Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Wajah tegang mewarnai wajah Panca. Ia sudah punya firasat bahwa papanya pasti akan mengatakan sesuatu hal yang sangat penting. Entah kenapa ia yang biasanya berani mendadak nyalinya jadi ciut saat berhadapan dengan papanya.
"Tok..... Tok...... Tok....." Panca mengetuk pintu ruangan papanya. Meskipun ia anak kandung dari pemilik perusahan tapi ia mesti memiliki atitut dengan tetap mengedepankan sopan santun.
"Masuk." suara papa menyuruh Panca masuk. Panca membuka pintu dan berjalan perlahan menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya.
"Sebenarnya ada apa sih, pa?" tanya Panca sambil memandang lelaki yang wajahnya masih gagah meski usianya sudah tidak lagi muda.
" Kamu tau kesalahan yang kamu buat?" tanya papa menghentikan pekerjaannya dan menutup laptopnya. Papa bangun dari kursi kebesaranya lalu berjaln menuju sofa yang di duduki Panca. Panca mengangkat bahunya mengisyaratkan ketidak tahuan dirinya.
"Apa kamu puas dengan apa yang belakangan ini kamu lakukan?" tanya lelaki itu dengan wajah dingin.
"Maksud papa?" tanya Panca dengan kening berkerut. Ia belum sadar apa yang papanya maksud.
"Apa dengan bermabuk - mabukan masalah yang tengah kamu alami bakal selesai?" tanya papa dengan suara menahan geram. Beberapa kali nampak papa menarik nafas dan menghembuskanya kembali untuk menetralisir emosi yang siap meledak kapan saja.
Panca memilih diam, ia tak berani menjawab karna ujung - ujung tetap saja dirinya yang kena omel. Papanya bukanya tidak tau permasalahan yang tengah dialami putranya tapi ia bersikap tidak tau biar putranya bisa bersikap lebih dewasa dan bisa menyelesaikan sendiri.
Tapi makin hari tak ada perubahan yang ada malah sikap terpuruk Panca makin dalam. Ruamh tangga putranya juga sudh di ujung tanduk karna Wulan sudah tak tahan dengan prilaku buruk Panca belakangan ini. Jika ia tidak turun tangan di pastikan hidup putranya bakalan hancur.
"Kamu benar mau bercerita dengan Wulan?" tanya papa.
"Iya." jawab Panca tanpa ada keraguan di nada suaranya.
"Apa tidka bisa di perbaiki lagi?"
"Ga." jawabnya santai.
"Kamu tau dampak jika kalian bercerai?"
"Ga."
"Citra kamu pasti bakal turun dan papa takut banyak relasi yang memutuskan hubungan kerja sama sama perusahan."
"Bodo amat."
"Kamu mau perusahan terganggu?
"Sudahlah, pa. Ga usah di sangkut pautin antara bercerai dengan performa di kantor. Dari awal aku sudah mengatakan bahwa pernikahan ini ga bakal bertahan. Tapi papa dan mama begitu yakin aku bakal bahagia."
"Apa kelebihan perempauan itu di banding Wualn?" tanya papa.
"Jauh pa, Kekasihku jauh di atas Wulan. Aku sangat mencintainya." aku Panca.
"Cinta, apa cinta bisa mengenyangakan perut kamu?"
"Bukan begitu juga konsepnya pa, aku ingin hidup bersama pilihan aku sendi pa. Sudah cukup papa dan mama mengatur hidup aku."
Papa kehabisan kata - kata tak tau mau ngomong apa lagi. Panca sangat pintar menjawab pertanyaan dari papanya, tidak ada kata kalah dalam kamus Panca. Papa mendengus saking kesalnya dengan ulah Panca yang berhasil memancing emosi papanya.
"Pokoknya Papa ga mau tau apa yang tengah kamu alami, papa mau kamu tanggung jawab pada perusahaan. Jangan hanya karna masalah picisan karier kamu taruhannya. Wanita itu tidak hanya satu masih banyak wanita di luar sana yang jauh di atasnya." Emosi papa memuncak karna putranya merasa tak bersalah sama sekali. Entah bagaimana caranya lagi ia membuat putranya sadar dari keterpurukan. Ancaman yang ia berikan juga tak mempan. Lelaki itu kehabisan akal untuk menyadarkan putranya. Ia harus berpikir kembali langkah selanjutnya.
...****************...
Assalamualaikum kk, di tunggu masukan dan komenya yang banyak. Terimakasih supportnya kk👍😘🙏🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?