Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Rania
Pagi itu udara kota terasa lebih panas dari biasanya, bukan karena matahari benar benar lebih terik, melainkan karena berita yang beredar di dunia bisnis sejak dini hari membuat banyak orang terbangun dengan rasa penasaran yang sama. Di layar layar komputer kantor, di meja rapat para investor, bahkan di percakapan singkat antar eksekutif, satu nama terus muncul berulang ulang. Rania Hartono. Ia duduk tenang di ruang rapat Hartono Group bersama beberapa direksi senior, layar besar di depan mereka menampilkan grafik pasar yang bergerak cepat sejak pagi, beberapa saham perusahaan energi naik tajam, beberapa yang lain justru turun drastis, dan di tengah perubahan itu satu garis grafik terlihat naik dengan kecepatan yang cukup mengejutkan. Hartono Energy.
Rania menyilangkan jari di atas meja rapat yang panjang, matanya memperhatikan perubahan angka dengan ekspresi yang sulit dibaca, sementara di seberang meja Arsen duduk sambil memutar pulpen di jarinya dengan santai, namun senyum tipis di wajahnya menunjukkan bahwa ia menikmati apa yang sedang terjadi.
Salah satu direktur akhirnya berkata dengan nada yang sedikit tidak percaya.
"Kita benar benar melakukan ini."
Rania menjawab datar.
"Kita hanya mengambil kesempatan yang tersedia."
Direktur lain berkata hati hati.
"Tapi langkah ini akan langsung menekan Adrian Group."
Arsen akhirnya ikut bicara.
"Itu memang tujuan utamanya."
Beberapa orang di meja itu saling berpandangan, mereka tahu proyek energi yang sedang dijalankan bersama Adrian Group seharusnya menjadi kerja sama jangka panjang yang menguntungkan kedua pihak, namun keputusan yang diambil Rania pagi itu mengubah keseimbangan itu secara drastis. Hartono Group baru saja mengumumkan secara publik bahwa mereka akan membuka jalur investasi baru dengan beberapa perusahaan luar negeri untuk proyek turunan energi yang sebelumnya direncanakan dikelola bersama Adrian Group. Dengan kata lain Rania mengambil sebagian besar potensi keuntungan masa depan proyek itu dan memindahkannya ke jaringan investor miliknya sendiri. Secara hukum tidak ada yang salah dengan langkah itu. Namun secara bisnis itu adalah pukulan langsung kepada Adrian.
Direktur senior di ujung meja berkata pelan.
"Adrian pasti tidak akan tinggal diam."
Rania tersenyum tipis.
"Itu yang ingin kulihat."
Arsen menoleh padanya dengan ekspresi tertarik.
"Kau mulai lebih kejam sekarang."
Rania berkata tenang.
"Aku hanya mulai jujur."
Beberapa menit kemudian rapat itu selesai, para direktur keluar dengan berbagai ekspresi, sebagian kagum, sebagian masih terlihat sedikit khawatir, namun satu hal jelas bagi semua orang yang hadir di ruangan itu. Rania tidak lagi bermain aman.
Sementara itu di kantor Adrian Group berita itu sampai hanya beberapa menit setelah pengumuman resmi keluar. Seorang analis pasar baru saja menampilkan laporan terbaru di ruang rapat direksi ketika pintu terbuka dan Adrian masuk dengan langkah cepat. Para direksi langsung berdiri, beberapa di antara mereka terlihat gelisah karena mereka sudah membaca laporan yang sama.
Salah satu dari mereka berkata.
"Pengumuman Hartono Group sudah keluar."
Adrian duduk di kursi utama tanpa ekspresi.
"Aku sudah membaca."
Direktur keuangan membuka layar di depan mereka, grafik proyeksi keuntungan proyek energi muncul dengan beberapa bagian yang sekarang terlihat berbeda.
"Jika jalur investasi baru itu benar benar berjalan, bagian kita dari proyek ini akan berkurang hampir tiga puluh persen."
Adrian tetap tenang.
"Itu hanya proyeksi."
