, air mata menggenang di sudut matanya yang keriput. Beliau sedang mengatakan bahwa pikiran kita semua terlalu terpaku pada realitas fisik. Pemimpin Sekte harus mendengar ajaran ini!
Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun untuk membantah, Tetua Bai merapikan jubahnya, membungkuk sembilan puluh derajat ke arah kursi goyang itu, dan melangkah mundur dengan sangat perlahan hingga keluar dari Dapur Luar.
Setibanya di luar, Tetua Bai melompat ke atas bangau merahnya. Ia menoleh ke arah Wang Ta yang masih berlutut.
"Wang Ta," ucap Tetua Bai, nada suaranya dipenuhi rasa hormat yang mendalam. "Jaga beliau baik-baik. Pastikan tidak ada satu pun suara pisau atau bantingan wajan yang mengganggu 'Perjamuan Mimpi' beliau malam ini. Sekte Awan Mengalir berutang besar pada Dapur Luar karena telah menjadi tuan rumah bagi seorang nabi."
Burung bangau itu mengepakkan sayapnya dan melesat ke langit, membawa pesan penolakan yang paling absurd namun paling dihormati dalam sejarah sekte.
Di dalam Dapur Luar, Wang Ta bangkit berdiri. Ia menatap murid-murid pelayan yang masih shock melihat seorang Tetua tinggi pergi dengan membawa pencerahan dari seorang pelayan yang menolak undangan kaisar.
"Kalian dengar apa kata Tetua Bai?!" desis Wang Ta dengan mata berapi-api. "Malam ini, Master Lin sedang menghadiri perjamuan di dimensi mimpi bersama para dewa! Segel semua pintu! Siapa pun yang berani batuk lebih keras dari suara jangkrik, akan kujadikan kaldu untuk anjing sekte besok pagi!"
Maka, pada malam itu, sementara Puncak Utama sedang dilanda krisis eksistensial karena pesan Lin Fan yang sangat filosofis, Dapur Luar kembali menjadi tempat paling sunyi di dunia, dijaga ketat agar sang 'Master' bisa tidur tanpa gangguan.
Dan di atas kursi goyangnya, Lin Fan tersenyum dalam mimpinya, membayangkan betapa beruntungnya ia tidak harus mengenakan pakaian resmi dan membuang-buang kalori untuk sekadar basa-basi.