Direktur lain berkata lebih tegas.
"Namun proyeksi yang realistis."
Ruangan itu sunyi beberapa detik sebelum seseorang akhirnya berkata sesuatu yang sejak tadi ada di pikiran semua orang.
"Dia menyerang."
Adrian menatap layar di depan meja.
Ia tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud.
Direktur senior berkata lagi.
"Ini bukan langkah bisnis biasa."
Adrian akhirnya berkata pelan.
"Aku tahu."
Direktur keuangan berkata dengan nada lebih khawatir.
"Jika kita tidak merespons, pasar akan menganggap kita kehilangan kendali proyek."
Adrian bersandar sedikit di kursinya.
"Apa saran kalian."
Beberapa orang langsung mulai berbicara tentang strategi balasan, negosiasi ulang kontrak, atau bahkan kemungkinan menghentikan kerja sama sepenuhnya, namun Adrian hanya mendengarkan tanpa memberi reaksi jelas.
Di dalam pikirannya satu hal menjadi semakin jelas.
Rania tidak hanya ingin bermain.
Ia ingin menyerang.
Beberapa jam kemudian Adrian berdiri di depan jendela ruang kerjanya ketika sekretarisnya masuk membawa satu map baru.
"Tuan Adrian."
Adrian menoleh sedikit.
"Apa lagi."
Sekretaris itu terlihat sedikit ragu sebelum berkata.
"Ada pernyataan kedua dari Hartono Group."
Adrian mengambil map itu.
Di halaman pertama tertulis pengumuman bahwa Hartono Group juga akan mengambil alih dua perusahaan kecil pemasok teknologi energi yang selama ini bekerja secara eksklusif dengan Adrian Group.
Langkah itu tidak besar jika dilihat secara terpisah.
Namun jika digabungkan dengan langkah pagi tadi dampaknya jauh lebih jelas.
Rania sedang perlahan memotong jalur suplai yang selama ini membantu proyek Adrian berjalan lebih cepat.
Adrian menutup map itu perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak pagi sebuah senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Bukan senyum marah.
Bukan juga senyum terkejut.
Senyum seseorang yang akhirnya melihat sisi lain dari permainan.
Sementara itu di gedung Hartono Group Rania baru saja keluar dari ruang kerjanya menuju lift ketika Arsen mengejarnya dengan langkah santai.
"Aku baru mendapat kabar dari pasar."
Rania menekan tombol lift.
"Apa."
Arsen tersenyum lebar.
"Saham Adrian Group turun tiga persen dalam dua jam."
Lift terbuka dan mereka masuk.
Rania berkata datar.
"Itu masih kecil."
Arsen tertawa pelan.
"Kau benar benar tidak setengah setengah."
Lift mulai bergerak turun.
Arsen menoleh padanya lagi.
"Aku penasaran."
Rania menatap angka lantai yang terus berubah.
"Apa."
Arsen berkata pelan.
"Apakah semua ini hanya pembalasan."
Rania tidak langsung menjawab.
Lift berhenti di lantai parkir dan pintunya terbuka perlahan.
Beberapa detik kemudian Rania berjalan keluar sambil berkata dengan nada yang sangat tenang.
"Tidak."
Arsen mengikuti di belakangnya.
"Kalau begitu apa."
Rania berhenti sebentar di dekat mobilnya sebelum akhirnya menoleh sedikit.
"Ini hanya awal."
Di tempat lain Adrian masih berdiri di ruang kerjanya dengan map laporan di tangannya ketika ponselnya bergetar.
Pesan singkat masuk dari nomor yang ia kenal dengan sangat baik.
Hanya satu kalimat.
Selamat datang di permainan, Adrian.
Adrian menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya sejak proyek ini dimulai ia merasa benar benar ditantang.
Dan jauh di dalam pikirannya satu kesadaran muncul perlahan.
Wanita yang dulu ia usir dari hidupnya sekarang berdiri di seberang meja permainan.
Dan kali ini Rania tidak datang untuk bertahan.
Ia datang untuk menang.